Menjadi sekretaris di KALUMPERRI CORP seharusnya menjadi puncak karier Aulia Putri yang elegan. Namun, realitanya jauh dari ekspektasi. Alih-alih mengurus agenda bisnis bernilai triliunan, pekerjaan Aulia lebih mirip seorang peternak: menggembala Khatyr Ali Fatih, sang CEO super malas!
Khatyr itu jenius, tapi moto hidupnya adalah rebahan. Ia hobi bolos rapat, sembunyi di bawah meja, dan tidur di gudang arsip. Saat dewan direksi mulai gerah dan mengancam posisi Khatyr, sebuah kesepakatan rahasia terjalin. Aulia menjadi "otak" di balik layar, sementara Khatyr menjadi tameng korporatnya.
Di antara kejar-kejaran kocak di lorong kantor dan intrik politik perusahaan, Aulia sadar bahwa di balik kemalasan Khatyr, ada kejeniusan berbahaya yang siap melindungi dirinya. Mampukah Aulia menjinakkan bos ajaib ini, atau justru ia yang ikut terperangkap dalam pesona santainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benih yang Perlahan Tumbuh
"Pak Khatyr?" panggil Aulia pelan saat ia membuka pintu mobil dan duduk di sebelah bosnya, membawa aroma lembut parfum vanila yang menenangkan. "Apakah penampilan saya aneh? Saya merasa gaun ini terlalu... mewah untuk saya."
Khatyr berdehem pelan, mencoba mengendalikan kegugupannya yang mendadak muncul dan memalingkan wajahnya yang sedikit memerah ke arah jendela.
"A-aneh? Tidak. Sama sekali tidak aneh. Gaun itu... tampak sangat pas untukmu, Aulia. Kamu kelihatan... sangat cantik malam ini."
Aulia merasakan pipinya seketika merona merah mendengar pujian tulus yang diucapkan dengan nada canggung khas Khatyr.
"Terima kasih, Pak. Anda juga kelihatan... sangat rapi hari ini. Jauh lebih rapi daripada saat Anda tidur di galeri sejarah."
Khatyr terkekeh geli, ketegangan di antara mereka seketika mencair, digantikan oleh kehangatan intim yang mengiringi perjalanan mereka menuju ballroom hotel bintang lima tempat perjamuan diadakan.
Suasana di dalam Grand Ballroom Hotel Mulia malam itu sangat megah dan glamor. Lampu gantung kristal berukuran raksasa memancarkan cahaya keemasan yang menerangi ratusan tamu undangan dari kalangan elit bisnis, pejabat tinggi negara, dan para sosialita papan atas yang mengenakan pakaian bernilai ratusan juta rupiah.
Begitu pintu masuk ballroom dibuka, kehadiran Khatyr Ali Fatih langsung menarik perhatian banyak orang. Namun, yang membuat seluruh ruangan berbisik-bisik adalah sosok wanita cantik berkebaya hijau zamrud yang berjalan anggun di sampingnya, dengan jemari lentiknya yang tersampir manis di atas lengan kokoh Khatyr.
Mereka berdua tampak bagaikan pasangan serasi dari sampul majalah gaya hidup elit.
"Khatyr! Akhirnya kamu datang juga, Sayang!" sebuah suara nyaring yang manja mendadak memecah konsentrasi mereka.
Tiffany Mahardika melangkah mendekat dengan gaun malam merah menyala yang sangat glamor, memamerkan perhiasan berliannya yang berkilau di bawah lampu kristal.
Namun, begitu matanya tertuju pada tangan Aulia yang bertengger di lengan Khatyr, senyum manis di wajah cantiknya langsung membeku, digantikan oleh kilat kemarahan yang tertahan.
"Dan kenapa... kenapa sekretarismu ini ikut datang ke pesta keluarga kami, Khatyr?" tanya Tiffany dengan nada suara yang sengaja dibuat dingin dan meremehkan.
"Selamat malam, Tiffany," jawab Khatyr dengan nada suara yang tenang namun sarat wibawa.
"Aulia datang malam ini bukan sebagai sekretaris operasional, melainkan sebagai pasangan pribadiku atas undanganku sendiri. Aku merasa pesta ulang tahun Mahardika Group yang megah ini adalah momen terbaik untuk memperkenalkannya kepada relasi bisnis kami."
Mendengar kata "pasangan pribadi", Tiffany tampak tersentak seolah-olah baru saja ditampar di depan umum. Wajah cantiknya memerah menahan amarah.
"Pasangan pribadi? Khatyr, apa kamu bercanda?! Dia hanya seorang karyawan biasa! Kastanya sama sekali tidak sebanding dengan keluarga kita!"
Sebelum Khatyr sempat membalas ucapan kasar Tiffany, Aulia Putri menegakkan punggungnya. Ia menatap Tiffany dengan pandangan mata yang sangat tenang, memamerkan senyum profesional yang tak tergoyahkan.
"Mohon maaf sebelumnya, Mbak Tiffany," ujar Aulia dengan nada suara yang sangat merdu namun terdengar begitu tegas dan berkelas di telinga para tamu di sekitar mereka yang mulai menonton.
"Di dunia bisnis modern saat ini, nilai seseorang tidak lagi ditentukan oleh kasta sosial atau warisan keluarga, melainkan oleh kompetensi, kontribusi, dan kapasitas intelektual yang mereka miliki untuk memimpin. Sebagai mitra strategis Pak Khatyr dalam mengendalikan efisiensi Kalumperri Corp, saya percaya kehadiran saya di sini adalah bentuk representasi profesional yang setara bagi masa depan aliansi bisnis kita."
Beberapa direktur senior dari perusahaan lain yang berdiri di dekat mereka tampak mengangguk-angguk setuju, sangat terkesan dengan ketegasan, kecerdasan, dan keberanian Aulia dalam menjawab sindiran Tiffany dengan cara yang sangat berkelas.
Khatyr menatap Aulia dengan binar mata yang berkilau penuh rasa bangga dan kekaguman yang luar biasa. Ia merapatkan genggaman tangan Aulia di lengannya, lalu menatap Tiffany dengan pandangan dingin.
"Apa yang dikatakan Aulia sepenuhnya benar, Tiffany. Dan bagiku pribadi, kapasitas intelektual dan ketegasan Aulia jauh lebih berharga daripada seluruh kilau berlian di ruangan ini," ucap Khatyr tegas, memberikan pembelaan telak yang langsung membungkam Tiffany sepenuhnya.
Ibu Rahayu Fatih yang baru saja bergabung dengan kelompok mereka, menyaksikan seluruh interaksi tersebut dengan senyum misterius yang tersungging di bibirnya. Ia melangkah mendekat, menepuk bahu putranya, lalu menatap Aulia dengan pandangan hangat yang sarat akan makna persetujuan tersirat.
"Putraku memang selalu pandai memilih mitra terbaiknya, baik di dalam kantor maupun di luar kantor," ujar Ibu Rahayu lembut, yang secara tidak langsung memberikan restu dan pengakuan sosial kepada Aulia di depan seluruh tamu undangan.
Tiffany hanya bisa menggigit bibir bawahnya dengan wajah merah padam menahan malu, sebelum akhirnya berbalik dan melangkah pergi meninggalkan mereka dengan kekalahan mutlak.
Malam semakin larut, dan hiruk-pikuk ballroom mulai terasa menyesakkan bagi Khatyr yang membenci keramaian. Setelah menyelesaikan beberapa pembicaraan bisnis singkat bersama para investor asing yang semuanya berjalan sangat sukses berkat bantuan poin-poin argumen taktis yang dibisikkan Aulia Khatyr perlahan menarik Aulia menjauh dari kerumunan.
Mereka berdua melangkah keluar menuju balkon luar ballroom yang sepi dan ber-AC alami dari angin malam Jakarta yang sejuk.
Di bawah naungan langit malam yang dipenuhi gemerlap lampu kota, Aulia menyandarkan tubuhnya di pagar pembatas balkon, mengembuskan napas panjang yang lega.
"Tugas pendampingan eksekutif selesai dengan sangat sukses, Pak Khatyr. Dan bonus lima puluh persen saya rasa sangat layak untuk drama di ruang ballroom tadi."
Khatyr terkekeh pelan, melangkah mendekat hingga berdiri tepat di samping Aulia. Ia melepaskan jas beludru hitamnya, lalu menyampirkannya dengan lembut di atas bahu terbuka Aulia untuk menghalau dinginnya angin malam.
Aulia tersentak kecil, menatap Khatyr dengan pandangan terkejut. "Pak Khatyr...?"
"Angin malam ini cukup dingin, Aulia. Aku tidak ingin sekretaris sekaligus pasangan terbaikku jatuh sakit besok pagi," ujar Khatyr dengan nada suara yang sangat lembut dan hangat.
Mereka berdua terdiam dalam keheningan yang intim selama beberapa saat, menatap pemandangan kota Jakarta yang berkilau indah di bawah mereka.
Jarak di antara mereka begitu dekat, hingga Aulia bisa mencium aroma kayu cendana yang maskulin dari tubuh Khatyr, dan Khatyr bisa merasakan kehangatan yang murni mengalir dari sosok wanita di sampingnya.
Khatyr perlahan menoleh, menatap wajah cantik Aulia yang diterangi cahaya temaram lampu balkon.
"Aulia," panggil Khatyr lembut, suaranya terdengar sangat bersungguh-sungguh tanpa ada nada bercanda sedikit pun.
"Ya, Pak Khatyr?"
"Terima kasih," bisik Khatyr, jemari tangannya yang panjang perlahan bergerak menyentuh jemari tangan Aulia yang berada di atas pagar pembatas, lalu menggenggamnya dengan lembut namun sangat mantap.
"Terima kasih karena selalu berdiri di sisiku, melindungiku dari semua badai ini, dan... membuatku merasa bahwa aku tidak lagi harus menghadapi dunia ini sendirian."
Aulia Putri menatap genggaman tangan Khatyr yang hangat, lalu mendongak menatap sepasang netra gelap bosnya yang kini memancarkan perasaan cinta dan komitmen yang begitu murni dan mendalam.
Pada detik itu, di bawah langit malam Jakarta yang indah, Aulia menyadari satu hal dengan kepastian mutlak: benteng pertahanan profesionalisme yang selama ini ia bangun dengan kokoh kini telah sepenuhnya runtuh, digantikan oleh benih-benih cinta yang manis yang siap membawa aliansi rahasia mereka di KALUMPERRI CORP menuju ke tingkat yang jauh lebih indah dan tak terlupakan seumur hidup mereka.