"Meja bundar.. apa itu??"
"Meja yang jadi mitos kelam warga sini. Katanya, kalau sampai ada pendatang yang masuk ke sini dan hilang, udah pasti nggak akan balik, mereka semua pasti mati."
"Siapa kakek sebenarnya??"
"Kakek bukan orang biasa, dia.."
Kara, seorang gadis berusia tujuh belas tahun, terpaksa meninggalkan tempat tinggalnya dan pindah ke desa terpencil bersama ayahnya. Desa itu sunyi, tertutup, dan dipenuhi tatapan curiga dari warga yang enggan berbicara tentang masa lalu. Di rumah peninggalan kakeknya, Kara menemukan sebuah meja bundar tua yang tergeletak di ruang bawah tanah berukuran pas untuk delapan orang, dengan ukiran aneh di setiap sisinya yang seolah menyimpan rahasia terpendam.
Bisakah Kara mengungkap apa sebenar nya meja bundar itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratna Jumillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS.6. Di temani takut nggak di temani takut
Kara selesai mengangkat telepon nya, itu adalah ayah nya yang mengabari bahwa ayah nya untuk selama beberapa hari kedepan tidak bisa pulang dan tidak tahu sampai kapan karena ayah nya harus melakukan perjalanan ke luar kota. Kara yang mendengar itu tentu hanya bisa mengiyakan saja tanpa bisa protes apapun.
Selain itu Kara berpikir karena di rumah itu juga dia tidak sendirian jadi Kara pun memberanikan diri nya agar tidak membuat ayah nya khawatir. Hanya saja..
"Ya sudah, tapi ayah nggak sampai seminggu, kan?" Tanya Kara pada sang ayah.
"Ndak, dek.. paling lima hari ayah pulang." Jawab ayah nya.
Dan pada akhir nya Kara pun mengiyakan, panggilan itu kemudian di akhiri. Dan setelah telepon itu sudah berakhir, Kara berbalik badan untuk kembali melihat Nurma.. tapi betapa terkejutnya Kara saat dia mendapati perempuan itu ternyata sudah ada tepat di belakang nya begitu dia membalikan badan.
Jarak wajah nya dengan Kara sangat dekat sampai Kara nyaris saja menabrak wajah Nurma. Lagi dan lagi Nurma terlihat tersenyum dengan senyum yang serupa yang membuat Kara merasa ngeri dengan tatapan nya.
"Teh Nurma ngagetin aja." Ucap Kara, Nurma lalu terkekeh kecil.
"Hihihi, Kara.. kaget ya?" Ucap nya tanpa merasa bersalah, Kara pun hanya tersenyum kikuk.
"Teh Nurma kapan dateng nya si? Kok aku nggak denger ada orang dateng?" Tanya Kara, tapi lagi dan lagi Nurma tidak menjawab pertanyaan Kara dan justru pergi menuju ke arah dimana Kara sebelum nya menjatuhkan jambu nya.
"Kara, barang - barang ini.. jangan di pegang ya. Jangan pernah sembarangan pegang barang di rumah ini, saya nggak suka." Ucap nya, Kara pun mengernyit..
"Ini kan rumah kakek aku, teh?" Ucap Kara, karena menurut Kara.. dia lah yang seharus nya lebih dominan di rumah kakek nya karena Nurma hanya anak dari pekerja yang bekerja di sana.
Mendengar ucapan Kara, Nurma sempat menatap Kara dengan tatapan datar yang menohok, tapi kemudian dia berjalan kembali menghampiri Kara sambil di tangan nya membawa jambu air merah yang Kara jatuhkan sebelum nya.
"Kakek nggak suka barang - barang nya di sentuh sembarangan." Ucap nya tepat di depan Kara, mendengar itu.. Kara merasa terintimidasi.
"Kara takut, ya?? Jangan takut Kara.. teteh nggak akan menyakiti Kara." Ucap Nurma, tapi setelah Nurma mengatakan hal itu lah justru Kara merasa dia makin takut di buat nya.
Nurma lalu pergi meninggalkan Kara, Kara yang masih terkejut dengan apa yang baru saja terjadi pun akhir nya hanya bisa duduk di sofa sambil lalu mencoba menghubungi teman nya.
"Halo, Ca. Caca kamu bisa temenin aku nggak tinggal di rumah kakek aku, aku sendirian." Ucap Kara, yang sedang menghubungi teman nya.
Saat Kara sedang melakukan panggilan itu, Nurma kembali berlalu lalang di ruangan itu, kali ini Nurma membawa alat kemoceng dan mulai mengelapi semua perabotan di sana. Melihat itu, akhir nya Kara pun memutuskan untuk naik ke lantai dua ke kamar nya.
"Iya, aku nggak tau dimana ini, ntar aku share lok deh.." Ucap Kara, Kara lalu sempat menoleh ke arah Nurma dan saat itu ternyata Nurma sedang menatap nya sambil senyum.
Kara sangat ketakutan melihat itu, dia buru - buru naik ke atas dan masuk ke dalam kamar nya. Kara bahkan sampai mengunci pintu kamar nya saking dia takut dengan Nurma.
"Yahh.. jadi kapan dong kamu bisa main ke tempatku?" Tanya Kara, dia frustasi.
"Ya udah deh, oke.." Ucap Kara, lalu panggilan nya di akhiri.
Kara kemudian merebahkan dirinya di ranjang, dia benar - benar ketakutan sekarang.
"Ayah bilang anak mang Jupri seumuran aku, ini kok udah dewasa.. Mana dia serem banget senyum - senyum terus." Gumam Kara, dia lalu kembali mencoba menghubungi nomor kakak nya.
"Ga ada temen takut, tapi di temenin dia tambah takut." Gumam Kara lagi.
Tapi lagi - lagi.. Seperti yang sudah - sudah, nomor kakak nya tidak aktif, Kara kemudian menghubungi nomor ibunya, tapi tidak juga di angkat.. Kara akhir nya hanya bisa menghembuskan nafas nya sedih, kakak dan ibunya tidak mau mengangkat panggilan nya.
"Tok! Tok! Tok!" Kara kaget saat pintu kamar nya di ketuk.
"Kara, teteh pulang dulu ya.. Nanti teteh akan menemani Kara lagi. Teteh besok hanya akan datang di malam hari dan menemani kara sampai pagi." Ucap Nurma, padahal Kara belum sempat membuka pintu.
Mendengar itu, Kara pun bergegas membuka pintu kamar nya dan berdirilah Nurma di ambang pintu sambil senyum padanya.
"Teteh pulang lagi?" Tanya Kara, entah dia harus lega atau takut.
"Iya, hari ini sebagai perkenalan dulu, mulai besok.. Teh Nurma akan datang menemani Kara di malam hari sampai pagi saja." Ucap Nurma, akhir nya Kara manggut - manggut saja.
Setelah nya Nurma pun akhir nya pergi dari sana, Kara sempat merasa bersalah karena sikap nya yang terang - terangan merasa ketakutan di depan Nurma. Kara kemudian menutup kembali pintu kamar nya dan pergi menuju ke arah jendela.
Dari atas kamar nya, Kara bisa melihat Nurma yang sedang berjalan menuju ke arah gerbang, Kara pun memperhatikan nya. Tapi tiba - tiba Nurma berhenti dan kemudian menoleh ke atas, Kara pun langsung sembunyi agar tidak ketahuan sedang memperhatikan Nurma.
'Dia punya indra ke enam kali ya, tau aja aku lagi ngeliatin.' Batin Kara, dia sembunyi tepat di bawah jendela.
Setelah beberapa saat, Kara kemudian kembali mengintip dan ternyata Nurma sudah tidak ada di sana, barulah Kara merasa lega. Kara kemudian kembali turun ke lantai dua dan melihat ruangan sudah kosong, tapi ada makanan di atas meja.
"Makanan dari mana." Gumam Kara, keheranan.
Makanan nya berada di rantang susun tiga, yang di tinggalkan di atas meja makan seolah itu memang di sediakan untuk Kara. Kara berpikir lebih baik dia sendiri dari pada ada Nurma yang membuat nya tak nyaman dengan senyuman nya.
Kara kemudian keluar dari rumah itu dan berjalan - jalan keluar dari rumah nya, meski dia tidak mengenal siapapun di sana. Kara keluar dari gerbang dan kemudian berjalan menyusuri jalanan yang tampak naik turun.
"Wah.. Pemandangan nya bagus banget." Kara kemudian mengabadikan nya dengan hp nya lalu melanjutkan langkah nya.
Tapi, semakin jauh Kara berjalan.. Kara malah mendapat tatapan curiga dari warga di sana, ada yang terang - terangan menatap Kara dengan sinis, ada juga yang berdiri di depan pintu sambil menatap Kara dengan tatapan menyelidik.
'Orang - orang ini pada kenapa..' batin Kara.
BERSAMBUNG!
di aku g ada notif lho kk