NovelToon NovelToon
Legacy Of Soryu: In The Name Of Love And Blood

Legacy Of Soryu: In The Name Of Love And Blood

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Istana/Kuno / Balas Dendam
Popularitas:97
Nilai: 5
Nama Author: AzhuraAstra

Sembilan belas tahun lalu, Ryuichi Soryu ditemukan tewas dengan cara yang mengguncang jagat dunia bisnis Indonesia.

Berita kematiannya menjadi tajuk utama di seluruh kanal media pada saat itu, memicu kepanikan massal hingga membuat saham-saham di bawah naungan Soryu Group terjun bebas ke titik terendah.

Polisi menutup kasus itu dengan dalil "perampokan biasa" sebuah narasi yang tak masuk akal bagi siapa pun yang mengenal konglomerat berdarah Jepang itu.

Yang membuat kasus pembunuhan itu semakin terlihat jangal adalah tak ada satupun barang berharga yang hilang, tak ada satu pun saksi mata dikejadian perkara, seolah nyawa sang konglomerat hilang begitu saja.

Bagi sang putra, kematian ayahnya itu bukan sekadar tragedi. Itu adalah luka yang membekas di hidupnya selamanya.

Sekarang dirinya sedang mencari sang pelaku dan menyeretnya menuju kehancuran yang setimpal dengan apa yang dia dan ayahnya rasakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzhuraAstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

𖣂|Bab 25 Pengejaran Bara Soryu Dan Hambatan Oleh Sang Raja Jalanan|

...|Legacy of Soryu|...

......· · ─ ·𖥸· ─ · ·......

Tiga hari pasca insiden yang menyeret Nana dan Bara. Bara Soryu duduk di kursi eksekutifnya dengan tangan bersedekap. Wajahnya yang biasanya sekaku kain kanebo kering kini tampak lebih murung.

Sementara Davian berdiri di hadapannya. Pria yang biasanya tenang dan rapi itu kini terlihat sedikit goyah. Ia memegang tablet dengan jari-jemari yang kaku, seolah benda elektronik itu adalah bom yang sewaktu-waktu bisa menghancurkan karirnya.

"Sudah?" suara Bara rendah, namun suaranya seolah bisa menggetarkan gelas kristal di atas meja.

"Sudah, Wakadanna," Davian mengangguk cepat, suaranya sedikit serak. "Tim hukum kita telah bekerja. Somasi telah dikirimkan secara serentak ke semua akun yang mengunggah kembali potongan video tersebut. Kami menggunakan dasar UU ITE pasal pencemaran nama baik. Sembilan puluh persen dari mereka langsung menghapus konten itu dalam hitungan menit setelah menerima surat elektronik dari firma hukum kita. Sisanya... hanya soal waktu sebelum polisi menjemput mereka jika tetap keras kepala."

Bara tidak bergeming. Rahangnya mengeras. "Dan dalang di balik semua ini bagaimana?"

"Orang tuanya Vina sudah berada di lobi kantor kita sejak pukul enam pagi, dia memohon untuk bertemu dengan Anda. Mereka bahkan mencoba menawarkan kompensasi finansial dalam jumlah yang sangat besar, asalkan nama putri mereka tidak hancur secara permanen di catatan kepolisian."

"Aku tidak butuh uang receh mereka," potong Bara dengan nada yang penuh rasa jijik.

"Uang tidak bisa membeli kembali air mata yang jatuh karena fitnah. Sampaikan pada mereka, kalau aku tidak akan menerima kompensasi dalam bentuk apa pun. Syaratku mutlak, aku ingin gadis itu harus berdiri di depan seluruh mahasiswa fakultas, membacakan pernyataan maaf yang mengakui bahwa video itu adalah rekayasanya, dan ia harus menanggung sanksi akademik. Jika satu kata saja terdengar tidak tulus, pastikan dia melihat bagian dalam sel tahanan."

"Dimengerti, Wakadanna. Saya akan sampaikan itu segera." Davian menarik napas panjang, mencoba mengumpulkan keberanian untuk beralih ke topik yang paling sensitif.

"Mengenai... Nona Nana..."

Mendengar nama itu, Bara memejamkan mata sejenak. Otot lehernya tampak menonjol.

"Masih belum ada kabar?"

"Tiga hari, Wakadanna. Dia absen total dari semua mata kuliahnya. Ponselnya aktif, tapi semua panggilan dialihkan. Pesan-pesan saya dan mungkin pesan Anda juga hanya berakhir dengan status terkirim tanpa pernah dibaca. Di grup angkatan, rumornya semakin liar dan menjijikkan. Beberapa mahasiswi mulai menyebarkan narasi bahwa dia sengaja menghilang karena malu, bahkan ada yang memfitnahnya sedang 'bersembunyi' di kediaman Anda."

Bersembunyi... Kata itu menghantam Bara seperti palu godam. Bayangan Nana dengan air mata yang mengalir di pipi polosnya karena merasa terhina oleh tatapan dunia, terus menghantui setiap detik pikirannya.

"Wakadanna, mungkin kita harus memberikan waktu sedikit lagi. Dia mungkin trauma—"

"DAVIAN."

Bara membentak. Suaranya meledak, memantul di dinding kaca kedap suara hingga Davian sedikit tersentak mundur.

Bara berdiri mendadak, menumpukan telapak tangannya di meja dengan kekuatan yang seolah sanggup meretakkan meja kayu dibawahnya.

"Gadis itu menangis karena rencana bodohmu! Dia menjadi bahan olok-olok satu kampus karena kehadiranku! Dan kau menyuruhku duduk diam memberikan 'waktu'?"

Davian menunduk dalam, dagunya nyaris menyentuh dada. "Maafkan saya, Wakadanna. Saya mengakui bahwa rencana awal untuk mendekati keluarga Adama melalui jalur kampus ini adalah kesalahan perhitungan terbesar saya."

"Benar. Kesalahan besar," desis Bara, jari telunjuknya menunjuk ke arah Davian dengan gemetar karena amarah yang meluap.

"Kau bilang ini adalah cara paling halus. Kau bilang tidak ada risiko yang tidak bisa kita kendalikan. Dan sekarang, aku telah menghancurkan reputasi seorang gadis yang bahkan tidak tahu mengapa dia terlibat dalam pusaran ini, demi informasi yang sampai sekarang pun masih belum aku dapat!"

Bara berjalan menuju dinding kaca, menatap gedung-gedung pencakar langit Jakarta yang tampak seperti tumpukan balok mainan.

"Aku tidak pernah peduli jika aku harus menghancurkan musuh di lantai bursa. Tapi gadis bodoh itu... dia bukan musuh kita. Dia hanyalah korban dari ambisiku untuk mencari pelaku dibalik pembunuhan ayahku."

"Kita ke rumahnya. Sekarang," perintah Bara tanpa menoleh.

Davian terbelalak. "Tapi... Wakadanna tahu lokasinya? Seingat saya, dokumen profil lengkap keluarga Adama belum saya serahkan secara detail ke meja Anda."

Bara terdiam sesaat. Punggungnya menegang. "Aku tahu di mana dia tinggal. Kau pernah menyebutkannya sekilas waktu kita berada di bangku beton waktu itu, mungkin ingatanmu saja yang mulai memudar."

Davian mengernyit bingung. Ia adalah orang yang sangat teliti dengan detail. Ia yakin seratus persen ia belum pernah memberikan alamat lengkap Permata Hijau itu kepada Bara. Atau jangan-jangan... Davian teringat laporan sopir pribadi Bara yang mengatakan bahwa motor Harley Davidson milik Bara sempat keluar tanpa pengawalan di tengah malam selama dua hari terakhir.

Wakadanna benar-benar sudah kehilangan kendali, batin Davian cemas.

...***...

Mesin BMW Seri 7 itu menderu halus saat melintasi jalanan Jakarta yang mulai padat. Di kursi belakang, Bara menatap keluar jendela dengan tatapan kosong. Pikirannya masih terus melayang pada kejadian dua malam lalu, saat ia berdiri di bawah pohon rindang di seberang rumah Nana pada pukul dua pagi, hanya untuk memastikan bahwa lampu di lantai dua rumah itu masih menyala. Ia merasa seperti pengintai, sebuah peran yang sangat ia benci, namun rasa khawatir di dadanya jauh lebih besar daripada rasa malunya.

"Nanti kalau sampai, tolong biarkan saya yang membuka pembicaraan," Davian mencoba mencairkan suasana. "Anda tahu sendiri, Wakadanna, gaya bicara Anda seringkali terlalu tajam bagi orang awam. Jika Anda langsung bertanya tentang Ariessendy Adama dengan nada menuntut, mereka akan langsung menutup pintu seketika."

"Aku bisa bersikap sopan jika aku mau," balas Bara dingin.

"Terakhir kali Anda mencoba bersikap sopan pada investor, Anda malah mengatakan bahwa selera berpakaian mereka merusak estetika ruang rapat," sahut Davian berani.

Bara tidak membantah karena itu benar. Ia hanya mengeratkan genggamannya pada armrest mobil. Pikirannya kini hanya terpusat pada satu hal yaitu wajah Nana. Apakah dia masih menangis? Apakah gadis itu akan membencinya?

...-Kediaman Keluarga Adama-...

...· · ─ ·𖥸· ─ · ·...

Mobil mewah itu melambat saat memasuki perumahan elit Permata Hijau. Suasana di sini sangat kontras dengan hiruk-pikuk kota Jakarta; tenang, asri, dan penuh dengan aroma bunga tanjung. Saat mobil mendekati rumah nomor 27—Bara tiba-tiba merasa jantungnya berdegup tidak keruan.

Ada sesuatu yang aneh. Bara, yang biasanya bisa menghadapi ribuan pemegang saham tanpa berkedip, kini merasa tangannya sedikit lembap.

"Putar balik," perintah Bara tiba-tiba saat moncong mobil hampir sejajar dengan gerbang kediaman Adama.

"Apa? Wakadanna, kita sudah sampai!" Davian terbelalak, tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

"Aku bilang putar balik sekarang! Jangan berhenti!" suara Bara naik satu oktav, penuh tekanan emosional yang tidak biasa.

Sopir yang sudah terlatih menghadapi perintah mendadak langsung membanting setir. Ban mobil berdecit pelan saat melakukan putaran tajam di jalanan yang lebar itu. Namun, manuver mencolok itu tak luput dari pengawasan mata tajam dari lantai atas.

"WOI! SIAPA ITU?!"

Sebuah teriakan menggelegar terdengar dari balkon lantai dua. Shu Hades, yang kebetulan sedang berdiri di sana dengan cangkir kopi yang sudah dingin, langsung melempar pandangannya ke bawah. Matanya yang tajam bak elang mengenali mobil itu seketika. Itu adalah BMW hitam dengan plat nomor yang sudah ia hafal di luar kepala dari laporan orang-orangnya.

"PAPA! MAMA! ADA PENYUSUP!" Shu berteriak ke arah dalam rumah.

Anzali yang sedang menyiram tanaman di taman depan tersentak hebat, selang air di tangannya terlepas dan membasahi kakinya sendiri. "Ada apa, Shu?! Jangan teriak-teriak seperti itu, malu dilihat tetangga!"

"Itu mobilnya, Ma! Mobil bajingan yang mengganggu Nana!" Shu tidak menunggu jawaban ibunya, ia langsung turun ke lantai bawah menuju ke garasi.

Sementara itu, balik jendela kamar yang tertutup rapat dengan gorden tebal, Nana mengintip keluar begitu mendengar suara teriakan kakaknya. Jantungnya terasa ingin melompat keluar. Ia melihat siluet mobil itu—BMW hitam yang sangat ia kenal sebagai kendaraan milik Bara.

"Kenapa dia ke sini?" pikir Nana. Ada sedikit rasa rindu yang menusuk jantungnya, namun ketakutan akan fitnah dan rasa malu kembali mencekiknya.

Sementara Shu sudah mencapai halaman depan. Ia melihat mobil itu melaju menjauh dengan kecepatan tinggi.

"Pengecut!" raung Shu. Tanpa berpikir panjang, ia berlari masuk ke arah garasi samping. Di sana terparkir sebuah motor sport Kawasaki Ninja H2R berwarna hitam legam—monster bermesin supercharged yang jarang ia keluarkan.

"Shu! Mau kemana?! Jangan emosi, Nak!" seru Anzali panik, mencoba mengejar putranya.

Shu tidak menghiraukan teriakan ibunya. Di matanya hanya ada satu objek: BMW hitam yang mulai menjauh itu. Ia langsung menyambar helm full-face hitamnya, mengunci strap dengan satu sentakan kasar, lalu melompat ke atas sadel Kawasaki Ninja H2R.

Begitu kunci diputar, panel instrumen menyala terang, memicu deru mesin supercharged yang meledak di tengah keheningan Permata Hijau.

VROOOOOM!

Dengan satu tarikan gas yang brutal, ban belakang motor itu berputar di tempat, meninggalkan jejak hangus di aspal sebelum akhirnya melesat keluar gerbang.

Di dalam kabin BMW yang kedap suara, Davian menoleh ke belakang dengan wajah yang sudah sepucat kertas. Napasnya tersengal saat melihat siluet motor hitam yang mendekat dengan kecepatan yang tidak masuk akal.

"Wakadanna... sepertinya kita dikejar. Ada motor sport di belakang kita. Cepat sekali!" Davian berseru, suaranya naik satu oktav karena panik.

Bara tidak menjawab secara lisan. Ia memutar tubuhnya, menatap langsung ke arah kaca belakang. Matanya menyipit saat melihat pengendara motor itu memacu kendaraannya dengan sangat agresif, meliuk-liuk di antara mobil penghuni kompleks dengan kemiringan yang cukup berbahaya.

"Siapa dia?" tanya Bara, suaranya tetap tenang meski ada ketegangan yang merambat di pundaknya.

"Kemungkinan besar itu Shu Hades, kakak laki-lakinya Nana," ujar Davian sambil jemarinya menari gemetar di atas tabletnya.

"Menurut data yang ada... dia punya temperamen yang meledak-ledak. Dia bukan orang yang bisa diajak bicara saat marah."

"Injak gasnya lebih dalam," perintah Bara dingin kepada sopirnya. "Jangan biarkan dia memotong jalan di pemukiman ini. Bisa berbahaya bagi warga."

Sopir Bara, seorang profesional yang terbiasa dengan tekanan, mengangguk patuh. Mesin mobil mewah di bawah kap mobil itu menderu, memberikan dorongan instan yang membuat tubuh Davian terhentak ke sandaran kursi. Namun, Shu Hades bukanlah pengendara amatir yang mudah digertak. Di atas H2R-nya, ia seolah menyatu dengan mesin.

Saat jarak mereka menyempit hingga hanya tersisa beberapa meter, Shu melakukan manuver gila. Ia menyejajarkan motornya dengan sisi kanan mobil Bara. Di tengah kecepatan tinggi, Shu melepas satu tangannya dari kemudi dan mengacungkan jari tengah tepat ke arah kaca belakang tempat Bara menatapnya.

"BERHENTI KAU, BRENGSEK!" Shu berteriak, meski suaranya teredam oleh desing angin dan raungan mesin.

Bara melihat simbol provokasi itu. Alih-alih marah, ia justru mempererat genggaman tangannya pada armrest hingga kuku-kuku jarinya memutih. Ada rasa hormat yang muncul di sela-sela rasa bersalahnya—rasa hormat terhadap seorang pria yang siap mati demi melindungi kehormatan adiknya.

"Dia punya nyali," desis Bara. "Cepat melaju! Jangan sampai dia nekat menabrakkan diri!"

"Wakadanna, di depan ada truk tronton!" Davian menjerit saat melihat monster besi beroda delapan belas menutupi hampir seluruh jalur di depan mereka.

"Salip dia sekarang!" perintah Bara tanpa keraguan.

Sopir BMW itu membanting setir ke kiri, mencoba masuk ke celah sempit di antara truk tronton dan pembatas jalan. Mobil mewah itu berguncang hebat. Suara klakson truk yang memekakkan telinga memenuhi udara saat BMW itu menyalip dengan jarak hanya beberapa milimeter—hampir menyerempet bodi baja truk tersebut.

Davian memejamkan mata, bibirnya komat-kamit merapalkan doa. "Kita akan mati... kita benar-benar akan mati! MAMA TOLONG!!!"

Shu, yang tidak mau kalah, mencoba melakukan hal yang sama. Namun, tepat saat ia akan menarik gas untuk menyalip dari sisi lain, sebuah motor matic yang dikendarai seorang ibu-ibu tiba-tiba muncul dari gang di sebelah kiri. Lampu sein motor itu berkedip ke arah kanan, namun dengan gerakan yang sama sekali tidak terduga, ia justru berbelok tajam ke arah kiri, tepat ke jalur yang akan diambil Shu.

"WOI! BU! MAU KE MANA SIH?!" Shu berteriak sambil menarik tuas rem sekuat tenaga.

Ban motor H2R itu berdecit nyaring, meninggalkan kepulan asap putih saat ban belakangnya sempat terangkat ke udara karena pengereman mendadak yang ekstrim. Shu berhasil berhenti hanya beberapa sentimeter sebelum menabrak ibu-ibu tersebut.

Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh sopir Bara. BMW hitam itu melesat menjauh, masuk ke jalur tol dalam kota dan menghilang di balik keramaian arus kendaraan.

"Eh, Masnya kalau naik motor jangan kencang-kencang dong! Bahaya tau!" teriak ibu-ibu itu tanpa rasa berdosa, sambil membetulkan posisi helmnya yang miring.

Shu membuka kaca helmnya, napasnya memburu, wajahnya kini berubah menjadi merah padam karena kombinasi adrenalin dan emosi yang memuncak.

"IBU YANG BENAR DONG! NGASIH SEIN KANAN TAPI BELOK KIRI! SAYA BISA MATI TADI!"

"Loh, kan suka-suka saya mau belok mana! Masnya aja yang kurang sabar! Malah nyalahin saya!" balas ibu itu sambil melengos pergi.

"IBU-IBU SIALAN!" Shu memukul tangki bensin motornya dengan frustrasi. Ia menoleh ke arah jalan raya, namun BMW hitam itu sudah lenyap tak berbekas. Jejak Bara Soryu hilang di telan kemacetan Jakarta.

Shu menepikan motornya ke bahu jalan, mencoba menenangkan detak jantungnya yang menggila penuh adrenalin. Ia mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya, menekan nomor Andrew dengan gerakan kasar.

"Andrew! Cepat cari tahu di mana posisi Bara Soryu sekarang!" perintah Shu dengan suara serak yang penuh ancaman.

"Jangan sampai dia lepas lagi. Aku ingin bertemu langsung dengan pria itu, dengan atau tanpa pengawalannya. Dia sudah mengusik adikku, dan dia harus membayar harganya!"

Shu mematikan teleponnya secara sepihak sebelum Andrew bahkan berbicara. Lalu mulai melepas helmnya dengan gerakan kasar. Ia mengusap wajahnya dan mendengus kasar.

"Agkhhh!!! Sialan kau Bara Soryu!!!"

1
Alia Chans
Hadir Thor
Komen pertama , like + bunga🌹 , semangat😉
AzhuraAstra: Terimakasih 🫡
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!