Bagaimana jika cinta terbesar adalah cinta yang diam-diam merantai, mengikat hati tanpa suara, dan terus hidup meski tanpa harapan?
Brant dan Luca hanya tahu satu hal: cinta itu masih ada dan mungkin akan tetap ada selamanya. Mereka hanya pasrah, tidak lagi bertarung untuk bersama.
!!!⚠️!!!
#BL
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selene Mora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
Malam itu, Rose berdiri di depan cermin untuk ke-sepuluh kalinya. Kata-kata Elena terngiang-ngiang: jangan menor. Ia akhirnya memilih dress simpel berwarna pastel dan jaket denim—sesuai saran Vin agar tidak masuk angin di atas motor.
Tepat jam tujuh, suara deru motor besar berhenti di depan rumahnya. Itu Jack. Penampilannya malam itu sederhana, hanya kaos hitam dan jaket kulit, tapi auranya membuat Rose hampir lupa cara bernapas.
"Udah siap?" tanya Jack singkat, tapi matanya menatap Rose cukup lama—sebuah pujian tersirat yang bikin pipi Rose makin panas.
"Udah, Kak," jawab Rose malu-malu.
Malam itu menjadi malam yang sempurna bagi pasangan Rose dan Jack. Dia membawa Rose ke area kuliner malam yang cukup estetik. Sambil menikmati sate taichan dua porsi yang dipesan Rose (atas saran "sesat" Luca), Jack sesekali tersenyum tipis melihat Rose yang makan dengan sangat lahap. Meski Jack tetap kaku seperti biasanya, terlihat jelas dia menikmati momen itu.
Suasana kencan pertama mereka terasa begitu hangat, diwarnai dengan momen-momen romantis yang sesekali tercipta di antara keduanya.Tapi, ketenangan itu sama sekali tidak terjadi di rumah Luca.
Brant duduk kaku di sofa ruang tengah, merasa seperti wasit di tengah ring tinju. Di sampingnya, Luca sedang merengek sambil memegangi ujung kemeja Brant, sementara di depan mereka, Lea berdiri dengan tangan bersedekap dan wajah jutek maksimal.
"Lea, balikin nggak! Itu keripik jatah aku!" rengek Luca dengan suara cemprengnya.
Sebagai kakak, Luca sama sekali tidak punya wibawa. Dia malah terlihat seperti bocah yang mainannya direbut.
Lea menatap kakaknya dari atas ke bawah dengan tatapan merendah. "Berisik lo, Kak. Badan doang gede, tapi rebutan micin sama adik sendiri nggak malu? Lagian lo kan udah makan nasi goreng, masih mau ini juga? Rakus banget."
"Tapi itu kan rasa rumput laut! Aku mau itu!" Luca makin kencang menarik-narik kemeja Brant. "Brant, liat tuh Lea! Dia jahat banget !"
Brant memijat pangkal hidungnya. Nasi gorengnya yang masih setengah di piring mulai mendingin. Dia mencoba tetap terlihat ganteng, tapi rasanya sulit saat kemeja hitam mahalnya ditarik-tarik Luca sampai miring ke bahu.
"Lea, kasih aja lah. Biar dia diem," gumam Brant mencoba menengahi.
"Nggak usah dimanjain terus, kak brant . Makin ngelunjak nih anak," sahut Lea pedas. Mata juteknya melirik kakaknya yang sedang bergelayut di lengan Brant. "Lagian gue heran, lo dapet pelet apa sih sampe mau sama modelan kayak Kak Luca? Udah manja, konyol, pinter juga kagak. Spek beban keluarga begini kok lo sayang-sayang."
"Heh! Mulut lo ya, Lea!" seru Luca tersinggung, tapi bukannya melawan, dia malah makin menyembunyikan wajahnya di bahu Brant. "Brant, denger kan? Dia ngatain aku beban!"
Brant cuma bisa menghela napas pasrah. Dia menyerahkan sebungkus cemilan miliknya yang belum dibuka ke arah Lea. "Udah, Lea. Nih ambil punya gue. Biar adil."
Lea mengambilnya dan menukar bungkusan cemilannya itu. wajahnya masih datar. "Thanks. Lo terlalu baik buat Kakak gue yang nggak jelas ini," ucapnya sebelum berbalik pergi menuju kamarnya dengan langkah santai.
Begitu Lea hilang di balik pintu, Luca langsung menegakkan duduknya. Tapi bukannya tenang, dia malah melirik piring nasi goreng Brant. Matanya yang bulat berkedip-kedip polos.
"kak Brant... nasi goreng kamu kok kayaknya lebih merah ya? Enak kayaknya," ucap Luca tanpa rasa bersalah.
Brant menjauhkan piringnya sedikit. "Ca, ini sama. Lu tadi udah abis satu bungkus ya, jangan pura-pura lupa."
"Tapi aku masih laper... suapin dong?" Luca membuka mulutnya lebar-lebar dengan wajah tanpa dosa, mengabaikan fakta bahwa dia baru saja berkelahi hebat dengan adiknya soal makanan.
Brant menatap piringnya, lalu menatap wajah polos Luca yang menengadah menunggunya. Meskipun kepalanya pening menghadapi keributan kakak-beradik itu, Brant tidak bisa menahan senyum tipisnya. Wibawa "ganteng" yang ia jaga sejak tadi runtuh juga.
"Pelan-pelan makannya, nanti keselek," gumam Brant sambil menyuapkan sesendok besar nasi ke mulut Luca.
"Enak!" seru Luca riang sambil mengunyah heboh, tangannya tetap memeluk lengan Brant posesif seolah tidak mau ditinggal sedetik pun.
Setelah nasi goreng itu ludes tak bersisa di perut Luca, mereka memutuskan untuk mematikan lampu ruang tengah dan menyalakan laptop. Luca yang memilih filmnya—sebuah film horor yang katanya sedang viral—tapi justru dia sendiri yang paling ketakutan.
Brant menyandarkan punggungnya di sofa, membiarkan laptop itu berada di pangkuan mereka berdua.
Baru sepuluh menit film berjalan, suara musik latar yang mencekam mulai terdengar.Tiba-tiba sebuah bayangan melintas cepat di balik jendela layar laptop.
"HUWAA! Brant! Itu apa?!" teriak Luca histeris. Bukannya menutup mata dengan tangan, Luca justru memutar tubuhnya dengan gerakan kilat dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Brant.
Belum sempat Brant menenangkan jantungnya, muncul suara jump scare keras dibarengi penampakan wajah hancur yang memenuhi layar.
"KYAAA! BRANT! ADA HANTUNYA! USIR GAK!!"
Luca kembali berteriak melengking, kali ini lebih keras sampai badannya melonjak dan kakinya menendang meja kopi di depan mereka.
Brant tersentak hebat, bahunya sampai terangkat kaget karena teriakan maut Luca yang kedua ini benar-benar tepat di lubang telinganya. "Aduh... Ca, kuping gue bisa budek kalau gini," rintih Brant pelan, tapi tangannya tetap melingkar protektif di pinggang Luca.
Napas Brant seolah tertahan di tenggorokan saat Luca justru makin mendusel masuk ke lehernya, mencari perlindungan. Posisi Luca yang sangat dekat membuat Brant bisa merasakan deru napas Luca yang hangat dan pendek-pendek menyentuh kulit lehernya yang sensitif. Aroma sabun mandi Luca yang lembut menyeruak, bercampur dengan suasana ruang tengah yang remang-remang.
Brant menelan ludah dengan susah payah. Bulu kuduknya meremang, tapi bukan karena hantu di layar laptop. Ada sensasi lain yang membakar dadanya—desir aneh yang membuatnya sulit untuk berpikir jernih. Tangannya yang bebas perlahan naik, mengelus rambut Luca dengan sangat lembut, mencoba menenangkan "kucing" penakut itu.
Pelan, sangat pelan, Brant memutar kepalanya. Ia menunduk, menatap puncak kepala Luca yang masih bersembunyi di pundaknya. Jantung Brant berdegup kencang. Ia merasa ini adalah momen yang tepat. Brant ingin merasakan bibir ranum yang sedari tadi meracau konyol itu.
Wajah Brant semakin merunduk, napasnya kini bersatu dengan napas Luca. Jarak mereka hanya tinggal beberapa senti saja—ia sudah bisa mencium aroma manis dari napas Luca—
"WOI! BISA DIEM NGGAK?! GUE LAGI BELAJAR, BUKAN LAGI NONTON KONSER KESURUPAN!"
DUAK!
Suara teriakan Lea dari balik pintu kamarnya menggelegar, disusul bunyi hantaman bantal yang dilempar keras menabrak pintu kayu itu dari dalam.
Brant dan Luca terlompat kaget sampai laptop di pangkuan mereka hampir terjungkal ke lantai. Brant langsung menegakkan duduknya dengan wajah merah padam, sementara Luca melongo shock dengan jantung yang masih mau copot.
"Kak Luca! Sekali lagi lo teriak, gue keluar bawa parang ya! Berisik banget, gila!" teriak Lea lagi, suaranya benar-benar menunjukkan kalau dia sedang di puncak kekesalan.
Luca mengerjapkan mata, masih gemetaran karena kaget dua kali—karena hantu dan karena adiknya. "L-Lea galak banget sih..." bisik Luca pelan sambil mengelus dadanya.
Brant hanya bisa mengembuskan napas panjang yang terasa sangat berat. Dia menyugar rambutnya dengan tangan yang sedikit gemetar, mencoba meredam gejolak di bawah perutnya yang barusan hampir meledak. Ia melirik pintu kamar Lea dengan tatapan "terima kasih karena sudah menghancurkan momen", lalu kembali menatap Luca yang masih tampak polos tanpa dosa.
"Lanjut nonton nggak?" tanya Luca pelan, menatap Brant dengan mata bulatnya yang jernih.
Brant menutup laptopnya dengan gerakan cepat. "Nggak. Kita tidur aja. Maksud gue, lu tidur, gue pulang.gumam Brant dengan suara serak yang tertahan, berusaha keras mengembalikan kewibawaannya yang sudah hancur lebur.
•
•
•
Siang itu, koridor kampus terlihat lebih lengang, namun bagi Brant, suasana di sekitarnya terasa begitu menyesakkan. Dokumen skripsinya sudah ditandatangani, revisi sudah tuntas, tinggal menghitung hari dia akan menuju wisuda. Secara logika, ia harusnya senang. Beban akademik bertahun-tahun lunas sudah.
Namun, di dalam hatinya, Brant sama sekali tidak merasa bahagia. Tak bisa dimungkiri, sekeras apa pun Brant mencoba berdamai dengan keputusan sepihak ayahnya, gumpalan kecewa dan kesedihan itu tetap bersarang di sudut hati dan pikirannya
Dengan wajah datarnya, Brant melangkah menuju kantin. Bahunya yang lebar tampak sedikit merosot, seolah memikul beban yang lebih berat dari sekadar tumpukan kertas laporan.
Di meja pojok, Clay dan Rey sudah melambai-lambai dengan semangat.
"Woy, Pak Bos! Sini!" teriak Clay.
Brant duduk dengan helaan napas panjang. "Tumben lu berdua udah nongkrong di sini."
"Hari ini hari keberuntungan lu, Brant," ucap Rey sambil menaruh segelas es teh manis besar di depan Brant. "Gue dapet bonus dari bokap, jadi minum hari ini gue yang tanggung."
Clay menimpali, sambil menyodorkan sepiring nasi ayam geprek jumbo yang kebetulan baru di pesannya ke hadapan Brant. "Dan karena gue habis menang taruhan kecil-kecilan, makanan lu hari ini gue yang bayar. Makan yang banyak, muka lu udah kayak kertas fotokopi saking pucetnya."
Brant menatap piring itu dengan tatapan kosong. "Lu berdua beneran traktir gue?"
"Iya, tenang aja. Dompet kita lagi sehat, nggak kayak saldo lu yang dikuras Luca," canda Rey yang sukses membuat sudut bibir Brant terangkat tipis.
Brant pun makan dengan lahap tapi tenang, mencoba tetap terlihat ganteng meski sebenarnya perutnya sedang berdemo.
"Brant..." Clay tiba-tiba merubah nada suaranya jadi lebih serius, meski tetap santai. "London itu jauh, Bro. Berapa jam sih pesawat ke sana? Belasan jam ya?"
Brant mengangguk pelan sambil mengunyah. "Sekitar empat belas jam.
"Empat belas jam? Gila, pantat gue bisa tepos kelamaan duduk di pesawat," seru Clay terkejut.
"Itu kalau penerbangan langsung," sahut Brant setelah berpikir sejenak, lalu kembali mengisap sedotan es tehnya. "Kalau pakai transit, bisa seharian penuh gue telantar di bandara."
Rey menghela napas. " Btw, Gue nggak kebayang gimana nanti sepinya lapangan basket tanpa lu dan Jack. Terus... gimana sama si Luca? Lu beneran mau ninggalin dia?"
Brant terhenti. Sendoknya berdenting pelan menyentuh piring. "Gue nggak punya pilihan lain. Tapi gue nggak bakal lepasin dia. Gue cuma pergi buat balik lagi dengan posisi yang lebih kuat." Ucap Brant yakin.
"Gue percaya sama lu," ujar Clay sambil menepuk pundak Brant keras-keras. "Tapi saran gue, sebelum lu cabut, puas-puasin deh waktu sama Luca. Biar pas di London nanti, stok kangen lu cukup buat setahun."
"Iya," tambah Rey sambil tertawa kecil. "Kalau perlu, bawa bajunya Luca satu yang belum dicuci, biar lu bisa nyium bau dia kalau lagi kangen di sana. Bau-bau micin nasi goreng itu biasanya awet."
Brant akhirnya tertawa lepas, tawa tulus yang jarang muncul belakangan ini. "Otak lu makin geser ya, Rey. Masa gue bawa baju kotor ke London."
"Tapi bener juga, Brant," Clay kembali menatapnya tulus. "Kita bakal kangen lu. Jangan sampe di sana lu dapet teman bule terus lupa sama kita yang di kantin kumuh ini."
"Nggak akan," sahut Brant mantap. Ia menatap kedua sahabatnya itu. Di tengah kegalauan yang luar biasa, setidaknya ia tahu ada orang-orang yang tetap mendukungnya.
Sementara Jack. Dia tidak terlihat bergabung dengan mereka. Karna sedang sibuk di ruang olahraga, mengurus serah terima jabatan Kapten Tim Basket yang akan segera ia tinggalkan—sebuah proses transisi yang sama beratnya dengan apa yang dirasakan Brant saat ini.
•
Malamnya, di apartemen Brant terasa lebih sunyi dari biasanya. Lampu utama sengaja ia matikan, menyisakan keremangan dari lampu sudut yang berwarna kuning hangat. Brant duduk bersandar di kursi balkon, satu tangannya memegang kaleng bir dingin yang tinggal separuh, sementara tangan lainnya menjepit sebatang rokok yang asapnya menari-nari ditiup angin malam.
Brant butuh waktu ini. Waktu untuk menjadi dirinya sendiri, tanpa harus menjadi pacar yang sempurna untuk Luca, dan tanpa harus menjadi anak kebanggaan. Ia hanya ingin rileks sejenak.
Namun, ketenangan itu hancur saat ponsel di atas meja di sampingnya bergetar hebat.
Layarnya menyala terang, menampilkan satu nama yang selalu berhasil membuat dadanya sesak: "Ayah".
Brant menatap layar itu cukup lama. Ia tidak langsung menjawab. Alih-alih, ia meneguk sisa bir di kalengnya sampai habis dalam sekali teguk, merasakan sensasi dingin dan pahit yang membakar kerongkongannya. Setelah mengembuskan asap rokok terakhirnya, ia baru menggeser tombol hijau.
"Ya," jawab Brant datar.
Percakapan di seberang sana langsung tertuju pada poin utama. Tidak ada tanya kabar, tidak ada basa-basi. Ayahnya langsung menanyakan tanggal pasti wisuda dan meminta rincian kapan seluruh urusan administrasinya di kampus selesai.
"Tinggal nunggu jadwal resmi keluar. Semua berkas sudah beres," jawab Brant singkat.
Ayahnya mulai memberikan wejangan panjang tentang bagaimana ia harus bersikap di London nanti, tentang koneksi yang sudah disiapkan, dan tentang tanggung jawab besar yang menantinya.
"Ayah yakin kau pasti sudah siap dengan semuanya." Kalimat itu diucapkan dengan begitu lugas oleh ayahnya, memburu waktu seolah pria itu sudah tidak sabar lagi untuk segera menerbangkan anak tunggalnya itu ke London.
Brant hanya mendengarkan dengan pandangan kosong ke arah lampu-lampu kota.
"Hmm, iya" gumam Brant setiap kali ayahnya berhenti bicara, sebuah balasan pendek yang menunjukkan ia tak punya tenaga untuk berdebat atau sekadar menanggapi lebih jauh.
Begitu sambungan telepon diputus sepihak oleh ayahnya, Brant melempar ponselnya ke atas sofa. Ia merasa napasnya mendadak pendek. Tekanan itu kembali datang, lebih nyata dari sebelumnya.
Brant melangkah keluar ke teras balkon yang terbuka. Ia melepaskan kaus hitamnya, membiarkan tubuh bagian atasnya terekspos udara malam yang menusuk. Ia butuh sesuatu untuk mengalihkan rasa sesak ini.
Di atas lantai balkon yang keras, Brant memposisikan tubuhnya. Ia mulai melakukan push-up dengan tempo yang cepat.
Satu... dua... sepuluh... tiga puluh...
Hembusan angin malam yang kencang menyapu kulitnya yang mulai berkeringat, namun Brant tidak berhenti. Otot-otot lengannya mengeras, urat-urat di punggungnya tampak menegang setiap kali ia mendorong tubuhnya ke atas.
Ia memacu tubuhnya sampai batas maksimal, mengubah semua rasa gelisah dan amarahnya menjadi kekuatan fisik.
Brant membiarkan rasa lelah menguasai dirinya, berharap penat fisik ini bisa membungkam suara-suara tentang masa depan yang terus menghantuinya.