Kalau kamu butuh novel yang ceritanya manis, menggemaskan, dan ringan, untuk menemani waktu istirahat dan mengusir penat, kisah tentang Anaya dan Bos narsisnya adalah pilihan terbaik.
Setelah lima tahun bertahan menghadapi Bima—CEO muda genius, tajir melintir, dan narsisnya selangit—Anaya sang sekretaris kompeten memutuskan resign demi mengejar mimpi membuka toko kue dan toko buku kecil.
Beban finansialnya tuntas sejak adiknya sukses menjadi atlet nasional.
Namun, rencana resign itu buyar saat Mama Bima justru menjebaknya untuk menjadi menantu. Bagaimana kelanjutan nasib Anaya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: LAMARAN 'TANPA AKHLAK' DARI SANG CALON MERTUA
Perjalanan dari gedung perkantoran Bimantara Food Internasional menuju Menteng sebenarnya hanya memakan waktu dua puluh menit. Namun bagi Anaya, dua puluh menit itu rasanya seperti waktu yang dihabiskan untuk merenungi dosa. Aroma parfum sandalwood milik Bima seolah sudah menempel permanen di indra penciumannya, lengkap dengan bayangan telinga memerah sang bos yang mendadak gagap hanya karena urusan AC panas.
Begitu mobil Alphard hitam fasilitas kantor itu berhenti di depan sebuah bangunan kaca estetik bertuliskan “Ambar’s Rose & Co.”, Anaya langsung turun dengan langkah mantap. Dia mengembuskan napas panjang, bersiap menghadapi kehebohan Ibu Negara yang level dramatisnya sebelas dua belas dengan si bos narsis.
Kring.
Suara lonceng pintu toko bunga berbunyi nyaring begitu Anaya mendorong pintu kaca. Wangi segar kelopak mawar, lili, dan tanah basah langsung menyambutnya. Namun, bukan keindahan bunga yang pertama kali menarik perhatian Anaya, melainkan sosok wanita paruh baya dengan setelan linen mahal warna fuchsia dan kacamata hitam yang bertengger di atas kepala sasakannya.
"Anayaaa! Sayangku!"
Belum sempat Anaya mengucapkan salam, tubuhnya sudah didekap erat oleh Bu Ambar. Bau parfum melati premium langsung menusuk hidung Anaya. Tak tanggung-tanggung, terdengar suara isakan yang sengaja dibuat-buat, lengkap dengan drama bahu yang naik-turun.
"Ibu... Ibu Ambar? Ibu kenapa menangis?" tanya Anaya panik, berusaha melepaskan pelukan maut yang sukses membuat kemeja satinnya makin kusut.
Bu Ambar melepaskan pelukannya, lalu mengeluarkan selembar tisu dari tas Hermes-nya dengan gerakan teatrikal. "Bagaimana Ibu nggak nangis bombay, Anaya? Sopir lobi tadi langsung laporan ke grup WhatsApp keluarga! Katanya kamu bawa amplop putih tebal ke ruangan Bima. Kamu... kamu mau resign, kan? Iya, kan?!"
Anaya menelan ludah. Sialan, intelijen korporat di kantor ini ternyata bergerak lebih cepat daripada lambe turah, rutuknya dalam hati.
Sebelum Anaya sempat membela diri, dari arah sudut ruangan, tepatnya di balik meja kasir kayu jati, muncul seorang pria paruh baya berkaos polo santai. Itu Pak Hartawan, Papa Bima. Berbeda dengan istri dan anaknya yang punya gen heboh dan narsis tingkat dewa, Papa Bima adalah definisi manusia paling santai se-Indonesia. Tangan kanannya memegang sebuah risoles kampung yang setengahnya sudah hilang, sementara mulutnya sibuk mengunyah.
"Udah, Ma. Jangan drama ah pagi-pagi. Kasihan Anaya baru datang udah ditodong begitu. Sini, Nay, duduk dulu. Mau risoles nggak? Masih hangat, nih, baru beli di depan gang," sapa Papa Bima dengan nada super kasual, seolah-olah mereka sedang nongkrong di pos ronda, bukan di toko bunga Menteng.
"Papa diam dulu! Ini urusan masa depan dinasti Bimantara!" semprot Bu Ambar, membuat Papa Bima langsung mengangkat kedua tangan tanda menyerah, lalu kembali melanjutkan ritual mengunyah risolesnya dengan khidmat.
Bu Ambar kembali menatap Anaya, kali ini mata bulatnya berbinar penuh keputusasaan. Dia menggandeng tangan Anaya, membimbingnya duduk di sofa beludru merah muda di tengah toko.
"Saya minta maaf ya, Bu. Tapi keputusan saya sudah bulat," kata Anaya pelan, mencoba selembut mungkin. "Saya sudah lima tahun mendampingi Pak Bima. Saya rasa, tugas saya membenahi hidup anak Ibu di kantor sudah selesai. Saya mau mengejar mimpi saya sendiri."
"Gak boleh! Pokoknya nggak boleh pergi!" Bu Ambar merengek, persis seperti anak kecil yang dilarang beli mainan. "Kalau kamu keluar, siapa lagi yang bisa menghadapi si Bima? Kamu tahu sendiri, sekretaris sebelum kamu cuma bertahan paling lama tiga bulan! Ada yang resign karena asam lambung kronis, ada yang masuk rumah sakit jiwa karena depresi dibilang selera berpakaiannya mirip gorden warteg! Cuma kamu yang tahan, Anaya!"
"Tapi, Bu—"
"Gini aja," Bu Ambar memotong cepat, matanya mendadak berbinar licik, seolah sebuah bohlam lampu seratus watt baru saja menyala di atas kepalanya. "Daripada kamu cuma jadi sekretaris yang digaji, gimana kalau kamu sekalian ambil alih seluruh asetnya? Kamu harus nikah sama Bima!"
"Uhuk! Uhuk!"
Bukan Anaya yang tersedak, melainkan Papa Bima yang berada di pojokan. Beliau langsung memukul-mukul dadanya karena potongan wortel dari risoles mendadak menyangkut di tenggorokan.
Sementara Anaya? Otaknya mendadak mengalami buffering parah. "Maaf, Bu? Nikah? Sama Pak Bima?"
"Iya! Kamu jadi menantu Ibu," ujar Bu Ambar tanpa beban, seolah-olah dia baru saja menawarkan paket hemat ayam goreng. "Ibu tahu, si Bima itu memang rewelnya minta ampun. Cerewet kayak nenek-nenek kurang kerjaan, perfeksionis sampai bikin darah tinggi, narsisnya juga udah stadium akhir. Tapi Anaya... aset dia itu gede banget! Baik aset perusahaan, saham gabungan, maupun... ya kamu tahu lah fisik dia! Tingginya proporsional, mukanya nggak malu-maluin kalau dibawa ke kondangan, dan badannya... beuh, Ibu tahu dia rajin nge-gym sampai kotak-kotak begitu!"
Anaya merasa wajahnya mendadak memanas. Kata-kata "aset fisik" dan "kotak-kotak" dari mulut Bu Ambar langsung memutar kembali memori beberapa menit lalu di ruangan CEO*—saat Bima membuka kancing kemejanya satu per satu\, dan saat kancing celana bahan pria itu mendadak dilepas karena... entahlah\, mungkin karena kegerahan.*
Aduh, kenapa kamu malah mikirin itu lagi, Nay! jerit Anaya dalam hati, berusaha membuang bayangan berdosa itu jauh-jauh.
"Betul, Nay. Papa setuju," sela Papa Bima yang sekarang sudah berhasil menelan risolesnya dengan selamat. Beliau berjalan mendekat sambil membersihkan remah-remah gorengan di jarinya menggunakan tisu. "Daripada si Bima nikah sama model-model sosialita yang cuma bisa habisin duit buat beli tas mewah, Papa lebih ikhlas saham keluarga jatuh ke tangan kamu. Kamu kan pinter kelola keuangan. Lagian, cuma kamu yang bisa bikin Bima nurut."
"Saya nggak pernah bikin Pak Bima nurut, Pak," sahut Anaya defensif, kepalanya mulai pusing menghadapi pasutri kompak di depannya ini. "Yang ada saya yang kurus kering makan hati tiap hari menghadapi perintah ajaibnya."
"Halah, itu kan di kantor. Kalau di rumah, kalau dia macam-macam, kamu tinggal kunciin aja di luar kamar. Biar dia tidur sama kucing," sahut Bu Ambar enteng. Wanita itu merogoh tasnya lagi, kali ini mengeluarkan sebuah kotak beludru merah kecil yang entah sejak kapan sudah dipersiapkan.
Klik.
Kotak itu terbuka, memamerkan sebuah cincin berlian dengan mata sebesar biji jagung yang berkilau luar biasa silau di bawah lampu toko bunga. Anaya sampai harus mengerjap beberapa kali.
"Ini cincin turun-temurun dari neneknya Bima. Ibu sengaja bawa hari ini karena insting Ibu bilang akan ada kejadian besar," Bu Ambar tersenyum penuh kemenangan, lalu meraih jemari tangan kiri Anaya dengan paksa. "Pokoknya, Ibu lamar kamu hari ini secara sepihak untuk anak Ibu yang narsis itu. Surat resign kamu otomatis Ibu batalkan, dan status kamu bulan depan naik dari Sekretaris Direksi menjadi Calon Ibu Negara Kedua!"
"Ibu Ambar, tunggu dulu! Ini namanya pemaksaan kayaknya ya bu?!" seru Anaya setengah tertawa, setengah frustrasi, Anaya tetap mencoba untuk sopan, namun tetap mencoba menarik tangannya perlahan yang kini sudah dipasangi cincin berlian super berat tersebut.
"Nggak ada penolakan, Sayang. Papa, buruan foto! Kirim ke grup WhatsApp keluarga, biar si Bima lihat!" perintah Bu Ambar heboh.
Papa Bima dengan cekatan langsung mengeluarkan ponselnya, mengambil foto tangan Anaya yang memakai cincin dengan latar belakang wajah pasrah Anaya yang terlihat seperti korban penculikan internasional.
Crek.
"Oke, sudah Papa kirim ke Bima," ujar Papa Bima dengan jempol teracung. "Kita lihat, berapa menit lagi anak narsis itu bakal menelepon sambil ngamuk-ngamuk."
Anaya hanya bisa mengelus dadanya yang mendadak terasa sesak. Di kepalanya, koleksi kebun binatang yang tadi sempat jinak, kini mendadak bangun lagi. Kali ini, sekelompok burung unta sedang berlarian panik, sementara seekor singa jantan berwajah mirip Bima sedang tersenyum narsis sambil memakai cincin berlian di ekornya.
Ya Tuhan... cobaan hidup apa lagi ini? batin Anaya menjerit pasrah. Selangkah lagi menuju kebebasan membuat kue, dia malah terancam masuk ke dalam perangkap kepemilikan aset absolut keluarga Bimantara.
Tunggu kelanjutannya, bakal rilis 2 bab tiap harinya jam 08.00 dan 11.00. Stay tune ya kakak, boleh juga kasih hadiah dan dukungannya juga kalau berkenan. Thank uuu
-
ternyata pada masih
malu" kucing...
lanjut Thor ceritanya
di tunggu updatenya
cerita kelanjutannya, Thor
mungkin Anya belum merasakan benih" cinta pak...
pak Bima juga seperti itu
kerjaan melulu yg di fikirkan...