Arjuna Adhitama terbiasa mendapatkan segalanya dengan mudah. Uang, kekuasaan, wanita, semuanya tunduk pada kemauannya. Sampai satu malam yang hujan deras, mobil sport mahalnya mogok di jalan sepi yang jauh dari kota. Di tengah kegelapan dan badai itu, harapannya untuk diselamatkan hampir hilang... sampai ada sepeda motor tua melintas dan berhenti.
Pengendaranya adalah seorang gadis muda dengan baju kotor penuh oli, wajah cantik yang setengah tertutup rambut basah, dan senyum jahil yang bikin Arjuna kesal setengah mati. Dia Kirana.
Sejak malam itu, hidup Arjuna tidak pernah sama lagi. Di mana pun dia berada, takdir seolah mempertemukannya terus dengan Kirana. Gadis itu terusik ketenangannya, membuat emosinya naik turun, bikin dia marah tapi sekaligus ingin tahu lebih dalam.
Apa yang terjadi ketika Tuan Muda paling dingin jatuh hati pada satu-satunya wanita yang tidak peduli sama sekali padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
"Berhenti! Atau kami tembak!" teriak Pak Suryo sambil mengacungkan senjata ke arah mobil.
Tapi mobil itu tidak berhenti. Justru saat jarak tinggal beberapa meter dari gerbang yang hampir tertutup, tiba-tiba pintu mobil bagian belakang terbuka, seorang bocah laki-laki melompat keluar berguling di tanah berdebu tepat sebelum mobil itu berhenti mendadak dengan rem yang berdecit mengerikan.
Seorang wanita paruh baya berlari keluar, menangis histeris, berlari mendekati sosok kecil yang tadi melompat. Dan dari dalam mobil, terlihat dua orang berpakaian serba hitam, wajah tertutup topeng, dengan sigap mengacungkan senjata ke arah wanita dan anak kecil tadi.
"Tolong! Tolong kami! Mereka mau membunuh kami!" jerit wanita itu sekuat tenaga.
Arjuna hendak memberi perintah untuk menyerang, tapi Kirana lebih cepat bergerak. Sebelum ada yang sempat menahannya, gadis itu sudah melompat naik ke atas tembok pertahanan, lalu melompat turun ke luar dengan lincah seperti kucing, mendarat dengan mulus di tengah halaman di antara gerbang yang belum tertutup sempurna.
"Kirana!" Arjuna berteriak kaget, jantungnya hampir berhenti berdetak melihat aksi nekat wanitanya itu. Ia pun langsung berlari menyusul keluar, diikuti anak buahnya.
Kirana berdiri tegak di depan wanita dan anak kecil itu, menghadap dua orang bersenjata itu sendirian. Tangannya tidak memegang senjata, hanya kunci pas besar yang selalu ada di ikat pinggangnya.
"Hei! Manusia bertopeng. Kalau mau berantem, cari lawan yang sepadan. Jangan ganggu wanita dan anak kecil!" seru Kirana dengan nada menyindir suaranya tidak gemetar sama sekali, bahkan terdengar lebih sangat tenang.
Salah satu penjahat itu tertawa sinis.
"Ha ha ha! Minggirlah, gadis kampung! Ini urusan internal keluarga Adhitama! Tidak usah ikut campur kalau tidak mau mati sia-sia!"
Mendengar nama keluarga itu disebut, mata Kirana makin menyala tajam. Ternyata ini ulah Ratna ibu tirinya Arjuna.
"Keluarga Adhitama? Oh, kalau begitu urusan ini memang milikku!" Kirana tersenyum mengerikan, melangkah maju satu langkah. "Dan satu lagi, aku bukan gadis kampung. Aku ... montir yang sedang cari sampah buat disapu bersih!"
Penjahat itu kehilangan kesabarannya, langsung menodongkan senjata ke arah Kirana.
"Mati kau!"
DOR!
DOR!
Dua kali letusan terdengar. Wanita di belakang Kirana menjerit ketakutan. Tapi Kirana tidak jatuh, bahkan tidak bergeming sedikit pun.
Di detik peluru melesat, Arjuna yang baru saja keluar dari gerbang dengan berlari kencang sudah melepaskan tembakan peringatan ke arah ban mobil penjahat itu, membuat kedua penjahat itu terkejut sekaligus gagal fokus karena kehilangan keseimbangan.
Dan momen itu, di manfaatkan Kirana dengan melompat cepat, menghantamkan kunci pas besarnya ke lengan penjahat itu hingga senjatanya terlempar, lalu dengan gerakan bela diri yang lincah dan tajam, hasil latihan keras masa kecilnya ia dengan cepat bisa menjatuhkan kedua penjahat itu ke tanah dalam waktu kurang dari sepuluh detik.
Bruuk!
Bruuk!
Dua tubuh besar terkapar tak berdaya di atas tanah keras itu.
Arjuna berdiri di sana, napasnya masih sedikit memburu karena habis berlari, tapi matanya menatap adegan di depan matanya itu dengan tatapan tak percaya sekaligus kagum. Kirana berdiri di sana, mengibas-ngibaskan tangannya seolah baru saja membuang debu, lalu berbalik menghadap wanita dan anak kecil itu yang masih gemetar ketakutan.
Kirana langsung mengubah wajahnya yang galak menjadi lembut dan hangat. Ia berjongkok menyamakan tinggi dengan anak kecil itu, menyentuh bahu anak itu dengan lembut.
"Kalian sudah aman sekarang."
Wajah wanita paruh baya itu terlihat samar-samar di ingatan Arjuna, ia seolah pernah melihatnya di lingkaran keluarganya dulu, tapi ia juga ragu karena saat itu ia masih kecil.
Wanita itu langsung berlutut di depan Kirana dan Arjuna.
"Terima kasih ... terima kasih banyak, Tuan Muda Arjuna, Nona Kirana ... kalian satu-satunya harapan kami. Saya Rani ... saya mantan sekretaris pribadi mendiang Tuan Arya. Ibu Ratna ingin membungkam semua orang yang berhubungan dengan keluarga Wijaya."
Arjuna dan Kirana saling pandang. Keduanya sama-sama kaget sekaligus paham. Ternyata perang ini lebih kejam dari yang mereka bayangkan. Ratna tidak hanya mengejar mereka, tapi siapa saja yang ada hubungannya dengan nama Wijaya, siapa saja yang dianggap sisa-sisa masa lalu.
Arjuna maju selangkah, membantunya berdiri dengan sopan namun berwibawa.
"Ibu Rani, tenang saja. Mulai detik ini, kalian aman di sini. Tidak ada satu pun orang Ratna yang bisa masuk ke tempat ini tanpa izin kami."
Arjuna menatap Kirana, matanya berbicara banyak hal: Kau lagi-lagi membuatku kaget dan kagum, dan lagi-lagi kau nekat bertaruh nyawa.
Kirana hanya menyeringai kecil, mengedipkan sebelah mata seolah berkata: Tenang saja, Tuan Muda. Aku kan hebat.
Namun saat semua mulai tenang, Arjuna mendekat ke arah Kirana, suaranya rendah, dingin, dan penuh amarah yang tertahan, bukan pada musuh, tapi pada gadis di depannya.
"Kamu pikir kau pahlawan super, hah? Melompat keluar begitu saja tanpa pikir panjang? Kamu tahu betapa mengerikan rasanya melihat nyawamu terancam di depan mataku?" bisik Arjuna tegas, matanya menatap tajam, ada kilatan ketakutan yang nyata di sana.
Kirana yang tadinya santai, mendadak diam. Ia melihat ketulusan rasa takut di mata Arjuna. Ia tahu Arjuna bukan marah karena malu atau salah strategi, tapi marah karena sangat sayang dan tidak mau kehilangan.
Kirana menunduk sedikit, suaranya melembut.
"Maaf ... aku cuma ... tidak bisa diam saja melihat orang lemah disakiti. Dan aku yakin ... kamu pasti melindungiku dari belakang. Aku tahu kanu ada di sana, Arjuna."
Arjuna menghela napas kasar, lalu tanpa ragu ia menarik tubuh Kirana ke dalam pelukannya yang kuat dan erat, memeluknya seolah takut gadis itu akan hilang jika ia kendurkan sedikit saja. Di depan semua orang, di depan anak buah, di depan orang asing ... Arjuna tidak peduli lagi.
"Jangan pernah lakukan itu lagi, Kirana. Duniaku akan hancur kalau sampai ada luka sedikit pun di tubuhmu," bisik Arjuna tepat di telinga Kirana, suaranya bergetar. "Kamu nyawaku, mengerti? Kamu nyawaku."
Kirana tertegun, lalu perlahan tangannya melingkar di pinggang Arjuna, membalas pelukan itu dengan rasa hangat yang memenuhi dadanya.
"Mengerti ... aku janji. Aku tidak akan pergi ke mana-mana tanpa kamu di sampingku. Kita berjuang bareng, kita mati pun bareng."
Di bawah langit senja yang mulai gelap, di depan gerbang benteng mereka, kesetiaan dan cinta itu makin mengeras menjadi baja. Kedatangan Rani dan anak kecil itu bukan sekadar kebetulan atau bahaya ... itu adalah petunjuk baru. Petunjuk bahwa masih banyak orang yang mereka harus lindungi, dan bahwa kejahatan Ratna sudah sampai ke akar-akarnya.
*
*
Dan malam itu juga, berita sampai ke telinga Ratna Adhitama. Berita bahwa pabrik utamanya mengalami kerusakan mendadak yang parah, dan rencananya untuk memusnahkan sisa keturunan Wijaya gagal total karena campur tangan dua anak muda yang ia anggap sampah.
Ratna menggebrak mejanya marah besar, wajahnya memerah menahan amarah yang tak terkira.
"Arjuna ... Kirana ... kalian pikir kalian sudah menang? Ini baru permulaan. Kalian belum tahu seberapa gelap dan kejamnya dunia yang aku bangun ini. Kalian pikir kalian punya kekuatan? Tunggu saja sampai aku buka kartu terbesarku ... kalian akan berlutut memohon ampun sebelum aku menghancurkan kalian berdua sampai tak bersisa!"
Bersambung ....
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
👍👍👍👍👍
❤️❤️❤️❤️❤️