NovelToon NovelToon
Fate Of The Twins

Fate Of The Twins

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:334
Nilai: 5
Nama Author: Putri Shalima

Dua putri kembar lahir, namun nasib memisahkan mereka.
Xiao Ning kecil diculik oleh beberapa orang Penjahat, berganti nama menjadi Luna, dan tumbuh keras di dunia kejahatan. Sementara kakaknya, Xiao Ling, dibesarkan dengan penuh cinta, sehingga menjadi gadis yang lembut, baik hati dan penyayang.
Wajah mereka sama, namun takdir diantara keduanya berbeda. Pada akhirnya takdir itu kembali mempertemukan si kembar, dan identitas pun mulai terungkap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Shalima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB I

Di Kediaman Menteri

  Di kediaman Menteri Pangan kerajaan Barat, Xiao Yu, yang merupakan seorang Menteri pangan sedang berdoa penuh harap. Bagaimana tidak, sudah hampir 8 tahun ia dan istrinya Mei Lin menikah namun juga belum dikaruniai seorang anak. Penantian dan kesabaran mereka akhirnya terbayar lunas. Kabar gembira pun tersebar ke seluruh kediaman, yakni Mei Lin tengah mengandung, dan yang membuat semua makin bahagia, ia mengandung dua bayi sekaligus. Ini adalah anugerah terbesar bagi seluruh anggota keluarga, yang selama ini selalu mendoakan agar garis keturunan mereka tetap berlanjut.

  Saat hari persalinan tiba, prosesnya berlangsung cukup berat dan menegangkan. Anak pertama, yang kemudian diberi nama Xiao Ling, lahir dengan cepat dan lancar, seolah tak sabar ingin melihat dunia. Namun hal berbeda terjadi pada adik kembarnya. Selama hampir tiga jam, bayi kedua itu seolah enggan keluar dari rahim ibunya. Mei Lin harus berjuang sekuat tenaga sampai napasnya tersengal-sengal dan wajahnya menjadi sangat pucat. Akhirnya, dengan sisa kekuatan yang ada, ia pun berhasil melahirkan anak keduanya, Xiao Ning.

  Setelah memeriksa bayi itu, tabib yang membantu persalinan berkata dengan nada pelan. Ia memberi tahu bahwa di bagian punggung kiri Xiao Ning, ada bintik besar yang terlihat jelas; tanda lahir itu akan melekat padanya selamanya. Meski begitu, kelahiran kedua putri ini tetap disambut dengan sukacita dan kasih sayang yang melimpah dari semua orang di kediaman itu.

  Satu tahun berlalu dengan cepat. Tibalah hari adat Turun Tanah, sebuah tradisi di mana bayi diminta memilih satu benda yang disediakan di hadapannya. Orang tua dan orang-orang percaya, benda yang dipilih itu akan menjadi gambaran kehidupan dan masa depan mereka saat dewasa nanti. Di atas kain sutra yang dibentangkan lebar, tersusun berbagai macam barang: tumpukan buku, pena, uang emas, alat hitung, gulungan benang, botol berisi ramuan obat, hingga sebilah belati yang diletakkan di ujung barisan.

  Dengan langkah terhuyung-huyung namun mantap, Xiao Ling berjalan mendekat dan langsung mengambil satu buku tebal dan sebotol ramuan obat. Melihat itu, semua yang ada di sana tersenyum bangga.

  Giliran Xiao Ning pun tiba. Awalnya, tangan mungilnya terulur hendak mengambil tumpukan uang emas yang berkilauan. Tapi tiba-tiba ia berhenti. Ia memalingkan wajah, lalu berjalan menjauh dari uang itu dan dengan berani menggenggam gagang belati yang terasa keras dan dingin.

  Ruangan yang tadinya ramai seketika menjadi hening. Pasangan suami istri itu saling bertatapan, kaget namun sama sekali tidak marah. Ayah mereka, Xiao Yu, malah tersenyum lebar. Ia mengangkat tubuh mungil Xiao Ning ke dalam pelukannya dan menimang-nimang dengan kasih sayang.

  “Bagus sekali,” katanya dengan nada bangga. “Putriku ini kelak bukan hanya akan menjaga dirinya sendiri, tapi juga akan menjadi pelindung bagi seluruh keluarga kita. Ia akan tumbuh menjadi wanita yang berani dan kuat.”

  Lalu ia menoleh ke arah Xiao Ling. “Dan kamu Nak, dengan buku dan obat di tanganmu, kelak akan menjadi penerusku yang bijaksana. Kamu akan menjadi orang yang berilmu dan bermanfaat bagi banyak orang.”

  Hati Mei Lin terasa penuh rasa syukur. Ia lalu mengikatkan sepasang jimat pelindung di lengan kiri kedua putrinya, berharap benda itu selalu menjaga keselamatan dan membawa nasib baik bagi keduanya sepanjang hidup.

  Tiga tahun berlalu. Kedua anak kembar itu tumbuh menjadi gadis kecil yang lincah dan sangat menggemaskan. Suatu hari, Xiao Yu dan Mei Lin berniat mengajak mereka jalan-jalan keluar kediaman agar suasana hati mereka menjadi lebih segar. Di dalam kereta kuda, Xiao Ling duduk tenang dipangkuan ibunya. Sementara Xiao Ning yang sangat aktif, duduk di sebelah pengasuhnya, matanya terus berbinar-binar melihat pemandangan di sepanjang jalan.

  Namun kebahagiaan itu berubah menjadi bencana dalam sekejap mata. Saat kereta melewati jalan yang agak sepi dan rimbun, tiba-tiba sekelompok orang bertopeng melompat keluar dari balik semak-semak dan menghadang jalan. Mereka adalah gerombolan perampok yang terkenal sangat kejam.

  Pertarungan tak bisa dihindari. Xiao Yu bersama para pengawal pribadinya berusaha mati-matian melawan serangan para penjahat itu. Suara benturan pedang dan teriakan bergema di mana-mana. Tapi jumlah musuh terlalu banyak dan serangan mereka terlalu ganas. Di tengah perkelahian, sebilah pedang menusuk kuat ke perut Xiao Yu, membuatnya jatuh terguling dengan luka yang parah. Melihat tuannya kalah, para pengawal yang tersisa pun tak kuasa menahan serangan dan mulai mundur terdesak.

  Para perampok dengan sigap mengambil semua barang berharga yang ada di dalam kereta. Namun salah satu dari mereka melihat Xiao Ning yang sedang menangis ketakutan dalam pelukan pengasuh. Tanpa pikir panjang, ia langsung menyambar tubuh kecil itu dan mengangkatnya tinggi ke atas.

  “Lepaskan anakku! Tolong lepaskan dia!” jerit Mei Lin dengan suara parau, ia berlari hendak mengejar tapi ditarik paksa mundur oleh pengawal yang masih tersisa. Tangis Xiao Ning terdengar nyaring memecah udara, sementara Xiao Ling hanya bisa diam terpaku, gemetar ketakutan dalam pelukan ibunya.

  Tak lama kemudian, para penjahat itu lari membawa semua harta benda yang dicuri. Yang paling menyakitkan hati, mereka membawa pergi Xiao Ning bersamanya. Dalam sekejap mata, kedamaian dan kebahagiaan keluarga ini hancur lebur tak bersisa.

  Hanya sehelai benang hitam yang tertinggal di jalan tempat kejadian. Melihat itu, hati Mei Lin terasa hancur berkeping-keping, namun ia sama sekali tidak mampu berbuat apa-apa. Akhirnya mereka segera kembali ke kediaman dengan perasaan sedih dan takut, terburu-buru untuk mengobati luka suaminya yang cukup parah.

  Sementara itu, di sebuah rumah tua yang kondisi nya sangat buruk dan tidak layak huni, tiga pemimpin kelompok penjahat sedang berkumpul. Mereka membicarakan nasib bayi kecil yang baru saja mereka culik.

“Apa yang harus kita lakukan terhadap anak ini?” tanya salah satu dari mereka.

“Sebaiknya kita bunuh saja, biar cepat selesai,” usul yang lain. Awalnya mereka semua setuju dengan ide itu.

Namun salah satu di antara mereka menolak. “Jangan dibunuh. Lebih baik kita rawat dan besarkan saja. Nanti kalau sudah besar, dia bisa bekerja bersama kita menjadi penjahat.”

Mendengar itu, yang lain malah mencemooh dan meremehkan. “Ah, buat apa merawat anak perempuan? Dia pasti tak akan berguna sama sekali.”

Tapi penjahat yang tadi mengusulkan itu tetap bersikeras dan menjamin, “Percayalah, suatu saat anak ini pasti akan sangat berguna bagi kita.”

  Setelah berdebat cukup lama, akhirnya mereka bertiga sepakat untuk tidak membunuh, melainkan merawat bayi tersebut. Mereka lalu memberi nama Luna untuk anak kecil itu.

  Kehidupan Luna di sana sangatlah sulit dan berat. Setiap hari anak kecil itu terus menangis karena merasa takut, lapar, dan rindu pada orang tuanya. Namun lama-kelamaan, karena setiap hari ia dibawa berkeliling dan melihat segala tindak kejahatan yang dilakukan oleh mereka, perlahan, Luna akhirnya mulai terbiasa dan tak lagi merasa takut dengan semua hal buruk yang terjadi di sekelilingnya.

  Kembali Di kediaman Menteri, kondisi Xiao Yu perlahan mulai pulih dan membaik. Meski demikian, ia dan Mei Lin belum pernah berhenti mencari keberadaan putri kecil mereka yang hilang itu. Hari demi hari mereka berusaha menelusuri jejak, namun sampai sekarang, Xiao Ning belum juga berhasil mereka temukan.

  Sementara itu, Luna tumbuh besar di antara para penjahat. Sejak kecil ia sudah dilatih untuk menjadi tangguh dan ahli dalam perbuatan jahat. Ia terbiasa memegang dan menggunakan berbagai senjata tajam, seperti belati, pedang, panah, dan senjata lainnya dengan sangat lincah dan mahir.

  Tidak terasa 7 tahun berlalu begitu cepat, Saat berusia tujuh tahun, untuk pertama kalinya Luna diajak ikut serta melakukan pencurian bersama para ayah angkatnya. Salah satu dari mereka bernama Cheng. Walaupun sifat Cheng terlihat keras dan kasar, dialah orang yang paling peduli dan selalu bersikap baik kepada Luna.

  Malam itu, mereka masuk diam-diam ke dalam sebuah kediaman besar untuk mencuri. Namun naas, gerak-gerik mereka tanpa sengaja terlihat oleh seorang anak laki-laki. Anak itu berteriak kaget, membuat seisi rumah seketika menjadi heboh dan gaduh. Mereka hampir saja tertangkap, tapi dengan gerakan yang sangat cepat dan lincah, Luna langsung menyambar dan menyeret anak laki-laki itu pergi bersama mereka ke tempat persembunyian, agar rahasia mereka tidak terbongkar.

  Sesampainya di tempat sepi, Luna sudah memegang belatinya dan berniat membunuh anak laki-laki itu. Namun Cheng segera menahan tangan Luna dan mencegahnya.

“Biarkan aku saja yang melakukannya,” kata Cheng tegas. “Kau masih terlalu muda, belum pantas untuk membunuh orang.”

  Mendengar ucapan itu, hati Luna menjadi kesal dan marah. Ia sangat tidak suka jika dibilang masih anak-anak dan dianggap lemah oleh Cheng. Ia tetap bersikeras ingin menyelesaikan nyawa anak laki-laki itu sendiri.

  Melihat Luna yang keras kepala, Cheng akhirnya memberikan usulan lain. “Kalau begitu, jangan dibunuh di sini. Lebih baik kau seret dan buang saja dia ke hutan, tempat biasa hewan-hewan buas itu berkeliaran. Biar nasibnya ditentukan di sana.”

  Mendengar itu, Luna pun setuju. Dengan kasar ia kembali menyeret tubuh anak laki-laki yang sudah gemetar ketakutan itu, menuju tempat yang jauh lebih berbahaya dan mengerikan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!