NovelToon NovelToon
Antara Ketulusan Dan Godaan Bos

Antara Ketulusan Dan Godaan Bos

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:744
Nilai: 5
Nama Author: Argo Sujendro

Demi melunasi utang almarhum ayahnya dan membiayai sekolah adiknya, Andra (23 tahun), seorang pemuda desa yang tampan dan bersahaja, nekat merantau ke Jakarta. Berbekal kejujuran dan ijazah SMK, ia diterima sebagai asisten administrasi di Apex Media, sebuah agensi periklanan papan atas yang gemerlap di kawasan Sudirman.
​Di sana, Andra berhadapan langsung dengan sang bos besar, Nadia (32 tahun), seorang wanita karier sukses yang perfeksionis. Di balik kemewahan hidupnya, Nadia menyimpan kesepian mendalam karena pernikahannya dengan seorang pengusaha kaya telah lama mendingin dan hambar.
​Di tengah belantara Jakarta yang penuh kepalsuan, ketulusan dan kepolosan Andra perlahan mencuri perhatian Nadia. Intensitas kerja hingga larut malam membuat batas profesional di antara atasan dan bawahan ini perlahan mengabur. Andra kini dihadapkan pada dilema moral terbesar dalam hidupnya: bertahan pada ketulusan prinsipnya demi keluarga di desa, atau menyerah pada godaan sang bos yang menawarkan keh

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Argo Sujendro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 : Tiket Sekali Jalan

Aroma tanah kering yang tersiram air sumur di sore hari selalu menjadi hal yang paling Andra sukai dari desanya. Bau petrikor yang khas itu biasanya membawa ketenangan, tanda bahwa hari yang melelahkan telah usai. Namun sore ini, wangi itu terasa berbeda di hidungnya. Ada rasa sesak yang menggelayut di dadanya saat ia berdiri di tepi pematang, memandang hamparan sawah di belakang rumahnya. Batang-batang padi yang seharusnya mulai merunduk penuh bulir emas, justru tampak kerdil dan menguning sebelum waktunya. Kemarau tahun ini terlalu panjang, menolak pergi, dan menyapu bersih harapan para petani termasuk dirinya. Gagal panen lagi.

Andra—pemuda berusia dua puluh tiga tahun dengan kulit sawo matang yang terbakar matahari—mengelap keringat di dahi dan lehernya menggunakan handuk kecil kusam yang melingkar di pundak. Otot-otot lengannya tampak mengencang, sebuah bentuk fisik yang dipahat oleh kerja keras sejak usia muda. Garis rahangnya tegas, kokoh, dengan tulang pipi yang proporsional—sebuah ketampanan alami yang maskulin tanpa perlu bersolek. Namun, sepasang mata hitamnya yang biasanya teduh saat ini sedang menyiratkan beban yang sangat berat.

Sejak ayahnya meninggal dua tahun lalu akibat penyakit paru-paru yang kronis, Andra langsung melompat menjadi tiang penyangga tunggal di keluarganya. Tidak ada waktu untuk meratapi masa muda yang hilang, tidak ada ruang untuk mengeluh tentang impian-impian kuliah yang terpaksa ia kubur dalam-dalam setelah lulus dari SMK jurusan Administrasi di kota kecamatan.

Di rumah panggung sederhana berdinding anyaman bambu yang mulai rapuh dimakan usia itu, Andra tinggal bersama ibunya, Ibu Sumi, yang kesehatannya kian hari kian menurun, serta adik perempuannya, Sekar.

Sekar adalah anak yang cerdas. Tahun ini, dia seharusnya mendaftar ke bangku SMA. Namun, lembaran kertas formulir pendaftaran itu hanya tergeletak di atas meja belajar kayunya yang reyot, belum tersentuh sepeser pun uang pangkal.

"Andra, ini teh hangatnya diminum dulu, Le," panggil Ibu Sumi dari ambang pintu dapur yang langsung menghadap ke selasar kayu. Suara wanita tua itu terdengar parau, diselingi batuk kecil yang buru-buru ia tutupi dengan ujung selendang lusuhnya.

Andra menoleh, langsung memaksakan sebuah senyuman paling hangat yang bisa ia ciptakan. Ia tidak ingin ibunya melihat binar kecemasan di matanya. Pria itu melangkah naik ke selasar, melepas sandal jepitnya yang sudah tipis sebelah, lalu menerima segelas teh manis hangat yang disodorkan ibunya.

"Ibu jangan banyak gerak dulu toh, kan Andra sudah bilang, biar Andra saja yang beres-beres rumah kalau pulang dari sawah," kata Andra lembut, menuntun ibunya untuk duduk di balai-balai bambu ruang tengah.

"Ibu cuma buat teh, Ndra. Ibu masih kuat," jawab Ibu Sumi dengan senyum yang dipaksakan. Namun, matanya yang cekung tidak bisa berbohong. Guratan-guratan keriput di wajahnya menyimpan sejuta beban.

Andra meminum tehnya pelan, merasakan kehangatan menjalar di tenggorokannya, namun rasa pahit di hatinya tetap tidak hilang. Kemarin malam, saat ia hendak mengambil air wudu di dapur untuk salat tahajud, ia tidak sengaja mendengar pembicaraan ibunya dengan Bu RT yang datang berkunjung. Percakapan fajar itu mengiris hatinya. Utang pengobatan almarhum bapaknya di puskesmas kota belum sepenuhnya lunas. Ditambah lagi, warung kelontong di depan desa sudah mulai enggan memberikan bon sembako karena tunggakan mereka sudah berjalan tiga bulan. Mengandalkan upah sebagai buruh tani harian yang tidak menentu jelas merupakan sebuah jalan buntu. Jika ia tetap bertahan di desa ini, mereka bertiga hanya akan perlahan-lahan tenggelam dalam kemiskinan yang mencekik.

Malamnya, setelah Sekar tertidur pulas di kamar sebelah, suasana rumah menjadi sangat hening. Hanya ada suara jangkrik yang saling bersahutan di balik dinding bambu. Di bawah pendar lampu teplok minyak yang bergoyang ditiup angin malam melalui celah dinding, Andra memantapkan hatinya. Di hadapannya, di atas tikar pandan yang sudah robek di beberapa sudut, tergelar sebuah amplop cokelat besar yang kusam. Di dalamnya terdapat ijazah SMK, sertifikat prakerin, dan beberapa lembar surat keterangan kelakuan baik. Semua modal hidupnya ada di sana.

"Bu," ujar Andra memecah keheningan. Nadanya pelan, namun sarat akan ketegasan yang jarang ia tunjukkan.

Ibu Sumi yang sedang melipat kain jarik di sudut ruangan menghentikan aktivitasnya.

Beliau menatap anak laki-laki satu-satunya itu, merasakan ada sesuatu yang berat yang akan disampaikan. "Ada apa, Le? Kok wajahmu serius begitu?"

Andra menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan udara malam desa yang dingin sebelum mengeluarkan kata-kata yang sudah ia endapkan berhari-hari. "Andra mau pamit, Bu. Andra mau merantau ke Jakarta."

Tangan Ibu Sumi seketika bergetar. Kain jarik yang dipegangnya merosot ke pangkuan. Matanya yang mulai kabur menatap Andra dengan tatapan campur aduk antara terkejut dan sedih. "Ke Jakarta? Jauh sekali, Ndra... Kenapa tiba-tiba? Di sini kan kamu masih bisa bantu-bantu di sawah orang."

"Sawahnya kering semua, Bu. Tiga bulan ke depan tidak akan ada yang menanam padi. Buruh tani di desa ini sudah tidak punya kerjaan," Andra bergeser mendekat, menggenggam kedua tangan ibunya yang terasa kasar dan dingin. "Kemarin Andra ketemu Mas Joko, anak Pak RT yang pulang kampung dua hari lalu. Mas Joko bilang, di tempat kerjanya di Jakarta, di sebuah gedung perkantoran besar, sedang butuh tenaga administrasi tingkat bawah. Mas Joko yang kerja jadi sekuriti di sana bersedia memberi rekomendasi. Andra punya ijazah SMK Administrasi, Bu. Nilai Andra juga tidak jelek. Andra mau coba adu nasib di sana."

"Tapi Jakarta itu kejam, Ndra. Orang-orangnya tidak seperti di desa kita," air mata mulai menggenang di pelupuk mata Ibu Sumi. Rasa khawatir seorang ibu yang belum pernah melepas anaknya keluar dari batas kabupaten begitu kentara. "Ibu takut kamu kenapa-kenapa di sana. Ibu tidak butuh uang banyak, Ndra. Yang penting kita kumpul, makan seadanya yang penting kamu selamat."

Andra menggelengkan kepala perlahan, tangannya mengencangkan genggaman pada jemari ibunya, mencoba menyalurkan keyakinan yang ia miliki. "Kalau Andra tetap di sini, utang bapak tidak akan pernah lunas, Bu. Sembako di warung tidak bisa kita bayar, dan yang paling penting... Sekar harus sekolah. Dia anak pintar, Andra tidak mau Sekar putus sekolah dan bernasib sama seperti Andra yang cuma buruh tani. Andra berjanji, Bu. Di sana Andra cuma akan lurus-lurus saja. Kerja, cari uang, lalu kirim ke desa. Andra tidak akan macam-macam. Tolong izinkan Andra, Bu. Restu Ibu itu modal paling besar buat Andra."

Ibu Sumi terdiam cukup lama. Air matanya akhirnya meluncur membasahi pipinya yang kempot. Beliau tahu, di balik sifat Andra yang penurut, pemuda ini memiliki tekad sekeras batu hitam di sungai jika sudah menyangkut urusan melindungi keluarga. Andra adalah replika sempurna dari almarhum suaminya—pria yang lebih memilih menahan lapar asalkan anak istrinya bisa makan. Dengan berat hati namun penuh keikhlasan, Ibu Sumi akhirnya mengangguk. Beliau menarik Andra ke dalam pelukannya, menangis dalam diam sembari membisikkan doa-doa keselamatan di telinga anaknya.

Dua hari kemudian, mentari pagi baru saja mengintip di ufuk timur ketika Andra sudah berdiri di peron stasiun kereta api kecamatan yang kecil dan lengang. Suasana pagi itu berkabut tipis, menambah kesan melankolis pada perpisahan mereka. Tidak ada acara pelepasan yang meriah. Hanya ada ibunya yang berdiri dengan tubuh ringkih berselimut kain jarik tebal, dan Sekar yang menggandeng lengan ibunya erat-erat dengan mata yang sembap karena semalaman menangis tidak rela ditinggal sang kakak.

Di pundak Andra, menggelantung sebuah tas ransel kain usang berwarna hitam yang ritsletingnya sudah agak rusak dan diganti dengan peniti besar. Di dalam tas itu hanya ada beberapa potong baju kaos polos, dua kemeja untuk melamar kerja, satu celana bahan hitam, dan tentu saja, amplop cokelat berisi ijazahnya. Di dalam saku celananya, tersimpan sebuah dompet kulit tiruan yang tipis. Di dalamnya hanya ada uang tunai sebesar tiga ratus lima puluh ribu rupiah—hasil dari menjual satu-satunya aset berharga yang tersisa: sebuah sepeda ontel tua peninggalan almarhum ayahnya yang biasa ia gunakan untuk mengangkut gabah.

"Jaga diri baik-baik ya, Kang," bisik Sekar, suaranya parau. Ia menyerahkan sebuah kotak bekal plastik berisi nasi dengan lauk tempe goreng dan sambal korek buatan ibunya. "Jangan lupa makan. Kalau sudah sampai, langsung kabari Sekar lewat telepon atau pinjam HP Mas Joko."

Andra mengusap kepala adiknya dengan sayang. "Kamu yang rajin belajarnya ya, Kar. Bantu Ibu di rumah. Jangan pikirkan masalah biaya sekolahmu lagi, itu sudah jadi urusan Akang. Kamu fokus saja belajar yang pintar."

Peluit kereta api kelas ekonomi jurusan Pasar Senen berbunyi nyaring, memecah kesunyian stasiun kecil itu. Suara gemuruh roda besi yang bergesekan dengan rel perlahan mendekat, menciptakan angin kecil yang menerbangkan daun-daun kering di sekitar peron. Ular besi itu berhenti dengan derit rem yang memekakkan telinga.

Andra mencium punggung tangan ibunya lama sekali, menghirup aroma minyak kayu putih dan keringat khas ibunya yang mungkin tidak akan bisa ia rasakan untuk waktu yang lama. "Andra berangkat, Bu. Doakan Andra."

"Gusti Allah bersamamu, Le. Ingat pesan Ibu, tetap jujur, jangan pernah ambil yang bukan hakmu," ucap Ibu Sumi dengan suara yang bergetar hebat, menahan tangis agar anaknya tidak berangkat dengan hati yang berat.

Andra melangkah naik ke atas gerbong kereta kelas ekonomi yang pengap. Ia mencari tempat duduknya di dekat jendela, sesuai dengan nomor yang tertera pada tiket kertasnya. Ketika kereta perlahan mulai bergerak maju, meninggalkan stasiun kecil itu, Andra mengeluarkan setengah badannya dari jendela, melambaikan tangan setinggi-tingginya kepada dua wanita yang paling ia cintai di dunia ini. Sisi emosionalnya bergejolak, namun ia tahan rapat-rapat. Sosok ibu dan adiknya perlahan-lahan mengecil, mengabur, hingga akhirnya benar-benar lenyap di balik tikungan rel dan pepohonan jati.

Andra kembali duduk tegak di kursinya yang keras. Ia menatap keluar jendela, memandang pemandangan sawah desanya yang kering berganti menjadi perumahan penduduk yang kian padat seiring kereta melaju ke arah barat. Pemuda desa yang memiliki paras tampan dan bersahaja itu menarik napas dalam-dalam, menggenggam erat tali ranselnya di pangkuan.

Ia tidak tahu seperti apa rupa Jakarta yang sebenarnya. Ia tidak tahu tentang hutan beton yang angkuh, tentang kemacetan yang gila, atau tentang intrik-intrik tajam di dalam gedung pencakar langit. Yang ada di kepala Andra saat ini hanyalah satu keyakinan tunggal: Jakarta, aku datang untuk bekerja keras. Aku tidak akan pulang sebelum berhasil mengubah nasib keluargaku.

1
Master Haki
terbaik dan bikin penasaran
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!