NovelToon NovelToon
Sumpah Pengawal Kuno

Sumpah Pengawal Kuno

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mamah Nissa

Gugur dalam tragedi berdarah di abad ke-14, jiwa Nyai Kencana—kesatria wanita Kerajaan Sunda—terlempar ke masa modern. Ia merasuki raga Citra, mahasiswi beasiswa yang nekat melompat dari jembatan demi menjaga kehormatannya dari jebakan pemerkosaan.
​Kini, Citra bangkit dengan kepribadian baru: dingin, tegap, dan menguasai ilmu kanuragan kuno. Tidak ada lagi Citra lemah yang bisa ditindas!
​Perubahan drastis Citra membuat Elang Dirgantara, pewaris tunggal konglomerat yang angkuh dan sombong, penasaran sekaligus jengkel. Hubungan mereka layaknya anjing dan kucing yang selalu bergesek konflik.
​Namun, roda takdir berputar. Keluarga Elang bangkrut total dalam semalam. Diusir, dikhianati teman-temannya, dan nyaris bunuh diri.
Bagaimana kisahnya baca terus novelnya ya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamah Nissa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kehormatan di Atas Retakan Beton

Langkah kaki Citra Kencana bergema ganjil di atas aspal gang yang retak-retak. Malam kian larut, dan atmosfer di dalam gang yang menjepit di antara ruko-ruko kosong itu terasa semakin menyempit, seolah dinding-dinding beton di kanan kirinya sedang perlahan bergerak merapat untuk meremukkan tubuhnya. Bau menyengat dari tumpukan sampah basah di sudut selokan berkelindan dengan hawa lembap sisa hujan sore tadi, menciptakan sensasi mual yang menekan ulu hatinya.

Tap. Tap. Tap.

Citra mempercepat ritme langkahnya. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga suaranya terasa memekakkan telinganya sendiri. Udara malam yang gerah mendadak terasa sedingin es saat ia menyadari sebaris audio yang mengerikan: gema langkah kaki di belakangnya tidak lagi tunggal. Ada sinkronisasi langkah sepatu bot berat yang sengaja melambat setiap kali ia melambat, dan berderap cepat setiap kali ia mencoba bergegas.

Ia melirik ke samping secara naluriah. Di bawah pantulan sebatang lampu merkuri jalanan yang berkedip-kedip sekarat dengan suara mendengung monoton, sebuah bayangan bertubuh besar dan kekar terproyeksi memanjang di atas dinding batako ruko. Bayangan itu bergerak patah-patah, mengikutinya bagai hantu kelaparan yang mengincar mangsa.

"Tolong, sedikit lagi... sebentar lagi sampai jalan raya," bisik Citra pada dirinya sendiri, suaranya bergetar hebat. Air mata kecemasan mulai menggenang di pelupuk matanya, membuat pandangannya terhadap ujung gang yang remang menjadi kabur. Ia meremas ransel kainnya yang dipeluk erat di depan dada, menggunakannya sebagai perisai rapuh untuk menutupi detak jantungnya yang kian tak beraturan.

Namun, harapan Citra runtuh seketika saat ia berbelok di tikungan terakhir yang menuju ke arah jembatan layang penghubung antar-kampung. Dari balik kegelapan bayang-bayang tiang beton penyangga jembatan, dua sesosok tubuh pria bertubuh tegap mendadak melangkah keluar, memotong jalur langkahnya secara mutlak.

Citra tersentak mundur, kakinya tersandung undakan semen yang pecah. Ia berbalik dengan panik, berniat lari kembali ke arah jalan utama kampus. Namun, pria yang sedari tadi membuntutinya telah berdiri di sana, mengunci satu-satunya jalan keluar yang tersisa. Citra Kencana kini terperangkap di sebuah sudut mati. Sebuah area buntu yang terjepit di antara dinding ruko tinggi yang dipenuhi coretan grafiti dan pagar pembatas jembatan beton yang langsung menghadap ke arah jalur hijau bawah layang yang gelap gulita.

Tiga pria itu perlahan melangkah maju, mempersempit ruang gerak Citra hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa depa. Di bawah temaramnya cahaya malam, Citra bisa melihat wajah-wajah kasar mereka yang dihiasi tato murahan di bagian leher dan bekas luka sabetan di pelipis. Bau alkohol murahan dan asap rokok kretek yang pekat menguar dari pakaian mereka, langsung menguasai indra penciuman Citra yang mulai didera kepanikan akut.

"Mau ke mana buru-buru, Cantik? Malam-malam begini jalan sendirian, gak takut diculik setan apa?" ujar pria yang berdiri di tengah sambil memainkan sebuah korek api gas di tangannya. Klik. Klik. Kilatan api kecil itu menerangi seringai menjijikkan di wajahnya.

"T-tolong... jangan ganggu saya. Saya gak punya uang. Uang saya habis..." Citra memohon dengan suara yang nyaris habis, persendian lututnya terasa lemas bak selembar kain basah. Tubuhnya gemetar hebat hingga ransel dalam pelukannya terlepas.

Brak!

Tas ransel itu jatuh terhempas ke atas tanah kering yang berdebu. Resletingnya yang sudah rusak terbuka, membuat buku-buku diktat akuntansi, alat tulis murahan, dan lembaran kertas catatan yang ia tulis dengan susah payah sepanjang malam berserakan di atas beton kotor.

Pria di sebelah kiri tertawa terbahak-bahak, sebuah suara parau yang terdengar menjijikkan di kesunyian malam. "Duit? Siapa yang butuh duit lo, Dek? Kita ke sini cuma mau main-main sebentar kok. Ada orang baik yang udah bayar kita buat nemenin lo malam ini. Biar lo gak kesepian."

"TOLONG! SIAPAPUN TOLONG!" Citra menjerit sekuat tenaga, mengabaikan rasa perih di tenggorokannya. Ia mendongak ke arah ruko-ruko di sekitarnya, berharap ada satu jendela yang terbuka atau satu orang saja yang melongokkan kepala. Namun, jeritannya bagai lenyap ditelan kegelapan malam Jakarta yang egois. Suara klakson dari jalan tol yang jauh meredam jeritannya, menjadikannya sebatang lidi yang patah di tengah badai.

Pria bertato itu mendadak merangsek maju. Sebelum Citra sempat menghindar, sebuah tangan yang kasar dan besar mencengkeram pergelangan tangan kirinya dengan kekuatan yang mengunci, sementara tangan lainnya merenggut kerah kemeja flanel pudar yang dikenakannya.

Sreeet!

Suara kain yang robek terdengar begitu tajam, memotong udara malam. Kancing-kancing kemeja Citra terlepas, berhamburan di atas aspal, mengekspos bagian kaos dalam putihnya yang tipis serta kulit bahunya yang putih pucat. Sentuhan kulit kasar pria itu pada bahunya memicu gelombang kejutan psikologis yang luar biasa hebat di dalam dada Citra.

"Lepas! Bajingan, lepas!!" Citra memberontak membabi buta. Ia memukul, mencakar, dan menendang seadanya, namun kekuatannya tidak lebih dari sekadar jentikan jari bagi pria bertubuh kekar itu. Pria itu justru semakin merapatkan tubuhnya, menjepit tubuh Citra ke dinding batako ruko, sementara tangannya yang bebas mulai meraba pinggangnya dengan tawa yang memuakkan.

Di tengah puncak keputusasaan yang melumpuhkan itu, di saat air mata menodai seluruh wajahnya yang jelita, sebersit kilasan memori yang asing namun teramat tajam mendadak melintas di dalam ruang bawah sadar Citra. Itu bukan memorinya. Itu adalah sebuah letupan rasa dingin yang menolak untuk merangkak di kaki musuh. Jiwanya yang selama ini dikenal pemalu, penakut, dan selalu menunduk, mendadak dirayapi oleh sebuah harga diri yang teramat besar, sebuah prinsip purba yang mengkristal di dalam batinnya: Lebih baik hancur menjadi debu, daripada membiarkan kehormatan ini dinodai oleh kebiadaban.

Citra menatap wajah pria di depannya dengan sorot mata yang mendadak berubah, tak lagi penuh ketakutan, melainkan sebuah kekosongan tekad yang mengerikan. Ia menolak untuk menjadi korban yang hidup dalam trauma selamanya. Ia menolak untuk memberikan kepuasan kepada siapapun yang telah merancang neraka ini untuknya.

Dengan satu sentakan energi yang entah datang dari mana, Citra memajukan kepalanya lalu menghantamkan dahinya sekuat tenaga ke arah hidung pria yang mencengkeramnya.

Brak!

"AAAGH! Bangsat!" Pria itu melolong kesakitan, cengkeramannya terlepas seketika saat ia terhuyung mundur sembari memegangi hidungnya yang mulai mengucurkan darah segar.

Dua preman lainnya terkejut, tak menyangka gadis yang semula rapuh bagai burung pipit itu akan memberikan perlawanan senekat itu. Namun sebelum mereka sempat bergerak untuk meringkusnya kembali, Citra telah membalikkan badan dengan cepat. Ia tidak lari ke arah gang buntu, melainkan melompat ke atas undakan beton benteng pembatas jembatan.

Kini, Citra berdiri di atas tepian pagar beton yang sempit. Angin malam bertiup kencang, menerbangkan rambut hitamnya yang panjang serta mengibarkan kemeja flanelnya yang robek. Di bawah kakinya, sejauh sepuluh meter ke bawah, membentang kegelapan jalur hijau bawah layang yang dipenuhi batuan kali sharf dan fondasi tiang pancang beton yang keras. Pilihan di hadapannya telah mengkristal dengan sangat jernih dan kejam: membiarkan tubuhnya diseret kembali ke dalam kegelapan untuk dinodai, atau terjun menjemput maut demi menjaga kesucian dirinya.

"Heh! Jangan gila lo! Turun gak?!" teriak salah satu preman dengan wajah yang mendadak pucat pasi demi melihat nekatnya gadis itu. Tugas mereka hanya untuk menodai dan merusak mental korban, bukan untuk menghadapi kasus pembunuhan atau bunuh diri yang pasti akan menyeret pihak kepolisian berskala besar.

Citra Kencana tidak mendengarkan ancaman itu lagi. Air matanya masih mengalir membasahi pipi, namun sepasang matanya menatap lurus ke arah kegelapan di bawahnya dengan ketenangan yang magis. Pada detik-detik terakhir itu, rasa takut terhadap kematian menguap, digantikan oleh rasa bangga yang aneh karena ia berhasil memegang kendali atas akhir hidupnya sendiri.

"Saya tidak akan pernah membiarkan kalian menang," bisik Citra lirih, sebuah kalimat terakhir yang ditujukannya entah pada para preman di hadapannya atau pada takdir kejam yang selalu merundungnya.

Citra memejamkan matanya rapat-rapat. Dengan satu langkah kaki yang pasti, ia menjatuhkan dirinya ke depan, melepaskan pijakannya dari atas beton pembatas.

Efek jatuh bebas itu terasa begitu dramatis di dalam kesadarannya. Angin malam menderu keras di kedua telinganya, mengangkat tubuhnya yang ringan seolah-olah ia sedang terbang melintasi batas dimensi waktu. Bayangan lampu jalan, ruko kotor, dan wajah panik para preman melesat ke atas, menjauh dengan kecepatan tinggi, sebelum akhirnya dunia beralih menjadi kesunyian yang absolut selama satu persekian detik.

BRRAAAK!

Suara hantaman keras daging dan tulang yang beradu dengan permukaan batu kali dan tanah keras menggema mengerikan di bawah jembatan layang. Tubuh Citra terhempas dengan posisi miring. Benturan itu begitu hebat hingga mematahkan beberapa tulang rusuknya, meretakkan tengkorak belakangnya, dan menghancurkan persendian lengannya seketika. Darah segar, merah pekat dan hangat, langsung menyembur dari mulut dan pelipisnya, mengalir cepat membasahi dedaunan kering dan tanah di sekelilingnya.

Di atas jembatan, ketiga preman itu melongokkan kepala mereka ke bawah dengan tubuh yang gemetar ketakutan.

"Mati dia... cewek itu beneran mati!" bisik salah satu dari mereka dengan suara megap-megap.

"Sialan! Natasha gak bilang kalau cewek ini gila! Cabut! Cabut sekarang sebelum ada yang lihat!" seru si pemimpin preman yang hidungnya masih berdarah.

Tanpa memedulikan tas ransel atau barang-barang Citra yang tertinggal di atas gang, ketiga pria itu berbalik dan lari tunggang-langgang menembus kegelapan, meninggalkan tempat kejadian perkara dalam kesunyian yang mencekam.

Di bawah jembatan yang sunyi, tubuh Citra Kencana tergeletak tak berdaya bagai boneka kain yang rusak. Napasnya tersisa satu-satu, sangat tipis dan pendek, berkejaran dengan malaikat maut yang siap mencabut sisa kehidupannya. Matanya yang setengah terbuka menatap kosong ke arah langit malam Jakarta yang hitam tanpa bintang. Kesadarannya kian meredup, bersiap memasuki kegelapan abadi yang dingin. Namun, tepat di titik nadir ketika detak jantungnya hampir berhenti sepenuhnya, seberkas udara hangat yang tidak kasat mata mendadak berdesir di sekeliling tubuhnya yang bersimbah darah. Rantai takdir yang terikat oleh sumpah berabad-abad lalu di Lapangan Bubat mendadak bergetar hebat, bersiap melepaskan muatan magisnya yang telah terkunci selama ratusan tahun.

1
Darma
hik kasihan citra
Apis
thor sebenernya ceritanya bagus tp gmn ya bnyk kata" yg g sat set ke inti jln ceritanya
Mamah Nissa: siap kk di bab awal lebih banyak bercerita, sedikit dialog ya. makasih sarannya kak, ini tanggung di draft udah sampe bab 32. bab 33 ke sana coba dibikin yang lebih simple.
total 1 replies
Sarah
Woahh, bab 1 yang keren. Meskipun kadang paragraf kerasa tetlalu panjang. Tapi masih enak diliat sih. 👍
Mamah Nissa: Makasih kakak sudah mampir mohon bimbingannya...
total 1 replies
Mamah Nissa
siap kk. makasih dah mampir mohon bimbingannya
putratunggal
mantaps ceritanya meski baru awal
Mamah Nissa: makasih kak mohon bimbinganya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!