Rian seorang pemuda yang bertahan hidup di kiamat zombie di khianati oleh temannya yang selalu dia percayai , ketika tiba-tiba dia kembali ke masalalu.
dengan kekuatan dan pengetahuan dari masa depan ,aku ,akan membalas perlakuan semuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alu feed, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ROH IBLIS BAYANGAN LANGIT DAN ULAR LEGENDA
Rian dan Indah memasuki area terdalam Dungeon Hutan Belantara Level 5.
Semakin jauh mereka berjalan, suasana hutan semakin sunyi.
Tidak ada suara burung.
Tidak ada suara serangga.
Hanya suara langkah kaki mereka yang terdengar di antara pepohonan raksasa.
"Kamu benar."
Indah menghela napas lega.
"Sudah sejauh ini, tapi belum ada monster kuat yang muncul."
Rian hanya tersenyum tipis.
Ia memang sudah mengetahui rahasia dungeon ini.
Bagi para pemula, tulisan "Level 5" hanyalah ujian keberanian.
Namun tetap saja, bukan berarti tempat ini sepenuhnya aman.
Srek...
Srek...
Suara gesekan dedaunan tiba-tiba terdengar dari semak di dekat mereka.
Indah langsung berhenti berjalan.
"Apa kamu dengar itu?"
Rian mengangguk.
"Aku dengar."
Matanya bergerak cepat mengamati sekitar.
Tiba-tiba tubuhnya berputar.
Tangannya menarik Indah ke belakang.
Dalam gerakan yang hampir tidak bisa dilihat, pedangnya melesat ke depan.
Cratt!
Seekor ular sepanjang satu meter tertancap di batang pohon.
Tubuhnya diselimuti sisik keras menyerupai batu.
[Ular Batu Level 1]
Indah langsung mundur satu langkah.
Wajahnya sedikit pucat.
Rian mencabut pedangnya.
"Tenang."
"Monster seperti ini tidak terlalu berbahaya."
Indah mengangguk, tetapi jemarinya masih sedikit gemetar.
Ini adalah pertama kalinya ia melihat monster sungguhan.
Apalagi membunuhnya.
Rian memahami perasaannya.
Di kehidupan sebelumnya, ia juga pernah mengalami hal yang sama.
"Jangan terburu-buru."
"Kita masih punya waktu."
Sejak saat itu, setiap kali menemukan monster level 1, Rian membiarkan Indah menghadapinya sendiri.
Ia mengajarkan cara memegang pedang.
Cara menyerang.
Dan cara menjaga jarak.
Sementara monster level 2 tetap ia selesaikan sendiri.
Perlahan-lahan, gerakan Indah mulai menjadi lebih baik.
...
Beberapa waktu kemudian.
Sebuah layar sistem tiba-tiba muncul.
[PERINGATAN]
[Anda telah memasuki wilayah Monster Legenda]
[Disarankan untuk segera mundur]
Indah langsung menghentikan langkahnya.
"Rian..."
"Kurasa kita harus kembali."
Namun Rian tetap berjalan ke depan.
"Jangan khawatir."
"Aku tahu tempat ini."
Melihat keyakinan dalam mata Rian, Indah akhirnya mengangguk.
"Baik."
"Aku percaya padamu."
Mereka terus maju.
Peringatan sistem muncul berulang kali.
Sampai akhirnya pepohonan mulai menyingkir.
Pemandangan di depan mereka membuat Indah membeku.
Seekor ular raksasa tergeletak di tanah.
Panjangnya mencapai puluhan meter.
Tubuhnya sebesar gedung.
Darah hitam mengalir dari luka-luka di tubuhnya dan membentuk kolam kecil di sekitarnya.
Meski sudah mati, tekanan yang dipancarkannya masih membuat napas terasa berat.
Indah tanpa sadar memegang lengan Rian.
"Ayo pergi..."
"Aku tidak suka tempat ini."
Namun Rian justru menatap bangkai ular itu dengan mata berbinar.
Akhirnya ia menemukannya.
"Indah."
"Tunggu aku di sini."
"Aku akan segera kembali."
Tanpa menunggu jawaban, Rian berjalan menuju mulut ular raksasa tersebut.
...
Bagian dalam tubuh ular itu gelap dan sunyi.
Rian terus berjalan mengikuti ingatannya.
Di kehidupan sebelumnya, ia pernah mendengar sebuah rumor.
Bahwa di dalam bangkai ular legenda yang mati di Dungeon Hutan Belantara tersembunyi sebuah harta yang tak ternilai.
Saat itu ia menganggapnya hanya cerita biasa.
Namun sekarang...
Ia berdiri tepat di depan harta tersebut.
Lima senjata melayang di udara.
Tiga pedang.
Dua pisau.
Mereka berputar mengelilingi sebuah gumpalan cahaya hijau yang memancarkan aura misterius.
Mata Rian membesar.
"Jadi benar-benar ada..."
Senyum perlahan muncul di wajahnya.
"Roh Iblis Bayangan Langit."
Bahkan di kehidupan sebelumnya, benda ini termasuk harta yang diperebutkan banyak orang.
Nilainya tidak bisa diukur hanya dengan uang biasa.
Rian mengangkat tangan kirinya.
Cincin penyimpanan di jarinya memancarkan cahaya samar.
"Masuk."
Whoosh!
Gumpalan cahaya hijau beserta seluruh senjata di sekitarnya langsung terserap ke dalam cincin.
Dalam sekejap, seluruh ruang kembali sunyi.
Dan jantung Rian mulai berdegup lebih cepat.
Ia baru saja memperoleh salah satu keberuntungan terbesar sejak kembali ke masa lalu.