Hari ini adalah hari ulang tahun Arla yang ke-18, dimana ia sudah dianggap dewasa dan 'matang'. Sehingga sudah saatnya ia dipanen dan dijual oleh rumah lelang ini.
Sebagai seorang gadis yang dijual oleh keluarganya sendiri, ia dirawat oleh rumah lelang ini untuk dijual kepada para laki-laki hidung belang dengan harga yang lebih mahal. Meski begitu, keluarganya sering datang dan mengatakan bahwa mereka menyesal menjualnya dan berjanji untuk membelinya kembali agar dapat pulang ke rumah dan berkumpul dengan keluarganya lagi.
Akan tetapi saat malam ulang tahunnya datang, tak ada satupun keluarga yang datang untuk menebusnya. Sehingga ia terpaksa dijual kepada laki-laki yang tidak ia kenal.
Bagaimana nasib Arla setelah dibeli oleh laki-laki itu, dan apakah ia akan berakhir menyedihkan seperti para budak nafsu yang telah mati karena kekerasan, seperti yang dialami oleh banyak gadis yang keluar dari tempat ini...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Q Lembayun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Patah hati
Malam ini, Arla kembali melihat sisi lain dari Abimana yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Saat laki-laki itu tadi dibopong oleh seorang laki-laki lain untuk masuk ke dalam rumah, Arla dapat melihat dengan jelas bahwa Abimana sebenarnya masih sepenuhnya sadar. Ia hanya berpura-pura tidak berdaya. Arla tidak tahu apa yang membuat Abimana bersikap seperti itu, namun melihat bagaimana ia tidak seterang dan seceria saat berangkat bekerja, membuat Arla justru merasa khawatir.
“Kamu tahu aku berpura-pura?” tanya Abimana pada Arla.
Arla menganggukkan kepalanya. Walaupun ia baru mengenal sosok Abimana belum lama ini, Abimana sudah menjadi eksistensi yang istimewa di mata Arla. Karena itu, Arla selalu berusaha melakukan yang terbaik agar Abimana merasa senang dan bahagia. Hal itulah yang membuat Arla menjadi sangat peka, hampir terhadap setiap perubahan suasana hati Abimana.
“Apakah menurutmu aku terlihat bodoh?” tanya Abimana.
Abimana duduk dengan punggung yang lebih tegak, namun dengan tatapan mata yang terasa lebih kosong. Ia menatap ke arah pintu, seolah melihat kembali bayangan sahabatnya yang baru saja pergi beberapa saat yang lalu.
“Apakah kamu melihat laki-laki yang membawaku tadi? Dia adalah sahabatku, namanya Reza. Kami sudah saling mengenal sejak masa orientasi mahasiswa baru, dan bersahabat hingga sekarang di tempat kerja yang sama. Dia adalah sahabat yang sangat baik, selalu ada di saat suka maupun duka. Sahabat seperti itu sangatlah berharga, dan hal itu juga yang membuatku merasa seperti orang bodoh.”
Arla mendengarkan setiap kata yang diucapkan Abimana. Ia mendekat, lalu membelai rambut Abimana yang sedikit berantakan, membiarkan laki-laki itu merasa nyaman dan merasa didengarkan. Sentuhan itu membuat Abimana lebih leluasa untuk melanjutkan ceritanya.
Abimana menikmati setiap sentuhan dari istrinya. Setiap sentuhan itu terasa seperti obat terbaik bagi kegundahan dan rasa sakit di dalam hatinya.
“Reza juga merupakan alasan aku bertemu dengan cintaku. Seorang gadis yang selalu tersenyum dan didambakan oleh banyak laki-laki. Dia adalah teman baik Reza sejak kecil dan selalu bersamanya ke mana pun Reza pergi. Hal itu membuatku juga terbiasa berada di sekitarnya. Sebagai laki-laki yang kurang tertarik pada hubungan, aku merasa gadis itu istimewa dan aku merasa nyaman dengannya.”
Diana adalah sosok gadis yang selalu hadir dalam fantasi banyak laki-laki. Parasnya sangat cantik, dengan senyuman yang indah. Tubuhnya tidak terlalu tinggi sehingga nyaman untuk dipandang. Ia pintar dan juga sangat perhatian. Hal itu membuat banyak laki-laki berlomba-lomba untuk menaklukkan hatinya. Namun siapa yang menyangka bahwa Abimana adalah salah satunya—laki-laki yang berhasil membuat Diana berkomitmen menjadi kekasihnya.
Abimana merasa hidupnya saat itu sangat bahagia. Ia mengira bahwa inilah cinta sejati. Ia tidak menyangka cinta pertamanya mungkin akan menjadi cinta terakhirnya juga, bukan dalam bentuk perpisahan, melainkan pernikahan.
Saat mereka baru memulai hubungan, Diana selalu mengatakan bahwa ia tidak ingin mengganggu studinya, jadi lebih baik mereka tidak membicarakan hubungan itu kepada orang lain. Abimana pun langsung setuju, menganggap alasan itu masuk akal, apalagi ia sendiri juga tidak menyukai sorotan orang lain terhadap hubungan pribadi.
Meski begitu, rumor demi rumor tentang dirinya mulai bertebaran. Ada yang mengatakan bahwa ia gay dan menyukai laki-laki, ada yang mengatakan bahwa ia seorang penderita aseksual, dan ada juga yang mengatakan bahwa Abimana sebenarnya memiliki hubungan dengan Reza.
Abimana sendiri tidak peduli pada apa yang orang lain katakan tentangnya, karena pada kenyataannya ia sudah memiliki seorang kekasih.
“Aku tahu rumor itu, dan aku juga tahu keluargaku mengetahui hal itu. Kadang aku berpikir bahwa tidak penting bagaimana pendapat orang lain terhadapku, selama Diana senang maka aku juga akan senang. Tapi terkadang aku juga merasa muak dengan ocehan orang lain. Aku ingin mengatakan kepada semua orang bahwa Diana adalah pacarku, tapi aku ingat dia tidak menyukai itu.”
Abimana selalu berpikir tentang bagaimana cara membahagiakan Diana dan membuatnya nyaman. Hingga bertahun-tahun berlalu, hubungan seperti itu membuat keduanya merasa cukup tenang. Pekerjaan menjadi lebih stabil, dan terkadang mereka mencuri waktu untuk kencan di tempat sepi, di mana tidak ada seorang pun yang mengenali mereka, sehingga mereka bisa menikmati waktu berdua saja.
“Aku tidak pernah membayangkan wanita lain selain Diana yang akan menjadi istriku di masa depan. Dia adalah satu-satunya alasan aku berani mengambil keputusan untuk menikah. Tapi saat aku benar-benar siap menggenggam tangannya menuju altar pernikahan, aku melihatnya berselingkuh dengan Reza, sahabatku sendiri. Dia tidak mengelak, dan itu membuatku semakin sakit hati. Saat aku bertanya apakah dia akan memilihku atau Reza, dia menjawab dengan tegas dan lantang bahwa cintanya hanya tertuju pada Reza.”
Abimana ingin memukul Reza dengan keras dan melampiaskan amarahnya. Namun ia selalu teringat betapa baiknya Reza selama ini. Ia tidak sanggup mengatakan pada Reza bahwa mereka ternyata mencintai wanita yang sama.
Abimana menatap Arla dengan tatapan penuh rasa sakit dan kekecewaan. Rasa itu terpancar jelas dari matanya yang memerah dan air mata yang jatuh. Namun ia berusaha mengabaikan kerapuhannya, hanya ingin menunjukkan pada Arla betapa konyolnya kisah cinta yang selama ini ia banggakan.
“Aku berpikir bahwa aku mungkin korban dan mereka berdua adalah pengkhianat. Aku tidak bersalah, dan aku adalah orang pertama yang menjadi kekasih Diana. Tapi aku salah. Reza yang pertama, dan aku hanya selingan."
Abimana tertawa miris. Selama hampir tujuh tahun, ia mengabdikan hidupnya untuk satu orang wanita, namun ternyata wanita itu hanya menjadikannya selingan. Cinta yang mereka ucapkan bertahun-tahun itu ternyata hanyalah omong kosong yang dibalut kebohongan.
Namun yang membuat Abimana paling terluka adalah kenyataan bahwa hatinya masih tidak bisa berbohong—ia masih mencintai Diana sepenuh hati.
“Meski hatiku terasa ditikam dan jiwaku sangat terluka, aku tidak bisa membohongi diriku sendiri bahwa aku masih mencintai Diana sampai saat ini. Aku berharap dia kembali padaku dan memilihku daripada Reza. Hal itu membuatku bahkan merasa malu untuk melihat wajah sahabatku sendiri. Padahal aku selalu tahu bahwa Reza mungkin adalah orang yang paling dibohongi Diana. Tapi aku tetap tidak bisa menolak kenyataan bahwa aku berharap Reza melepaskan Diana untukku.”
Arla terdiam. Ia menatap Abimana dengan tatapan yang bercampur antara marah dan cemburu. Bagaimana mungkin laki-laki sebaik ini dipermainkan begitu mudah oleh satu wanita. Di saat yang sama, Arla juga merasa cemburu karena melihat betapa tulusnya cinta Abimana kepada wanita lain.
Arla menatap wajah sempurna itu. Ia memperhatikan air mata yang jatuh dan membayangkan semua itu seharusnya ditujukan untuknya. Ia ingin menjadi wanita itu—wanita yang dicintai Abimana sepenuh hati. Jika itu terjadi, ia pasti akan memperlakukan Abimana dengan sangat baik dan tidak akan pernah mengkhianatinya.
Arla ingin cinta itu menjadi miliknya. Ia ingin wanita itu lenyap, dan posisinya digantikan oleh dirinya sendiri.