Selama dua tahun pernikahan, Adrian hidup layaknya sampah di keluarga besar istrinya, keluarga Wijaya. Diinjak-injak, dihina, dan dipaksa merangkak bagai anjing hanya demi sekeping uang untuk pengobatan ibunya yang sekarat, Adrian mencapai batas kesabarannya. Namun, tepat di titik terendah hidupnya, sebuah suara mekanis menggema di kepalanya: 'Sistem Penguasa Dewa Berhasil Diaktifkan.'
Bermodalkan dana instan sebesar 10 miliar rupiah di hari pertama dan misi-misi ajaib dari sistem, Adrian bangkit dari statusnya sebagai menantu sampah. Dalam waktu singkat, dia membalikkan keadaan, menguasai roda ekonomi kota, dan membuat orang-orang yang dulu menghinanya berlutut memohon ampun.
Dunia mengiranya hanya seorang menantu miskin yang tidak berdaya, tanpa tahu bahwa di balik layar, Adrian adalah "Dewa" yang mengendalikan segalanya dari kegelapan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andrean Matabuh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14: Fondasi Imperium Baru
Kemenangan mutlak di Balai Lelang Negara segera menjadi buah bibir yang mengguncang seluruh penjuru kota. Nama Wijaya Group yang dulunya hanya dikenal sebagai perusahaan logistik kelas menengah di daerah, kini mendadak meroket menjadi entitas raksasa yang paling ditakuti. Keberhasilan Kirana mengambil alih PT Baskoro Logistik Nusantara dengan harga dua ratus miliar rupiah tunai membuat para konglomerat lokal sadar bahwa peta kekuatan bisnis telah digambar ulang.
Namun, di balik semua kemegahan itu, aku tahu bahwa ini barulah permulaan. Akuisisi fisik seperti gudang, kapal kargo, dan pelabuhan hanyalah sebuah wadah. Untuk membangun sebuah imperium sejati yang tidak akan pernah bisa runtuh oleh kekuatan politik mana pun, aku membutuhkan kendali penuh atas aliran darah dunia modern: sistem keuangan.
Sore itu, di dalam ruang kerja Direktur Utama yang kini sudah diperbaiki dan didekorasi ulang dengan sofa kulit baru yang jauh lebih mewah, aku sedang duduk menghadap laptop khususku. Jari-jariku bergerak cepat di atas papan ketik, menatap deretan kode enkripsi berkeamanan militer tingkat tinggi yang berkedip di layar monitor.
Di dalam pusat kesadaranku, sebuah dokumen digital berstempel emas dari Bank Sentral baru saja tersinkronisasi sepenuhnya dengan basis data komputerku.
[Ding! Surat Izin Operasional Bank Digital Global: 'Asura Digital Bank' telah resmi aktif dan terdaftar secara hukum internasional!]
[Karakteristik Bank: Bebas dari pelacakan otoritas pajak konvensional, terintegrasi dengan jaringan satelit mandiri, dan memiliki likuiditas tanpa batas dari rekening dana Sistem Penguasa Dewa.]
[Misi Utama Tahap Tiga Diaktifkan: Daftarkan 1 Juta Pengguna Aktif Pertama dan Monopoli Aliran Dana Korporasi di Lima Kota Besar!]
[Hadiah Misi: Cetak Biru Teknologi 'Energi Terbarukan Tingkat Dewa' & Saldo Rekening senilai Rp 100 Miliar!]
Sebuah senyuman dingin terukir di wajahku. Dengan lahirnya Asura Digital Bank, aku bukan lagi sekadar seorang investor kaya yang suka membeli properti atau saham secara tunai. Kini, aku adalah pemilik sistem. Aku adalah institusi yang bisa menentukan hidup mati perusahaan lain hanya dengan memutus atau mengalirkan likuiditas dana kepada mereka.
Kelek.
Pintu ruangan terbuka. Kirana melangkah masuk dengan memegang beberapa berkas laporan yang baru saja selesai disusun oleh tim hukum perusahaan. Wajahnya yang cantik tampak sedikit lelah, namun sepasang matanya berbinar terang, memancarkan pesona seorang wanita penguasa yang kini telah matang. Dia berjalan mendekatiku, lalu dengan manja menyandarkan tangannya di bahuku, ikut menatap layar laptop yang penuh dengan grafik sistem perbankan.
"Adrian, tim hukum kita sudah menyelesaikan proses balik nama seluruh aset pelabuhan eks-Baskoro Group," ucap Kirana dengan suara yang lembut namun terdengar sangat bangga. Dia mengecup pipiku sekilas sebagai tanda terima kasih. "Tapi, aku masih bingung dengan dokumen yang baru saja dikirimkan oleh Bank Sentral ke alamat email pribadi kantor kita. Mereka bilang, sebuah lembaga keuangan baru bernama Asura Digital Bank telah menunjuk Wijaya Group sebagai mitra korporasi utama untuk penyaluran dana pinjaman mikro sebesar sepuluh triliun rupiah. Apakah... ini juga bagian dari rencanamu?"
Aku berbalik, merangkul pinggang ramping istriku dan menatap mata indahnya dengan penuh kasih sayang. "Benar, Kirana. Asura Digital Bank adalah milikku. Mulai hari ini, Wijaya Group tidak perlu lagi mengemis pinjaman modal atau membayar biaya administrasi yang mencekam kepada bank-bank milik konglomerat lain. Kita akan mengalirkan seluruh dana operasional kita secara mandiri, dan di saat yang sama, kita akan menawarkan sistem pembayaran digital ini kepada seluruh jaringan vendor dan pelaku bisnis logistik di kota ini."
Kirana menelan ludah dengan susah payah, dadanya naik turun dengan cepat menahan debaran jantung yang luar biasa karena syok yang kesekian kalinya. Memiliki uang puluhan miliar adalah satu hal, tetapi mendirikan sebuah bank digital berskala global dengan kapasitas penyaluran dana puluhan triliun rupiah dalam waktu semalam adalah sesuatu yang berada di luar batas nalar manusia biasa.
"Adrian... jika bank digital ini resmi meluncur, kita bukan hanya menguasai pelabuhan, tapi kita juga akan memegang kendali atas perputaran uang seluruh pengusaha di kota ini," bisik Kirana, menyadari skala ambisi yang sedang kurancang di dalam kepalaku.
"Bukan hanya di kota ini, Kirana. Targetku adalah menguasai seluruh jaringan keuangan negara ini dalam waktu tiga bulan," jawabku tegas penuh percaya diri.
Tepat di saat kami sedang menyusun strategi peluncuran bank tersebut, ponsel di atas meja kerja Kirana mendadak berdering nyaring. Layar ponsel menampilkan nama panggilan yang sudah sangat lama tidak pernah menghubungi kami: Bramasta Wijaya. Kakek Kirana.
Kirana mengangkat alisnya, lalu menekan tombol pengeras suara agar aku bisa ikut mendengarkan. "Ya, Kakek? Ada apa?"
"K-Kirana! Adrian!" suara Kakek Bramasta di ujung telepon terdengar sangat panik dan dipenuhi dengan rasa ketakutan yang teramat sangat. "Kalian berdua harus segera datang ke Rumah Utama keluarga Wijaya sekarang juga! Masalah besar terjadi... sisa-sisa sekutu Baskoro Group dari ibu kota... mereka baru saja mendarat di kota ini dengan membawa pasukan bersenjata! Mereka menyandera Erika dan Kevin di dalam rumah, dan mereka menuntut Adrian untuk datang menyerahkan diri dalam waktu satu jam, atau mereka akan meratakan seluruh kompleks perumahan kita!"
Deg!
Kirana langsung berdiri dari posisinya dengan wajah yang mendadak memucat. "Apa?! Mereka membawa pasukan bersenjata?! Kakek, bagaimana dengan kondisi Ibu?!"
"Ibumu histeris, Kirana! Kevin sudah babak belur dihantam oleh pemimpin mereka! Mereka bilang mereka adalah tim pembunuh bayaran 'Black Cobra' yang disewa langsung oleh Teguh Baskoro sebelum dia ditahan kemarin! Tolong... Adrian, Kakek mohon bantuannya! Hanya kamu yang bisa melawan monster-monster itu!" ratap Kakek Bramasta dari balik telepon sebelum suara sambungan mendadak terputus oleh suara tembakan peringatan yang sangat nyaring.
Dor!
Kirana menjatuhkan ponselnya ke atas meja, tubuhnya gemetar hebat menatapku dengan mata yang berkaca-kaca karena panik. "Adrian... Ibu... Kak Kevin... bagaimana ini? Mereka membawa senjata api! Kita harus melapor ke pihak kepolisian sekarang juga!"
Aku perlahan berdiri dari kursi kerjaku. Alih-alih merasa panik atau takut seperti Kirana, sepasang mataku justru berkilat dingin, memancarkan aura membunuh yang sangat pekat dan mengerikan. Di dalam pembuluh darahku, aliran energi dari Seni Bela Diri Dewa Asura mendadak bergejolak hebat, menuntut sebuah pelampiasan darah yang nyata. Rupanya, sisa-sisa kecoa dari keluarga Baskoro ini benar-benar bosan hidup dan ingin merasakan bagaimana rasanya menghadapi amarah dewa yang sesungguhnya.
"Tidak perlu melibatkan polisi, Kirana. Mereka bergerak terlalu lambat," ujarku dengan nada suara yang sangat datar namun sarat akan ancaman yang mematikan. Aku berjalan menuju pintu ruangan, lalu menoleh sekilas ke arah istriku. "Tetaplah berada di dalam gedung ini bersama para sekuriti. Aku akan pergi ke Rumah Utama sendirian untuk membersihkan hama-hama dari ibu kota itu dari kota kita selamanya."
Dengan langkah yang gagah dan dipenuhi aura kemurkaan seorang Penguasa Dewa, aku melangkah keluar dari ruangan, bersiap untuk memulai pembantaian malam ini di Rumah Utama keluarga Wijaya.