Sael, seorang pengacara muda yang ambisius, akhirnya kembali ke tanah kelahirannya setelah tujuh tahun di luar negeri.
Ia dipertemukan kembali dengan Aeros—pria yang dulu ia kenal sebagai teman masa kecil, namun diam-diam menyimpan perasaan terhadap Sael.
Mereka mulai menyadari bahwa hubungan ini tidak lagi bisa disandarkan pada kata "kakak-adik".
Bagaimana mereka menghadapi cinta yang tumbuh di tengah ambisi dan debar yang tak lagi bisa disembunyikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 : Maaf Yang Tidak Terduga
Kata-kata Kael terus berputar di kepala Aeros. 𝘒𝘦𝘣𝘶𝘳𝘶 𝘥𝘪𝘵𝘪𝘬𝘶𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘤𝘰𝘸𝘰𝘬 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘢𝘤𝘢𝘳𝘢, 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘬𝘢𝘬.
Aeros mengembuskan napas frustrasi, melirik piring Sael yang masih menyisakan roti dan telur setengah matang buatannya.
Aeros bangkit berdiri. Ia mengambil segelas susu cokelat hangat dan piring sarapan Sael yang baru, lalu melangkah menaiki tangga menuju lantai dua.
Di depan pintu kamar Sael, Aeros berdeham kaku sebelum mengetuk pintu kayu itu, menghilangkan kegugupannya.
𝘛𝘰𝘬 𝘛𝘰𝘬 𝘛𝘰𝘬
"Sael? Ini aku. Buka pintunya," panggil Aeros.
Tidak ada jawaban dari dalam. Sael benar-benar sedang merajuk.
Aeros tidak menyerah. Ia memutar kenop pintu yang tidak dikunci oleh Sael. Begitu pintu terbuka, ia mendapati Sael sudah berganti pakaian rapi menggunakan kemeja kerja berwarna biru muda dan rok sepan hitam. Gadis itu sedang memasukkan beberapa berkas ke dalam tas kerjanya dengan gerakan kasar dan berisik—seolah ingin menegaskan bahwa ia sedang tidak ingin diganggu.
Aeros melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya, lalu menaruh nampan berisi sarapan dan susu hangat itu di atas meja kerja Sael.
"Makan dulu. Tadi kamu baru makan sedikit kan," ujar Aeros.
Sael hanya melirik nampan itu sekilas dengan ekor matanya, lalu melanjutkan aktivitasnya merapikan tas tanpa berniat menyahut. Atmosfer cuek yang dipasang Sael membuat Aeros berdeham canggung.
"Nggak usah," sahut Sael akhirnya dengan nada sedingin es, tanpa menatap Aeros sama sekali. "Aku kan kerbau. Makannya nanti saja kalau sudah sampai di kandang."
Sindiran itu membuat Aeros mengusap tengkuknya yang tidak gatal. Aeros melangkah mendekat.
"Aku... nggak bermaksud ngomong begitu tadi," ucap Aeros pelan, matanya menatap lurus ke mata Sael. "Aku minta maaf. Semalam aku tahu kamu kecapean malah aku maksain kamu suruh bantu liat berkasku. Maaf ini salahku."
Sael tertegun sejenak. Alisnya terangkat sebelah, masih mempertahankan wajah datarnya yang sengaja dibuat untuk menghukum Aeros. "Kerbau? Kakak ngatain aku kerbau, aku sejelek itu ya?"
"Mulutku ini emang sialan kalau pagi. Maaf," jawab Aeros cepat dan jujur, sambil menepuk mulutnya sendiri.
"Kalau perlu, aku bakal berlutut di sini sampai kamu memaafkan aku" ujar Aeros sungguhan, ia bahkan sudah bersiap-siap untuk berlutut.
"Apaan sih, jangan kaya gini" Sael dengan cepat menarik lengan Aeros.
Aeros bangkit dengan senyum kecil lalu mengambil gelas susu cokelat hangat dan menyodorkannya ke depan wajah Sael. "Minum ini, terus habiskan rotinya. Setelah itu aku antar kamu ke kantor."
Sael menatap gelas susu itu, ia akhirnya menerima gelas itu. "Aku bisa berangkat sendiri, Kak."
"Sekalian aja bareng aku. Mobilku udah siap di bawah," potong Aeros, "Buruan. Aku tunggu di mobil." Aeros bergegas keluar dari kamar Sael.
Takut Sael kembali berubah pikiran, Aeros bergegas keluar dari kamar gadis itu. Sael menatap pintu yang tertutup dengan helaan napas pendek, lalu meminum habis susu cokelat buatan Aeros.
Sepuluh menit kemudian, Sael sudah duduk di kursi penumpang mobil SUV hitam milik Aeros. Namun, alih-alih membuka obrolan, Sael memilih untuk memasang earphone di kedua telinganya, menyalakan musik, dan melempar pandangannya lurus ke luar jendela kaca. Ia sengaja mengabaikan keberadaan Aeros yang duduk di balik kemudi.
Aeros sesekali melirik Sael dari sudut matanya. Suasana di dalam mobil terasa begitu sunyi, hanya ditemani deru mesin dan keheningan yang diciptakan Sael.
Sael benar-benar mengunci rapat mulutnya, bahkan ketika Aeros sengaja berdeham beberapa kali untuk memancing perhatiannya, Sael tetap bergeming, pura-pura asyik mengetuk-ngetukan jarinya di atas paha mengikuti irama lagu yang sebenarnya tidak terlalu ia dengarkan.
"Nanti malam kamu lembur lagi?" tanya Aeros akhirnya, memecah keheningan saat mobil mereka terjebak lampu merah.
Sael tidak langsung menjawab. Ia sengaja melepas satu earphone-nya dengan gerakan lambat, menoleh sedikit tanpa minat. "Enggak tahu. Tergantung draf revisi dari klien," jawab Sael cuek.
Setelah itu, ia kembali memakai earphone-nya dan sibuk membalas pesan di ponsel.
Melihat Sael yang begitu fokus pada ponselnya—dan kemungkinan besar sedang bertukar pesan dengan rekan kerjanya—dada Aeros kembali berdenyut cemburu. Emosinya yang sempat mereda kembali terpancing.
"Lain kali kalau makan daging porsi banyak begitu, jangan malam-malam. Lambungmu bisa kaget, apalagi kalau habis itu kamu langsung tidur tanpa jeda waktu," ujar Aeros, nadanya terdengar seperti sebuah teguran namun ada perhatian di dalamnya.
Gerakan jemari Sael di atas layar ponsel seketika terhenti. Ia melepas kedua earphone-nya, lalu menoleh sepenuhnya. Sael menyipitkan matanya curiga, menatap tajam samping wajah tegas Aeros yang berpura-pura fokus menatap lampu lalu lintas.
"Kak Aeros kemarin sore melihat aku di rumah makan?" tanya Sael menyelidik.
"Hmm... Aku nggak sengaja lewat rumah makan itu kemarin sore. Jalanan macet," jawab Aeros melirik Sael sekilas.
"Oh," sahut Sael singkat, lalu kembali menatap ponselnya. Hanya satu kata, datar tanpa ekspresi, sebelum ia kembali bersandar dan mengalihkan wajahnya ke jendela, sengaja membuat Aeros mati penasaran dengan apa yang ada di dalam pikirannya.
Mobil akhirnya berhenti tepat di depan lobi gedung firma hukum tempat Sael bekerja. Sael melepas sabuk pengamannya, lalu meraih tas kerjanya.
"Makasih tumpangannya, Kak Aeros," ucap Sael membuka pintu mobil.
"Sael," panggil Aeros.
Sael berbalik, "Ya?"
"Nanti malam... kalau enggak lembur, aku jemput," ujar Aeros, kalimat itu meluncur begitu saja,
Sael mengerjapkan matanya, ia mengangguk sekali. "Hm, nanti aku kabari kalau ingat."
Gadis itu turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam gedung. Aeros terus menatap punggung Sael hingga siluetnya benar-benar hilang di balik pintu kaca lobi.
Pria itu menyandarkan punggungnya ke jok mobil, mengembuskan napas lega yang panjang, sementara sudut bibirnya perlahan menyunggingkan senyum tipis yang tak bisa ia tahan lagi.
Kalimat "𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘬𝘢𝘣𝘢𝘳𝘪" sudah lebih dari cukup untuk membuat harinya terasa jauh lebih cerah.
apakah yang ketujuh ini mereka akan.. 🤔
kenapa aku malah jadi ngitungin😄
kael menganggu aja🤣
pengen liat visualnya
ada ngga thor😍😍
apakah bakal ada cowok baru lagi...
mungkin cowok yang di luar negeri itu, yang aeros singgung di bab 1🤔🤔
semua love language dia ambil
titip pacar saya😍
jadi ikut digelitik kupu-kupu😄