NovelToon NovelToon
Kisah Sang Anak Mafia

Kisah Sang Anak Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mafia / Misteri
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Reza Haris

Arda Valdarez baru berusia delapan tahun ketika dunianya runtuh dalam satu malam.

Sebagai pewaris tunggal keluarga Valdarez—organisasi mafia terbesar dan paling ditakuti di kota—Arda tumbuh di balik tembok mansion mewah, dijaga oleh orang-orang bersenjata, dan dibayangi rahasia yang tak pernah dijelaskan kepadanya. Namun semua berubah ketika ayahnya, Leon Valdarez, dibunuh dalam sebuah pengkhianatan berdarah.

Sebelum menghembuskan napas terakhir, Leon hanya meninggalkan satu benda kepada putranya: sebuah cincin hitam berlambang ular.

Sejak malam itu, Arda menjadi buruan.

Organisasi mafia saingan, pembunuh bayaran, geng kriminal, hingga para pengkhianat dalam keluarganya sendiri memburu anak kecil itu demi sebuah rahasia yang tersembunyi di dalam cincin tersebut.

Di tengah pelariannya, Arda ditemani oleh Ravian, tangan kanan ayahnya yang sangat loyal, Darius, veteran tua keluarga Valdarez, Kael, pembunuh legendaris yang telah lama dianggap mati,serta Elena, seorang gadis misterius

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reza Haris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18 Peluru untuk Sang Pewaris

Foto itu mengubah segalanya.

Selama bertahun-tahun, Kael dan Ravian percaya bahwa mereka memahami sebagian besar potongan masa lalu keluarga Valdarez.

Mungkin tidak semuanya.

Namun cukup untuk mengetahui siapa teman dan siapa musuh.

Ternyata mereka kira mereka mengetahui apa yg terjadi pada masa lalu keluarga velderez tapi mereka salah akan hal itu.

Sangat salah.

Kini sebuah foto lama yang muncul secara misterius justru membuka kemungkinan baru.

Kemungkinan yang jauh lebih berbahaya dari yg sekarang ini atau mungkin sangat bahaya.

Ada orang ke lima.

Sosok yang berdiri di belakang Leon, Isabella, Kael, dan Marcus.

Sosok yang sebagian wajahnya tertutup bayangan.

Sosok yang selama ini tidak pernah disebut dalam arsip mana pun.

Dan semakin mereka mencoba mengingat...

Semakin mereka sadar bahwa mereka tidak tahu siapa orang itu.

Pagi hari di rumah persembunyian terasa berat.

Tidak ada yang berbicara banyak saat sarapan.

Bahkan Elena yang biasanya mencoba mencairkan suasana memilih diam.

Karena semua orang sedang memikirkan hal yang sama.

Jika memang ada orang kelima...

Lalu di mana dia sekarang?

Dan yang lebih mengerikan...

Apakah dia selama ini mengawasi mereka?

Arda duduk di ujung meja.

Secangkir kopi di depannya hampir tidak disentuh.

Ia tidak bisa berhenti memikirkan foto tersebut.

Bukan hanya karena misterinya.

Tetapi karena satu hal lain.

Foto itu diberikan oleh lelaki bertopeng hitam.

Artinya pria misterius itu tahu sesuatu.

Sesuatu yang bahkan tidak diketahui Kael dan Ravian.

Dan itu membuat Arda semakin yakin.

Pria bertopeng tersebut bukan musuh biasa.

Ia adalah bagian dari masa lalu keluarganya.

Bagian yang sengaja disembunyikan.

Di ruang kerja.

Kael berdiri di depan papan investigasi.

Puluhan foto.

Nama.

Tanggal.

Lokasi.

Semua ditempel memenuhi dinding.

Ravian sedang membuka beberapa arsip lama yang berhasil ditemukan dari gudang penyimpanan.

Namun hasilnya nihil.

Tidak ada data.

Tidak ada identitas.

Tidak ada petunjuk.

Seolah orang kelima itu tidak pernah ada.

Dan justru itulah yang membuat Kael semakin gelisah.

Karena seseorang tidak bisa menghilang begitu sempurna tanpa bantuan.

Seseorang telah menghapus jejaknya.

Dengan sengaja.

"Kalau dia masih hidup..."

ucap Ravian pelan.

"...maka dia pasti sangat berbahaya."

Kael tidak menjawab.

Karena ia memikirkan hal yang sama.

Bahkan mungkin lebih buruk.

Karena siapa pun orang itu...

Ia mengenal Leon.

Mengenal Isabella.

Dan mengenal seluruh rahasia keluarga Valdarez.

Siang menjelang.

Sebuah laporan baru datang.

Salah satu jalur pengiriman Valdarez kembali diserang.

Namun kali ini berbeda.

Para penyerang tidak mengambil barang.

Tidak membakar kendaraan.

Tidak mencuri uang.

Mereka hanya membunuh para penjaga.

Lalu pergi.

Kael langsung membaca laporan tersebut.

Dan wajahnya berubah.

Karena tindakan itu memiliki satu tujuan.

Intimidasi.

Seseorang sedang mengirim pesan.

Pesan yang sangat jelas.

"Kita sedang diburu."

gumamnya.

Arda yang mendengar laporan itu langsung merasakan firasat buruk.

Perang memang sedang berlangsung.

Namun semua ini terasa lebih pribadi.

Lebih terarah.

Seolah musuh tidak hanya ingin menghancurkan Valdarez.

Tetapi juga ingin menghancurkan mereka satu per satu.

Sore hari.

Darius membawa Arda ke area latihan.

Sudah beberapa hari mereka tidak berlatih serius.

Namun hari ini berbeda.

Tatapan Darius terlihat jauh lebih keras.

"Serang."

ucapnya.

Arda langsung bergerak.

Namun dalam hitungan detik...

BRAK!

Tubuhnya kembali menghantam lantai.

Darius berdiri tenang.

"Ulangi."

Arda bangkit.

Lalu menyerang lagi.

Hasilnya sama.

BRAK!

Kali ini lebih keras.

Arda mengerang pelan.

"Fokusmu buruk."

ucap Darius.

"Aku fokus."

"Tidak."

jawab Darius tegas.

"Kau berpikir terlalu banyak."

Arda terdiam.

Karena pria itu benar.

Kepalanya dipenuhi terlalu banyak hal.

Pengkhianat.

Orang kelima.

Lelaki bertopeng.

Perang.

Kematian.

Semuanya bercampur menjadi satu.

Darius berjalan mendekat.

Kemudian berkata pelan.

"Kalau kau tidak bisa memisahkan emosi dari medan perang..."

"...kau akan mati."

Kalimat itu terdengar dingin.

Namun Arda tahu itu bukan ancaman.

Itu kenyataan.

Menjelang malam.

Kota kembali menunjukkan tanda-tanda kekacauan.

Beberapa wilayah mulai mengalami bentrokan antar kelompok kriminal.

Bisnis-bisnis tutup lebih awal.

Jalanan menjadi lebih sepi.

Orang-orang mulai takut keluar malam.

Dan ketakutan itu terus menyebar.

Seperti api.

Di sisi lain kota.

Seseorang sedang memperhatikan semuanya dari kejauhan.

Pria itu berdiri di atas gedung kosong.

Mantel hitamnya bergerak diterpa angin malam.

Topeng gelap masih menutupi wajahnya.

Lelaki misterius itu.

Ia menatap lampu-lampu kota.

Kemudian perlahan mengalihkan pandangan ke arah rumah persembunyian Valdarez.

Seolah tahu apa yang sedang terjadi di sana.

Seolah selalu tahu.

Sementara itu.

Di rumah persembunyian.

Arda baru saja selesai makan malam ketika suara alarm keamanan berbunyi.

WUUUUUUUUNG!

WUUUUUUUUNG!

WUUUUUUUUNG!

Semua orang langsung berdiri.

Wajah Kael berubah seketika.

Ravian meraih senjatanya.

Darius bergerak menuju jendela.

"Ada apa?"

tanya Arda.

Salah satu penjaga berlari masuk.

Wajahnya pucat.

"Nembak jarak jauh!"

teriaknya.

"Seseorang menembak dari luar area!"

Dalam hitungan detik rumah berubah kacau.

Semua orang bergerak.

Lampu luar dimatikan.

Posisi perlindungan diaktifkan.

Dan suara tembakan kembali terdengar.

DOR!

Kaca jendela pecah.

Semua orang langsung menunduk.

Arda merasakan jantungnya berdetak sangat cepat.

Ini bukan serangan biasa.

Seseorang sedang mencoba membunuh seseorang di dalam rumah.

Dan beberapa detik kemudian mereka mengetahui siapa targetnya.

Karena peluru berikutnya menghantam tepat di tempat Arda berdiri beberapa saat sebelumnya.

DOR!

Pecahan kayu beterbangan.

Kael langsung menarik Arda ke bawah.

"Turun!"

bentaknya.

Arda jatuh ke lantai.

Napasnya memburu.

Matanya membelalak.

Karena ia akhirnya menyadari sesuatu.

Target itu adalah dirinya.

Di luar area rumah.

Seorang penembak jitu bersembunyi di antara bangunan kosong.

Matanya mengintip melalui teleskop senapan.

Wajahnya tidak terlihat.

Namun gerakannya sangat tenang.

Sangat profesional.

Ia kembali mengarahkan bidikan.

Ke satu titik.

Arda.

Namun tepat sebelum menarik pelatuk...

Seseorang muncul dari belakangnya.

Cepat.

Tanpa suara.

Penembak itu baru menyadari kehadiran orang tersebut saat sudah terlambat.

BRAK!

Tubuhnya terlempar.

Senapan jatuh.

Dan sebelum sempat bangkit...

Pisau dingin sudah berada di lehernya.

Penyerang misterius itu membeku.

Karena pria yang berdiri di hadapannya memakai topeng hitam.

Lelaki misterius yang sama.

"Siapa yang mengirimmu?"

tanya pria bertopeng itu.

Tidak ada jawaban.

Hanya keheningan.

Kemudian dalam sekejap...

Penembak tersebut menggigit sesuatu.

Kapsul racun.

Beberapa detik kemudian tubuhnya terkulai.

Mati.

Lelaki bertopeng hitam menatap mayat itu tanpa ekspresi.

Lalu mengangkat senapan yang terjatuh.

Matanya perlahan mengarah ke rumah persembunyian.

Ke arah tempat Arda berada.

"Belum waktunya."

gumamnya pelan.

Kemudian ia menghilang ke dalam kegelapan malam.

Di dalam rumah.

Kael baru menerima laporan dari tim pencari.

Tidak ada pelaku.

Tidak ada jejak.

Tidak ada petunjuk.

Seolah penembak itu menghilang begitu saja.

Namun satu hal sudah jelas.

Musuh kini tidak lagi menyerang bisnis.

Tidak lagi menyerang gudang.

Mereka mulai memburu keluarga Valdarez secara langsung.

Dan sasaran pertama mereka...

Adalah Arda.

Pewaris terakhir keluarga Valdarez.

Seseorang baru saja mencoba membunuhnya.

Dan kemungkinan besar...

Itu bukan yang terakhir.

1
kiya kiya
Bintang 5 buat author nya 😍
kiya kiya
keren ceritanya 👍
farazky: makasih kakak🥰🥰
total 1 replies
fahmi
semangat kakak author
KZ2
mantap lanjut thor
farazky: siap kak 🥰
total 1 replies
Afan Bagus
mantap cerita nya
Al Faris
bagus ceritanya banyak misteri saya suka cerita begini
semangat kak dalam berkarya nya 💪💪💪
Al Faris
agak seru ceritanya 👍
Al Faris
nah gini kan bagus kak
Al Faris
untuk kakak bab ini terlalu banyak kata yg berjarak terlalu jauh sebagai pembaca kurang nyaman tolong diperbaiki lagi yaa kakak author 😍. tetap semangat kakak dalam berkarya 💪💪
farazky: terimakasih kakak atas saran dan kritikannya🥰
total 1 replies
fahmi
ini bagus 👍 gak kayak bab 6 tadi
fahmi
untuk bab ini banyak kali jarang antar kata nya. sudah enak sih bacanya dari 1 sampe 5. semangat terus author nya 💪💪💪
farazky: baik terimakasih kakak atas koreksinya 😍
total 1 replies
fahmi
semangat kakak author 💪
fahmi
👍
Al Faris
semangat
Al Faris
semangat kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!