"Aku lahir dari puncak sebuah ego yang membara, Tapi aku dikunci rapat oleh darah dan rahasia maut di malam badai.
Aku membuat dua orang yang saling mencintai menatap dengan tatapan es,
Dan aku terukir abadi sebagai garis pucat di perut sang wanita. Siapakah aku?"
Enam tahun lalu, ego memisahkan mereka.
Sebuah kecelakaan maut yang merenggut nyawa Amara, sahabat dari Vexana Valerio Dan Landon Dasmon—mengubah cinta membara menjadi kebencian pekat yang saling menyalahkan.
Kini, takdir memaksa Vexana dan Landon kembali berhadapan di koridor kampus yang sama.
Di antara dendam yang membakar dan penyesalan yang terlambat, mampukah mereka mengungkap kebenaran malam badai itu, atau justru hancur bersama puing-puing masa lalu?
~~~~~~
Happy reading 🦋🌷
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#11
Langkah kaki Vexana yang berketuk di atas lantai koridor Fakultas Teknik Elektro perlahan-lahan menjauh, mengalun seperti detak jam dinding yang menghitung mundur kehancuran profesionalisme seorang Landon Desmon.
Siluet anggun wanita itu berbelok di ujung lorong, menghilang di balik kerumunan mahasiswa, meninggalkan keheningan yang luar biasa mencekam di sudut tempat mereka baru saja berdiri.
Setelah memastikan punggung Vexana benar-benar lenyap dari pandangan, pertahanan kokoh yang dibangun Landon selama bertahun-tahun runtuh dalam hitungan detik.
Bahu tegapnya mendadak merosot. Pria yang menjadi dosen muda berkat kecerdasan otaknya yang di atas rata-rata itu bersandar lelah pada dinding di belakangnya.
Berkas-berkas penelitian robotika yang sejak tadi dipegangnya perlahan terlepas dari jemarinya, jatuh berserakan di atas lantai tanpa memedulikan tatapan heran dari satu dua mahasiswa yang masih melintas.
Landon Desmon menitikan air matanya.
Satu tetes cairan bening yang panas meluncur bebas melewati pipinya yang tegas, disusul oleh tetesan-tetesan berikutnya yang tidak lagi mampu dia bendung.
Dada pria itu naik turun, bergemuruh oleh rasa sesak yang begitu hebat hingga paru-parunya seolah kehabisan pasokan oksigen.
Dunia mengenal Landon sebagai dosen muda yang cemerlang, atau lebih jauh lagi, sebagai putra tunggal dari Desmon Group—sebuah konglomerat teknologi yang namanya disegani di seluruh penjuru negeri.
Dia memiliki segalanya: garis keturunan yang terhormat, kekayaan yang melimpah, wajah tampan, dan masa depan yang berkilau.
Namun, di koridor sepi ini, semua atribut kemewahan itu menguap tanpa bekas. Dia hanyalah seorang pria malang yang hatinya baru saja dicabik-cabik oleh kata-kata perpisahan mutlak dari wanita yang paling dia cintai.
Ya, dia masih sangat mencintai Vexana Valerio.
Dari dulu, sekarang, dan mungkin sampai napas terakhirnya nanti. Rasa cinta itu tidak pernah berkurang barang satu persen pun, melainkan mengkristal menjadi obsesi dan kebencian yang lahir dari rasa sakit hati yang teramat dalam.
Landon memejamkan matanya erat-erat, membiarkan air matanya mengalir semakin deras.
Kata-kata Vexana tadi kembali terngiang, menghantam kesadarannya laksana palu godam.
“Dan... aku berdoa semoga kau bahagia dengan kekasihmu, siapapun dia nanti. Aku kesini bukan untuk bernostalgia, Landon. Aku kesini juga bukan untuk menuntut janji masa depan yang pernah kita ucapkan bersama...”
Landon tertawa getir di dalam hatinya, sebuah tawa yang sarat akan ironi dan kepedihan.
Kekasih? Gadis mahasiswi seni anak dekan fakultas sebelah yang belakangan ini dirumorkan berpacaran bersamanya di area kampus?
Pria itu mengepalkan tinjunya kuat-kuat hingga kuku-kukunya memutih.
Hubungan itu... gadis seni itu... semuanya hanyalah formalitas belaka.
Itu adalah sebuah tameng, sebuah skenario topeng yang sengaja diciptakan Landon untuk menyelamatkan harga dirinya yang terluka.
Dia sengaja membiarkan rumor kedekatan itu menyebar di lingkungan kampus semata-mata karena dia ingin membalas dendam pada egonya sendiri.
Landon adalah pria yang hancur sehancurnya ketika mendengar kabar bahwa Vexana—setelah tiga tahun menghilang tanpa kabar dan tiba-tiba kembali ke kampus ini—ternyata telah memiliki kekasih baru bernama Brain.
Ketika dia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Vexana berjalan beriringan dengan pria lain, tertawa di bawah naungan pohon kampus yang dulu menjadi tempat rahasia mereka, dunia Landon kiamat untuk kedua kalinya.
Bagaimana mungkin kau melupakan kisah kita dengan begitu cepat, Vexa? batin Landon, merintih di dalam kegelapan hatinya.
Bagaimana mungkin tiga tahun kepergianmu keluar negeri membuatmu kembali sebagai orang asing yang seolah tidak pernah menyerahkan seluruh hatimu padaku?
Bagi Landon, tindakan Vexana adalah sebuah pengkhianatan terbesar. Vexana telah mengkhianati janji-janji suci yang pernah mereka rangkai di masa lalu.
Vexana melupakan malam-malam penuh hidup, malam-malam di mana mereka duduk di atas kap mobil Landon sembari menatap hamparan lampu kota Los Angeles.
Di bawah saksi bintang-bintang kala itu, Vexana pernah menangis di pelukannya, berbisik bahwa dia tidak peduli jika dunia kiamat dia hanya ingin hidup bersama Landon.
Mereka telah menenun janji masa depan yang begitu indah; tentang rumah kecil di pinggiran kota, tentang laboratorium penelitian yang akan Landon bangun, dan tentang anak-anak yang akan memiliki mata seindah milik Vexana.
Namun kini, semua itu menguap seperti embun pagi yang tersengat matahari.
Vexana mengkhianatinya dengan begitu mudah. Dia kembali ke kampus ini dengan menggandeng pria lain, dan hari ini, wanita itu datang ke hadapannya hanya untuk menyerahkan sebaris kalimat maaf dan doa agar dia bahagia dengan wanita lain.
"Kau kejam, Vexana... kau benar-benar kejam," bisik Landon, suaranya parau dan bergetar hebat.
Rasa sakit yang menghujam dada Landon saat ini sama hancurnya dengan apa yang dirasakan Vexana di luar sana, meskipun dengan alasan yang berbeda.
Vexana hancur karena menyadari seluruh hidupnya adalah distorsi kebohongan yang dirancang keluarganya, sementara Landon hancur karena mengira Vexana telah melangkah maju dan membuang sejarah mereka ke dalam tempat sampah masa lalu.
Dua jiwa yang pernah menyatu itu kini berada di titik nadir kehancuran yang sama, terpisahkan oleh jurang kesalahpahaman setinggi langit.
Kesadaran Landon mendadak tersentak ketika mendengar suara tawa sekelompok mahasiswa yang mulai mendekat dari arah ujung lorong lain.
Pria itu tersadar dari keterpurukannya. Sebagai seorang dosen muda yang memegang teguh wibawa dan sebagai penerus tunggal Desmon Group, dia tidak boleh terlihat lemah. Dia tidak boleh membiarkan siapa pun melihat air mata mengalir di wajahnya.
Dengan gerakan cepat dan sedikit panik, Landon mengusap kasar air mata di pipinya menggunakan lengan kemeja flanelnya.
Dia mengabaikan berkas-berkas penelitiannya yang masih berserakan di lantai, lalu melangkah dengan tergesa-gesa menuju toilet dosen yang terletak tidak jauh dari laboratorium.
Brak!
Landon mendorong pintu toilet dengan kasar dan segera menguncinya dari dalam. Dia menyandarkan punggungnya pada pintu kayu yang tertutup, mengatur napasnya yang memburu. Dadanya masih terasa sesak, seolah ada batu besar yang menghimpit jantungnya.
Pria itu melangkah mendekati wastafel marmer di sudut ruangan.
Dia menatap pantulan dirinya di dalam cermin besar yang terpasang di dinding. Sosok di dalam cermin itu tampak begitu menyedihkan; sepasang matanya yang biasa menatap tajam dan penuh intimidasi kini tampak merah, sembap, dan dipenuhi oleh sisa-sisa air mata. Guratan frustrasi tercetak jelas di keningnya.
Landon menyalakan keran air dengan putaran maksimal. Suara gemercik air yang deras memenuhi ruangan toilet yang sunyi, menyamarkan suara helaan napasnya yang berat.
Dia menangkupkan kedua telapak tangannya di bawah aliran air yang dingin, lalu membasuhnya ke seluruh wajahnya.
Rasa dingin dari air kampus itu menusuk kulitnya, mencoba mengusir rasa panas yang membakar kepalanya sejak Vexana melepaskan cengkeraman masa lalu mereka.
Landon terus mencuci wajahnya berulang-ulang kali. Dia menggosok kulit wajahnya dengan kasar, seolah-olah dengan cara itu dia bisa menghapus bayangan wajah Vexana, menghapus rasa sesak di dadanya, dan menghapus sisa-sisa kenangan malam-malam penuh hidup yang terus menghantuinya.
Air bercampur sisa air mata mengalir turun dari dagunya, menetes membasahi kerah kemeja flanelnya, namun rasa sakit di dalam hatinya sama sekali tidak memudar.
Dia bertumpu pada pinggiran wastafel dengan kedua tangannya, menunduk dalam-dalam sembari membiarkan sisa air menetes dari ujung rambutnya yang basah.
"Jika kau sudah melupakanku, Vexa..." bisik Landon, suaranya menggema lirih di antara gemercik air wastafel. "...lalu mengapa getaran suaramu tadi masih terdengar begitu hancur? Mengapa sepasang matamu masih menatapku dengan kepedihan yang sama dengan yang kurasakan?"
Landon menegakkan tubuhnya kembali, menatap pantulan dirinya yang basah di cermin dengan tatapan mata yang perlahan-lahan berubah menjadi dingin dan mengeras.
Keputusasaan yang tadi sempat menguasainya kini mulai berganti dengan sebuah ketetapan hati yang baru.
Dia tidak bisa terus-menerus menjadi pria malang yang menangis di dalam toilet. Jika Vexana menganggap janji masa depan mereka telah mati bersama hilangnya waktu, maka Landon harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi selama tiga tahun hilangnya wanita itu—karena intuisi seorang Desmon mengatakan, ada bagian dari teka-teki ini yang sengaja disembunyikan dari jangkauannya.