menceritakan dua orang mantan kekasih Shinta dan Andika. yang memutuskan untuk berpisah karena perbedaan pandangan tentang masa depan Shinta yang ingin hubungan yang serius ke pelaminan dan Andika yang ingin menata karir dan memastikan finansial mencukupi. namun keduanya tidak menemukan titik tengah dari masalah itu. setahun kemudian mereka di pertemukan di perusahaan sebagai karyawan devisi pemasaran. keduanya yang awalnya tidak ingin masa lalu terungkap dan saling menjauh malah tanpa sadar Melaku kebiasaan mereka saat pacaran. dari Andika yang memperlihatkan Shinta saat kesulitan dan Shinta yang memberikan tempat bersandar saat Andika kelelahan namun itu malah membuat mereka kesal dan membuat perjanjian siapa pun yang masih melakukan kebiasaan mereka saat pacaran di anggap orang yang ingin balikan. namun kenyataannya keduanya malah terus melanggar perjanjian mereka tanpa peduli apa yang salah dari kebiasaan lama mereka saat pacaran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 17
Begitu sampai di rumah Pak Radit, Shinta langsung terdiam beberapa detik di atas motor. Rumah itu jauh lebih besar dari yang dia bayangkan. Halamannya luas dengan pagar hitam tinggi dan taman kecil di sisi kanan yang dipenuhi bunga-bunga hias. Lampu taman menyala hangat menjelang malam, membuat suasana rumah itu terasa nyaman dan ramai.
Di depan rumah sudah terparkir beberapa motor milik anak-anak marketing. Suara tawa dan aroma daging bakar langsung tercium bahkan sebelum Shinta turun dari motor.
Andika mematikan mesin motornya lalu melepas helm.
“Kenapa diam saja?” tanyanya santai.
Shinta menatap rumah itu lagi. “Rumah Pak Radit besar sekali.”
Andika tertawa kecil. “Manager marketing. Bonusnya bukan cuma tekanan batin.”
“Tidak lucu.”
“Memang bukan buat lucu.”
Shinta mendesah pelan lalu turun dari motor. Dia mulai merasa sedikit menyesal datang. Dari luar saja suasananya sudah terlalu ramai untuk dirinya yang lebih suka menghabiskan akhir pekan di kamar sambil tidur seharian.
Belum sempat Shinta berpikir untuk kabur diam-diam, pintu rumah sudah terbuka.
“Wah, Andika datang!” seru Pak Radit dengan suara keras khasnya.
Pria itu langsung berjalan mendekat sambil membawa penjepit BBQ di tangan. Kaos hitam dan celemek lucu bertuliskan KING OF BBQ membuat sosok manager marketing mereka terlihat jauh lebih santai dibanding saat di kantor.
“Shinta juga datang. Bagus! Masuk, masuk!”
Shinta langsung menunduk sopan. “Malam, Pak.”
“Malam apanya? Ini waktunya makan besar.” Pak Radit tertawa. “Cepat ke belakang. Yang lain sudah mulai memanggang.”
Andika mengangguk santai. “Siap, Chef.”
“Kamu jangan banyak komentar. Sana bantu Deni. Dari tadi sate gosong terus.”
“Fitnah,” sahut Andika datar.
Pak Radit malah tertawa semakin keras.
Mereka berjalan menuju halaman belakang rumah. Begitu sampai, Shinta langsung melihat suasana yang jauh lebih ramai.
Halaman belakang itu luas dengan tikar besar digelar di rumput sintetis. Ada meja panjang penuh daging, sosis, jagung, paprika, dan berbagai macam bahan BBQ lainnya. Asap tipis dari alat pemanggang naik ke udara sambil membawa aroma yang membuat perut lapar secara otomatis. Manusia memang lemah di depan aroma daging bakar. Evolusi ribuan tahun dan akhirnya tetap kalah sama sate. Menyedihkan.
Bu Salma terlihat sibuk di dekat meja makanan. Istri Pak Radit itu memakai apron bunga-bunga sambil mengaduk bumbu dalam mangkuk besar.
“Shinta!” panggil Bu Salma ramah. “Ayo ambil makanan dulu nanti kebagian gosong.”
Shinta tersenyum kecil. “Iya, Bu.”
“Kalau Andika biarkan saja. Dia kuat makan arang.”
“Bu…” Andika menatap pasrah.
Dari dekat alat pemanggang, Deni langsung tertawa keras.
“Betul itu, Bu! Dari tadi saya kerja sendirian.”
Deni berdiri sambil membawa tusukan sate. Wajahnya sedikit berkeringat karena panas bara api.
“Andika sini bantu!” teriaknya.
Andika berjalan mendekat dengan santai sementara Shinta memilih berdiri agak canggung di pinggir.
Saat itulah seorang gadis cantik menghampirinya.
“Kak Shinta, kan?”
Shinta sedikit terkejut. “Iya.”
Gadis itu tersenyum ramah. “Aku Silvia. Anak Pak Radit.”
“Oh…”
Silvia memang cantik dengan wajah manis dan rambut panjang yang diikat sederhana. Meski baru berusia dua puluh satu tahun dan masih kuliah, dia terlihat sangat akrab dengan semua anak marketing.
“Kak Shinta baru pertama ke sini?” tanya Silvia.
Shinta mengangguk. “Iya.”
“Tenang saja. Di sini kalau belum diolok-olok berarti belum dianggap keluarga.”
Shinta belum sempat menjawab karena tiba-tiba suara Rara terdengar nyaring dari arah tikar.
“SHINTAAA! SINI!”
Shinta langsung menoleh.
Rara melambaikan tangan heboh sambil duduk bersama beberapa wanita bagian marketing lainnya.
“Ayo duduk sini!”
Shinta sebenarnya punya firasat buruk. Sangat buruk.
Namun sebelum sempat menolak, Silvia sudah mendorong pelan pundaknya.
“Ayo, Kak. Mereka memang heboh begitu.”
Shinta berjalan pelan menuju tikar. Baru saja duduk, dia langsung sadar kalau hidup memang penuh jebakan.
Belum lima detik.
“Jadiii…” Rara menyipitkan mata. “Kenapa datang sama Andika?”
Wanita lain langsung ikut mendekat.
“Iya! Katanya tidak datang.”
“Katanya acara keluarga.”
“Tapi malah boncengan sama Andika.”
“Wah…”
Shinta langsung menegang.
Dia menatap mereka satu per satu seperti orang yang baru sadar dirinya masuk ruang interogasi.
Rara menunjuk Shinta dramatis. “Saya merasa dibohongi.”
“Itu bukan bohong…” gumam Shinta pelan.
“Lalu?”
Shinta membuka mulut lalu menutupnya lagi.
Dia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya.
Tidak mungkin bilang Andika tiba-tiba datang ke rumah, memaksa menjemput, lalu membujuk ibunya sampai akhirnya dia tidak punya alasan untuk menolak.
“Itu…” Shinta mencoba mencari jawaban.
Namun wanita-wanita marketing itu sudah mulai membuat kesimpulan sendiri.
“Pasti dijemput khusus.”
“Romantis juga.”
“Padahal di kantor pura-pura biasa saja.”
“Kasihan Aqila nanti.”
Shinta langsung merasa kepalanya pening.
Nama Aqila muncul lagi.
Kalau saja mereka tahu Aqila sebenarnya sepupu Andika, semua gosip ini pasti langsung tamat malam itu juga. Namun masalahnya Shinta sudah berjanji tidak akan membocorkan hal tersebut.
Akibatnya sekarang dia hanya bisa duduk pasrah seperti terdakwa tanpa pengacara.
“Aku tidak seperti itu sama Andika,” katanya pelan mencoba menjelaskan.
Rara langsung menyipitkan mata curiga. “Kalau begitu kenapa bisa dijemput?”
“Iya.”
“Kenapa bukan kami yang dijemput?”
“Karena kalian berat,” sahut Deni tiba-tiba sambil lewat membawa piring.
“DENI!”
Semua langsung melempar tisu ke arah Deni.
Pria itu malah tertawa puas lalu kembali ke alat pemanggang.
Shinta menghela napas kecil. Situasinya sama sekali tidak membantu.
Rara kembali mendekat. “Jujur saja, Shin. Kamu sama Andika sebenarnya ada apa?”
“Tidak ada apa-apa.”
“Tidak mungkin.”
“Benar.”
“Kalau begitu kenapa Andika mau jemput?”
Shinta kembali diam.
Dan itu justru semakin memperburuk keadaan.
“NAH KAN!”
“Pasti ada sesuatu!”
“Wajahnya saja sudah ketahuan!”
Shinta memejamkan mata sesaat. Dia benar-benar ingin pulang sekarang juga.
Di sisi lain halaman, Andika yang sedang membalik sate akhirnya melirik ke arah keributan itu.
Dia langsung tahu Shinta sedang diinterogasi.
Dengan santai pria itu berjalan mendekat sambil membawa piring sate matang.
“Apa lagi ini?” tanyanya tenang.
Rara langsung menunjuknya. “Kami sedang mengusut hubungan kalian.”
Andika duduk santai di dekat mereka. “Kurang kerjaan sekali.”
“Jawab saja.”
Andika mengambil satu tusuk sate lalu memakannya dulu sebelum menjawab. Sikapnya benar-benar menyebalkan dengan cara yang anehnya tenang.
“Aku cuma mengajak Shinta supaya akrab dengan kalian,” katanya akhirnya.
“Cuma begitu?”
“Iya.”
“Lalu kenapa dijemput?”
“Karena dia tidak tahu rumah Pak Radit.”
“Terus kok kamu tahu rumahnya?”
Pertanyaan itu langsung membuat suasana hening beberapa detik.
Shinta refleks menoleh cepat ke arah Andika.
Namun pria itu sama sekali tidak terlihat panik.
“Shinta kasih lokasi,” jawabnya santai.
Shinta langsung menatap Andika tidak percaya.
Bohong. Bohong besar.
Yang terjadi justru Andika datang tiba-tiba ke rumahnya sambil membawa wajah tidak tahu malu lalu membujuk ibunya seperti salesman paling gigih sedunia.
Bahkan ibunya Shinta malah terlihat sangat senang saat tahu Andika datang menjemput.
“Teman kantor kamu sopan sekali,” kata ibunya tadi.
Sopan dari mana manusia itu sopan.
Rara masih belum puas. “Cuma begitu?”
Andika mengangguk. “Kalian terlalu banyak nonton drama.”
“Padahal cocok loh.”
“Betul.”
“Lumayan buat bahan hiburan kantor.”
Shinta langsung memegang dahinya pelan.
Sementara Andika hanya tertawa kecil.
“Kasihan Shinta,” katanya santai. “Baru sebulan kerja sudah jadi bahan gosip.”
“Karena kamu sumber masalahnya!” protes Rara.
“Terima kasih.”
“Itu bukan pujian!”
Mereka semua akhirnya tertawa bersama.
Suasana mulai mencair perlahan. Bu Salma datang membawa nampan besar berisi jagung bakar dan daging yang sudah matang.
“Ayo makan dulu daripada gosip terus,” katanya.
“Siap, Bu!” jawab mereka bersamaan.
Pak Radit ikut duduk di tikar sambil membawa minuman dingin.
“Malam begini memang paling enak makan ramai-ramai,” katanya puas.
“Pak, Andika dari tadi dituduh macam-macam,” lapor Deni.
Pak Radit langsung tertawa keras. “Sudah biasa itu.”
“Pak!” protes Andika.
“Kamu sendiri yang sering bikin orang salah paham.”
Shinta diam sambil memakan jagung bakarnya perlahan. Meski tadi sempat kewalahan, perlahan dia mulai merasa nyaman juga berada di tengah mereka.
Semua orang bercanda tanpa menjaga image kantor.
Pak Radit yang biasanya tegas sekarang sibuk berebut sate dengan Deni.
Bu Salma terus menambah makanan sambil mengomel karena semua makan terlalu cepat.
Silvia tertawa melihat ayahnya hampir menjatuhkan saus.
Dan Andika…
Pria itu duduk santai sambil sesekali ikut bercanda dengan yang lain.
Untuk pertama kalinya sejak masuk kerja, Shinta merasa benar-benar menjadi bagian dari mereka.
Bukan pegawai baru yang canggung.
Bukan wanita yang selalu takut salah.
Melainkan seseorang yang perlahan mulai diterima.
Rara menyenggol pelan lengannya.
“Gimana?” bisiknya. “Seru kan?”
Shinta menatap suasana ramai di depannya lalu tersenyum kecil.
“Iya…” jawabnya pelan.
Dan tanpa sadar, tatapannya justru bertemu dengan Andika di seberang tikar.
Pria itu hanya tersenyum kecil sambil mengangkat gelas minumannya sedikit.
Shinta langsung memalingkan wajah cepat-cepat.
Sementara di sisi lain, Rara yang melihat itu langsung menyeringai penuh arti.
Manusia memang tidak pernah bisa melihat dua orang saling menatap tanpa langsung membuat teori percintaan. Bahkan kalau dua orang cuma rebutan saus sambal pun bisa dianggap takdir. Hidup sosial memang melelahkan.