Di saat fisiknya yang sawo matang selalu dihina oleh geng Ivanka, Alisha membuktikan bahwa kecerdasan dan rasa percaya diri jauh lebih memikat daripada standar kecantikan dunia. Namun, ketangguhannya diuji oleh Reyshaka, rival abadi berotak encer yang hobinya berdebat, tapi diam-diam selalu pasang badan paling depan saat Alisha direndahkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ancaman di balik pintu kamar mandi
Bel pulang sekolah baru saja berbunyi, memecah kesunyian koridor lantai dua SMA Pelita Bangsa. Alisha melangkah santai menuju toilet yang terletak di ujung koridor, berniat merapikan seragamnya sebelum pulang. Ia tidak menyadari bahwa sejak keluar dari kelas, dua pasang mata penuh kebencian sudah membuntutinya dari jarak yang cukup aman.
Ivanka dan Siska melangkah mengendap-endap, memastikan situasi koridor sudah sepi sebelum akhirnya memepet Alisha saat gadis itu baru saja mendorong pintu toilet.
"Mau ke mana buru-buru, Lalet?" suara Ivanka yang tajam memecah kesunyian toilet.
Alisha berhenti melangkah. Ia menoleh perlahan, menemukan Ivanka dan Siska yang sudah berdiri tepat di depan pintu, menghalangi jalan keluarnya. Wajah Ivanka merah padam, matanya menyipit dengan sorot yang tidak bersahabat.
"Heh, denger ya!" Ivanka maju satu langkah, menunjuk dada Alisha dengan telunjuknya yang dipoles kuteks merah mencolok. "Udah gue bilang dari awal, jangan caper mulu ke Shaka. Lo tuh item, dekil, gak pantes buat orang kayak dia. Lo harusnya sadar diri, bercermin! Emangnya lo pikir Shaka bakal beneran mau sama cewek kelas teri kayak lo?"
Alisha menarik napas panjang. Bukannya takut atau memohon ampun, ia justru menatap Ivanka dengan muka sedatar mungkin—tatapan tenang yang justru membuat Ivanka semakin naik pitam.
"Makasih ya udah diingetin," jawab Alisha tenang, nyaris tanpa emosi. "Tapi gue kasih tahu satu hal; gue sama sekali gak tertarik sama Shaka. Jadi lo gak perlu repot-repot ngejaga dia dari gue."
Ivanka mendengus sinis. "Bohong lo!"
Alisha memberikan senyum smirk tipis, sebuah ekspresi yang sangat jarang ia tunjukkan namun sukses membuat Ivanka bungkam sejenak karena terkejut. "Kalaupun gue beneran ngejauh dari Shaka, apa lo yakin Shaka bakal peduli sama lo? Coba deh lo mikir, Ivanka. Tanpa ada gue pun, emangnya selama ini Shaka pernah ngelirik lo?"
Kata-kata itu menghantam ego Ivanka dengan telak. Suasana toilet mendadak hening, hanya terdengar napas berat Ivanka yang memburu karena amarah yang tak tertahankan. Siska yang berada di belakang Ivanka pun tampak terkejut dengan keberanian Alisha yang tak terduga.
"Sialan lo!" teriak Ivanka histeris. "Siska! Kasih dia pelajaran sekarang juga!"
Tanpa banyak bicara, Siska yang memang sudah memegang ember air bekas cucian pel di sudut toilet, langsung mengayunkan ember itu. Byur!
Air kotor yang berbau apak dengan sisa deterjen hitam pekat mengguyur tubuh Alisha dari atas kepala hingga membasahi seragam putihnya yang kini berubah warna menjadi kusam dan kotor. Alisha terkesiap, air menetes dari ujung rambutnya ke lantai yang licin.
Ivanka tertawa puas, suara tawa melengkingnya menggema di dinding keramik toilet. Ia berjalan mendekat ke arah Alisha yang basah kuyup, lalu mencengkeram dagu gadis itu dengan kasar, memaksanya menatap mata Ivanka.
"Lo kalo mau tenang di sekolah ini, jangan pernah coba-coba ngelawan gue lagi," ancam Ivanka tepat di depan wajah Alisha. "Inget, ini baru permulaan."
Tanpa memedulikan Alisha yang berdiri mematung menahan amarah, Ivanka dan Siska melangkah keluar dari toilet dengan tawa yang masih menyisakan nada meremehkan. Pintu toilet terbanting keras, meninggalkan Alisha sendirian di sana dalam kondisi basah kuyup, namun dengan api kemarahan yang kini mulai menyala lebih terang di balik tatapan matanya yang tajam.
***
Langkah kaki Alisha terasa begitu berat dan dingin saat ia menyusuri jalanan komplek menuju rumahnya. Seragam putihnya yang tadinya rapi kini berubah kusam, menyisakan noda abu-abu kecokelatan dan bau apak deterjen murah yang menusuk hidung. Beruntung, sepanjang jalan tadi ia membungkus tubuh bagian atasnya dengan jaket rajut milik Amelia yang dipinjamkan paksa di gerbang sekolah.
Begitu mendorong pintu pagar rumah yang berderit pelan, Alisha berharap bisa langsung menyelinap ke kamar mandi tanpa ketahuan. Namun, takdir berkata lain. Aleta sedang duduk di teras rumah sambil memegang sebuah draf tugas sekolah, langsung mendongak begitu mendengar langkah kaki kakaknya.
Mata Aleta melotot sempurna. Ia melempar draf tugasnya ke atas kursi kayu, lalu berdiri dengan sentakan cepat menghampiri Alisha.
"Kak Alisha?! Ini... ini kenapa?!" jerit Aleta histeris, tangannya gemetar saat menyentuh ujung jaket Alisha yang ikut lembap. "Kenapa kakak basah kuyup begini? bau lagih,kayak bau apa ini, ? Bau minyak tanah? Bau kain pel?!"
Alisha mencoba mengulum senyum tipis, berusaha menenangkan adiknya. "Gak apa-apa, Ta. Tadi Gue gak sengaja kepeleset di kamar mandi sekolah, terus kena ember air... air pembersih lantai."
"Kak jangan bohongin aku ya!" potong Aleta, suaranya naik satu oktav penuh, napasnya mulai memburu berapi-api. "Kalau cuma kepeleset, gak mungkin baunya se-apak ini dari ujung kepala sampai kaki! Ini pasti kerjaannya si nenek sihir Ivanka dan antek-anteknya, kan?! Iya, kan, kak?!"
Alisha diam, tidak mampu menyangkal lagi. Keterdiaman kakaknya justru menjadi jawaban mutlak bagi Aleta.
"Sialan! Bener-bener gak bisa dibiarin!" amuk Aleta, wajahnya memerah padam menahan amarah yang meledak-ledak. Ia langsung berbalik badan, bersiap melangkah keluar pagar. "Aku mau balik ke sekolah sekarang! Atau aku samperin rumahnya sekalian! Berani-beraninya mereka numpahin air kotor ke Kakak gue! Kemarin si Rendi udah aku tampar pake sepatu, sekarang temen-temennya malah makin ngelunjak! Biar aku piting leher mereka satu-satu!"
Melihat adiknya yang sudah dikuasai emosi dan siap berbuat nekat, Alisha dengan cepat menahan pergelangan tangan Aleta. Genggaman tangan Alisha terasa dingin namun mencengkeram dengan begitu kuat, membuat langkah Aleta terhenti paksa.
"Aleta, Stop!" perintah Alisha, suaranya ditekan serendah mungkin, memberikan kesan otoriter yang jarang ia tunjukkan.
"Tapi, Kak—"
"Gue bilang stop, Teta," potong Alisha lagi, menatap lurus ke dalam manik mata adiknya yang berapi-api. Alisha menggelengkan kepalanya perlahan, meredam gejolak amarah yang ada di dada sang adik. "Kalau lo ke sana sekarang sambil marah-marah, lo cuma bakal bikin keributan baru. Ujung-ujungnya lo bakal dipanggil ke ruang BK lagi, dan kali ini bisa-bisa lo kena skorsing. Lo mau bikin Ibu sama Bapak sedih?"
Napas Aleta masih memburu, namun kalimat Alisha sukses menahan egonya. "Terus kita diem aja gitu, kak? Pasrah digituin? Aku gak terima ya kakak aku diginiin!"
Alisha menarik napas panjang, lalu sebuah senyuman smirk yang dingin dan penuh arti perlahan terukir di bibirnya. Tatapan matanya yang bulat besar kini memancarkan kilat kecerdasan yang berbahaya—binar khas dari seorang juara kelas yang sedang menyusun strategi matang.
"Siapa bilang gue bakal diem aja?" bisik Alisha tenang, namun sarat akan ancaman. "Gue gak bakal biarin setetes pun air kotor ini hilang percuma. Tapi, gue gak mau pakai cara bar-bar kayak lo yang langsung main fisik atau labrak-labrakan. Itu kuno, dan cuma bikin kita keliatan sama rendahnya kayak mereka."
Aleta mengernyitkan dahinya, rasa penasarannya mulai mengikis rasa amarahnya. "Terus kakak mau ngapain?"
Alisha mengusap tetesan air dari ujung rambutnya dengan sapu tangan, lalu menatap ke arah dalam rumah. "Ivanka itu paling bangga sama apa? Statusnya sebagai anak donatur, nilainya yang selalu digendong lewat les mahal, dan pengaruhnya di media sosial sekolah, kan? Gue bakal hancurin dia tepat di tempat yang paling dia banggakan. Gue bakal balas perbuatan dia dengan cara gue sendiri—cara yang lebih cerdas, rapi, dan gak bakal bisa dia tuntut balik."
Alisha menepuk pundak Aleta dengan lembut. "Sekarang, lo bantu Gue buat ambil handuk di dalam. Jangan sampai Ibu liat keadaan gue kayak gini. Mulai besok, permainan yang sesungguhnya baru bakal dimulai".
Melihat ketenangan dan keyakinan yang luar biasa dari sepasang mata kakaknya, Aleta akhirnya mengangguk patuh. Amarahnya perlahan meredam, berganti dengan rasa kagum sekaligus penasaran yang membuncah tentang rencana balas dendam elegan seperti apa yang sedang dirancang oleh otak jenius Alisha untuk menjatuhkan kesombongan Ivanka di hari esok.