NovelToon NovelToon
Air Mata Di Atas Mahkota

Air Mata Di Atas Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Penyesalan Suami / Balas Dendam
Popularitas:17.1k
Nilai: 5
Nama Author: Frenzy hrp

Saat hamil tujuh bulan, Kayla baru sadar bahwa pernikahannya hanyalah kebohongan.
Suaminya berselingkuh.

Mertuanya membencinya.
Dan rumah mewah yang dulu ia sebut rumah perlahan berubah menjadi neraka.
Padahal tanpa Kayla, Adrian Wijaya bukan siapa-siapa.

Dikhianati saat mengandung, dibuang ketika paling rapuh, Kayla memilih bangkit. Perlahan, wanita yang dulu diremehkan itu berubah menjadi sosok yang tak lagi bisa disentuh.

Kini saat semua pria mulai berlutut memperebutkan hatinya...
mantan suaminya justru kehilangan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Frenzy hrp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

posyandu

Suara riuh rendah tawa ibu-ibu dan tangisan bayi sudah terdengar dari ujung gang sejak pukul delapan pagi.

Hari ini adalah hari pelaksanaan Posyandu bulanan di balai RW setempat. Kayla melangkah perlahan keluar dari pagar kontrakan sambil mendekap Arsen yang terbungkus kain sederhana

Jantungnya sedikit berdebar karena ini adalah pertama kalinya dia benar-benar keluar dan membaur sejak menempati lingkungan ini.

Begitu memasuki area balai warga, pandangan Kayla langsung disambut oleh keramaian yang terasa sangat asing namun terasa hangat.

Ibu-ibu duduk lesehan di atas bangku plastik panjang, sibuk membandingkan berat badan anak mereka dan gosip sambil memakan cemilan.

Tidak ada sofa kulit, tidak ada pendingin ruangan, dan tidak ada obrolan tentang tas branded seperti di lingkaran Mama Wijaya.

Kayla berdiri agak ragu di dekat pintu masuk, meraba sudut kain gendongannya yang sedikit longgar.

"Eh, jagoan baru ya? Sini, Mbak, daftar dulu di meja satu," panggil seorang ibu paruh baya berkacamata yang mengenakan seragam kader hijau.

Kayla tersentak, lalu buru-buru mendekat dengan senyum canggung di bibirnya. Dia menyerahkan buku kesehatan berwarna pink yang sempat diberikan oleh pihak rumah sakit bersalin sebulan lalu.

"Nama ibunya Kayla Aninditha ya? Nama bayinya... Arsenio Wijaya?" tanya kader itu sambil menulis di buku besar, mengeja nama belakang Arsen dengan dahi berkerut.

Kayla menahan napas sesaat mendengar nama belakang itu diucapkan secara lantang di ruangan terbuka.

"Panggil Arsen saja, Bu," potong Kayla cepat, berusaha mengalihkan perhatian sebelum ada yang mengaitkan nama itu dengan keluarga Wijaya Group.

Kader itu hanya manggut-manggut lalu menyerahkan selembar kupon kertas bernomor antrean dua puluh empat. "Habis ini langsung ke sebelah sana ya, Mbak, buat timbang badan sama ukur tinggi."

Kayla berjalan menuju pojok ruangan tempat sebuah timbangan gantung berbentuk celana kain bergoyang-goyang di dahan pohon mangga.

Di sana, antrean tampak sedikit kacau karena beberapa balita menolak dimasukkan ke dalam kain timang dan mulai menjerit histeris. Kayla memilih berdiri agak menjauh, menepuk-nepuk pantat Arsen agar bayinya tidak ikut panik mendengarkan suara bising di sekitarnya.

"Anaknya anteng banget, Mbak. Jam segini biasanya bayi sudah pada rewel karena gerah," tegur seorang ibu muda yang menggendong anak perempuan berpita merah di sebelahnya.

Kayla menoleh, mendapati tatapan ramah dari wanita yang tampaknya seumuran dengannya itu.

"Iya, kebetulan dia habis menyusu sebelum berangkat tadi," jawab Kayla mulai merasa santai, suaranya terdengar lebih luwes sekarang.

Wanita itu mengulurkan tangan sambil membenarkan posisi gendongannya sendiri. "Aku Lastri, kontrakan gang sebelah. Mbak Kayla yang baru pindah ke rumah petak gang haji umar, kan?"

Kayla menyambut uluran tangan itu dengan senyum yang jauh lebih lepas dari sebelumnya. "Iya, benar. Salam kenal, Mbak Lastri."

"Nomor dua puluh empat, Arsenio!" panggil kader dari arah pohon mangga, memotong obrolan kecil mereka.

Kayla buru-buru maju, melepaskan selimut tipis Arsen, lalu dengan hati-hati memasukkan tubuh mungil bayinya ke dalam kain timbangan yang menggantung.

Arsen sempat menegang dan menatap ibunya dengan mata bulatnya yang besar, seolah bingung mengapa dia digantung seperti itu. Namun, detik berikutnya dia justru mengoceh kecil dan menendang-nendangkan kakinya yang gembul.

"Wah, naik satu kilo lewat dua ons ini! Bagus banget perkembangannya, Ibunya pinter ngasih ASI," puji kader Posyandu sambil mengetuk-ngetuk jarum timbangan yang berhenti di angka yang memuaskan.

Mendengar pujian itu, ada rasa haru yang mendadak menyerang dada Kayla. Sesaat dia teringat bagaimana dulu di rumah Wijaya, dia selalu dikritik tidak bisa mengurus diri sendiri, apalagi mengurus anak.

Hari ini, di tempat sederhana ini, usaha kerasnya terjaga tengah malam dan rasa lelahnya menimang Arsen dibayar tunai oleh pengakuan orang asing.

Setelah selesai mengukur panjang badan, Kayla membawa Arsen menuju meja terakhir untuk berkonsultasi dengan bidan puskesmas tentang jadwal imunisasi.

Bidan senior itu memeriksa catatan medis Arsen dengan teliti sebelum menatap Kayla.

"Untuk bulan depan ada imunisasi wajib yang gratis di sini, Mbak. Tapi kalau Mbak Kayla tidak tega melihat anaknya demam, bisa ambil vaksin mandiri yang combo di klinik dokter anak dekat pasar," saran Bidan itu ramah.

"Biayanya kisaran berapa ya, Bu?" tanya Kayla langsung.

Bidan itu menuliskan sebuah perkiraan nominal di lembar memo. Angkanya lumayan besar, hampir menyentuh satu juta rupiah, setara dengan sebagian besar dari upah proyek pertama yang baru saja Kayla terima tadi malam.

Kayla menatap angka itu cukup lama, lalu pandangannya beralih pada wajah polos Arsen yang kini sedang sibuk mengulum jempolnya sendiri.

Dulu, dia tinggal meminta uang pada adrian Wijaya Sekarang, setiap rupiah yang keluar harus dia perhitungkan dengan matang dari hasil keringatnya sendiri.

"Baik, Bu Bidan. Tolong dijadwalkan saja untuk vaksin yang bagus itu. Saya ambil yang itu bulan depan," ucap Kayla mantap tanpa ada keraguan di suaranya.

Bidan itu tersenyum puas melihat keputusan tegas Kayla dan langsung memberikan stempel pada buku pink tersebut.

Saat berjalan keluar dari balai warga, Kayla menerima sebungkus bubur kacang hijau hangat yang menjadi menu tambahan Posyandu hari itu.

Dia menyusuri gang sempit menuju kontrakannya dengan langkah yang terasa jauh lebih ringan dan percaya diri. Sinar matahari siang mulai menyengat kulitnya, namun Kayla justru mempererat dekapannya pada Arsen sambil berbisik lirik.

"Nanti malam Ibu kerja lagi ya, Sayang. Biar bulan depan Arsen bisa divaksin yang bagus dan nggak pakai demam."

Di ujung gang, dia berpapasan lagi dengan Mbak Lastri yang melambaikan tangan sambil menjinjing belanjaan sayur.

"Mbak Kayla! Besok sore ada arisan bulanan di rumah RT, ikut ya? Nanti aku jemput ke kontrakan!" seru Lastri setengah berteriak dari seberang jalan.

Kayla tidak langsung menjawab, dia terdiam sesaat menikmati sensasi aneh yang sudah lama tidak dia rasakan dalam hidupnya. Sensasi diinginkan, diajak bergaul.

"Iya, Mbak Lastri! Besok jemput aku ya!" balas Kayla dengan suara lantang dan senyum tercerah yang dia miliki hari ini.

Dunia barunya mungkin tidak memiliki lantai marmer berkilau atau gerbang besi setinggi tiga meter yang menjaganya dari dunia luar.

Namun di sini, di antara gang sempit dan dinding pembatas yang saling berdempetan, Kayla justru menemukan kebebasan yang selama ini dirampas darinya. Dia melangkah masuk ke dalam rumah petaknya, siap menyambut tantangan berikutnya

1
Mundri Astuti
ahhh thorrrr pake di cut iihhhh
Eni Triningsih
aku juga sudah tidak sabar nunggu hari rabu thor😄😄tanggal 1 waktunya gajihan soalnya🤭🤭
Mundri Astuti
aduh jangan ada ancaman lagi buat Kayla dan Arsen Thor kesian
Mundri Astuti
semangat thor 💪💪💪
tetap menanti kelanjutannya ini🤭
Mundri Astuti
terimakasih thor dah double up 🙏
Mundri Astuti
kurang thor 🤭
Mundri Astuti
mudah"an Kayla dah kuat ketika bertemu kutukupret
Mundri Astuti
kesempatan Keyla....kupas boroknya tuh perusahaan mantan, biar kolaps sekalian, kan klo dah kismin ga bisa nginjak" kamu lagi
Mundri Astuti
kereennn Kayla, semangat terus Kayla 💪💪
Mundri Astuti
hooh lagi musim pemadaman.
semangat kk author 💪💪💪
marwah
udah kak aku dulu aku pengen masukin chapter perceraian cuman kayaknya terlalu bosan makanya aku masukin chapter di usir aja
Mundri Astuti
thor...ini Kayla ngomong" dah resmi cerai pa belom yak
Mundri Astuti
ooalah Devan toh, jangan sampai Adrian menemukannya devan
Mundri Astuti
mudah"an dibantu pak dokter dng melindungi identitas Kayla dan anaknya
Mundri Astuti
punya otak dipake mas" , kan dah tau selama ini Keyla yg ngerjain urusan berkas" kantormu, ngurusin jadwal kedokter, jadwal mkn dsbnya..
kamu ga tau aja...beuhhh Keyla bisa cari duit sendiri buat melahirkan anakmu...klo mau bikin perusahaan mu bangkrut juga bisa....mau coba 😛
Mundri Astuti
semangat thor, semoga lekas pulih kembali hpnya Thor 💪💪
Dianty
semangat Thor, sllu menggu updat nya💪😍
Mundri Astuti
oalah thor...jangan" nulis sambil nyuci yak 😄😄
yulia andriyanti
good
yulia andriyanti
lahhhhh...bisane masuk mesin cuci tuh hp ?? mau dibilas biar harum opo piye jall...🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!