Saat hamil tujuh bulan, Kayla baru sadar bahwa pernikahannya hanyalah kebohongan.
Suaminya berselingkuh.
Mertuanya membencinya.
Dan rumah mewah yang dulu ia sebut rumah perlahan berubah menjadi neraka.
Padahal tanpa Kayla, Adrian Wijaya bukan siapa-siapa.
Dikhianati saat mengandung, dibuang ketika paling rapuh, Kayla memilih bangkit. Perlahan, wanita yang dulu diremehkan itu berubah menjadi sosok yang tak lagi bisa disentuh.
Kini saat semua pria mulai berlutut memperebutkan hatinya...
mantan suaminya justru kehilangan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Frenzy hrp, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
interview
Hawa pagi di Gang Haji Umar terasa sedikit lebih bersahabat, namun tidak dengan debar jantung di dalam dada Kayla. Pukul setengah sembilan pagi, dia sudah duduk tegak di atas kasur lipatnya yang sengaja digeser mendekati dinding semen yang polos.
Kayla sudah mengenakan kemeja putih kain yang rapi dan jilbab instan hitam yang disetrika halus untuk tampilan dari pinggang ke atas. Namun, di balik lantai yang tidak tersorot kamera laptop, dia masih mengenakan kain sarung batik longgar demi kenyamanan bekas luka operasi sesarnya.
Laptop barunya sudah menyala di atas sebuah meja lipat kayu kecil yang sengaja dia beli lewat pedagang perabotan keliling kemarin sore. Layar monitor menampilkan ruang tunggu digital aplikasi Google Meet, dengan teks berkedip pelan: Menunggu penyelenggara memulai rapat.
Oeeek... Oeeek... hwaaa!
Dilema besar seorang ibu baru mendadak runtuh menimpa Kayla ketika Arsen tiba-tiba terbangun dengan tangis yang langsung melengking nyaring. Bayi kecil itu menggeliat gusar, kedua tangan mungilnya mencengkeram udara, tampaknya terganggu oleh suara bising motor yang baru saja digas kencang di lorong luar.
Kayla seketika panik, melirik jam digital di sudut kanan bawah laptopnya yang sudah menunjukkan pukul 09.40 WIB. Hanya tersisa waktu dua puluh menit lagi sebelum wajah HRD Delta Global Solusindo muncul di layar monitornya.
Dengan gerakan terburu-buru Kayla merangkak mendekati Arsen, lalu mengangkat tubuh bayinya ke dalam dekapan. Dia mencoba menyusui Arsen sembari matanya terus menatap cemas ke arah layar laptop, namun Arsen justru menolak dan tangisnya semakin menjadi-jadi karena merasa tidak nyaman dengan posisi Kayla yang tegang.
Keringat dingin mulai menetes di pelipis Kayla, merusak sedikit bedak tipis yang sengaja dia poleskan di wajah pucatnya pagi ini. Tepat di saat kepanikannya berada di titik puncak, suara ketukan pelan terdengar dari arah pintu kayu depan.
Tok... Tok... Tok...
"Neng Kayla? Ini Mbak Rina," sebuah suara kasual terdengar dari balik daun pintu.
Kayla mengembuskan napas panjang yang gemetar, lalu berjalan cepat setengah menyeret kakinya untuk membuka selot besi pintu kontrakannya. Begitu pintu terbuka, Mbak Rina berdiri di sana sembari menenteng sebuah piring kosong bekas tempat nasi rames kemarin.
Mbak Rina seketika tertegun, matanya mengerjap menatap penampilan Kayla yang sudah dandan rapi dengan kemeja putih, namun tangannya sibuk menimang bayi yang sedang menangis histeris. "Lho, Neng Kayla mau ke mana? Kok rapi banget pagi-pagi begini?"
"Saya... saya ada jadwal wawancara kerja online lewat laptop sepuluh menit lagi, Mbak," jawab Kayla jujur dengan suara yang agak terengah-engah. "Tapi Arsen mendadak rewel tidak mau tenang, saya bingung bagaimana bicaranya nanti kalau dia menangis terus."
Mbak Rina melirik ke arah laptop baru Kayla yang menyala di sudut ruangan, lalu tatapannya kembali tertuju pada wajah tegang Kayla. Tanpa banyak cincong, Rina meletakkan piring kosongnya di atas lantai lorong, lalu mengulurkan kedua tangan ke arah Arsen.
"Sini, sini, biar Arsen saya yang pegang dulu di kamar sebelah," ujar Rina dengan nada tegas namun menenangkan. "Mbak fokus saja interview di dalam, jangan sampai pecah konsentrasinya gara-gara mikirin bayi. Biar sejam ke depan Arsen jadi urusan saya."
Kayla sempat ragu sejenak, naluri protektif sebagai ibu tunggal yang baru mengalami trauma pengusiran membuatnya sempat menahan dekapannya pada Arsen.
Namun, melihat waktu di ponselnya yang terus berjalan mundur, Kayla akhirnya melunakkan kekakuannya dan menyerahkan buntalan kain bedong itu ke lengan Mbak Rina.
"Tolong ya, Mbak Rina... maaf sekali saya jadi merepotkan," bisik Kayla dengan mata yang mendadak berkaca-kaca karena haru.
"Halah, kayak sama siapa saja, sudah sana masuk, kunci pintunya biar tidak terganggu!" sahut Rina sembari mulai menimang Arsen dengan cekatan, lalu berjalan menjauh menuju kamar nomor dua.
Kamar petak nomor tiga mendadak jatuh ke dalam keheningan yang sangat senyap setelah pintu kembali ditutup rapat oleh Kayla.
Kayla memutar grendel besi dari dalam, lalu berjalan kembali menuju meja lipat kayunya dengan perasaan yang jauh lebih ringan namun tetap menegangkan.
Dia duduk tegak, mengatur posisi duduknya agar latar belakang dinding semen putih polos di belakangnya terlihat rapi dan profesional di kamera.
Kayla menarik napas dalam-dalam sebanyak tiga kali, mencoba mengusir sisa-sisa kepanikan dan mengembalikan aura ketegasan dirinya sebagai seorang mantan auditor andalan.
Jarum jam di layar laptop baru itu akhirnya bergeser tepat ke angka 09.59 WIB. Tautan ruang rapat digital mendadak berubah warna, dan sebuah bunyi ting bernada pendek menandakan pemilik ruangan telah membuka akses masuk.
Kayla mengklik tombol Join Meeting, membiarkan status layarnya berubah menjadi Entering Meeting... selama beberapa detik yang terasa sangat lama. Detik berikutnya, gambar wajah seorang wanita berkacamata dengan latar belakang logo perusahaan Delta Global Solusindo muncul secara penuh di layar monitor baru Kayla. Wawancara penentu nasib itu resmi dimulai.
"Selamat pagi, Bu Kayla Putri. Saya Mirna dari tim Human Resources Delta Global Solusindo," sapa wanita di seberang layar dengan senyum profesional yang ramah.
Kayla memajukan sedikit tubuhnya, memastikan posisinya tegak lurus menatap kamera kecil di atas monitor. "Selamat pagi, Bu Mirna. Terima kasih atas kesempatan wawancara hari ini."
Bu Mirna membuka sebuah berkas digital di sebelah jendela panggilan video mereka. "Baik, Bu Kayla. Kami sudah menerima draf CV dan dokumen portofolio yang Anda kirimkan melalui Glints.
Pengalaman Anda di bidang audit laporan keuangan korporasi besar sangat mengesankan."
Ketegangan di dada Kayla perlahan mulai mengendur digantikan oleh ritme profesionalisme yang sudah lama mendarah daging di dalam dirinya. "Terima kasih, Bu. Fokus utama saya memang berada di bidang restrukturisasi draf keuangan dan pemetaan risiko aset."
Wawancara kemudian mengalir dengan sangat natural dan sistematis. Bu Mirna mulai melontarkan beberapa pertanyaan teknis seputar bagaimana metode Kayla dalam menangani draf laporan keuangan perusahaan retail berskala menengah ke atas yang sedang mengalami penurunan omset.
Kayla menjawab setiap pertanyaan dengan tenang, runtut, dan penuh percaya diri.
Wajah Bu Mirna di layar laptop beberapa kali tampak mengangguk puas mendengar penjelasan Kayla yang sangat taktis dan tidak bertele-tele.
Sudut bibir HRD itu terangkat, mengisyaratkan bahwa dia cukup terkesan dengan kapabilitas wanita muda di depannya yang memiliki pemahaman bisnis sangat tajam.
Rasa lega perlahan mulai merayap di dalam hati Kayla, memercikkan setitik harapan baru di tengah dinding kontrakan petaknya.
Jika proses ini berjalan mulus, posisi Freelance Financial Analyst dengan sistem kerja remote ini pasti bisa dia amankan untuk menyambung hidup bersama Arsen.
Namun, tepat ketika Kayla mengira seluruh sesi wawancara ini akan ditutup dengan kalimat formal perpisahan biasa, Bu Mirna mendadak menghentikan ketukan jarinya di atas keyboard.
Dia menatap lurus ke arah kamera dengan ekspresi wajah yang mendadak berubah menjadi lebih serius.
"Sesi teknis kita sebenarnya sudah selesai, Bu Kayla, dan secara kualifikasi Anda sangat luar biasa," ujar Bu Mirna, menjeda kalimatnya selama beberapa detik hingga membuat atmosfer di dalam kamar Kayla kembali menegang. "Namun, ada satu hal di luar prosedur yang ingin saya tanyakan langsung kepada Anda."
Kayla mengerutkan keningnya tipis, menahan napasnya di balik senyum sopan. "Kira-kira apa itu, Bu Mirna?"
"Dua jam sebelum wawancara ini dimulai, sistem kami menerima sebuah memo khusus dari tingkat manajemen atas," ungkap Bu Mirna dengan nada suara yang setengah berbisik namun terdengar sangat jelas. "Rupanya, draf CV Anda dikirimkan dan direkomendasikan secara khusus oleh seseorang yang memiliki pengaruh sangat besar bagi jajaran direksi kami."
Jantung Kayla mendadak melewatkan satu detakan, sepasang matanya membelalak kecil menatap layar monitor. "Rekomendasi khusus?"
"Benar. Orang tersebut bahkan meminta secara langsung agar proses rekrutmen atas nama Kayla Putri diprioritaskan dan segera diselesaikan tanpa hambatan birokrasi," lanjut Bu Mirna, matanya menelisik reaksi Kayla dari balik kacamatanya. "Kami hanya penasaran, karena jarang sekali ada posisi freelance yang sampai mendapatkan atensi sekhusus ini dari beliau."
Kepala Kayla mendadak terasa kosong dan berputar hebat mendengar penuturan itu.
Seluruh otot tubuhnya menegang kaku di atas lantai keramik; dia tahu pasti bahwa dia tidak pernah menghubungi siapa pun, tidak pernah meminta bantuan rekan kerja lamanya, dan yang paling mustahil adalah meminta bantuan keluarga Wijaya yang telah membuangnya dengan keji.
Siapa orang yang memiliki pengaruh sebesar itu hingga bisa mengintervensi draf sistem rekrutmen perusahaan sekelas Delta Global Solusindo demi dirinya? Apakah ini jebakan baru dari Adrian, atau ada sosok lain yang sedang bergerak di dalam kegelapan untuk mengawasi setiap langkah hidupnya?
Rasa penasaran yang teramat besar dan kecurigaan mendalam kini bergolak liar di dalam benak Kayla, mengalahkan rasa senangnya yang sempat membubung tinggi tadi.
Dia meremas kain sarung batiknya di bawah meja lipat, mencoba menstabilkan suaranya yang mendadak bergetar.
"Siapa orang itu, Bu?" tanya Kayla
Bu Mirna tersenyum tipis lalu menggelengkan kepalanya pelan ke arah kamera. "Maaf, Bu Kayla. Untuk saat ini kami tidak bisa memberitahukannya."
Layar monitor laptop baru itu seketika menjadi sunyi seiring dengan kalimat penutup dari sang HRD, meninggalkan Kayla yang terpaku sendirian di tengah ruangan kontrakan dengan seribu pertanyaan tanpa jawaban.
tebak siapa hayo??? DR Raditya atau devan??