NovelToon NovelToon
JENDERAL PEMANAH LANGIT : DENDAM DIATAS LUKA DESA

JENDERAL PEMANAH LANGIT : DENDAM DIATAS LUKA DESA

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Identitas Tersembunyi
Popularitas:715
Nilai: 5
Nama Author: Diah Nation29

No plagiat 🚫

Jenderal Pemanah Langit : Dendam Di Atas Luka Desa

Dalam semalam, hidup Song Yuan hancur. Desa Songjia dibumihanguskan, meninggalkan 130 nyawa bersimbah darah, termasuk ayahnya, sang Jenderal besar, dan ibunya dari klan bangsawan Bai. Song Yuan yang sekarat dengan anak panah di dada, terpaksa menelan pahitnya pengkhianatan.

Berbekal dua lencana rahasia dan bimbingan sadis dari Mo Chen, si "Ular Hitam", Song Yuan bangkit dari abu kehancuran. Tanpa senjata, ia menempa raga di hutan monster untuk menuntut balas.

Akankah sang pewaris klan Song kembali sebagai pahlawan, atau iblis yang haus darah?

"Setiap embusan napas musuhku adalah utang nyawa yang harus dibayar lunas!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penempaan di Atas Racun

Bagi Song Yuan, neraka ternyata bukan tempat yang penuh api seperti yang ia lihat di desanya, melainkan sebuah gua lembap di jantung Hutan Hitam yang berbau amis ular.

"Berdiri," suara Mo Chen berdesis, menggema di dinding gua.

Yuan berusaha bangkit, tapi seluruh tubuhnya terasa kaku. Semalam, Mo Chen memaksanya berendam di dalam kolam berisi air berwarna hijau pekat yang dipenuhi lintah-lintah kecil. Lintah itu tidak menghisap darah, tapi menyuntikkan cairan yang membuat saraf Yuan terasa seperti terbakar sekaligus membeku.

"Tuan... tanganku... tidak bisa digerakkan," rintih Yuan. Jari-jarinya membiru, kaku seperti ranting pohon mati.

Mo Chen, yang sedang duduk bersila sambil membiarkan seekor ular hitam kecil merayap di lehernya, hanya melirik dingin. "Itu karena racun Embun Beku sedang menyatu dengan tulangmu. Jika kau tidak bergerak sekarang, racun itu akan mengeraskan jantungmu dalam satu jam. Pilihannya mudah: Bergerak atau mati sebagai patung es."

Yuan menggigit bibirnya sampai berdarah. Dengan raungan yang lebih mirip rintihan, ia memaksa lengannya bergerak untuk mengambil busur kayu hitamnya. Rasa sakitnya luar biasa, seolah-olah tulang-tulangnya sedang dipatahkan secara perlahan.

"Bagus. Sekarang, bidik sasaran itu," Mo Chen menunjuk ke arah seekor tikus hutan yang digantung terbalik di ujung gua yang gelap. Tikus itu terus bergerak lincah, membuatnya hampir mustahil untuk dibidik.

"Tapi di sini gelap sekali, Tuan! Aku tidak bisa melihat sasarannya!"

"Gunakan matamu, dan kau akan buta. Gunakan instingmu, dan kau akan melihat segalanya," Mo Chen tiba-tiba bergerak secepat kilat. Ia menyambar sebilah kain hitam dan mengikatnya kuat-kuat menutupi kedua mata Yuan.

"Tuan! Apa yang kau lakukan?!" Yuan panik. Kegelapan total menyelimutinya.

"Dunia ini tidak selalu memberikan cahaya, Cacing Kecil," bisik Mo Chen di telinga Yuan, suaranya dingin dan menusuk. "Musuhmu di Ibukota akan menyerang dari bayang-bayang. Jika kau hanya bisa memanah apa yang matamu lihat, kau akan mati sebelum menarik tali busurmu."

Mo Chen kemudian melepaskan lima ekor ular berbisa ke lantai gua. Suara desisan mereka terdengar dari berbagai arah.

"Satu menit. Jika kau tidak bisa memanah tikus itu dalam keadaan buta, aku akan membiarkan ular-ular ini mencicipi dagingmu. Mereka sangat lapar pagi ini," ucap Mo Chen sambil melangkah mundur, menikmati penderitaan murid barunya.

Yuan berdiri gemetaran. Dalam kegelapan, pendengarannya menjadi sangat tajam. Ia mendengar detak jantungnya sendiri yang tidak beraturan, desisan ular di bawah kakinya, dan suara decitan tikus di ujung gua.

Sshhh... seekor ular mendekat ke kaki kirinya.

Yuan hampir saja melompat karena takut, tapi ia teringat kata-kata ayahnya: "Fokus ke napasmu." Ia menarik napas dalam-dalam. Di tengah kegelapan itu, ia mulai "merasakan" aliran udara di dalam gua. Ia bisa merasakan getaran kecil saat tikus itu meronta di ujung tali.

Di sana!

Yuan menarik tali busur. Tangannya yang kaku karena racun dipaksa untuk stabil. Ia tidak lagi melihat dengan mata, tapi dengan rasa sakit yang menjalar di tubuhnya.

WUSSS!

Anak panah meluncur.

CRAK!

Suara decitan tikus itu berhenti seketika. Anak panah Yuan menancap tepat di kepala tikus itu, meski ia dalam kondisi buta total.

Mo Chen terdiam sejenak. Matanya yang kuning berkilat kaget, meski hanya sesaat. Ia tidak menyangka bocah ini punya bakat terpendam yang begitu besar. "Anak ini memang istimewa," batin Mo Chen. "Darah Jenderal dan keanggunan Klan Bai... dia akan menjadi monster yang indah."

Namun, di mulutnya, yang keluar hanyalah hinaan.

"Lama sekali. Kau butuh empat puluh detik hanya untuk membunuh seekor tikus sampah," Mo Chen menyentak kain penutup mata Yuan. "Bersihkan bangkai itu dan telan empedunya. Itu akan menetralkan racun di tubuhmu pagi ini."

Yuan mual mendengarnya. "Makan... empedu tikus?"

"Atau kau mau aku menyuapimu dengan taring ularku?" tanya Mo Chen sambil menunjukkan kuku-kukunya yang hitam dan tajam.

Yuan segera berlari mengambil hasil buruannya. Ia tahu, di tempat ini, tidak ada ruang untuk rasa jijik atau belas kasihan. Setiap hari adalah pertarungan antara menjadi monster atau menjadi bangkai.

Sambil menelan rasa pahit yang luar biasa, Yuan menatap punggung Mo Chen. Dalam hati, dendamnya tidak memudar, justru semakin mengeras seperti baja yang ditempa api.

"Suatu hari nanti, Tuan... aku akan menjadi lebih sadis darimu," janji Yuan dalam hati.

Di sudut gua, Mo Chen tersenyum tipis. Itulah yang dia inginkan. Dia tidak butuh murid yang setia, dia butuh monster yang haus darah. Karena hanya monster yang bisa menghancurkan ibukota yang busuk itu sampai ke akar-akarnya.

Setelah menelan empedu tikus yang pahitnya serasa membakar kerongkongan, Yuan merasakan sensasi aneh mengalir di nadinya. Rasa kaku yang tadi membuat jari-jarinya seperti es perlahan mencair, berganti dengan rasa hangat yang menyengat. Namun, kehangatan itu bukan membawa kenyamanan; itu adalah tanda bahwa racun Embun Beku telah menyatu dengan aliran darahnya secara permanen.

"Mulai sekarang, tubuhmu tidak akan lagi merasakan dingin yang biasa," desis Mo Chen sambil mengasah kuku-kukunya yang hitam dengan batu giok. "Tapi harganya mahal, Cacing Kecil. Kau juga akan perlahan kehilangan kemampuan untuk merasakan sentuhan lembut. Bagimu, dunia hanya akan terasa seperti dua hal: Sasaran yang harus ditembus, atau ancaman yang harus dimusnahkan."

Yuan menatap telapak tangannya. Ia mencoba mencubit kulitnya sendiri, namun rasanya tumpul. Seolah-olah ada lapisan kulit tak kasat mata yang menghalangi sarafnya dari dunia luar.

Ia teringat sapu tangan melati milik ibunya yang masih ia simpan di dalam kantong kulit. Dengan tangan gemetar, ia menyentuh kain sutra itu. Hatinya hancur saat menyadari bahwa ia hampir tidak bisa lagi merasakan kelembutan sutra tersebut. Dunianya kini adalah tentang kekerasan busur kayu hitam dan tajamnya anak panah.

"Jangan menyentuh barang sampah itu!" Mo Chen tiba-tiba berada di belakangnya, suaranya seperti bisikan iblis. "Kenangan adalah racun yang sebenarnya. Ia akan membuat tanganmu ragu saat harus melepas panah ke arah orang yang kau cintai."

"Aku tidak punya siapa-siapa lagi untuk dicintai, Tuan!" teriak Yuan, suaranya pecah antara amarah dan kesedihan.

"Bagus," Mo Chen menyeringai, memperlihatkan gigi taringnya yang runcing. "Kalau begitu, latihan hari ini baru saja dimulai. Kau pikir memanah tikus itu sudah cukup? Sekarang, masuklah ke dalam Lubang Seribu Ular. Kau harus menangkap sepuluh ular cobra tanpa menggunakan matamu, dan hanya menggunakan tangan kosongmu. Jika kau tergigit... empedu tikus tadi hanya akan memberimu waktu sepuluh menit untuk menemukan penawarnya di antara ribuan ular itu."

Yuan menatap lubang gelap di sudut gua yang mengeluarkan suara desisan massal yang mengerikan. Bau amisnya begitu pekat sampai-sampai matanya perih. Namun, ia tidak lagi memohon.

Secara logika, Song Yuan yang dulu akan lari ketakutan. Tapi Song Yuan yang sekarang, yang membawa luka Desa Songjia di pundaknya, melangkah maju ke arah lubang itu. Ia melepas baju ramunya yang compang-camping, membiarkan tubuhnya yang penuh luka gores terpapar udara gua yang dingin.

"Setiap gigitan adalah guru," gumam Yuan meniru nada bicara Mo Chen yang sinis. "Dan setiap tetes racun adalah kekuatanku."

Ia melompat ke dalam kegelapan lubang itu. Suara pergulatan dan desisan ular segera memenuhi ruangan gua. Mo Chen berdiri di pinggir lubang, memperhatikan dengan mata kuningnya yang berkilat puas.

Di lembah sunyi Hutan Hitam, takdir sedang menempa seorang pembunuh yang tidak akan pernah bisa disentuh oleh rasa takut lagi. Song Yuan sedang mati, dan sang Ular Pemanah sedang merayap keluar dari cangkangnya.

1
HarusameName
namanya yang bener yang mana, bang?
Devilgirl: Yuan-er panggilan khusus ayah ke anaknya dalam gaya wuxia...kalau secara langsung panggilan sayang julukan
total 3 replies
Devilgirl
Hai,readers mampir sini dong!!
"Mereka bilang aku anak baik, tapi mereka tidak tahu hobi malamku. Menghitung detak jantung musuh dari kejauhan adalah melodi favoritku. Aku tidak butuh mendekat untuk menghancurkanmu; aku hanya butuh satu tarikan napas dan satu anak panah untuk mengaudit dosamu. Berani lari? Panahku jauh lebih cepat dari rasa takutmu!" 🏹💨😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!