Arhan si tukang panggul harus menelan pahitnya hidup, rumahnya terbakar, ia mengalami luka bakar, anaknya pincang karena tertimpa kayu dan istrinya menceraikannya.
Naasnya ia mati di lindas 3 mobil sekaligus. Tapi siapa sangka jika hidupnya berubah saat ia mendapat sistem.
Sistem mengubah hidupnya dan membuat mantan istrinya menyesal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33
Setelah menutup telepon, ia kembali menatap Arhan dengan senyum kecut dan penuh ketakutan.
"Sudah dikerjakan Tuan... Semua akan segera dikeluarkan. Saya pastikan mereka tidak akan pernah menginjakkan kaki di sini lagi. Mohon maafkan saya ya Tuan..."
Arhan pun berdiri perlahan, menatap Kepala Sekolah yang kini tampak menyedihkan itu.
"Ingat baik-baik... Sekolah ini dibangun untuk mendidik anak bangsa, bukan tempat bisnis membiarkan penjahat berkeliaran demi uang. Perbaiki sistemmu atau ganti posisimu," ucap Arhan dingin.
"Iya Tuan! Siap Tuan! Terima kasih Tuan!" jawab Kepala Sekolah terus membungkuk sampai Arhan keluar dari ruangan itu.
"Ayo cepat keluar! Kalian dikeluarkan dari sekolah ini mulai hari ini! Ambil barang-barang kalian dan jangan pernah kembali lagi!" kata Guru BK sambil menghela nafas.
Di ruang bimbingan konseling, para siswa yang selama ini menjadi pelaku pembully terdiam kaku. Wajah mereka pucat tidak percaya.
"Ha? Kenapa harus dikeluarkan, Pak? Kan biasanya cuma skorsing atau dimarahi doang!" protes salah satu dari mereka yang merasa paling berkuasa.
"Berani kalian membantah! Ini perintah langsung dari Pemegang saham! Kalian sudah keterlaluan! Buktinya sudah lengkap, rekaman CCTV sudah ada di tangan kami!" kata Guru BK.
"Aku akan menghubungi orang tau kalian untuk menjemput kalian," kaya guru BK itu.
Beberapa menit kemudian setelah orang tua para siswa itu datang.
Suasana di depan kantor administrasi sekolah menjadi ricuh.
"KAMI TIDAK TERIMA ANAK KAMI DIKELUARKAN!"
"KAMI BAYAR MAHAL TAPI PELAYANANNYA BEGINI! KAMI BISA LAPORKAN KALIAN!"
Orang tua dari para siswa yang dikeluarkan itu datang berbondong-bondong dengan wajah garang dan sombong.
Ada sekitar 6 orang siswa yang akan di keluarkan.
Kepala Sekolah yang melihat keributan itu hanya bisa geleng-geleng kepala dan mendorong mereka ke arah ruangan khusus.
"Silakan masuk... Bapak dan Ibu bisa bicara langsung dengan yang berwenang," katanya dengan senyum kecut.
Mereka pun masuk dengan angkuh. Di dalam sana, Arhan sudah duduk santai dengan wajah datar menunggu kedatangan mereka.
"HEY! KAU SIAPA?! MANA BOS KALIAN?!" teriak salah satu ayah siswa yang berbadan besar.
Arhan menatapnya pelan. "Saya di sini yang mewakili pemilik saham di sekolah ini. Jadi apa yang kalian inginkan?"
"HAH! Cuma kau sendiri! Dengarkan ya! Kami mau anak kami dimasukkan kembali! Hapus catatan itu! Atau kami akan boikot sekolah ini dan membuat kalian bangkrut!" ancam mereka dengan sombongnya.
Arhan tersenyum miring, lalu mengambil ponselnya dan menekan satu tombol panggil.
"Baiklah... Kalau begitu mari kita lihat siapa yang sebenarnya akan bangkrut hari ini," kata Arhan santai.
"Sistem, gunakan poin untuk memberi mereka pelajaran," kata Arhan.
Ting!
Gunakan poin untuk
[Perintah di Terima]
[Poin di potong 2.000 poin]
[Sisa poin 6.000 poin]
Memuat Modul Pencarian...
Loading Database Satelit...
Mulai Proses Pengumpulan Data...
Memuat...
Loading...
Mulai...
0%...
10%...
20%...
30%...
40%...
50%...
60%...
70%...
80%...
90%...
100%...
Selesai.
Tiba-tiba saja..
"Halo, Pak Ratno? Tolong hentikan semua kerjasama proyek dengan perusahaan X... Dan kami terpaksa memblokir akses bank kalian untuk menarik kembali uang saham kami kepada Anda."
"Halo, Pak Jordi? Tolong tarik semua investasi dari grup Y... Saya tidak suka berurusan dengan orang yang mendidik anaknya jadi penjahat."
Hanya dalam hitungan menit, ponsel para orang tua itu berdering terus-menerus. Wajah mereka yang tadinya merah padam karena marah, perlahan berubah menjadi pucat pasi dan gemetar.
"A-apa ini... Proyek kami dibatalkan... Rekening kami dibekukan... Siapa kau sebenarnya?!" tanya mereka terbata-bata, tubuh mereka mulai gemetar ketakutan.
Arhan berdiri dan menatap mereka dengan tatapan mematikan.
"Saya Arhan... Orang yang baru saja kalian ancam. Ingat baik-baik... Jangan pernah main-main dengan saya! Saya harap setelah pindah nanti, akan membawa perubahan pada anak-anak kalian! Pergilah, sebelum saya menghancurkan sisa-sisa bisnis kalian yang masih ada!" Kata Arhan dengan tegas
BRUK!
Salah satu dari mereka langsung jatuh berlutut. "AMPUN TUAN! AMPUN! KAMI TIDAK TAU! MOHON MAAF!"
Mereka menangis dan memohon, sadar bahwa mereka baru saja menantang orang yang jauh lebih berkuasa dari mereka.