NovelToon NovelToon
Paradoks Dua Hati

Paradoks Dua Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers
Popularitas:486
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Paradoks Dua Hati menceritakan kisah Kanaya, seorang desainer interior idealis yang terpaksa bekerja di bawah pimpinan Arjuna Dirgantara, seorang CEO perfeksionis dan dingin bagai es. Berawal dari perdebatan sengit dan permusuhan di ruang rapat, Naya dipaksa untuk bertahan di tengah tekanan ego Juna yang tak kenal ampun. Namun, lembur malam dan batas waktu yang ketat perlahan mengupas lapisan kebencian mereka. Di balik sikap arogan Juna terdapat ketakutan akan kegagalan, dan di balik sikap keras kepala Naya tersembunyi rasa insecure yang dalam. Melalui monolog batin yang saling bersinggungan, mereka mulai memahami luka satu sama lain, mengubah arena pertempuran menjadi ruang tak terduga untuk cinta yang menyembuhkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: Retakan di Atas Beton

​Fajar di lokasi konstruksi SCBD tidak pernah datang dengan ketenangan. Ia datang dengan deru mesin kompresor yang mulai membatuk, suara gesekan rantai derek yang berkarat, dan aroma debu semen yang lembap oleh embun pagi.

​Kanaya Larasati terbangun sebelum alarm di ponselnya sempat berteriak. Ia duduk di tepi tempat tidur lipatnya di dalam unit kontainer bawah, merasakan seluruh persendiannya seperti baru saja digilas oleh truk molen. Lehernya kaku, punggungnya berdenyut nyeri akibat posisi tidur yang tidak ergonomis, dan telapak tangannya terasa panas—bekas lecet akibat menangani peralatan berat kemarin sore kini mulai mengeras menjadi kapalan yang menyakitkan.

​Ia menatap langit-langit logam kontainer yang hanya berjarak satu meter di atas kepalanya. Di atas sana, dipisahkan oleh lapisan baja tipis dan busa peredam yang tidak memadai, adalah wilayah kekuasaan Arjuna Dirgantara.

​'Pukul lima pagi. Apakah dia sudah bangun? Atau pria itu memang tidak pernah tidur dan hanya melakukan pengisian daya seperti android?' batin Naya, bibirnya mengulas senyum kecut yang pahit.

​Naya menyeret langkahnya menuju kamar mandi kecil di sudut kontainer. Air dingin yang mengalir dari pancuran terasa seperti ribuan jarum es yang menembus kulitnya, namun itu adalah satu-satunya hal yang bisa memaksa sarafnya untuk tetap terjaga. Sambil mengeringkan rambutnya yang berantakan, ia menatap bayangannya di cermin buram. Matanya terlihat lebih cekung, wajahnya pucat, namun ada kilat determinasi yang menolak untuk padam.

​'Jangan terlihat lemah, Kanaya. Sedikit saja kau menunjukkan rasa lelah, dia akan menggunakan itu sebagai bukti bahwa idealismemu hanyalah beban fisik bagi proyek ini,' ia mengingatkan dirinya sendiri.

​Tepat pukul enam pagi, Naya sudah berdiri di tengah area lobi yang masih berupa rangka beton raksasa. Angin pagi Jakarta yang membawa polusi terasa mencekik, namun ia tetap tegak dengan helm proyek putihnya. Di hadapannya, pilar ketiga—pilar yang paling rumit dengan lengkungan spiral yang ekstrem—siap untuk dicor hari ini.

​"Mbak Naya, besi penguatnya sudah terpasang sesuai koordinat 3D yang Mbak berikan," lapor salah satu mandor, wajahnya bermandikan keringat meski matahari belum sepenuhnya naik.

​Naya menaiki tangga steger kayu yang bergoyang, merayap naik hingga ketinggian empat meter untuk memeriksa langsung setiap ikatan kawat baja pada kerangka pilar tersebut. Jemarinya yang luka menyentuh permukaan logam yang dingin, memastikan tidak ada celah satu milimeter pun.

​"Nona Kanaya Larasati."

​Suara bariton yang berat dan tenang itu menggema di bawah langit-langit beton yang tinggi, membuat Naya nyaris kehilangan keseimbangan. Ia menoleh ke bawah dan melihat Juna berdiri di lantai dasar.

​Pagi ini, Juna terlihat berbeda. Ia mengenakan kemeja lapangan berwarna khaki yang fungsional, rompi keselamatan yang mulai berdebu di bagian bahu, dan celana kargo hitam. Meskipun pakaiannya jauh lebih santai dari jas mahalnya di Jakarta, Juna tetap memancarkan otoritas yang membuat para pekerja di sekitarnya menyingkir secara refleks.

​"Turun dari sana. Anda bukan monyet sirkus yang harus memanjat steger hanya untuk memeriksa kawat," perintah Juna, suaranya dingin namun memiliki nada yang tidak bisa dibantah.

​Naya mendengus, namun ia tetap turun dengan gerakan yang terlatih. Begitu kakinya menyentuh lantai beton, ia berhadapan langsung dengan Juna. Jarak mereka dekat, cukup dekat untuk Naya mencium aroma kopi espresso yang sangat kuat dari napas pria itu.

​"Saya melakukan inspeksi visual, Pak Arjuna. Saya tidak percaya pada laporan lisan jika menyangkut integritas pilar ketiga," sahut Naya, menyeka debu semen yang menempel di pipinya, tanpa sadar meninggalkan coretan abu-abu di kulitnya yang halus.

​Juna tidak langsung membalas. Matanya yang tajam terpaku pada coretan debu di pipi Naya, lalu turun ke tangan Naya yang gemetar kecil akibat kelelahan otot. Ia melihat luka-luka di jemari Naya yang tidak tertutup plester.

​'Gadis bodoh. Dia menghancurkan tubuhnya sendiri hanya untuk membuktikan sebuah poin yang sudah aku akui di dalam kepalaku,' batin Juna, merasakan sebuah denyut aneh di dadanya—sebuah perpaduan antara kemarahan dan rasa iba yang ia benci. 'Kenapa dia harus sekeras ini? Kenapa dia tidak bisa sedikit saja mengandalkan orang lain?'

​"Ikut saya ke kantor lapangan. Sekarang," ucap Juna tiba-tiba, berbalik tanpa menunggu jawaban.

​"Tapi pengecoran akan dimulai dalam sepuluh menit, Pak!" seru Naya, langkahnya terseok-seok mengikuti langkah panjang Juna.

​"Riko dan manajer teknis akan mengawasinya. Saya butuh Anda untuk meninjau ulang perubahan beban angin pada fasad utara. Itu jauh lebih mendesak daripada melihat semen mengeras," sahut Juna absolut.

​Di dalam kontainer kantor yang sepi, Juna duduk di belakang meja besarnya. Ia tidak membuka iPad atau cetak biru. Ia justru merogoh laci mejanya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna putih dengan simbol palang merah.

​"Duduk," perintahnya, menunjuk kursi di depan mejanya.

​Naya mengerutkan kening, tetap berdiri. "Pak, jika ini soal desain fasad—"

​"Duduk, Kanaya. Atau saya akan menganggap Anda melakukan pembangkangan terhadap instruksi medis perusahaan," potong Juna, suaranya merendah menjadi bisikan yang mengancam.

​Naya akhirnya duduk dengan gerakan kaku. Ia memperhatikan Juna membuka kotak P3K tersebut, mengeluarkan cairan antiseptik, kapas, dan tumpukan plester luka premium.

​Tanpa kata, Juna menarik tangan kanan Naya.

​Naya tersentak, mencoba menarik tangannya kembali. "Pak Arjuna, apa yang Anda lakukan? Saya bisa melakukannya sendiri!"

​"Diam," desis Juna, mencengkeram pergelangan tangan Naya dengan kekuatan yang pas—tidak menyakitkan, namun tidak membiarkannya lepas. "Tangan Anda kotor, luka-luka Anda mulai mengalami infeksi ringan. Jika Anda sampai terkena tetanus atau demam, proyek ini akan kehilangan desainer utamanya. Saya hanya sedang melakukan perawatan aset."

​'Aset. Selalu aset,' batin Naya getir, meskipun ia merasakan panas yang menjalar dari telapak tangan Juna ke nadinya.

​Juna mulai membersihkan luka-luka di jari Naya dengan kapas yang dibasahi antiseptik. Gerakannya sangat hati-hati, sangat teliti, seolah-olah ia sedang membedah sebuah maket kristal yang sangat rapuh. Naya meringis saat cairan itu menyentuh lukanya, dan ia menyadari bahwa napas Juna mendadak melambat, seolah pria itu ikut merasakan perihnya.

​Naya menatap wajah Juna dari jarak yang sangat dekat. Tanpa topeng CEO-nya yang angkuh, Juna terlihat... lelah. Ada bayangan kegelapan di bawah matanya yang menunjukkan bahwa pria itu benar-benar tidak tidur semalam. Rahangnya tetap tegas, namun bibirnya terkatup dengan cara yang menunjukkan bahwa ia sedang menahan sesuatu yang sangat berat.

​'Dia melakukan ini sendiri? Kenapa dia tidak menyuruh Riko?' Naya bertanya-tanya di dalam batinnya. 'Sentuhannya... kenapa terasa begitu protektif? Apakah robot tanpa nurani ini benar-benar memiliki sisi manusia yang ia sembunyikan sedalam ini?'

​Tiba-tiba, ponsel Juna di atas meja bergetar hebat. Sebuah nama muncul di layar: CHAIRMAN (FATHER).

​Atmosfer di dalam kontainer itu seketika berubah. Naya bisa merasakan bagaimana pergelangan tangan Juna menegang kaku di bawah genggamannya. Raut wajah Juna yang tadi sempat sedikit melunak, kini kembali menjadi dinding es yang paling dingin.

​Juna melepaskan tangan Naya, meraih ponselnya, dan menekan tombol jawab. Ia tidak beranjak dari tempat duduknya, seolah-olah ia ingin menunjukkan pada Naya bahwa tidak ada yang rahasia, atau mungkin ia terlalu lelah untuk berpura-pura lagi.

​"Ya, Ayah," ucap Juna. Suaranya datar, tanpa emosi, hampir menyerupai robot.

​Naya hanya bisa mendengar suara teriakan bariton yang keras dari seberang telepon. Suara yang penuh dengan tuntutan, hinaan, dan otoritas yang menghancurkan.

​"...kau menghabiskan terlalu banyak waktu di site, Arjuna! Laporan audit menunjukkan pembengkakan dana pada struktur serat karbon! Jika hotel ini tidak dibuka tepat waktu, kau tahu apa konsekuensinya bagi posisimu!" suara Chairman itu terdengar jelas di telinga Naya yang tajam.

​"Saya sedang mengawasi fabrikasinya sendiri, Ayah. Kualitasnya tidak bisa dikompromikan—"

​"Jangan bicara soal kualitas padaku! Bicara soal profit dan efisiensi! Kau selalu saja terlalu lemah pada detail-detail estetika yang tidak berguna itu! Kau persis seperti ibumu yang naif!"

​Naya melihat Juna memejamkan matanya rapat-rapat. Tangan kirinya yang memegang ponsel gemetar sangat halus. Bibirnya pucat, dan rahangnya mengeras hingga otot-ototnya menonjol tajam. Ia tidak membalas. Ia hanya diam, menerima setiap caci maki itu dengan postur tegak yang menyakitkan untuk dilihat.

​"Baik, Ayah. Semuanya akan sesuai jadwal. Saya mengerti," ucap Juna akhirnya, sebelum menutup telepon tersebut.

​Hening. Sunyi yang memekakkan telinga merajai ruangan sempit itu. Juna meletakkan ponselnya dengan perlahan, lalu ia hanya duduk diam, menatap kosong ke arah deretan maket digital di depannya.

​Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Naya melihat retakan itu secara nyata. Dinding es yang selama ini ia benci, ternyata hanyalah sebuah perisai yang dibangun oleh seorang anak laki-laki yang tidak pernah dianggap cukup baik oleh ayahnya sendiri. Juna bukan hanya tiran bagi karyawannya; ia adalah tawanan yang paling menderita di dalam kerajaannya sendiri.

​'Tuhan... beban apa yang ia pikul setiap hari?' batin Naya, rasa bencinya seketika menguap, digantikan oleh gelombang simpati yang begitu dalam hingga dadanya terasa sesak. 'Dia tidak dingin karena dia jahat. Dia dingin karena itu satu-satunya cara dia bisa bertahan dari api kemarahan ayahnya.'

​Naya mengulurkan tangannya secara impulsif, menyentuh lengan Juna yang masih menegang di atas meja.

​"Pak Arjuna..." bisik Naya pelan.

​Juna tersentak, seolah baru saja terbangun dari mimpi buruk yang sangat panjang. Ia menarik lengannya menjauh, menatap Naya dengan tatapan yang penuh dengan kerentanan yang ia coba tutupi dengan amarah.

​"Keluar, Kanaya," desis Juna, suaranya bergetar. "Kembali ke site. Lakukan tugas Anda."

​"Saya melihatnya, Pak," ucap Naya, tetap duduk di kursinya. "Saya melihat bagaimana Anda ditekan. Anda tidak perlu berpura-pura kuat di depan saya."

​"Anda tidak melihat apa-apa!" bentak Juna, berdiri mendadak hingga kursinya terjungkal ke belakang. "Anda hanya seorang desainer yang saya pekerjakan! Jangan lancang mencoba menganalisis hidup saya!"

​Naya berdiri, menatap Juna dengan mata yang berkilat penuh kejujuran. "Saya melihat seorang pria yang baru saja menyelamatkan desain saya dengan risiko jabatannya sendiri di depan ayahnya. Terima kasih, Arjuna."

​Naya memanggil namanya tanpa gelar. Tanpa embel-embel CEO.

​Juna mematung. Kata 'Arjuna' yang keluar dari mulut Naya terdengar seperti sebuah mantra yang meruntuhkan sisa-sisa otoritasnya sore itu. Ia menatap Naya, mencari ejekan atau rasa kasihan, namun yang ia temukan hanyalah pengakuan yang tulus.

​"Selesaikan plester luka Anda sendiri," ucap Juna dengan suara yang sangat pelan, membuang muka ke arah jendela. "Dan jangan pernah berani membahas percakapan telepon tadi dengan siapa pun. Terutama Riko."

​"Saya bukan mata-mata Ayah Anda, Pak. Saya rekan kerja Anda," balas Naya. Ia mengambil plester yang tersisa, memakainya dengan satu tangan, lalu berjalan menuju pintu.

​Tepat sebelum ia keluar, Naya berhenti. "Kopi Anda terlalu pahit, Pak. Mungkin itu sebabnya Anda selalu marah-marah. Besok pagi, saya akan membawakan kopi yang lebih manusiawi dari warung depan proyek."

​Pintu kontainer tertutup dengan bunyi klik yang lembut.

​Juna menjatuhkan dirinya kembali ke kursi, menyandarkan kepalanya ke sandaran tangan. Ia tertawa pelan—sebuah tawa yang pahit namun ada sedikit kelegaan di dalamnya. Ia menyentuh permukaan meja tempat tangan Naya baru saja berada.

​'Rekan kerja?' batin Juna, menatap langit-jakarta yang mulai berdebu di luar sana. 'Atau variabel yang secara perlahan mulai merusak seluruh algoritma hidupku, Kanaya?'

​Malam harinya, di lokasi konstruksi yang mulai gelap, retakan itu semakin melebar.

​Juna berdiri sendirian di lantai tujuh yang masih setengah jadi, menatap lampu-lampu Jakarta yang mulai menyala di kejauhan. Di tangannya, ia memegang sebuah sketsa kecil—sketsa yang ia temukan jatuh di dekat lift kantor kemarin sore. Sketsa wajahnya yang dibuat oleh Naya.

​Ia menyentuh garis rahang yang digambar Naya dengan pensil tebal. Ia menyadari satu hal: Naya melihatnya dengan cara yang tidak pernah dilakukan oleh siapa pun. Naya melihatnya bukan sebagai Dirgantara, melainkan sebagai seorang manusia yang memiliki bayangan.

​Tiba-tiba, terdengar langkah kaki di tangga steger.

​Naya muncul dengan membawa dua gelas kertas dari warung depan. Wajahnya masih kotor oleh semen, namun ia tersenyum tipis saat melihat Juna.

​"Ini kopi 'manusiawi' janji saya tadi pagi," ucap Naya, menyerahkan salah satu gelas pada Juna. "Gula aren asli. Tanpa tekanan dari dewan direksi."

​Juna menerima gelas itu. Kehangatan cairannya menjalar ke telapak tangannya. Ia menyesapnya perlahan. Manis. Sangat berbeda dengan espresso pahit yang selalu ia minum.

​"Ini... terlalu manis," gumam Juna, namun ia tidak berhenti meminumnya.

​"Hidup Anda sudah terlalu pahit, Pak. Sekali-sekali, Anda butuh asupan gula agar tidak meledak di depan pilar ketiga," canda Naya, berdiri di samping Juna, ikut menatap kota.

​Keheningan di antara mereka kali ini tidak lagi terasa mencekik. Ada resonansi yang baru, sebuah pemahaman tanpa kata bahwa mereka berdua adalah dua orang asing yang sedang berjuang di tengah hutan beton ini.

​"Ayah saya..." Juna memulai, suaranya hampir hilang di balik angin malam. "Dia tidak pernah memuji apa pun yang saya buat. Baginya, bangunan ini hanyalah deretan angka di neraca laba rugi. Jika ini tidak menghasilkan uang, ini sampah."

​Naya menoleh, menatap Juna dengan lembut. "Tapi bagi Anda, ini adalah karya seni, bukan?"

​Juna menoleh, mata mereka bertemu di tengah kegelapan yang hanya diterangi oleh lampu proyek yang temaram. "Bagi saya, ini adalah satu-satunya cara agar saya bisa merasa bernapas."

​Retakan di dinding es itu kini sudah terlalu besar untuk diperbaiki. Di atas lantai beton yang dingin itu, Arjuna dan Kanaya baru saja meletakkan batu pertama untuk sesuatu yang jauh lebih kuat daripada pualam atau baja—sebuah empati yang lahir dari paradoks dua hati yang terluka.

​[KILAS BALIK ]

​Kamera bergerak pelan menyusuri sebuah taman di rumah mewah kediaman Dirgantara. Suasana hening, hanya terdengar suara percikan air mancur.

​Dua puluh tahun yang lalu.

​Arjuna kecil, baru berusia delapan tahun, sedang menangis sendirian di balik pohon besar. Ia baru saja menjatuhkan piala kompetisi biola pertamanya hingga pecah.

​Ibunya, seorang wanita cantik yang terlihat sangat rapuh, datang menghampiri. Ia tidak memarahi Juna. Ia justru duduk di tanah, memeluk Juna erat-erat.

​"Jangan menangis, Juna sayang," bisik ibunya dengan suara yang sangat lembut. "Dunia ini memang keras pada benda-bayan yang indah. Tapi selama hatimu tidak pecah, kau bisa membangun kembali apa pun."

​Sang Ibu memberikan sebuah pensil gambar pada Juna kecil. "Jika biola itu pecah, gambarlah sesuatu yang tidak bisa pecah. Gambarlah rumah yang sangat kuat untuk kita berdua."

​Tiba-tiba, suara langkah kaki berat terdengar. Sang Ayah muncul, menatap mereka dengan tatapan jijik. "Jangan ajari dia menjadi lemah, Maria! Dia adalah Dirgantara! Jika dia merusaknya, dia harus dihukum, bukan dipeluk!"

​Ayahnya menarik Juna secara paksa, menjauhkannya dari pelukan ibunya. Kamera melakukan close-up pada wajah Juna kecil yang menatap punggung ibunya yang semakin menjauh—saat terakhir ia merasakan pelukan tulus sebelum ibunya meninggal setahun kemudian. Di detik itu, Juna kecil memutuskan untuk berhenti menangis, dan mulai membangun dinding es untuk melindungi sisa-sisa kenangan tentang ibunya.

1
Arif Ansori
bagus banget loh ceritanya, kok bisa sepi sih. semangat ya thor 💪😍
Misterios_Man: lah gatau... saya juga bingung kak.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!