NovelToon NovelToon
Sistem Absolut: Evolusi Tanpa Batas

Sistem Absolut: Evolusi Tanpa Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Action
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Di dunia yang kejam, tempat di mana yang lemah selalu diinjak, dia hanyalah sampah yang diremehkan. Namun, ketika nyawa nyaris terenggut dan pengkhianatan terasa di setiap sudut, sebuah sistem misterius muncul memberinya kesempatan untuk bangkit.

Dari titik terendah, ia memulai perjalanan menaklukkan dunianya, mengasah kekuatan, dan mengungkap rahasia di balik kekuasaan yang tersembunyi. Setiap pertarungan bukan hanya soal kekuatan, tapi strategi, kepercayaan, dan pengorbanan. Dari seorang yang hina, ia perlahan berubah menjadi sosok yang tidak bisa diremehkan, menantang dewa dan musuh yang lebih kuat dari imajinasi.

Apakah ia akan menjadi penakluk dunia atau korban dari permainan yang lebih besar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 32 - Memutarbalikkan Fakta

Kabar tentang kembalinya Alverion Dastan menyebar jauh lebih cepat dari yang ia perkirakan, bahkan sebelum ia benar-benar pulih dari luka yang ia bawa keluar dari dungeon. Awalnya hanya bisikan kecil di sekitar pintu masuk, percakapan singkat antar pemburu yang melihatnya jatuh dalam kondisi mengenaskan, lalu cerita itu merambat ke dalam guild, ke lorong-lorong tempat orang bertukar informasi, hingga akhirnya mencapai pasar dan sudut kota tempat para petualang biasa berkumpul.

Nama yang sempat menghilang kini kembali muncul di banyak percakapan, namun bukan sebagai kisah keberhasilan atau keberanian. Yang beredar justru cerita yang penuh keraguan, potongan informasi yang tidak lengkap, dan kesimpulan yang dibentuk dari sudut pandang yang tidak pernah benar-benar melihat apa yang terjadi.

Alverion duduk di sudut ruang perawatan guild, punggungnya bersandar pada dinding yang dingin, tubuhnya masih dibalut perban di beberapa bagian. Luka di permukaan mulai menutup berkat bantuan penyembuh, tetapi rasa lelah yang tertinggal jauh lebih dalam dan tidak bisa hilang hanya dengan sedikit cahaya penyembuhan. Setiap gerakan masih terasa berat, namun pikirannya sudah cukup jernih untuk menangkap perubahan di sekitarnya.

Orang-orang melihatnya, tetapi tidak seperti sebelumnya ketika ia masih menjadi bagian dari mereka. Tatapan yang ia terima sekarang lebih lama, lebih tajam, dan terasa seperti mencoba mencari sesuatu yang tidak terlihat. Beberapa bahkan tidak berusaha menyembunyikan kecurigaan mereka, seolah apa yang mereka dengar sudah cukup untuk membentuk penilaian.

Seorang penyembuh yang tadi mengganti perbannya sempat berhenti lebih lama dari biasanya sebelum berbicara. Tangannya sedikit ragu saat merapikan kain di bahunya, seolah ingin mengatakan sesuatu tetapi tidak yakin harus memulai dari mana. “Kondisimu membaik. Tapi kamu sebaiknya tidak langsung kembali ke dungeon,” ucapnya pelan dengan nada yang terdengar lebih hati-hati dari sekadar saran biasa.

Alverion mengangguk pelan tanpa banyak ekspresi. “Aku tahu.”

Wanita itu masih berdiri beberapa detik, matanya sempat menatap Alverion dengan ragu sebelum akhirnya menghela napas kecil. Ia memilih untuk tidak melanjutkan, lalu berbalik dan meninggalkan ruangan tanpa menambahkan apa pun lagi.

Kesunyian sempat datang sejenak setelah kepergiannya, tetapi tidak bertahan lama. Bisikan kembali terdengar dari sisi lain ruangan, tidak keras, namun cukup jelas untuk sampai ke telinganya tanpa harus berusaha mendengar.

“Dia yang itu, kan?”

“Iya... yang katanya ninggalin timnya di bawah.”

“Serius? Aku dengar dia kabur sendirian.”

Alverion tidak menoleh ke arah suara itu. Ia tetap duduk diam, seolah tidak mendengar, tetapi setiap kata tetap masuk dan tersimpan di dalam pikirannya. Ia tidak mencoba mengabaikan sepenuhnya, karena ia tahu percakapan seperti itu tidak akan berhenti hanya karena ia berpura-pura tidak peduli.

Ia menghela napas pelan, membiarkan udara keluar tanpa suara yang berarti. Jadi ini yang terjadi setelah ia kembali, bukan sambutan atau pertanyaan tentang bagaimana ia bertahan, melainkan cerita yang sudah terbentuk sebelum ia sempat membuka mulut.

Pintu ruangan terbuka dengan suara pelan, dan seorang pria masuk dengan langkah yang awalnya cepat sebelum melambat ketika melihat siapa yang duduk di dalam. Wajahnya tidak asing, salah satu anggota guild yang dulu sering bekerja bersama dalam beberapa misi kecil.

Namun sekarang ada jarak yang tidak terlihat.

“...Kamu sudah bangun,” katanya akhirnya dengan nada yang terdengar canggung.

Alverion menatapnya tanpa mengubah ekspresi. “Sejak tadi.”

Pria itu terlihat ragu, tangannya sempat bergerak seperti ingin mengatakan sesuatu sebelum ia benar-benar melakukannya. “Ada banyak cerita di luar,” lanjutnya dengan suara yang lebih pelan, seolah tidak ingin orang lain ikut mendengar.

Alverion tidak langsung menjawab karena ia sudah bisa menebak arah pembicaraan itu. Ia hanya menunggu, memberi ruang bagi pria itu untuk melanjutkan tanpa harus dipaksa.

“Cerita apa?” tanyanya kemudian dengan nada datar.

Pria itu menarik napas pendek, ekspresinya menunjukkan bahwa ia tidak nyaman menyampaikan hal ini. “Tentang timmu. Riven dan yang lain sudah kembali lebih dulu.”

Nama itu tidak mengejutkan, tetapi tetap terasa berbeda saat diucapkan dalam konteks seperti ini. Ada sesuatu yang berat, bukan karena namanya sendiri, melainkan karena apa yang dibawanya.

“Mereka bilang apa?” tanya Alverion.

Pria itu terdiam beberapa saat, seolah mencari kata yang tepat agar tidak terdengar terlalu kasar. “Mereka bilang kamu meninggalkan mereka di bawah. Saat situasi memburuk, kamu kabur sendiri.”

Ruangan terasa lebih sunyi setelah kalimat itu keluar. Alverion menunduk sedikit, tatapannya kosong, bukan karena tidak mendengar, tetapi karena ia sedang menyusun kembali potongan yang sudah ia pahami.

Pria itu melanjutkan dengan hati-hati, “Mereka juga bilang kamu mengambil sesuatu dari dungeon dan tidak mau berbagi. Bahkan... sengaja menjebak mereka supaya bisa keluar.”

Senyum tipis muncul di wajah Alverion, bukan karena lucu, melainkan karena semuanya terasa masuk akal sekarang. Apa yang terjadi di dalam dungeon bukan hanya tentang bertahan hidup, tetapi juga tentang apa yang akan terjadi setelahnya.

Ini bukan kebetulan.

Ini pilihan yang sudah dipersiapkan.

“Dan orang-orang percaya?” tanyanya pelan.

Pria itu tidak langsung menjawab, tetapi ekspresi wajahnya sudah cukup jelas untuk menggambarkan jawabannya. Ia akhirnya mengangguk pelan. “Sebagian besar, iya.”

Alverion mengangguk kembali tanpa menunjukkan reaksi berlebihan. Itu masuk akal jika dilihat dari sudut pandang orang luar. Riven dikenal pandai berbicara dan mudah dipercaya, Kael memiliki reputasi kuat, dan Lyra selalu terlihat tenang serta meyakinkan.

Sementara dirinya adalah seseorang yang menghilang cukup lama, lalu kembali dalam kondisi setengah mati tanpa penjelasan yang jelas. Dalam situasi seperti itu, cerita yang rapi dan disampaikan lebih dulu akan selalu lebih mudah diterima.

Pria itu menatapnya lebih lama sebelum berkata, “Aku tidak tahu yang sebenarnya. Tapi kamu harus hati-hati sekarang.”

Alverion mengangkat pandangan. “Kamu percaya mereka?”

Pertanyaan itu membuat pria tersebut terdiam cukup lama. Ia terlihat berpikir, bukan karena tidak ingin menjawab, tetapi karena tidak yakin dengan jawabannya sendiri.

“Aku... tidak tahu,” ucapnya akhirnya.

Jawaban itu jujur, dan itu cukup bagi Alverion. Ia tidak membutuhkan pembelaan, apalagi dari seseorang yang tidak berada di sana saat semuanya terjadi.

“Terima kasih sudah bilang,” katanya singkat.

Pria itu mengangguk, lalu berbalik dan pergi tanpa menambahkan apa pun lagi. Langkahnya terdengar cepat saat meninggalkan ruangan, seolah ia tidak ingin berada di situ lebih lama dari yang diperlukan.

Ruangan kembali sepi, tetapi kali ini kesunyian itu terasa lebih berat dari sebelumnya. Alverion perlahan bangkit dari tempat duduknya, tubuhnya masih belum sepenuhnya pulih, namun ia tidak ingin tetap berada di ruang itu lebih lama.

Ia keluar dari ruang perawatan, dan begitu melangkah ke area utama guild, perubahan itu langsung terasa jelas. Percakapan yang sebelumnya berjalan pelan tiba-tiba mereda, beberapa orang berhenti berbicara, sementara yang lain berpura-pura sibuk dengan urusan mereka sendiri.

Tatapan datang dari berbagai arah, namun tidak ada yang mendekat. Tidak ada yang menyapa seperti dulu, tidak ada yang mencoba membuka percakapan. Jarak itu terbentuk tanpa perlu dijelaskan, seolah semua orang sepakat untuk menjaga batas.

Alverion berjalan melewati mereka tanpa mengubah ritme langkahnya. Ia tidak mempercepat, tidak juga melambat, tetapi ia bisa merasakan perbedaan itu dengan jelas di setiap langkah.

Di salah satu sudut ruangan, ia melihat Riven.

Pria itu sedang berbicara dengan beberapa anggota guild, wajahnya tetap tenang seperti biasa. Kael berdiri di sampingnya dengan sikap santai, sementara Lyra sedikit menjauh, tetap dengan tatapan tajam yang sulit dibaca.

Riven menyadari kehadiran Alverion, dan tatapan mereka bertemu tanpa perlu waktu lama. Senyum tipis muncul di wajahnya, sama seperti yang pernah ia tunjukkan sebelumnya, tetapi sekarang terasa berbeda.

Alverion tidak berhenti, ia tetap berjalan.

“Alverion.”

Langkahnya akhirnya terhenti ketika namanya dipanggil. Beberapa orang di sekitar langsung memperhatikan, suasana menjadi lebih fokus pada dua orang itu.

Riven mendekat perlahan, ekspresinya terlihat prihatin dengan cara yang terlalu rapi. “Kamu sudah membaik. Syukurlah.”

Alverion menatapnya tanpa banyak reaksi. “Kamu juga.”

Kael menyeringai tipis dari samping. “Beruntung kamu bisa keluar.”

Lyra tetap diam, tetapi matanya tidak lepas dari Alverion, seolah mencoba membaca sesuatu yang tidak terlihat.

Riven melanjutkan dengan nada yang tetap tenang, “Kami sudah menceritakan apa yang terjadi di bawah supaya orang-orang tahu situasinya.”

Alverion mengangguk pelan. “Aku dengar.”

Riven menghela napas, ekspresinya menunjukkan beban yang tidak terlihat. “Kami tidak punya pilihan. Apa yang terjadi harus dijelaskan.”

Alverion menatapnya lebih dalam, menyadari bahwa tidak ada gunanya memperdebatkan sesuatu di tempat seperti ini. Kata-kata tidak akan mengubah apa yang sudah dipercaya oleh orang-orang di sekitar mereka.

“Lakukan saja yang kamu mau,” ucapnya akhirnya.

Jawaban itu membuat Riven terdiam sejenak sebelum kembali tersenyum. “Kami hanya ingin semuanya jelas.”

Alverion tidak menanggapi lagi, ia melangkah meninggalkan mereka tanpa melihat ke belakang. Tatapan orang-orang mengikuti langkahnya, beberapa berbisik pelan, sementara yang lain menghindar saat ia mendekat.

Perubahan itu terlalu nyata untuk diabaikan.

Di pintu keluar guild, ia berhenti sejenak dan menoleh sedikit ke belakang. Riven dan yang lainnya masih berada di tempat yang sama, dikelilingi orang-orang yang mendengarkan.

Mereka menjadi pusat perhatian.

Sementara dirinya berdiri sendiri di sisi yang lain.

Ia mengalihkan pandangan, lalu melangkah keluar tanpa ragu.

Di luar, kota tetap berjalan seperti biasa, tidak peduli dengan apa yang terjadi di dalam guild. Orang-orang berjalan, pedagang menawarkan barang, dan suara kehidupan memenuhi setiap sudut.

Namun ketika Alverion lewat, beberapa orang mulai berbisik.

Nama itu sudah sampai ke luar.

Dan ceritanya ikut menyebar.

Seorang pria di dekat jalan menatapnya sejenak sebelum berbisik pada temannya. “Itu dia... yang ninggalin timnya.”

Temannya mengangguk, lalu sedikit menjauh, memberi ruang tanpa perlu diminta.

Alverion terus berjalan tanpa berhenti. Langkahnya tetap stabil meskipun tubuhnya masih lemah, dan ia tidak mencoba menjelaskan apa pun kepada siapa pun yang melihatnya.

Di dalam dirinya, sesuatu berubah secara perlahan.

Bukan kemarahan yang meledak, bukan juga penyesalan yang mengikat. Lebih seperti keputusan yang terbentuk dengan tenang, sesuatu yang tidak perlu diucapkan untuk menjadi nyata.

Jika dunia memilih melihatnya seperti itu, maka ia tidak akan memaksa mereka untuk berubah sekarang. Ia tahu bahwa kebenaran tidak selalu menang lewat kata-kata, dan ada waktu ketika tindakan jauh lebih berarti daripada penjelasan.

Alverion Dastan berjalan di tengah kota yang mulai menjaga jarak darinya, langkahnya tetap lurus tanpa menoleh ke samping. Dunia di sekitarnya terus bergerak, tetapi jalannya kini berbeda dari yang lain.

Ia tidak berhenti.

Dan tidak berniat kembali.

1
Manusia Ikan
bruh bro punya sistem, dan akan menjadi OP
Manusia Ikan
dadah pecundang😏👋
Manusia Ikan
😌👉itu tragis, tapi aku suka. aku akan menambahkan kejadian yang serupa di karya ku juga. karena aku memerlukan karakter baru
Manusia Ikan
bro anda sudah menjelaskan bagian ini :v
Manusia Ikan
baiklah aku mulai tertarik. aku akan mengikutinya perlahan lahan😌👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!