PERHATIAN!!!
Jika ingin membaca cerita ini siapkan mental. Takutnya bisa baper stadium akhir dan yang nulis gak tanggung jawab jika bibir kalian gak bisa berhenti ketawa.
Kata orang menjadi cewek cantik itu terlalu beruntung. Karena dipikir banyak yang demen. Tapi apa jadinya jika seorang cewek kaya Ghea Virnafasya yang jutek dan menjadi badgirl di sekolahnya masihlah jomblo.
Tahukah jika kadar kecantikan dan kejutekannya itu terlalu akurat stadium akhir?
Dia, Ghea Virnafasya cewek cantik jomblo abadi yang gak suka pacaran. Dia inginnya langsung menggelar nikahan.
Tapi apa kejutekan dan kenakalannya akan bisa berakhir? Apa Ghea akan sadar dan bertaubat setelah bertemu dengan seorang guru baru yang tampan nya naudzubillah bak aktor Yang yang, mengajar di kelasnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seizy kurniawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terjebak Hujan
"Hah ... ini apa, Pak?"
Hah, rasanya lidah Ghea masih keluh untuk memanggil Pak Gery dengan embel-embel Mas.
Malam ini, Pak Gery sengaja mengajak Ghea makan malam di restoran keluarganya - tempat acara perjodohan yang waktu itu sempat gagal karena Ghea kabur.
Duduk saling berhadapan. Ghea menerima sebuah map dari Pak Gery - yang berisi kertas dengan beberapa tulisan di sana.
"Baca saja! Terus tanda tangan!" titah Pak Gery datar. Ia duduk santai, bersedekap dengan menyandarkan punggung pada sandaran kursi resto yang nyaman.
Ghea hanya menatap map biru itu dengan nanar. Lalu beralih pada Pak Gery yang tengah duduk santai. Wajahnya yang putih, bersih, bak seorang bayi yang mulus tanpa cacat. Membuat Ghea semakin terpana dan betah lama-lama memandang Pak Gery.
Dan, ya, jangan lupakan dengan selera fashion Pak Gery. Sepertinya Pak Gery memang sangat menjaga menampilannya. Kaos t-shirt polos berwarna putih, dibalut dengan jaket kulit hitam pekat. Mampu membuat Ghea terhipnotis. Bola mata abu-abunya yang selalu menatap tajam setiap lawan bicara. Tapi ketika sedang menatap Ghea. Bola mata itu berubah menjadi teduh. Garis bibir tebal, merah alami. Ghea yakini jika Pak Gery sering mengkonsumsi vitamin C hingga bibirnya tidak pecah-pecah. Garis rahang kokoh, tulang pipi yang menonjol dan -
Ah, jika diutarakan tentang kesempurnaan fisik Pak Gery, memang tidak akan ada habisnya. Semuanya terlihat sempurna di mata Ghea. Tak ada fisik yang cacat sedikit, pun hanya perasaannya saja yang mungkin perlu Ghea ubah.
Membuka map biru di atas meja. Ghea membaca dan mencoba memahami isi dalam tulisan kertas putih itu.
Sedangkan Pak Gery, ia memakan makanannya yang sebelumnya sudah ia pesan dengan hidmat.
"Maksudnya apa, nih? Istri dilarang minta cerai walau suami akan nikah lagi?" Ghea mendongak setelah membaca salah satu poin dari tulisan kertas tersebut yang ternyata itu adalah surat kontrak pra nikah. "Jadi, maksudnya, kamu mau nikah lagi? Aku mau di poligami?" Membolakan mata seraya berdecak kesal. "Gak bisa, lah. Enak saja. Aku gak mau, ya, di poligami. Jangan mentang-mentang kamu cowok, dong, Pak. Bisa seenaknya main poligami segala." Menutup map di atas meja dengan hentakan. Sehingga Pak Gery yang akan memasukan daging stick ke dalam mulutnya tersentak. Padahal Pak Gery sudah mangap. Siap menyantap stick yang sudah ada di depan mulutnya.
Pak Gery menghela. Memutarkan bola matanya malas. Kemudian urung untuk memakan daging stick-nya. "Terus?"
"Ya, gak ada terusnya, lah, Pak. Pokoknya poin yang terakhir itu aku gak mau, ya. Aku gak setuju. Enak saja aku gak boleh minta cerai kalau kamu mau poligami. Itu, mah, enak di kamu gak enak di aku. Dan kenapa juga, sih, harus pakai surat kontrak segala? Kaya udah mau keterima kerja aja. Mending kerja dapat duit. Bukannya nikah itu gak harus tanda tangan kaya gini, ya, Pak? Cukup tandan tangan akte nikah aja sama malam pertama?" Sungutnya berapi-api sambil bersedekap di dada dengan bibir yang mengerucut tidak percaya.
Uhuk ... uhuk
Pak Gery tersedak salivanya ketika Ghea mengatakan kata terakhir. Kenapa, sih, di otak Ghea cuma ada malam pertamanya aja? Astaga.
Jadi ada tiga poin yang Pak Gery tulis di kertas itu. Yang salah satunya jika Ghea menikah dengannya, cewek itu dilarang meminta cerai walau dengan keadaan apa pun. Termasuk jika nantinya Pak Gery punya kekasih.
Entah itu Pak Gery serius atau tidak dengan poin itu. Tapi yang jelas, mau tidak mau Ghea harus setuju. Ingin tidak ingin Ghea harus mengikutinya. Karena Pak Gery tak butuh penolakkan.
"Ya, sudah, kalau gak setuju. Kamu bisa bicara sama orang tua kamu kalau kamu menolak untuk bertunangan dengan saya! Tapi setelah itu, jangan salahkan saya kalau kamu jomblo seumur hidup. Dan tidak bisa merasakan nikmatnya berpasangan!" ancam Pak Gery.
Ah, gak bisa gitu dong. Ghea di ambang kegalauan. Ia bimbang dengan semua ini. Kenapa Pak Gery mengancam Ghea seperti itu? Membuat Ghea tidak ada pilihan saja. Gak mau juga kan Ghea jomblo seumur hidup dan apa tadi katanya? Tidak bisa merasakan nikmatinya berpasangan? Maksud Pak Gery apa?
Ghea bermonolog dengan batinnya sendiri dengan menatap tajam dan tidak suka pada Gery.
Pag Gery hanya menyeringai. Ia tahu jika Ghea pasti akan setuju-setuju saja.
Tapi kalau Ghea setuju. Ia sama saja menyerahkan nyawanya ke kandang macan. Ah, auto bingung!
Tiga hari lagi adalah acara pertunangan Ghea dan Pak Gery. Papa Dika dan Mama Dian sudah tidak sabaran. Katanya pengen cepet-cepet gedong cucu. Bagaimana saat itu Pak Gery tidak kaget dan auto membelalakan matanya.
"Ghea masih sekolah, Pa, Ma. Tunangan aja dulu, lah. Jangan nikah! Lagi pula mana bisa Ghea menikah disaat statusnya masih menjadi siswi?" jawab Pak Gery saat Papa Dika meminta Gery untuk langsung saja menikahi Ghea. Dan Mama Dian juga setuju.
"Bisa aja lah, Ger. Orang itu sekolahan juga-"
"Pa ...," sela Pak Gery. Auto diam. Papa Dika langsung mingkem lagi tidak meneruskan kalimat yang aka dilontarkannya.
**
"Ya, ampun, Pak Gery juga ngapain, sih, ngajakin aku makan malam pakai motor kaya gini? Kenapa gak mobil aja, sih? Kalau pakai mobil kan gak jadi terjebak hujan kaya gini, nih. Mana udah malam lagi. Sepi juga, nih, jalan. Kalau ada begal gimana ini, Pak?" protes Ghea yang tiba-tiba terjebak hujan saat masih di jalan dan baru beberapa saat Pak Gery melajukan motor KLX Kawasaki berwarna hijau. Kini keduanya berteduh di pinggir ruko yang sudah tutup.
"Jangan banyak ngeluh!" ujar Pak Gery. Seperti biasa, wajahnya selalu datar bak tembok sekolahan yang menjadi dinding antar kelas.
"Ck! Menyebalkan!" Ghea mengerucutkan bibirnya.
Tiga puluh menit berteduh dan hujan pun masih belum reda. Justru hujan itu semakin deras saja. Membuat tubuh Ghea menggigil. Ia memeluk tubuhnya sendiri dengan bibir yang bergetar menahan hawa dingin dari tubuhnya. Sesekali kedua tangannya Ghea gosok-gosokan lalu disentuhkan ke pipi saat hawa hangat sudah terasa pada telapak tangan tersebut. "Ssttt dingin banget, sih. Mana hujannya gak mau berhenti-berhenti lagi. Situasinya, sih, ini pas berdua kaya gini. Tapi berasa sendiri aja. Huuhhh ..." Sejujurnya itu Ghea memberi kode pada Pak Gery. Ghea meniup-niup, berusaha memberi hawa hangat pada telapak tangannya sembari tubuhnya terus bergetar dingin. Mana Ghea gak pake jaket lagi. Hanya pakai atasan kaos dengan lengan panjang saja.
Sedangkan Pak Gery yang berdiri, bersandar pada folding gate ruko dengan kedua tangan yang melipat di atas dadanya hanya diam saja melihat setiap tetesan air hujan yang turun dari langit dan sedikit membasahasi lantai ruko. Terdengar juga suara tuk tuk tuk dari air hujan yang mengenai atap ruko.
"Ini kalau gue lagi jalan sama Dylan mah, sudah pasti Dylan bakal meluk gue walau gak ngasih jaketnya juga. Huh huh huh ..." Kembali Ghea berkelakar sambil sesekali meniup-niup kedua telapak tangannya lagi.
Pak Gery menoleh dengan lirikan ujung mata yang tajam. Masih bersama posisinya bersandar. Ghea pikir Pak Gery gak denger apa? Walau posisinya beberapa jengkal dari Ghea dan berisik oleh atap ruko. Pendengaran Pak Gery itu sangatlah tajam.
"Ya, ampun ... hujan cepet reda dong, kasihani gue yang berasa masih jomblo. Walau ada-"
"-eh!" Ghea tersentak ketika punggungnya tiba-tiba merasakan hangat. Ia menolehkan wajahnya ke samping dengan mata membulat dan rahang sedikit terbuka karena kaget saat ada kedua tangan yang tiba-tiba menyampirkan jaket pada pundaknya. Menutupi punggung dan kedua bahu Ghea. Pak Gery pelakunya. Ia memberikan jaket kulit hitamnya dan membiarkan dirinya kedinginan.
Ghea berbalik. Pak Gery sudah kembali pada posisinya semula. Bersandar pada folding gate dan melipat kedua tangan.
Hal yang pertama Ghea lihat saat berbalik adalah wajah Pak Gery yang datar. Matanya terpejam dan bibir tebalnya terkatup rapat. Kepala Pak Gery yang juga bersandar membuat kepala itu sedikit mendongak. Membuat lehernya terlihat jelas. Juga tulang selangka yang menonjol dan kedua otot lengannya yang besar. Tampan dan - seksi.
"Eum ... Pak Gery kenapa kasih jaketnya ke aku? Nanti kamu kedinginan dan masuk angin loh." Ghea bersahut. Ia maju satu langkah lebih dekat pada Pak Gery.
Auto membuka mata. Menegakkan kepala lalu melonggarkan lipatan tangannya di atas dada. Dan perlahan kedua tangan itu menurun. Kini tersimpan di sisi tubuh Pak Gery. Tetapi punggungnya masih ia sandarkan. Pak Gery menatap nanar Ghea dan sesaat mempertemukan pandangan itu dalam satu garis lurus.
"Ehkem ... maksud aku, itu, kalau Pak Gery kasih jaketnya ke aku nanti Pak Gery bisa masuk angin dan sakit. Kalau sakit nanti siapa yang jaga aku?" Auto memelototkan kedua matanya pada Ghea. "Eh ... bukan! Maksudnya nanti kamu gak bisa ngajar." Ghea meralat ucapannya. Ia sedikit tergagap. Menundukan wajahnya lalu memejamkan kedua mata itu erat. Ghea merutuki kebodohannya. Bagaimana bisa cewek itu berkelakar. Berharap Pak Gery akan menjaganya. Di surat kontrak saja sudah ditulis jika keduanya tidak boleh mencampuri urusannya. Tapi juga Pak Gery melarang Ghea berpacaran. Kan aneh?
"Kamu pake aja lagi jaketnya. Aku mah gak papa ini. Kuat dingin aku, tuh," kata Ghea sembari mengulurkan jaket itu pada Pak Gery.
Pak Gery menegakkan tubuhnya tapi tak membuat kedua kakinya bergeming. Memberikan jarak antara punggung dan folding gate. Lalu tangannya menerima jaket dari Ghea. Saat itu, tak sengaja tangan Pak Gery bersentuhan dengan tangan Ghea. Mata keduanya masih saling bertemu. Dan refleks tubuh Ghea menegang saat kulitnya bersentuhan dengan Pak Gery. Sesaat mereka hanya tenggelam dengan pikiran masing-masing. Tiba-tiba Pak Gery menarik tangan Ghea yang sedang meremas jaket itu.
BRUK
"Aduh ..."
TBC
Jatuh lagi apa mereka ini? wkakakaka
Auto pen tampol babang Gery. Pen rukyah tuh babang Gery. Sumpah gak peka banget dah.
mengecewakam
Sukses bwt karyanya