Nasib Shafiya terjebak dalam pernikahan yang dimulai dengan niat dendam dari seorang pria bernama Arash. Kematian kekasihnya yang tidak mendapat pertanggungjawaban dari keluarga Shafiya membuat pria tempramental itu menikahi kekasih yang seharusnya menjadi istri dari tunangannya.
Shafiya harus menerima takdirnya menjalani pernikahan dengan laki-laki yang tidak mencintainya, rumitnya pernikahannya dengan lika-liku drama pernikahan yang dia alami.
Apakah Shafiya akan bertahan dalam pernikahannya? atau justru pada akhirnya Shafiya menyerah karena lelah? tetapi apakah Arash akan melepaskannya?"
Jawabannya hanya ada di bab-bab berikutnya...
Jangan lupa di follow Ig saya.
ainunharahap 12
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17 Apa Ini Saling Membalas.
Acara syukuran di kediaman kedua orang tua Shafiya. Shafiya turut membantu orang-orang yang ikut mempersiapkan kemasan yang sudah disiapkan untuk anak yatim dan juga diundang untuk acara syukuran itu.
Mata Shafiya tiba-tiba saja tertuju ke arah Kanaya dan Arash. Lagi dan lagi kedua orang itu terus saja mencari perhatian Shafiya. Keduanya terlihat tampak mengobrol sembari tertawa-tawa.
"Dia jauh lebih menarik dibandingkan dirimu, seorang wanita yang sudah bersuami ketika membuka hati dan meladeni pria berbicara dengannya dan artinya wanita itu memiliki ketertarikan," perkataan Arash masih terbenak di dalam pikiran Shafiya.
Shafiya terlihat murung dengan menunduk, berusaha untuk tenang dan berpikir positif. Arash sepertinya memang sengaja melakukan hal itu, mencuri perhatian Shafiya memperhatikan dirinya dan terbukti saat ini pandangan mata Arash tertuju ke arah Shafiya.
"Ini akan menjadi pertunjukan yang menarik Shafiya. Ini akibatnya jika kau semakin menantang kepadaku. Kau harus tahu jika laki-laki yang kau lawan bukanlah laki-laki sembarangan," batin Arash tersenyum miring.
"Arash kamu mau aku ambilkan makanan tidak? tadi aku baru saja ke belakang dan rendang sudah masak, kamu harus mencicipi rendang khas rumah ini, sangat enak sekali," ucap Kanaya menawarkan.
"Boleh," jawab Arash tidak keberatan sama sekali.
"Baiklah tunggu sebentar di sini," ucap Kanaya tersenyum berlalu dari hadapan Arash.
Kanaya terlihat begitu excited sekali mengambil makanan untuk Arash. Meski pakaiannya sedikit ribet menggunakan busana muslim, tetapi hijabnya tidak dipakai dan hanya di selendangkan saja di tubuhnya.
"Harus mengambil daging dan jangan sampai lengkuas, tidak lucu jika tiba-tiba saja Arash akan memakannya," ucapnya tampak begitu semangat sampai akhirnya selesai mengambil rendang tersebut dengan sedikit nasi.
Piring di tangannya itu hampir saja jatuh ketika membalikkan tubuh kaget dengan kehadiran Shafiya tiba-tiba saja berdiri di depannya.
"Astagfirullah Shafiya, kamu hampir saja membuat jantung Kakak copot," ucap Kanaya dengan memegang dada dan mengatur nafasnya.
"Apa itu untuk Arash?" tanyanya memastikan.
"Ya, Arash harus mencoba rendang khas keluarga ini," jawab Kanaya dengan santai.
"Ya sudah Kakak antar dulu untuknya," ucap Kanaya ingin berlalu tetap di tangannya ditahan Shafiya.
"Kakak seorang istri dan seharusnya tahu batasan ketika berlebihan kepada pria yang sudah beristri," ucap Shafiya dengan lembut tetapi terdapat penekanan dan peringatan di sana untuk Kanaya.
"Apa maksud kamu Shafiya? Kamu cemburu lagi dengan Arash lebih menyukai Kakak mengambilkan makanan untuknya dibandingkan kamu?" tanya Kanaya.
"Ini bukan tentang siapa cepat dan siapa yang diperintahkan, tetapi soal etika, apa pantas seorang istri yang sudah menikah memperlakukan suami orang lain seperti ini dan bagaimana jika Abi dan Umi melihatnya," ucap Shafiya masih berbicara sangat sopan kepada Kakak iparnya itu.
Kanaya menarik nafas panjang dan membuang perlahan ke depan kemudian menurunkan Shafiya.
"Kamu kenapa sih di dalam pikiran kamu itu negatif terus hah! Shafiya Kakak pikir kamu mengenal Kakak dengan baik dan bukankah Kakak memang adalah orang yang humbel, Kakak selalu bersikap ramah kepada semua orang dan selalu sopan dan menghargai orang-orang yang ada di rumah ini mesti hanya sebagai menantu dan suaminya tidak ada di sini. Kamu tidak bisa menilai Kakak dengan positif. Kakak bisa saja pergi dari rumah ini dan mencari kehidupan baru tanpa harus bertahan menjadi menantu tanpa suami di rumah ini!" tegas Kanaya.
"Astagfirullah Kak... Apa Arash sudah mempengaruhi Kakak sampai berbicara seperti ini dan memiliki niat seperti itu?" sahut Shafiya tidak percaya kata-kata itu keluar dari mulut Kanaya.
"Ini tidak ada kaitannya dengan Arash, semua ini karena kamu terlalu berlebihan berpikiran buruk kepada Kakak. Dengan semua pemikiran jelek kamu jatuhkan bisa menjadi kenyataan!" tegas Kanaya.
Kanaya tidak ingin banyak berbicara pergi dengan penuh kekesalan kepada adik iparnya itu.
"Ya Allah. Apa yang diucapkan Arash waktu itu benar-benar akan dia lakukan? Dia memiliki niat untuk menikah lagi dan wanita yang dia nikahi adalah Kakak iparku. Kak Kanaya berbicara seperti itu pasti ada janji yang diucapkan kepadanya, ada iming-iming sampai dia bahkan memiliki niat untuk mengakhiri pernikahannya dan pergi dari rumah ini," batin Shafiya terlihat begitu sedih dengan mata berkaca-kaca.
Dari kejauhan Shafiya melihat bagaimana Arash dan Kanaya berdiri saling berhadapan dengan Kanaya memberikan piring yang berisi rendang dan sedikit nasi tersebut.
Tetapi piring itu tertahan diantara mereka berdua dengan saling memegang dan bahkan Arash memegang tangan Kanaya yang masih memegang piring itu dengan mereka saling menatap.
Istri mana yang tidak sakit hati melihat suaminya bisa-bisanya menatap wanita lain dengan begitu dalam dan sementara dirinya hanya ditetapkan dengan penuh kebencian.
Kanaya sepertinya memang sudah mulai nyaman dengan Arash. Entahlah bagaimana cara Arash memikat Kanaya yang selama ini bertahan dalam rumah tangganya tinggal bersama mertuanya di saat suaminya tidak ada.
"Assalamualaikum!" Shafiya kaget mendengar suara tersebut menoleh ke sebelahnya.
"Walaikumsalam salam .... Kak Zidan," sahut Shafiya.
"Kamu kenapa murung di sini?" tanya Zidan.
"Oh tidak apa-apa, karena banyak sekali orang di tempat ini. Shafiya bingung harus mengerjakan yang mana terlebih dahulu," jawabnya.
"Begitu, hmmmm bagaimana jika kita menyusun kotak yang di sana? Acaranya akan dimulai," ucap Zidan menawarkan untuk ikut bersamanya.
"Baiklah," sahut Shafiya ternyata setuju dengan mereka berdua mencari pekerjaan.
Shafiya bersama dengan Zidan sama-sama menyusun kotak makanan yang akan dibagikan kepada para tamu. Keduanya terlihat begitu adem dan bagaimanapun mereka adalah mantan tunangan.
"Kak Zidan ternyata hadir dalam acara syukuran ini. Alhamdulillah....." ucap Shafiya.
"Umi dan Abi mengundangku dan juga mengundang Mama dan Papa untuk datang ke acara ini," jawab Zidan.
"Alhamdulillah, meski terjadi perselisihan di antara hubungan kita, tetapi hubungan keluarga kita masih berjalan dengan baik, semoga silaturahmi tetap berjalan kedepannya," ucap Shafiya.
"Itu menjadi salah satu harapan saya terhadap kamu, tetapi saya juga mengharapkan hubungan kita kembali seperti dulu," ucap Zidan dengan penuh harap dengan menatap Shafiya begitu dalam.
Shafiya tampak gugup dengan kesulitan menelan ludah. Zidan memang terlihat sejak awal ingin memperbaiki hubungan mereka. Zidan juga tidak peduli Shafiya sudah memiliki suami dan dia inginkan bagaimana pasangan suami istri untuk berpisah.
"Shafiya perasaan saya kepada kamu tidak pernah berubah sedikitpun," lanjut Zidan.
"Ya Allah, ujian pernikahan apa ini? ini adalah pria yang seharusnya menikah dengan hamba, terlihat tulus dan hampir bisa merasakan semua itu, tapi hamba menikah dengan laki-laki lain hanya karena balas dendam dari pria," batin Shafiya.
Zidan dan Shafiya tetap saling menatap, terlihat kedua bola mata Zidan penuh dengan harapan dan sementara Shafiya tampak bingung dengan rumitnya hubungan pernikahannya.
Siapa sangka kedekatan kedua orang itu ternyata harus disaksikan oleh Arash yang tidak jauh berdiri dari tempat keduanya dan bahkan Shafiya pada akhirnya melihat keberadaan suaminya.
"Shafiya izinkan saya untuk berjuang kembali, saya mencintai kamu, mendapatkan izin dari kamu akan membuat saya melakukan apapun untuk mengeluarkan kamu dari pernikahan yang saya tahu kamu tidak bahagia," ucap Zidan seolah-olah mengetahui apa yang dialami Shafiya saat ini.
"Kak Zidan teruslah berusaha. Insyallah Allah akan memberikan jalan yang terbaik dan jika kita berjodoh maka semua akan dimudahkan, Shafiya hanya manusia yang bisa berserah kepada sang pencipta," jawabnya memberi peluang bagi Zidan.
Mata Arash melotot mendengar pernyataan istrinya itu. Sudah jelas Shafiya melihat keberadaan Arash, tetapi memberi jawaban kepada Zidan dengan harapan yang begitu besar.
Tangan Arash terkepal dengan aura wajah penuh dengan amarah. Kakinya sudah tidak tahan ingin melangkah menghampiri kedua orang tersebut, tetapi seperti ada yang Dita Arash untuk tidak bertindak bodoh.
"Alhamdulillah Shafiya. Saya akan berusaha untuk hubungan yang terbaik diantara kita, saya akan berusaha," ucap Zidan tampak begitu terharu.
Bersambung.