Aura membuka mata melihat dirinya sudah ada di ruangan putih dengan peralatan medis. Awalnya Aura hanya binggung, hingga dia merasa kalau dia bermimpi panjang." Sebenarnya apa yang sudah terjadi denganku,:guman Aura melihat sekitarnya. Tampak orang tua yang dia rindukan sudah ada didepan matanya. Apa yang terjadi dengan Aura sebenarnya, ingin tahu kisahnya silakan datang membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Mantra Kematian dan Kecantikan
Udara di ruang makam bawah tanah itu terasa berat dan berdebu, namun dinginnya lantai batu menunjukkan kedalaman tempat mereka berada. Cahaya dari obor plasma Jack memantul pada dinding obsidian yang dihiasi relief kuno. Tepat di tengah ruangan berdiri sebuah anomali yang memukau dan mengerikan: sebuah patung.
Patung itu adalah ukiran batu pualam putih setinggi tiga meter yang sangat kontras dengan batu hitam di sekelilingnya. Patung itu menggambarkan seorang wanita anggun dalam pose tidur, terbaring di atas alas batu. Tubuhnya dibalut kain tipis yang dipahat dengan detail sempurna, menampilkan lekuk tubuh yang halus dan menawan.
Namun, yang paling mengganggu adalah wajahnya. Patung itu memiliki wajah tersenyum lebar yang menggoda, dengan mata terbuka lebar seolah-olah mengundang, menciptakan ilusi seakan wanita itu akan terbangun kapan saja. Senyumnya begitu menawan hingga terasa artifisial, seperti topeng kecantikan yang menutupi niat mematikan.
Aura merasakan desakan aneh untuk mendekat, sebuah tarikan energi yang terasa familiar namun berbahaya. Intuisi naluriahnya yang telah membawanya melewati banyak jebakan mendidih.
"Jangan sentuh!" seru Aura, suaranya tajam, memecah keheningan makam. Ia merasakan aura sadar yang dilepaskan oleh patung itu sebuah perangkap psionik yang dirancang untuk memikat dan melumpuhkan.
Dengan sigap, Aura mengeluarkan secarik kain tebal dari tasnya dan melemparkannya. Kain itu, yang telah diolah dengan bahan anti-ilusi, melayang dan menutupi wajah patung itu. Begitu wajah tertutup, tarikan energi yang mencekik seketika menghilang, digantikan oleh keheningan batu yang mati.
Begitu bahaya berlalu, perhatian mereka beralih ke alas patung. Di belakang patung yang kini tertutup kain, tersembunyi sebuah lempengan batu persegi panjang. Pada lempengan itu, terukir tulisan kuno yang bersinar redup dengan warna hijau kebiruan.
Aura mendekat, jari-jarinya yang ramping menyentuh ukiran itu. Dengan pengetahuannya yang luas tentang bahasa-bahasa kuno peradaban yang hilang, ia mulai membaca dalam hati, sedikit memiringkan kepala karena bingung.
Tulisan itu berbunyi:
"Kecantikan dan Kematian berdampingan. Sang Raja adalah sumber tunggal kehidupan dan kekaguman. Cahaya Sang Ratu adalah milik Raja, dan bayangannya pun harus tunduk. Siapa pun yang melanggar batas-batas kemuliaan Sang Raja, siapa pun yang sinarnya melebihi Sang Surya di Istana, mereka akan mati. Mereka akan menjadi debu karena melanggar Peraturan Kerajaan. Perintah ini berlaku untuk segala jenis, dari yang tertua hingga yang baru lahir."
Wajah Aura dipenuhi ekspresi keheranan yang dingin. Ia menoleh ke arah Kieran dan Falix, dua tentara bayaran di sisi kanan dan kirinya, yang juga sedang berusaha menginterpretasikan teks itu.
Kieran, yang memiliki pemahaman dasar tentang kode simbolis kuno, menggaruk dagunya yang ditumbuhi janggut tipis.
"Ini jelas," kata Kieran, nadanya penuh ketidakpercayaan. "Aturan ini menyatakan bahwa tidak boleh ada yang bersinar, berkuasa, atau bahkan terlihat lebih hebat dari Sang Raja itu sendiri. Jika ada yang melebihi, mereka akan dibunuh."
"Itu juga berlaku untuk semua jenis, dan bahkan mereka yang baru saja lahir," Falix menambahkan, suaranya berat dan serius. "Bayangkan, keagungan patung ini kecantikan Ratu ini dianggap melanggar batas. Dia dihukum hanya karena kecantikannya menyaingi Raja."
Aura menoleh kembali ke patung yang tertutup. Rasa kasihan dan ngeri bercampur dalam dirinya. "Bukan, itu sungguh sangat kejam, ya?" Wajah polosnya menunjukkan kebingungan yang tulus terhadap kekejaman peradaban kuno itu. "Lalu, untuk apa makam yang begitu megah ini dibangun jika dia hanya dihukum karena kecantikannya? Bukankah seharusnya dia dikubur di tempat hina?"
Kieran dan Falix saling pandang, mereka hanya bisa menggelengkan kepala. "Kami tidak tahu. Mungkin sebagai peringatan. Atau mungkin Raja yang membunuhnya adalah orang yang sangat mencintai kecantikan yang ia musnahkan," Kieran menduga.
Saat Falix sibuk memikirkan kekejaman masa lalu, Kieran melihat ke sudut ruangan. Sebuah panel batu di balik ilusi asap kecil mulai bergerak, mengungkapkan sebuah mekanisme kuno. Itu adalah pintu, atau lebih tepatnya, lorong rahasia yang mengarah ke bawah.
"Tunggu dulu!" seru Kieran, menunjuk ke lorong yang gelap itu. "Lihat! Ada jalur tersembunyi, sepertinya menuju ke lantai enam!"
Jack, pemimpin tim yang sedari tadi mengawasi, bergerak cepat. "Tunggu! Jika itu benar-benar menuju ke bawah, ada jebakan apa lagi di sana?" Suara Jack dipenuhi kehati-hatian. Mereka sudah terlalu banyak menghadapi jebakan psionik dan magnetik.
Aura menoleh ke arah Jack, matanya yang besar berbinar dengan ide baru. Wajahnya kembali santai, seolah semua ketegangan tadi hanyalah permainan.
"Bagaimana kalau kita gunakan ini untuk melihat situasinya?" kata Aura, mengeluarkan sebuah drone pengintai mini yang canggih dari kantong tersembunyi di jubahnya.
Falix dan Kieran yang melihat drone itu seketika melupakan lorong rahasia. Falix segera mengambil drone itu, wajahnya menunjukkan keheranan yang luar biasa.
"Kenapa kamu baru sekarang mengeluarkannya?!" seru Falix, cepat-cepat mulai mengoperasikannya untuk melihat keadaan di balik lorong gelap dan ruangan di bawah mereka.
Aura mengangkat bahu, ekspresinya polos dan santai, seolah tidak melakukan kesalahan. "Kalian tidak bertanya bagaimana aku bisa mengeluarkannya, lagi pula kalian sudah membawa yang dibutuhkan, bukan?"
Salah satu tentara di belakang Falix, yang berwajah keras, tiba-tiba menyela, suaranya penuh kecurigaan.
"Tunggu dulu," katanya, melipat tangan. "Kamu membawa drone yang sensitif ini saat melewati medan magnet yang sangat kuat di lantai tiga. Kenapa kamu bisa selamat, Aura? Semua peralatan elektronik kami hampir rusak total."
Aura berkedip, tampak memutar otaknya. "Soal itu... Aku menaruhnya di dekat kain dan alat lain yang kubawa. Mungkin itu tidak terlalu berpengaruh oleh medan magnet," jawabnya dengan nada tidak bersalah.
Falix, yang memegang drone itu, mengangkat alisnya. "Bagaimana caranya? Kain atau alat lain itu tidak cukup. Bahkan jika dilindungi oleh lapis pelindung magnet, pasti akan terpengaruh walau sedikit. Drone ini harusnya sudah tidak berfungsi," katanya, matanya menatap Aura dengan dingin, mencari kebohongan.
Aura merasakan tatapan tajam mereka. Wajahnya yang polos berubah menjadi bingung, matanya menunjukkan rasa tidak mengerti yang nyata. Ia menundukkan kepala sebentar, lalu menjawab, suaranya terdengar ragu.
"Aku... aku tidak tahu. Mungkin karena aku beruntung saja bisa selamat."
Keheningan yang canggung meliputi ruangan. Ketidakmampuan Aura untuk memberikan jawaban logis justru meningkatkan kecurigaan tim.
Jack, yang menyadari suasana tegang itu, segera menyudahi perdebatan. Ia tidak ingin melihat bawahannya menekan Aura, yang mungkin memiliki kemampuan yang belum mereka pahami.
"Cukup!" perintah Jack tegas. "Jangan buang waktu. Fokus pada drone, Falix. Jangan membuat Aura gelisah. Prioritas kita sekarang adalah ruangan di bawah."
Falix mendengus pelan, tapi mematuhi. Ia memusatkan perhatiannya kembali pada layar drone, mengirimkannya ke dalam kegelapan lorong rahasia, sementara Aura berdiri diam, wajahnya masih memancarkan kebingungan yang polos, menyembunyikan misteri yang jauh lebih dalam dari medan magnet manapun.