Han jian merupakan seorang pemuda dari klan Han yang tidak dapat ber kultivasi sejak kecil sehingga menjadi bahan hinaan di klan Han, ia tidak dapat ber kultivasi dikarenakan ia tidak memiliki dantian seperti yang lain nya melain kan sebuah pusaran hitam yang di akibatkan karena dantian nya telah hancur, namun nasibnya berubah setelah menemukan sebuah fragmen tulang di makam ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 秋天(Qiūtiān), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17: TIGA BAYANGAN DI BALIK TIRAI
Setelah Master Sekte menyatakan diri untuk tidak ikut campur, suasana di Altar Persembahan Tulang berubah menjadi panggung eksekusi. Han Jian menyerahkan ayahnya, Han Shuo, kepada Lin Xia yang segera mendekat dengan raut wajah penuh kesungguhan.
"Jaga dia," ucap Han Jian singkat.
Lin Xia mengangguk, menyangga tubuh lemah Han Shuo. "Hati-hati, Jian-ge. Dewan Tetua memiliki perlindungan rahasia yang bahkan Master Sekte pun jarang menyentuhnya."
Han Jian tidak menjawab. Ia melangkah menuju Aula Dewan Tertinggi, sebuah bangunan berbentuk tengkorak raksasa yang berada di puncak tertinggi daratan terapung. Di dalam sana, para tetua yang tersisa telah mengunci diri. Mereka tahu bahwa Han Jian tidak akan berhenti sampai kepala mereka jatuh.
Han Jian sampai di depan pintu perunggu aula tersebut. Tanpa ragu, ia melayangkan satu pukulan lurus yang diperkuat dengan energi Tulang Emas Abadi.
BOOM!
Pintu perunggu setebal satu meter itu terlepas dari engselnya, terbang ke dalam ruangan dan menghancurkan meja bundar dewan. Han Jian melangkah masuk, namun langkahnya segera terhenti. Di dalam aula yang luas dan remang-remang itu, tidak ada tetua yang terlihat. Sebaliknya, tiga sosok berdiri di tengah ruangan, menghalangi jalan menuju Tabung Esensi Abadi—tempat di mana obat pemulih sumsum ayahnya disimpan.
Ketiga sosok itu mengenakan zirah hitam legam yang tidak memantulkan cahaya. Wajah mereka tertutup topeng besi tanpa lubang mata. Aura yang mereka pancarkan sangat aneh; tidak ada Qi, tidak ada getaran jiwa, hanya ada keheningan yang mematikan.
"Penjaga Bayangan," suara Han Shuo terdengar dari arah pintu, ia telah memaksa Lin Xia untuk membawanya menyusul. "Jian-er, waspadalah! Mereka bukan manusia. Mereka adalah mayat hidup yang tulangnya telah ditempa dengan logam meteorit dan jiwa mereka dikunci di dalam zirah itu."
Tanpa peringatan, Bayangan pertama melesat. Kecepatannya melampaui apa yang pernah dilihat Han Jian. Dalam sekejap, sebuah belati hitam sudah berada di depan tenggorokan Han Jian.
TING!
Han Jian menangkis dengan tangan kosong. Percikan api memercik, dan untuk pertama kalinya sejak mencapai tahap Emas, Han Jian merasakan sedikit rasa sakit di telapak tangannya. Belati itu mampu menggores kulitnya!
"Logam meteorit..." gumam Han Jian.
Bayangan kedua dan ketiga menyerang secara sinkron. Salah satunya menggunakan rantai berduri, sementara yang lain menggunakan gada raksasa. Mereka tidak memiliki emosi, tidak memiliki rasa takut, dan serangan mereka adalah rangkaian perhitungan yang sempurna untuk membunuh.
Han Jian memutar Tombak Pemutus Takdir. Ia harus bertarung dengan serius.
"Seni Tulang: Prahara Emas!"
Han Jian memutar tombaknya dalam kecepatan tinggi, menciptakan pusaran energi emas yang tajam. Bayangan dengan rantai mencoba melilit tombak tersebut, namun Han Jian justru menarik rantainya, menarik mahluk itu mendekat, dan melayangkan tendangan bertenaga penuh ke dadanya.
KRAK!
Zirah hitam itu retak, namun Bayangan itu tidak mundur. Ia justru menusukkan tangannya yang tajam ke arah paha Han Jian. Han Jian terpaksa melompat mundur.
"Mereka tidak merasakan sakit, Jian-er!" teriak Han Shuo. "Kau harus menghancurkan 'Segel Jiwa' di tengkuk leher mereka! Itulah satu-satunya titik lemahnya!"
Han Jian menyipitkan mata. Menjangkau tengkuk tiga pembunuh tercepat di sekte ini bukanlah tugas mudah. Ia harus menggunakan umpan.
Han Jian sengaja membiarkan pertahanannya terbuka. Bayangan ketiga dengan gada raksasa melihat celah itu dan mengayunkan senjatanya ke arah kepala Han Jian. Di saat yang sama, Bayangan pertama dengan belati melesat dari belakang.
"Sekarang!"
Han Jian tidak menghindar. Ia membiarkan gada itu menghantam bahunya—Bruk!—tulang bahu emasnya menahan beban ribuan ton tersebut, namun ia tetap berdiri tegak. Menggunakan momentum hantaman itu, Han Jian berputar di tempat.
Tangan kirinya menangkap pergelangan tangan Bayangan pertama yang menyerang dari belakang, sementara tangan kanannya yang memegang tombak melakukan gerakan menusuk ke belakang tanpa menoleh.
Jleb!
Ujung tombak Han Jian tepat mengenai tengkuk Bayangan pertama. Cahaya ungu gelap meledak dari titik itu, dan zirah hitam mahluk tersebut langsung hancur menjadi debu, menyisakan kerangka yang rapuh yang kemudian ikut lenyap.
Tinggal dua.
Bayangan kedua dan ketiga menyadari rekan mereka jatuh, namun mereka tidak berhenti. Mereka menyerang lebih agresif. Han Jian menggunakan Langkah Bayangan Tulang dalam frekuensi tinggi, menciptakan bayangan cermin di seluruh ruangan.
Dalam kekacauan gerakan itu, Han Jian muncul di antara kedua penjaga yang tersisa. Ia mencengkeram kepala kedua Bayangan tersebut dan membenturkannya satu sama lain dengan kekuatan yang bisa menghancurkan meteorit. Saat mereka terhuyung, Han Jian melompat dan mendaratkan dua hantaman telapak tangan ke tengkuk mereka secara bersamaan.
BOOM! BOOM!
Dua ledakan energi emas mengakhiri keberadaan para Penjaga Bayangan. Kesunyian kembali menyelimuti aula dewan.
Han Jian berjalan menuju bagian belakang aula, di mana sebuah tabung kristal berisi cairan berwarna hijau zamrud bercahaya lembut. Inilah Cairan Rejuvenasi Dewa, obat legendaris yang dikumpulkan oleh dewan tetua dari tetesan esensi sumsum para tahanan selama berabad-abad.
"Ini milikmu, Ayah," Han Jian mengambil tabung itu dan membawanya ke Han Shuo.
Han Shuo meminum cairan itu, dan seketika, tubuhnya yang kurus mulai memancarkan cahaya perak yang cerah. Daging yang tadinya kering mulai terisi kembali, dan auranya mulai stabil. Meski belum kembali ke puncak kekuatannya, Han Shuo kini bukan lagi orang sekarat.
"Terima kasih, Nak," Han Shuo berdiri dengan kekuatannya sendiri.
Namun, kejutan belum berakhir. Di balik tabung kristal yang kosong, Han Jian menemukan sebuah ruang rahasia lagi. Di sana terdapat sebuah peta besar yang terbuat dari kulit naga. Peta itu menunjukkan bahwa Sekte Tulang Langit hanyalah salah satu dari dua belas sekte yang berada di bawah kendali Kekaisaran Tulang Abadi di benua pusat.
Dan yang paling mengejutkan, ada sebuah catatan di samping peta: "Proyek Penangkapan Han Shuo berhasil. Subjek terbukti memiliki kunci menuju Makam Kaisar Pertama. Terus pantau anaknya, Han Jian. Jika dia membangkitkan Tulang Emas, dia adalah kunci kedua."
Han Jian menatap catatan itu dengan mata yang berkilat dingin. "Jadi, Sekte Tulang Langit hanya pion? Mereka mencariku bahkan sebelum aku lahir?"
Han Shuo menatap peta itu dengan wajah serius. "Mereka menginginkan kekuatan Kaisar Pertama yang terkubur di bawah tanah pusat dunia. Itulah sebabnya ibumu dibunuh... karena dia berasal dari garis keturunan penjaga makam tersebut."
Han Jian meremas peta itu hingga hancur. "Jika mereka menginginkan kunci, aku akan memberikannya. Tapi aku akan memberikan kunci itu langsung ke jantung kekaisaran mereka bersama dengan tombakku."
Han Jian berjalan keluar aula, diikuti oleh Han Shuo dan Lin Xia. Di luar, ribuan murid menunduk saat melihat mereka. Han Jian bukan lagi murid luar; ia adalah penguasa baru di daratan terapung ini.
"Lin Xia, kau akan menjadi pemimpin sementara sekte ini. Bersihkan semua antek dewan tetua yang tersisa," perintah Han Jian.
"Kau mau ke mana, Jian-ge?" tanya Lin Xia.
Han Jian menatap ke arah cakrawala, di mana benua pusat berada. "Aku akan pergi ke tempat di mana mereka menulis nasib orang lain seenaknya. Aku akan menulis ulang sejarah dengan tanganku sendiri."
Perjalanan Han Jian baru saja memasuki babak yang paling berbahaya. Musuhnya bukan lagi sekte kelas menengah, melainkan sebuah kekaisaran yang telah memerintah selama ribuan tahun.