Di balik kemewahan dunia gelap, sebuah pelelangan rahasia mempertemukan para elit dengan satu “barang” paling berharga—seorang gadis tak bersalah yang menjadi pusat perhatian.
Semua menginginkannya, namun hanya satu nama yang mampu menghentikan segalanya dalam sekejap.
Rayga Alessandro Virelli, mafia bengis yang dikenal tanpa hati, membelinya tanpa ragu. Baginya, itu hanyalah transaksi biasa—hingga kehadiran gadis yang bernama Aurellia Valensi mulai mengusik sesuatu dalam dirinya yang telah lama mati.
Di dunia Rayga, kelemahan adalah kehancuran.
Namun saat perasaan mulai tumbuh, ia harus memilih—tetap menjadi monster yang ditakuti semua orang, atau mempertaruhkan segalanya demi satu orang yang seharusnya tak berarti apa-apa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhamad Julianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di Amsterdam
Setelah menempuh beberapa jam perjalanan udara dengan jet pribadi, Rayga juga harus menggunakan transportasi darat untuk menuju apartemennya.
Sebuah mobil sport melaju kencang mengantarkan Rayga ke sebuah apartemen elit yang terletak di pusat kota.
Jarak antara apartemen dan perusahaan Rayga tidak begitu jauh.
"Semua investor yang telah membatalkan kerjasama dengan kita menolak undangan meeting malam ini, Bos," ujar Xander yang sudah membaca semua balasan email dari para investor.
"Lakukan tugasmu," titah Rayga, jelas perintah singkat itu berisi makna yang begitu dalam untuk tugas yang akan dilakukan Xander.
"Akan saya kerjakan semaksimal mungkin," jawab Xander.
Sebagai seorang yang dijuluki manusia bayangan, tentu Xander punya banyak tim dan kemampuannya juga di atas rata-rata.
Satu pesan dari Xander dengan isi perintah yang sama sudah menyebar pada puluhan orang pemilik ID khusus.
Mereka punya satu room yang hanya bisa diakses oleh member naungan Xander saja, sehingga itu sangat memudahkan Xander memberikan arahan pada pekerjaan yang baru saja dia beri pada anggotanya.
"I'm here."
"Stay."
"Ready."
Beberapa orang yang sudah bergabung saling bersahutan menyatakan kalau mereka sudah ada di room.
"Hadir semua?" tanya Xander hanya sekedar basa basi, karena tahu dia sudah tahu kalau formasinya sudah lengkap.
"Pasti," jawab mereka serentak.
Xander memberi arahan pekerjaan untuk mereka tentang apa yang harus mereka lakukan dan apa yang harus mereka setorkan kepada Xander.
Serta pembagian kelompok untuk masing-masing targetnya.
Setelah semuanya deal dengan pekerjaan yang akan mereka laksanakan, forum kembali ditutup.
"Tinggal menunggu hasilnya saja, Bos,"lapor Xander pada Rayga.
"Bagus," jawab Rayga datar.
Mobil terus melaju sampai mereka berhenti di parkiran sebuah apartemen elite.
Rayga dan Xander turun dari mobil langsung menuju lift untuk menuju unit yang ditempati Rayga.
Saat Rayga dan Xander baru saja masuk ke dalam unit apartemen Rayga, ponsel Rayga berdering memecah kesunyian ruangan yang beberapa waktu tidak ditempati itu.
Rayga merogoh sakunya, mengambil ponsel di dalamnya dan melihat siapa yang menghubunginya.
"David," gumam Rayga pelan, tetapi bisa didengar oleh Xander.
Xander terkekeh mendengar nama siapa yang disebut oleh Rayga.
Sebelum panggilan telepon itu diangkat oleh Rayga, di hatinya Xander sudah menduga apa yang akan dia dengar setelah ini.
"Jangan diangkat dulu, Bos. Biarkan dia
panik," usul Xander.
Rayga tidak menjawab atau merespon usulan Xander, tetapi apa yang dikatakan Xander padanya dilakukan oleh Rayga.
Dia tidak mengangkat telepon David.
Beberapa kali kontak yang bernama David menelepon Rayga dan bergantian juga menelepon Xander sebagai asisten Rayga.
Namun, mereka berdua sama-sama tidak mengangkatnya.
Rayga dan Xander memilih untuk mesenyapkan bunyi dering ponsel mereka, setelah itu mereka mengistirahatkan diri di kamar berbeda.
Karena tidak hanya capek dari perjalanan jauh, mereka juga butuh istirahat untuk menghadapi beberapa orang rekannya yang nanti pastinya akan menghubungi mereka.
Satu jam berlalu, Xander kembali bangun setelah menikmati tidurnya yang begitu nyenyak.
Sedangkan Rayga masih rebahan tanpa semenit pun tertidur sejak dia memasuki kamar.
Pikirannya menerawang, karena baru sekali ini investornya kabur berombongan, jelas itu sangat mengganggu pikiran Rayga.
Di antara pikiran beratnya, terngiang suara Aurellia yang memberinya doa sebelum berangkat.
Walau wajahnya tak menunjukkan ekspresi senang, tetapi di hatinya Rayga sontak tersenyum penuh harap.
Doa singkat yang menurutnya begitu berarti.
"Semoga saja doamu terkabul. Lancar segala urusanku di sini dan dipermudahkan semua pekerjaanku."
Dalam hatinya Rayga mengulang dan mengingat sepenggal doa dari Aurellia yang tidak begitu panjang, tetapi mencakup semua yang akan dia hadapi.
***
Dua hari berlalu Rayga berada di Amsterdam, akhirnya perusahaannya kembali kondusif.
Kondisi berbalik arah, semua perusahaan milik investor yang menghentikan kerjasama dengan Rayga mengalami masalah keuangan pada perusahaan mereka.
Data bocor dan keuangan perusahaan juga kebobolan.
Semua itu terjadi karena utusan Xander sudah berhasil mengerjakan misi mereka untuk mengambil data-data penting perusahaan dan mengalihkan uang perusahaan untuk disetorkan pada Xander.
"Apakah kita akan merayakannya, Bos?" tanya Xander setelah menyeruput minumannya.
"Silahkan, tapi saat ini dan beberapa hari kedepan aku akan sangat sibuk," jawab Rayga.
"Sibuk sama istrinya yang sudah ditinggal jauh," ledek Xander, karena di sana hanya ada mereka berdua, makanya Xander berani meledek Rayga yang berstatus bos baginya saat bekerja, tetapi kalau di luar pekerjaan, Rayga adalah sahabatnya sedari kecil.
Rayga melirik tajam pada Xander, tetapi lirikan itu tidak membuat Xander ketakutan.
Bahkan dia malah balas dengan tawa lepas.
"Apa kau masih mau bekerja?!" sarkas Rayga tanpa mengalihkan pandangan tajamnya.
"Oow, aku takut ... takut banget," jawab Xander diselingi tawa.
"Hidup itu jangan selalu dibawa serius, Bos. Mari kita berbicara sebagai seorang sahabat tanpa melibatkan profesi," lanjut Xander nyengir.
Rayga menarik napas dan membuangnya kasar.
Dia sudah memprediksi apa yang akan dikatakan Rayga setelah ini.
karena Rayga sudah tahu karakter sahabatnya itu.
Jika dia sudah meminta untuk fokus pada hubungan persahabatan dan mengenyampingkan status formal mereka, tidak akan ada pembahasan lain bagi Xander selain tentang wanita.
"Siapkan jet, kita akan pulang saat ini juga," ujar Rayga tidak mau mendengarkan Xander yang belum mulai berbicara lagi.
"Eppss, tunggu dulu. Aku ada bekal untuk sahabatku yang baru saja berumah tangga," ujar Xander dengan kekehannya.
Bahkan Xander dengan beraninya menarik Rayga agar kembali duduk di tempat semula.
"Kau mau mati? Atau ada nyawa cadangan?" Ancam Rayga, tetapi tidak membuat Xander takut.
Karena menurutnya tidak mungkin Rayga melakukan itu padanya.
"Aku rela mati di tangan sahabatku," ledek Xander yang sedari tadi selalu terkekeh dan nyengir kuda.
Xander melirik leher Rayga yang ada beberapa bekas merah keunguan.
Sebagai pria dewasa yang sudah paham dan sering melakukan hal itu, tentu Xander paham sekali pada bekas yang sangat familiar di leher sahabat sekaligus bos baginya.
"Ciee ...aku baru menyadari ada yang dapat tompel uhahai dari bininya," ujar Xander.
Sadar lirikan Xander pada lehernya, Rayga langsung menarik kerah kemejanya lebih keatas.
"Percuma ditutupi, Bos. Aku sudah melihatnya. Bagaimana acara belah durennya, enak 'kan?"Xander menaik turunkan alisnya menggoda Rayga.
Setelah meledek Rayga, beberapa detik hening sebelum Xander kembali berbicara.
"Cobalah ikhlas dan berdamai dengan masa lalumu, Bro. Percuma kamu berkelahi dengan waktu yang begitu semu. Apa kamu tidak menyadari, dendammu itu hanya akan membakar dirimu sendiri. Yang kamu ajak bermusuhan itu takdir dan waktu di masa lampau, sedangkan kamu sekarang sudah berada di masa yang sudah sangat jauh dari masa itu. Apa kamu akan menjadikan orang tidak bersalah sebagai pelampiasan dendammu? Ingat, dia tidak tahu masalahmu apa di masa lalu."