NovelToon NovelToon
Flight To Your Heart

Flight To Your Heart

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Prabu, seorang pria yang dulunya penuh ambisi, kini tenggelam dalam depresi berat yang merenggut gairah hidupnya. Melihat kondisi sang putra yang kian memprihatinkan, ayahnya yang merupakan seorang pilot senior, merasa hanya ada satu orang yang mampu menarik Prabu keluar dari kegelapan: Xena.
Xena bukan sekadar wanita dari masa lalu yang pernah mengejar-ngejar Prabu saat SMA, ia kini adalah seorang dokter spesialis jiwa yang handal. Sang ayah yakin bahwa kombinasi antara keahlian medis dan ketulusan hati Xena adalah kunci kesembuhan Prabu.
Meski dipenuhi penolakan dan sikap dingin yang membeku, Prabu akhirnya menyerah pada desakan orang tuanya. Ia menyetujui pernikahan tersebut dengan satu syarat mutlak di kepalanya: pernikahan ini tak lebih dari sekadar sesi pengobatan.
Xena pun melangkah masuk ke dalam hidup Prabu, bukan lagi sebagai gadis remaja yang naif, melainkan sebagai penyembuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

"Aku tidak mau makan!" teriak Prabu dari dalam kamar, suaranya terdengar serak dan penuh penekanan.

Xena tidak lagi mengetuk. Ia memutar kenop pintu dan melangkah masuk dengan wajah yang tenang namun tak tergoyahkan.

Di sana, ia melihat Prabu masih tertunduk lemas dengan ponsel yang masih menyala menampilkan wajah wanita dari masa lalunya.

Tanpa ragu, Xena melangkah maju dan menyambar ponsel itu dari genggaman Prabu.

"Xena!! Berikan ponselku!!"

Prabu bangkit dengan geram, wajahnya memerah karena amarah yang mendadak meledak.

Ia mencoba meraih kembali benda itu, namun Xena dengan sigap menyembunyikannya di balik punggung.

Xena menggelengkan kepalanya perlahan, menatap tepat ke manik mata Prabu yang bergetar.

"Kalau kamu seperti ini terus, kamu tidak akan sembuh, Pra," ucap Xena dengan nada bicara yang rendah namun menusuk.

"Menyiksa diri dengan kenangan yang sudah tidak bisa diubah tidak akan membawa Tryas kembali. Itu hanya akan membunuhmu pelan-pelan."

"Kamu tidak berhak bicara soal dia! Kembalikan ponselku!" Prabu maju selangkah, napasnya memburu, terlihat sangat tidak stabil.

"Aku bicara sebagai doktermu dan sebagai istrimu. Kamu butuh nutrisi agar otakmu bisa berpikir jernih. Kamu tidak bisa melawan trauma dengan perut kosong dan pikiran yang hanya berisi penyesalan," balas Xena tegas. Ia mundur selangkah, menjaga jarak aman.

"Ponsel ini aku sita sampai kamu selesai makan. Sekarang keluar, atau aku akan menghapus video ini selamanya agar kamu terpaksa melihat kenyataan."

Ancaman itu membuat Prabu mematung. Matanya membelalak, tidak percaya Xena bisa seberani itu.

Ia ingin sekali mengamuk, namun melihat ketegasan di mata Xena, ia menyadari bahwa wanita di hadapannya ini tidak akan mundur sedikit pun.

Dengan sisa harga diri yang terluka, Prabu akhirnya mendengus keras dan berjalan melewati Xena menuju meja makan, menghentakkan kakinya ke lantai kayu sebagai bentuk protes yang sia-sia.

Prabu mulai menyuap makanan organik yang disiapkan Xena dengan gerakan malas.

Meski mulutnya berkata enggan, aroma harum dari rempah alami itu sebenarnya sempat menggoda indra penciumannya yang sudah lama tumpul akibat depresi.

Di seberang meja, Xena duduk dengan tenang. Ia tidak ikut makan, melainkan membuka buku catatan medis kecilnya.

Jemarinya menari di atas kertas, mencatat observasi pagi ini: Pasien mulai menunjukkan nafsu makan secara fisik, meskipun masih terdapat resistensi emosional yang kuat dan fiksasi pada masa lalu.

Xena mendongak, memperhatikan cara Prabu mengunyah.

"Enak?" tanya Xena lembut, mencoba mencairkan suasana yang kaku.

Prabu menghentikan gerakan sendoknya sejenak.

Ia menatap makanan di piringnya dengan tatapan datar, lalu mendengus sinis.

"Biasa saja. Masih enak masakan Tryas," sahut Prabu tanpa perasaan, sengaja menekankan nama itu untuk memancing reaksi Xena.

Xena terdiam sejenak. Hatinya seperti dicubit mendengar perbandingan itu, namun ia segera menguasai diri.

Ia tidak boleh terjebak dalam kecemburuan; ia adalah seorang profesional yang sedang menghadapi pasien dengan luka batin kronis.

"Mungkin lidahmu memang masih merindukan rasa yang lama," jawab Xena sambil kembali menulis di catatannya, suaranya tetap tenang dan tidak terpengaruh.

"Tapi makanan ini bukan untuk memanjakan lidah, Pra. Ini untuk memperbaiki kimia di otakmu agar kamu berhenti melihat hantu di siang bolong."

Prabu tidak menjawab lagi. Ia kembali makan dengan kasar, suara denting sendok yang beradu dengan piring porselen terdengar seperti bentuk protes bisu.

Xena menutup buku catatannya perlahan, ia tahu bahwa pemulihan Prabu akan menjadi perjalanan panjang yang penuh dengan duri-duri perbandingan seperti ini. Namun bagi Xena, asalkan Prabu mau menghabiskan makanannya, itu sudah merupakan satu langkah maju menuju kesembuhan.

Xena meletakkan dua butir tablet dan segelas air putih di depan Prabu.

Tanpa menunggu protes suaminya, ia juga menaruh selembar kaus katun bersih dan celana santai yang sudah ia siapkan di atas meja.

"Minumlah. Dan ini pakaian gantimu. Kainnya dingin, cocok untuk cuaca pantai seperti ini," ucap Xena tenang.

Prabu menatap obat-obat itu dengan enggan, lalu melirik Xena yang mulai beranjak dari kursinya.

"Mau ke mana kamu?"

"Aku mau ke depan dulu. Mencari udara segar sambil memeriksa area sekitar," jawab Xena singkat.

Prabu mendengus sinis, senyum miring tersungging di bibirnya yang pucat.

"Ke depan? Cari lelaki untuk kamu goda? Di tempat sepi begini, paling-paling kamu cuma bisa menggoda nelayan lewat."

Langkah Xena terhenti seketika. Ia memejamkan mata erat-erat, mencoba meredam denyut nyeri di dadanya yang lebih sakit daripada luka di keningnya.

Fitnah itu terasa begitu kejam, keluar dari mulut pria yang seluruh martabatnya sedang ia perjuangkan habis-habisan.

"Astaghfirullah, Pra..." gumam Xena, suaranya bergetar menahan tangis.

Ia berbalik, menatap Prabu dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara kekecewaan mendalam dan rasa kasihan yang masih tersisa.

"Pikiranmu benar-benar sudah diracuni oleh kebencianmu sendiri. Aku di sini untuk memastikan kamu tetap hidup, sementara kamu justru sibuk menghancurkan satu-satunya orang yang masih peduli padamu," lanjut Xena lirih.

Tanpa menunggu balasan lagi, Xena melangkah cepat keluar menuju teras.

Ia butuh oksigen. Ia butuh suara deburan ombak untuk menenggelamkan gema kata-kata kasar Prabu yang masih terngiang di telinganya.

Di bawah langit senja yang mulai gelap, Xena memeluk dirinya sendiri, menyadari bahwa mengobati luka fisik Prabu adalah perkara mudah, namun membersihkan hatinya dari prasangka adalah perjuangan yang berdarah-darah.

Xena berjalan menjauh dari vila menuju bibir pantai yang mulai gelap.

Di bawah sinar bulan yang mulai muncul, ia melepaskan pakaian luarannya, menyisakan pakaian renang yang melekat di tubuhnya.

Ia butuh air dan butuh rasa dingin yang menusuk kulit untuk mematikan rasa sakit hati akibat ucapan Prabu tadi.

Dengan sekali hentakan, Xena menceburkan diri ke dalam air laut yang tenang.

Ia mulai berenang menjauh dari tepian, melakukan gerakan stroke yang kuat dan teratur. Di dalam air, segalanya terasa sunyi.

Tidak ada makian, tidak ada fitnah, hanya ada detak jantungnya sendiri dan suara air yang terbelah.

Sementara itu, dari balkon lantai dua vila, Prabu berdiri diam.

Ia masih mengenakan pakaian yang tadi diberikan Xena, namun pikirannya tetap penuh dengan racun.

Matanya menangkap sosok Xena yang bergerak lincah di tengah laut, tampak seperti siluet kecil yang berjuang melawan luasnya samudera.

"Dari dulu kamu selalu cari muka," gumam Prabu dengan suara rendah dan penuh kebencian.

Ia teringat masa sekolah dulu, bagaimana Xena selalu menjadi pusat perhatian karena prestasinya, dan sekarang ia merasa Xena sengaja menunjukkan ketangguhannya hanya untuk membuatnya terlihat semakin lemah.

Baginya, setiap kebaikan yang dilakukan Xena hanyalah sebuah panggung untuk menunjukkan betapa hebatnya wanita itu sebagai seorang penyelamat.

Prabu mencengkeram pagar balkon kayu dengan erat hingga buku-buku jarinya memutih.

Ia membenci kenyataan bahwa ia terpesona melihat cara Xena berenang—begitu bebas dan tenang—sementara ia sendiri merasa lumpuh dan tercekik di daratan.

Ia terus mengawasi istrinya dari kejauhan, membiarkan angin laut yang dingin menghantam wajahnya, sementara hatinya tetap keras membatu, menolak untuk mengakui bahwa ia sebenarnya sangat iri pada kekuatan jiwa yang dimiliki Xena.

Xena melangkah masuk ke dalam kamar dengan tubuh yang masih basah, butiran air laut menetes dari ujung rambutnya ke lantai kayu.

Ia baru saja hendak meraih handuk ketika sebuah lengan kokoh tiba-tiba melingkar di pinggangnya, menarik tubuhnya dengan sentakan kasar hingga punggungnya membentur dada bidang Prabu.

"Apa ini yang kamu incar? Menunjukkan tubuhmu di depanku agar aku bertekuk lutut?" bisik Prabu dengan nada rendah yang penuh penghinaan.

Sebelum Xena sempat menjawab, Prabu memutar tubuh istrinya.

Tanpa ada rasa kasih sayang, ia membungkam bibir Xena dengan ciuman yang sangat kasar.

Bukan sebuah kemesraan, melainkan sebuah serangan yang bertujuan untuk merendahkan martabat Xena.

PLAKKK!

Suara tamparan keras menggema di dalam kamar yang sunyi itu.

Napas Xena memburu, matanya berkilat penuh kemarahan. Ia mengusap bibirnya yang terasa perih dengan punggung tangan.

Prabu terhuyung sedikit, menyentuh pipinya yang memerah.

Bukannya sadar, ia justru tertawa hambar, sebuah tawa yang terdengar sangat menyakitkan.

"Kenapa? Bukankah ini yang kamu mau sejak dulu? Menjadi istri seorang pilot kaya?" ejek Prabu, menatap Xena dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan merendahkan.

"Kamu hanya wanita ambisius yang memanfaatkan keadaan jiwaku yang hancur untuk masuk ke dalam hidupku. Murahan sekali cara kamu mendapatkan gelar istri itu."

Hati Xena serasa tersayat sembilu mendengar kata 'murahan' keluar dari mulut pria yang selama ini ia muliakan dalam doanya.

Rasa sedihnya kini berganti menjadi kemuakan yang luar biasa.

"Keluar!" teriak Xena dengan suara bergetar.

"Kenapa? Kamu takut aku benar?"

"KELUAR, PRABU!" Xena menggunakan seluruh tenaganya untuk mendorong tubuh Prabu menuju pintu.

Prabu yang masih dalam pengaruh kondisi mental yang tidak stabil tidak memberikan perlawanan berarti saat didorong.

Begitu Prabu berada di luar ambang pintu, Xena segera membanting pintu kayu itu dan menguncinya dari dalam.

Xena merosot di balik pintu, menutupi wajahnya dengan kedua tangan.

Di luar, ia masih bisa mendengar tawa sinis Prabu yang perlahan menjauh menuju kamarnya sendiri.

Di tengah kesunyian malam di pinggir pantai itu, Xena menyadari bahwa musuh yang ia hadapi bukan hanya depresi Prabu, melainkan kebencian yang sudah mendarah daging yang mungkin takkan pernah bisa ia sembuhkan sendirian.

1
Nur Asiah
sepertinya perjalanan meraih cinta Xena masih panjang,prabu semangat
Alex
ini hari libur Thor, knpa bawangnya sebanyak ini😭😭😭😭😭
Nur Asiah
setelah kesekian bab aku baja akhirnya nyesek juga rasanya,selamat prabu impianmu kembali dengan lepasnya Xena darimu
Rian Moontero
lanjooott👍👍
miesui jazz jeff n jexx
sgt bgs...
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
Alex
kapok kamu pra
wwkwkwkwk
Alex
xena😭😭😭😭
Alex
kok kmu yg nonjok sih pra, harusnya ku tonjok duluan atau ku benturkan palamu di karang yg ada di pantai biar agak encer🤭
gemes bgt sama nie orang dech
my name is pho: sabar kak🤭
total 1 replies
Alex
pra, kmu mau ku getok pakai palu apa pakai kentongan, heran dech, emosi Mulu 😄
my name is pho: sabar kak🤭🥰
total 1 replies
Alex
siap menunggumu untuk lari aku pra, hbis itu Xena akn meninggalkanmu
hahahahaha
ketawa jahat ini🤭
Alex
awas gue tandain loe prabu
nanti kalau bucin Kutendang dari pesawat🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!