Adelin Azzura tak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan seorang ustaz bernama Afwan Zaid, setelah masa lalunya ternoda oleh kekerasan seksual dari seorang lelaki asing.
Hidup Adelin yang penuh luka dan drama begitu bertolak belakang dengan cara pandang Afwan yang selalu memegang teguh prinsip Islam, bahwa setiap takdir telah diatur oleh Allah.
Namun Adelin tak pernah benar-benar jujur tentang masa lalunya. Ia memendam trauma itu sendirian.
Sampai akhirnya Afwan mulai dilanda konflik batin ketika Adelin selalu menolak disentuh.
Akankah rumah tangga mereka bertahan?
Ataukah berakhir dengan kalimat cerai yang sering dikaitkan dengan godaan jin dasim?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasatii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 Trauma yang Mengejar
“Kamu kenal saya?” Pertanyaan itu berputar di kepalaku seperti sebuah instrumen mengerikan yang mencekam. Aku segera memutus kontak mata dengannya. Menundukkan kepala kemudian berlalu tanpa sepatah kata pun. Karena jika aku berbicara, ia pasti mengenal suaraku. Aku bersyukur, lewat cadar ini setidaknya aku dapat berlindung darinya.
Aku melangkah cepat. Napasku memburu. Debar jantung seolah memberi sinyal bahaya pada tubuhku. Pandangan mata hampir buram. Namun, kutahan semua itu agar tak menimbulkan efek yang lebih parah. Aku tahu, ini ciri-ciri tubuh mulai menunjukkan tanda-tanda hendak tumbang.
Ketika diriku sepenuhnya berada di mobil, segera kubuka cadarku agar oksigen masuk dengan cepat ke tubuhku yang mulai kritis. Perutku bagai diaduk-aduk sesuatu. Rasa asam mulai menjalar di tenggorokan memenuhi mulut. Aku menepuk pelan pundak Mas Afwan. Ia menatapku penuh kekhawatiran sedari tadi.
“Kamu pucat banget, Sayang. Mau minum?” tanyanya seraya mengambil sebuah minuman botol untukku. Aku segera meneguk minuman tersebut sekali teguk hingga tak bersisa. Kurasakan tubuh yang semula dingin dan melemah, kini kembali hangat dan bertenaga.
“Kamu ada apa, Sayang? Kenapa lama tadi?” Mas Afwan bertanya khawatir seraya membelai lembut kepalaku. Kemudian menyuruhku bersandar di bangku mobil.
“Kita ke rumah sakit, ya.”
“Enggak, Mas. Aku mungkin kelelahan aja habis jalan jauh,” ucapku mencoba menenangkan Mas Afwan.
“Ya udah. Kalau gitu kita jadi, kan ke rumah Ibu?”
“Nggak! Nggak usah, Mas. Kita langsung ke Lembang aja.”
“Loh, kenapa? Bukannya tadi kamu mau ke rumah Ibu katanya. Kok malah balik Lembang?” Mas Afwan mengernyitkan dahinya heran.
“Ya, Mas. Tapi … aku sepertinya ke rumah Umi dulu. Aku mau istirahat.”
“Kan tadi kita udah ke rumah Umi. Kamu nggak kasihan apa sama ibu yang udah nungguin dari tadi. Takutnya ibu udah nyiapin sesuatu buat kita.” Ucapan Mas Afwan membuat keinginanku untuk kembali ke Lembang menjadi tertunda. Aku tak mungkin membiarkan Ibu dalam penantian sementara aku pulang tanpa memberitahunya.
“Baik, Mas. Kita ke rumah Ibu,” balasku sambil tersenyum.
Selama di perjalanan, aku memutuskan untuk merapalkan zikir sesuai perintah Mas Afwan agar hatiku diliputi ketenangan. Mengingat rasa cemas di dada masih kentara. Aku kini duduk di bangku belakang bersama Hamzah. Hamzah yang terlihat sangat antusias dalam perjalanannya ke rumah sang Nenek membuatku yakin untuk pulang ke rumah ibu.
Sebuah rumah sederhana milik ibu dan mendiang ayahku kini tampak di depan mata. Aku dan Mas Afwan dan Hamzah, keluar dari mobil bersama. Kulihat, di depan sana sudah ada ibu yang tengah menyambut kami dengan senang hati. Ia melambaikan tangan saat kami berjalan menujunya. Hingga kini, langkah kaki kami pun semakin mendekat.
“Ya Allah. Cucu Nenek. Sini peluk dulu.” Ibu memeluk Hamzah yang terlihat malu-malu saat dipeluk. Senyuman terpancar di wajah Hamzah.
“Bu,” Mas Afwan mencium tangan Ibu takzim.
“Ibu.” Kupeluk Ibu seketika. Dalam dekapan Ibu, kulepas air mata yang sedari tadi kutahan. Kini, aku punya alasan untuk menangis.
“Kamu kenapa cah ayu? Kenapa nangis?” tanya Ibu sambil menyeka air mataku.
“Kangen, Bu,” balasku seraya melepas pelukannya dan beralih menatap wajahnya.
“Kangen, kan bisa telepon. Ya sudah, yuk masuk yuk! Makan dulu kita. Ibu sudah masak barusan.” Ibu mempersilakan kami masuk. Hingga kini, kami telah berada sepenuhnya di dalam rumah.
“Ayo! Makanlah. Ibu masak yang sederhana aja.” Kulihat masakan sederhana Ibu. Kami duduk bersama di lantai untuk menyantap makanan. Mas Afwan mengambil makanannya dengan antusias. Kemudian beralih mengambil nasi dan lauk untuk Hamzah. Aku hanya memerhatikan mereka karena sedari tadi perutku belum lapar. Justru yang aku rasakan kini adalah rasa mual yang menyiksa.
“Dimakanlah, Nak nasinya. Masak iya dibiarin aja. Ibu udah capek masak, lo.” Ibu memaksaku untuk makan.
“Adelin belum lapar, Bu. Adelin … boleh istirahat sebentar nggak, Bu di kamar?” tanyaku pada Ibu seraya berlalu ke dalam kamar.
“Ya sudah. Boleh. Silakan istirahat dulu, ya,” izin Ibu seraya tersenyum padaku dan Hamzah.
Aku membuka pintu kamarku ketika aku masih lajang dulu. Air mata mendadak tumpah seketika ketika melihat kamar itu. Aku duduk di tepian kasur. Meraba kasur itu dengan tanganku. Ada rindu yang diam-diam merayap di dada. Aku … rindu masa kecil tanpa pernah dikejar bayangan mengerikan. Saat Ayah masih ada.
Tapi semenjak Ayah digantikan, saat itulah hidupku penuh tekanan dan penderitaan. Hidupku bagai terkungkung di masa lalu. Masa di mana sosok menyeramkan dalam hidupku masih bersama ibu. Tapi … semoga ia tak lagi muncul ke permukaan ini.
Saat aku hendak membaringkan badan ke atas kasur, tiba-tiba sebuah suara di luar sana mencengangkanku.
“Assalamu’alaikum.”
“Waalaikumsalam. Eh, Jon? Sejak kapan ada di Jakarta?”
Suara itu … suara predator di masa lalu.
jangan mau!
.
Masih banyak cobaan yang belum kamu cobain,
kamu masih belum merasakan betapa bahagianya saat menang GA, kamu belum merasakan betapa bahagianya CO nol rupiah di tanggal kembar. It's amazing Adelin.🤣
Oke, semoga kamu baca komentarku ini, sebelum lantai dasar gedung itu menerima suara gedebugh mu🔥🔥🔥🔥🔥