NovelToon NovelToon
Anomali Rasa

Anomali Rasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Romantis
Popularitas:730
Nilai: 5
Nama Author: USR

Pertemuan kembali di koridor universitas seharusnya menjadi momen nostalgia yang manis, namun bagi Wahyu dan Riani, itu adalah awal dari sebuah interaksi yang panjang dan penuh tembok penghalang.
Namun, hubungan mereka tidak berjalan semudah bayangan. Ada penyangkalan yang kuat, kecanggungan yang berlarut-larut, hingga cara berkomunikasi yang sering kali menemui jalan buntu.

Nantikan Perjalanan Kedua nya.....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon USR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2

Wahyu menaiki tangga menuju lantai tiga gedung Rektorat dengan langkah cepat. Earphone masih menempel di telinga, volume musik diset maksimal—cukup keras untuk membuat dunia luar terdengar seperti noise yang teredam. Playlist hari ini: instrumental piano. Calm. Predictable. Tidak ada lirik yang bisa mengganggu fokus.

Dia benci kampus 1.

Terlalu ramai. Terlalu banyak orang. Terlalu banyak... interaksi.

Kalau bukan karena sekretariat BEM Universitas ada di gedung Rektorat—yang kebetulan lokasinya di area kampus 1—Wahyu tidak akan pernah menginjakkan kaki di sini. Fakultasnya, Hukum, ada di kampus 3. Lokasinya tenang, mahasiswanya lebih... profesional. Tidak serame mahasiswa ekonomi atau FISIP yang suka nongkrong di kantin berjam-jam sambil ketawa-ketiwi.

Wahyu sampai di lantai tiga. Koridor kosong. Bagus. Dia belok kanan, melewati beberapa ruang administrasi yang pintunya tertutup, lalu berhenti di depan pintu kaca bertuliskan "SEKRETARIAT BEM UNIVERSITAS".

Dia mengetuk dua kali, formalitas, meski tahu pintu tidak dikunci.

"Masuk!" teriak seseorang dari dalam.

Wahyu membuka pintu. Ruangan sekretariat BEM tidak terlalu besar—sekitar enam kali lima meter—tapi cukup untuk muat dua meja panjang, beberapa kursi putar, satu lemari arsip, dan satu papan tulis putih besar yang penuh coretan spidol. Di meja sebelah kiri, ada laptop terbuka dengan layar spreadsheet. Di meja kanan, bertumpuk kertas proposal.

Tiga orang sudah ada di dalam.

"Wahyu! Akhirnya dateng juga," sapa Ardi, ketua BEM, sambil melambaikan tangan. Cowok berkacamata itu duduk di kursi putar, kaki diangkat ke meja—posisi santai yang sangat kontras dengan ekspresi seriusnya.

Di sampingnya, Siska—bendahara BEM—sedang mengetik sesuatu di laptop. Cewek berkerudung pink itu cuma mengangguk singkat ke arah Wahyu tanpa henti mengetik.

Dan di pojok ruangan, berdiri Bagas, wakil ketua, yang sedang menulis sesuatu di papan tulis.

"Sorry telat," ujar Wahyu datar sambil menutup pintu. Dia melepas earphone, melipat kabelnya rapi, lalu memasukkan ke saku hoodie. "Ada urusan di kampus 1 tadi."

"Urusan apaan? Jajan?" Ardi nyengir.

Wahyu tidak menjawab. Dia menarik kursi kosong di dekat Siska, duduk, lalu mengeluarkan laptop dari tas ransel.

"Oke, langsung aja ya," Ardi meluruskan duduknya. "Agenda hari ini: evaluasi seminar nasional minggu lalu, plus planning event bulan depan. Bagas, lu mulai."

Bagas mengangguk. Cowok tinggi besar itu mengetuk papan tulis dengan spidol. "Seminar kemarin sukses. Peserta 450 orang, lebih banyak dari target kita yang 400. Pembicara dateng tepat waktu, materi oke, feedback dari peserta mayoritas positif. Tapi..."

"Tapi?" Siska mengangkat alis.

"Sound system sempet error dua kali. Untung cepet di-handle, jadi nggak ganggu jalannya acara. Terus konsumsi kurang 20 box—untung vendor bisa nambah last minute. Overall, rating dari panitia dan peserta: 8 dari 10."

Wahyu membuka laptop. Layar menyala, menampilkan spreadsheet yang sama dengan yang ada di layar Siska—budget dan rundown seminar. Matanya scanning angka-angka dengan cepat. Semua sesuai prediksi.

"Good job, tim," Ardi mengangguk puas. "Terutama Wahyu. Lu yang koordinasi vendor sama sound system kan? Gokil sih, padahal minggu kemarin chaos banget."

Wahyu tidak mengangkat kepala dari laptop. "Cuma ngerjain sesuai SOP."

"SOP my ass," Ardi tertawa. "Lu tau sendiri di BEM mah jarang ada yang bener-bener ngikutin SOP. Kebanyakan improvisasi. Tapi lu... beda. Detailed banget. Semua lu catet, lu follow-up, lu pastiin. That's why gue assign lu jadi koordinator lapangan."

Wahyu diam. Dia tidak suka pujian. Pujian itu... licin. Orang yang memuji hari ini bisa jadi orang yang backstab besok. Dia sudah belajar itu.

"Oke, next," Ardi melanjutkan. "Event bulan depan: Donor Darah dan Bakti Sosial. Target: 300 kantong darah, plus bantuan sembako buat warga sekitar kampus. Wahyu, gue mau lu pegang koordinasi lagi. Bisa?"

Wahyu berhenti mengetik. Matanya tetap di layar laptop. "Timeframe?"

"Tiga minggu dari sekarang. Proposal udah disetujuin rektorat, tinggal eksekusi."

Tiga minggu. Wahyu menghitung cepat di kepala. Minggu depan ada mid-test Hukum Pidana dan Hukum Perdata. Dua minggu lagi ada deadline translation project dari klien—15 halaman legal document, bayarannya $80. Tiga minggu lagi... sidang ayah.

Sidang.

Rahang Wahyu mengeras.

"Wahyu?" Ardi memanggil. "Lu oke?"

"Iya." Wahyu mengetik sesuatu di laptop—notes untuk dirinya sendiri. "Gue bisa. Kirim rundown sama contact vendor ke email gue."

"Siap. Thanks, Yu."

Meeting berlanjut satu jam. Diskusi detail: pembagian tugas, anggaran, timeline, contact person. Wahyu mencatat semuanya dengan rapi di laptop—tidak ada yang terlewat, tidak ada yang ambigu. Dia benci ambiguitas. Semua harus jelas: siapa mengerjakan apa, kapan deadline, berapa budget, siapa yang bertanggung jawab kalau ada masalah.

Pukul enam sore, meeting selesai.

"Oke, dismissed. Thanks all," Ardi menutup laptopnya. "Wahyu, mau makan bareng? Gue, Bagas, sama Siska mau ke warteg deket sini."

"Nggak, thanks. Gue ada kerjaan," Wahyu menjawab cepat sambil memasukkan laptop ke tas.

"Kerjaan mulu lo," Bagas bergumam. "Kapan santainya?"

Wahyu tidak menjawab. Dia melempar tas ke pundak, pasang earphone lagi, lalu berjalan keluar dari ruangan.

Tidak ada yang menghentikannya.

Mereka sudah terbiasa.

Wahyu keluar dari gedung Rektorat. Langit sudah gelap, lampu-lampu kampus mulai menyala. Udara malam agak dingin—enak sebenarnya, kalau saja Wahyu punya waktu untuk menikmati.

Dia berjalan menuju parkiran motor, melewati beberapa kelompok mahasiswa yang masih nongkrong di taman kampus. Ada yang main gitar, ada yang foto-foto, ada yang sekadar ngobrol sambil makan gorengan.

Wahyu melirik sebentar. Lalu mengalihkan pandangan.

Dia tidak mengerti orang-orang seperti itu. Orang yang bisa... rileks. Tertawa tanpa beban. Ngobrol tanpa filter. Percaya pada orang asing hanya karena mereka "teman sekampus".

Naif.

Wahyu sampai di parkiran. Motor Honda Beat hitamnya terparkir di sudut, agak tersembunyi di antara motor-motor lain. Dia sengaja parkir di situ—jauh dari keramaian, minim risiko motornya kegores atau dicuri.

Dia membuka kunci stang, menyalakan mesin, lalu duduk di atas jok sambil menarik napas panjang.

Capek.

Bukan capek fisik—itu masih bisa di-handle. Tapi capek... mental.

Hari ini saja dia sudah:

Kuliah tiga sks pagi (Hukum Pidana)

Ngerjain translation project satu jam di perpustakaan (4 halaman selesai, masih 11 halaman lagi)

Meeting BEM dua jam

Dan sebelum pulang, dia harus mampir ke minimarket beli beras sama mie instan—stok di rumah hampir habis.

Belum lagi besok ada kelas jam tujuh pagi. Dan lusa ada deadline translation.

Wahyu menutup mata sebentar. Musik di earphone mengalir pelan—Ludovico Einaudi, "Nuvole Bianche". Calm. Repetitive. Predictable.

Lalu tiba-tiba, wajah seseorang muncul di kepala.

Cewek tadi.

Riani.

Wahyu membuka mata. Mengerutkan kening.

Kenapa dia masih ingat?

Normalnya, interaksi singkat seperti tadi langsung hilang dari memori. Wahyu punya sistem: filter out hal-hal yang tidak penting. Sapaan random dari orang asing? Not important. Orang yang ngaku "teman SMA"? Not important. Cewek ceria yang senyum-senyum sok akrab? Definitely not important.

Tapi entah kenapa... wajah Riani tadi agak... stuck.

Mungkin karena matanya.

Mata Riani tadi terlihat... genuine. Bukan tatapan orang yang cuma penasaran atau iseng. Tapi tatapan orang yang beneran... excited? Senang? Ketemu "teman lama"?

Wahyu mendengus pelan.

Teman lama.

Mereka bukan teman. Mereka cuma satu angkatan, beda kelas, tidak pernah ngobrol sepatah kata pun selama setahun di SMA. Wahyu bahkan tidak ingat wajah Riani secara jelas sampai tadi sore. Yang dia ingat cuma... samar. Salah satu cewek yang sering ketawa-ketiwi di kantin bareng geng-nya. Itu aja.

Jadi kenapa Riani approach dia sekarang?

Penasaran? Iseng? Atau...

Wahyu menggeleng. Stop. Jangan overthink.

Dia menarik gas motor, keluar dari parkiran kampus. Jalanan mulai ramai—kendaraan berjejer di lampu merah, klakson bunyi di mana-mana. Wahyu menyelip di antara mobil-mobil dengan hati-hati, mengikuti jalur motor.

Otaknya mulai memutar skenario.

Skenario 1: Riani cuma iseng, penasaran, nggak ada maksud apa-apa. Besok dia lupa. Selesai.

Skenario 2: Riani googling nama Wahyu, nemu artikel tentang kasus ayah, lalu... apa? Kasihan? Simpatik? Atau malah takut?

Skenario 3: Riani cerita ke teman-temannya. Gosip menyebar. "Eh, tau nggak, si Wahyu itu bapaknya dituduh korupsi loh." Dan semua orang mulai... menjauh.

Wahyu mencengkeram handle motor lebih kuat.

Skenario 3 paling mungkin.

Itu selalu yang terjadi.

Dulu, waktu SMA pertama, ada beberapa cewek yang deketin dia. Iseng, flirty, ngajak ngobrol, bahkan ada yang terang-terangan bilang "kamu ganteng". Wahyu sempat... terima. Sempat merasa normal. Merasa seperti remaja biasa yang di-notice karena tampang, bukan karena masalah keluarga.

Tapi begitu salah satu dari mereka tau tentang kasus ayah—entah dari googling atau denger gosip—semuanya berubah.

Mereka menjauh.

Pelan-pelan. Halus. Nggak to the point bilang "gue nggak mau deket-deket sama lo", tapi lewat tindakan: nggak bales chat, nggak kontak mata, duduk di seberang kelas, avoid Wahyu di koridor.

Dan yang paling menyakitkan?

Mereka bisik-bisik.

Wahyu ingat betul hari itu. Dia lagi jalan sendirian di koridor SMA pertama, mau ke perpustakaan. Lalu dia denger suara cewek-cewek di belakang—suara yang familiar, suara cewek yang seminggu lalu masih senyum-senyum ke dia.

"Eh, tau nggak, bapaknya Wahyu itu kriminal."

"Serius? Emang kenapa?"

"Katanya ngambil duit perusahaan. Miliaran. Terus kabur."

"Gila. Pantesan dia pendiem. Malu kali."

"Kasian juga sih... tapi ya, gimana ya, agak serem juga kan kalau deket-deket sama keluarga kayak gitu."

Wahyu berhenti jalan waktu itu. Berdiri di tengah koridor. Tangan mengepal. Napas tertahan.

Dia nggak noleh. Nggak marah. Nggak teriak "ITU FITNAH!".

Dia cuma... jalan terus. Masuk perpustakaan. Duduk di pojok paling belakang. Dan tidak keluar sampai bel pulang.

Sejak itu, Wahyu belajar satu hal:

Jangan pernah percaya orang terlalu cepat.

Orang bisa manis di depan. Tapi di belakang? Mereka bisa jadi pisau.

Wahyu sampai di minimarket dekat kost-annya. Dia parkir motor, masuk, ambil keranjang, lalu langsung ke rak beras. Beli beras 5 kg—yang paling murah. Terus ke rak mie instan—ambil satu dus, 30 bungkus. Cukup untuk dua minggu kalau irit.

Di kasir, dia bayar pakai uang cash. Rp 127.000. Kembalian Rp 3.000 dia masukin ke dompet yang sudah tipis.

Saldo rekening sekarang: Rp 850.000.

Itu harus cukup sampai akhir bulan. Biaya kost Rp 400.000 belum dibayar. Bensin motor habis Rp 50.000 seminggu. Makan sehari-hari... kalau hemat, Rp 15.000 per hari. Berarti Rp 450.000 sebulan.

Total pengeluaran: Rp 900.000.

Kurang Rp 50.000.

Wahyu menghela napas sambil mengikat plastik belanjaan di jok motor.

Harus cari translation project lagi. Atau... minta advance payment ke klien yang sekarang?

Dia naik motor, pulang ke kost.

Kost-annya sederhana. Bangunan dua lantai, cat sudah kusam, kamar mandi sharing, dapur umum di belakang. Kamar Wahyu di lantai dua, nomor 7. Ukuran 3x3 meter. Isinya: kasur single, meja belajar kecil, lemari kayu satu pintu, dan satu jendela kecil yang menghadap ke gang sempit.

Wahyu membuka pintu kamar. Gelap. Dia menyalakan lampu—bohlam 5 watt, redup, tapi cukup.

Dia menaruh plastik belanjaan di sudut kamar, melempar tas ke kasur, lalu duduk di kursi meja belajar.

Laptop dibuka. Wifi kost nyala—untung termasuk gratis di biaya kost.

Email masuk: 3 notifikasi.

Reminder dari dosen: Tugas Hukum Perdata deadline Senin depan.

Client translation: "Hi Wahyu, bisa dipercepat? Butuh Jumat ini."

Spam iklan.

Wahyu menatap email nomor dua.

Jumat ini. Berarti tiga hari lagi.

Dia buka file translation yang belum selesai. Masih 11 halaman. Kalau dikerjakan sekarang sampai jam 2 pagi, bisa selesai 5 halaman. Besok lanjut 6 halaman. Selesai.

Tapi besok ada kelas jam 7 pagi.

Berarti tidur cuma 3 jam.

Wahyu menutup mata. Pijit pelipis yang mulai berdenyut.

Capek.

Tapi nggak ada pilihan.

Dia mulai mengetik.

Pukul 2:13 pagi, Wahyu mengirim email ke klien:

"Hi, 11 pages done. Will send the rest by Thursday night. Please confirm."

Send.

Dia menutup laptop. Merebahkan tubuh di kasur tanpa ganti baju. Earphone masih nempel di telinga—musik otomatis pause karena nggak ada aktivitas.

Kamar gelap. Sunyi.

Wahyu menatap langit-langit kamar yang retak.

Besok... hari apa ya?

Jumat.

Jumat berarti... kelas cuma sampai siang. Terus bisa lanjut translation. Terus... apa lagi?

Oh iya. Mama bilang Sabtu ada sidang lagi.

Sidang.

Lagi.

Sudah berapa kali?

Wahyu kehilangan hitungan.

Dari kelas 1 SMP sampai sekarang semester 1 kuliah... sudah hampir 8 tahun.

Delapan tahun ayahnya bolak-balik pengadilan. Delapan tahun keluarganya hidup di bawah stigma "koruptor". Delapan tahun Wahyu mendengar bisikan, tatapan, judgement dari orang lain.

Kapan selesai?

Entah.

Pengacara bilang, "Sabar. Keadilan butuh proses."

Tapi berapa lama lagi "proses" itu?

Wahyu membalikkan badan, menghadap dinding.

Mata terpejam.

Tapi tidur tidak datang.

Yang datang cuma... wajah ayah. Wajah yang dulu penuh senyum, sekarang penuh kerutan dan kelelahan.

Dan suara ayah, waktu terakhir mereka ngobrol:

"Maaf ya, Yu. Gara-gara Bapak, kamu jadi susah."

Wahyu membuka mata.

"Nggak apa, Pak," bisiknya pelan di kegelapan. "Aku baik-baik aja."

Tapi itu bohong.

Dan Wahyu tahu itu.

Bersambung.....

1
YoMi
Lanjut kan kak
DemSat
Nice Story /Kiss/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!