CEWEK BADUNG VS COWOK KAKU
AYUNDA
Cantik, manis, dan bergaya kece abis... tapi kelakuannya liar!
Mulutnya tajam, berani, dan paling benci diatur-atur.
"Badung? Yeah, that's me."
Dia cewek yang hidup sesuka hati, nggak peduli omongan orang, dan siap melabrak siapa saja yang berani cari gara-gara.
GIOVANI
Ganteng, kaya, dan selalu tampil sempurna... tapi kaku setengah mati!
Hidupnya penuh aturan, rapi, dan terjadwal kayak robot.
"Terlalu diatur, terlalu sulit dimengerti."
Dia tipe cowok yang alergi sama kekacauan, apalagi sama cewek rusuh kayak Ayunda.
Dua kepribadian. Satu konflik yang tak terhindarkan.
Lo badung, gue kaku.
Kita emang mustahil.
Satu mau bebas, satu mau aturan.
Satu bawa kekacauan, satu bawa masalah.
Tapi entah kenapa... dua kutub yang saling tolak ini, selalu saja ketemu di titik yang sama.
Apakah si Badung bisa meluluhkan si Kaku?
Atau malah si Kaku yang bakal ikut rusuh karena si Badung?
A hate-love romance that you can't miss! ❤️🔥
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon exozi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
UJIAN CINTA YANG BERAT
Hujan deras turun membasahi bumi, seolah ikut menangisi apa yang baru saja terjadi. Dunia seketika berubah menjadi abu-abu dan gelap. Kenyataan yang baru saja terungkap itu begitu kejam, begitu menyakitkan, dan begitu mustahil untuk diterima oleh akal sehat.
Ayunda berlari meninggalkan rumah mewah itu dengan air mata yang tak henti-hentinya mengalir. Dadanya sesak, rasanya seperti ada batu besar yang menimpa dadanya, membuatnya sulit bernapas.
Sepupu? Mereka bersaudara?
Gio... cowok yang dia cintai sepenuh hati, cowok yang sudah membuat hidupnya berwarna, cowok yang dia janjikan untuk bersama selamanya... ternyata adalah saudara kandungnya sendiri?
"Gak adil... Ya Allah kenapa sekejam ini sih?!" teriak Ayunda di tengah hujan, suaranya pecah tertelan suara gemuruh petir. "Kenapa Tuhan pertemuan kita, kenapa Tuhan biarin kita jatuh cinta, tapi akhirnya cuma buat nyakitin kita kayak gini?!"
Ayunda merasa dunianya hancur lebur. Semua momen indah, semua tawa, semua pelukan, dan semua janji manis itu... sekarang terasa seperti sebuah kesalahan besar. Terasa seperti dosa yang tidak sengaja dia lakukan.
Di dalam rumah, suasana tidak jauh berbeda. Gio berdiri mematung di tengah ruangan, tubuhnya kaku, dan matanya kosong. Dia tidak bisa bergerak, dia tidak bisa berpikir jernih. Otaknya terasa penuh dan kosong di saat yang bersamaan.
Gambar wajah Ayunda yang menangis dan berlari itu terus berputar di kepalanya. Tatapan kecewa dan hancur itu... menusuk jantung Gio jauh lebih sakit daripada apapun.
"Gio... nak, maafin Papa dan Mama ya..." suara Mama Gio terdengar lemah dan penuh penyesalan. "Kami gak bermaksud menyembunyikan ini selamanya. Kami cuma takut... takut kalian nggak siap, takut kalian sakit hati kayak gini."
Gio perlahan menoleh. Matanya merah, bengkak, dan tatapannya kosong. Tidak ada lagi cahaya semangat yang biasanya ada di sana.
"Kenapa... kenapa baru bilang sekarang Pa?" suara Gio parau, terdengar hancur. "Kenapa kalian biarin aku jatuh cinta sedalam itu sama dia?! Kenapa kalian biarin aku ngerasain bahagia yang luar biasa, terus sekarang kalian hancurin semuanya dalam sekejap?!"
"Kami minta maaf nak... kami kira kalian bakal bisa terima pelan-pelan..."
"Terima?! Gimana caranya terima?! Cewek yang ada di hati aku itu keponakan kalian! Dia adik aku! Itu dilarang Pa! Itu salah! Dan sekarang... aku bikin dia sakit hati! Aku bikin dia nangis sejadi-jadinya!"
Gio memukul dinding keras-keras, menumpahkan emosinya yang meledak-ledak.
"Aku sayang sama dia Pa! Aku cinta banget sama dia! Tapi sekarang... cinta itu jadi sesuatu yang salah! Aku harus gimana?! Aku harus ngapain?!"
Tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan itu. Tidak ada solusi yang mudah. Ini adalah ujian terberat yang pernah menimpa mereka. Ujian yang datang bukan dari orang lain, tapi dari takdir dan garis keturunan mereka sendiri.
Malam itu menjadi malam terpanjang dan tergelap dalam hidup mereka.
Ayunda mengunci diri di dalam kamar. Dia tidak mau makan, dia tidak mau bicara, dia bahkan tidak mau melihat wajahnya sendiri di cermin. Rasanya malu, rasanya sakit, dan rasanya bingung setengah mati.
Dia memandangi foto-foto mereka berdua yang ada di HP. Foto saat mereka tertawa, foto saat mereka berpelukan, foto saat Gio mengaku cinta.
Sekarang melihat semua itu... rasanya perih sekali.
"Kenapa harus Gio? Kenapa harus dia yang jadi keluarga gue?" isak tangis Ayunda pecah lagi. Dia memeluk lututnya, meringkuk di sudut kasur. "Gue sayang banget sama dia... tapi kenapa Tuhan jahat banget sih?"
Di saat yang sama, di tempat yang berbeda, Gio juga tidak tidur. Dia duduk di balkon kamarnya, menatap langit yang gelap dan mendung. Rokok demi rokok dia habiskan, pikirannya kacau balau.
Dia ingat setiap detail wajah Ayunda. Dia ingat senyumnya, dia ingat tawanya, dia ingat kehangatan pelukannya.
Tapi sekarang... semua itu harus dia kubur dalam-dalam.
Karena mereka sadar, sekuat apapun cinta mereka, sebesar apapun perasaan mereka... mereka tidak bisa melawan aturan alam, tidak bisa melawan norma, dan tidak bisa melawan fakta bahwa darah mereka bersaudara.
Cinta mereka... harus berhenti di sini.
Beberapa hari berlalu. Hari-hari yang terasa seperti neraka bagi keduanya.
Mereka tidak bertemu. Mereka tidak menghubungi satu sama lain. Nomor HP pun seolah mati suri. Mereka butuh waktu. Mereka butuh ruang untuk mencerna semua ini, untuk mencoba mengobati luka yang baru saja terbentuk.
Tapi rasa rindu itu... ah, rasa rindu itu tidak peduli seberapa besar larangan atau fakta yang ada. Rasa rindu itu tetap tumbuh subur, tetap menyiksa, dan tetap memanggil-manggil nama satu sama lain.
Hingga akhirnya, mereka memutuskan untuk bertemu sekali lagi. Hanya untuk mengucapkan kata perpisahan, atau mungkin untuk mencoba mengubah perasaan itu menjadi sekadar rasa saudara.
Mereka bertemu di taman tempat mereka biasa menghabiskan waktu. Tempat yang dulu penuh dengan tawa dan cinta, sekarang terasa begitu sepi dan menyedihkan.
Ayunda datang lebih dulu. Dia terlihat kurus, matanya bengkak, dan wajahnya pucat pasi. Dia tidak lagi terlihat seperti Ayunda yang ceria dan badung. Dia terlihat rapuh dan hancur.
Tak lama kemudian, Gio datang. Cowok itu juga terlihat tidak jauh berbeda. Rambutnya agak berantakan, kantung mata terlihat jelas, dan tatapannya sendu sekali.
Mereka saling tatap dalam diam yang panjang. Hening yang mencekam, hening yang penuh dengan seribu kata yang tak terucap.
Gio yang memecahkan keheningan itu duluan. Suaranya berat, pelan, dan terdengar sangat lelah.
"Kamu... gimana kabarnya?" tanyanya, seolah itu adalah pertanyaan paling sulit di dunia.
Ayunda menunduk, memandangi jari-jarinya sendiri yang saling memilin gugup. Air matanya sudah siap tumpah lagi kapan saja.
"Gimana kabarnya? Lo bisa liat sendiri kan gimana gue sekarang?" jawab Ayunda pelan, suaranya bergetar hebat. "Hancur Gio... gue hancur banget. Gue bingung harus ngapain, harus mikir gimana."
"Aku juga..." jawab Gio cepat, napasnya terdengar berat. "Aku juga hancur Yun. Rasanya pengen banget teriak sekencang-kencangnya karena ngerasa dunia ini gak adil."
Gio melangkah maju selangkah, ingin sekali menyentuh bahu Ayunda, ingin sekali memeluknya seperti dulu. Tapi tangannya terhenti di udara, lalu dia tarik kembali dengan terpaksa.
Karena sekarang... dia sadar posisinya. Dia bukan lagi pacar. Dia adalah kakak.
"Yun... dengerin aku..." kata Gio memohon, air mata akhirnya jatuh juga dari mata cowok tangguh itu. "Apa pun yang terjadi, apa pun status hubungan kita... perasaan aku ke kamu itu beneran. Cinta aku itu beneran. Aku gak nyesel pernah kenal kamu, aku gak nyesel pernah sayang sama kamu."
"Tapi itu salah Gio! Itu salah!" potong Ayunda cepat, suaranya meninggi karena emosi. "Kita itu saudara! Kita sepupu! Cinta kita ini dilarang! Ini salah! Dan gue gak mau jadi orang yang salah!"
Ayunda mendongak, menatap Gio dengan mata yang memancarkan rasa sakit yang luar biasa.
"Jadi sekarang gimana?! Kita harus gimana?! Kita harus pura-pura jadi orang asing?! Atau kita harus pura-pura jadi kakak adik yang baik padahal hati kita masih saling cinta?!"
"Aku gak tau..." Gio menggeleng putus asa, air mata mengalir membasahi pipi tirusnya. "Aku gak tau jawabannya Yun. Semuanya jadi rumit banget. Tapi satu hal yang aku tau... aku gak bisa nyakitin kamu lagi. Aku gak bisa biarin kamu terus-terusan sakit karena hubungan yang gak jelas ini."
Gio menarik napas panjang, mengumpulkan seluruh kekuatan yang tersisa di tubuhnya untuk mengatakan kalimat paling menyakitkan dalam hidupnya.
"Mungkin... mungkin kita harus berhenti di sini. Kita harus berhenti berharap. Kita harus ubah perasaan ini. Kita harus belajar jadi keluarga, jadi saudara, seperti yang seharusnya."
"Berhenti...?" Ayunda tersenyum miris, senyum yang paling menyedihkan yang pernah Gio lihat. "Maksud lo... kita akhiri semuanya? Gak ada lagi Gio dan Ayunda? Gak ada lagi kita?"
Pertanyaan itu membuat hati Gio tercabik-cabik berkeping-keping. Rasanya mau mati rasanya mengiyakan itu.
"Iya... mungkin itu jalan satu-satunya yang paling benar. Yang paling halal. Yang paling nggak bikin dosa."
Gio memejamkan matanya erat-erat, menahan isak tangisnya agar tidak pecah.
"Maafin aku ya Yun... maaf aku udah bikin kamu jatuh cinta, maaf aku udah bikin kamu berharap, dan akhirnya aku yang nyakitin kamu separah ini. Maafin aku yang egois..."
Ayunda tidak bisa menahan dirinya lagi. Dia menangis tersedu-sedu, menutup wajahnya dengan kedua tangan. Rasanya sakit sekali... sakit sekali rasanya harus melepaskan orang yang paling dia sayang hanya karena takdir berkata lain.
"Kenapa... kenapa harus seberat ini ujiannya?" rintih Ayunda. "Gue sayang banget sama lo Gio... sayang banget..."
"Aku juga sayang kamu... aku sayang kamu lebih dari apapun..." jawab Gio parau.
Malam itu, di bawah langit yang mendung, mereka berdua sadar. Cinta mereka nyata, perasaan mereka tulus, tapi waktu dan keadaan tidak pernah berpihak pada mereka.
Ini adalah ujian cinta yang paling berat. Ujian di mana kamu harus mencintai seseorang dalam diam, dalam doa, dan dalam jarak yang tak terjangkau.