Selama tiga tahun, Kinara mengabdikan seluruh hidupnya hanya untuk mengejar cinta Arlan—seorang CEO dingin yang tak pernah menganggapnya ada. Bagi Arlan, Kinara hanyalah gangguan yang tidak berarti dan bayangan yang membosankan.
Hingga suatu hari, sebuah rahasia menyakitkan membuat Kinara sadar bahwa cintanya telah mati. 'Cukup, Arlan. Mulai hari ini, aku berhenti mengejarmu. Anggap saja kita tidak pernah saling mengenal.'
Kinara pergi, menghilang tanpa jejak. Namun, saat Kinara muncul kembali sebagai wanita sukses yang mandiri dan tak lagi meliriknya, Arlan justru mulai kehilangan akal. Arlan yang dulu dingin, kini justru berlutut memohon maaf di bawah hujan.
'Kenapa kau tidak menatapku lagi, Kinara? Aku mohon... kembali mengejarku.'
Sayangnya, bagi Kinara, pintu itu sudah tertutup rapat. Penyesalan Arlan hanyalah angin lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GABRIELA POSENTIA NAHAK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 : Langkah Kecil Kirana
Malam yang sunyi di mansion menyisakan rasa sesak yang tak kunjung hilang di dada Kinara.
Setelah Arlan memutuskan untuk mengungsi ke kamar tamu dan memberikan "ruang" yang ia minta, suasana rumah benar-benar terasa asing.
Tidak ada lagi suara langkah kaki yang membuntutinya ke mana pun ia pergi, tidak ada lagi aroma parfum maskulin yang tiba-tiba muncul di dekatnya, dan yang paling menyakitkan adalah tidak ada lagi suara manja Arlan yang memanggil namanya setiap lima menit.
Kinara berguling ke kiri dan ke kanan di atas ranjang besarnya yang kini terasa seluas gurun pasir.
Ia menatap langit-langit kamar dengan perasaan campur aduk.
Ia merasa bodoh.
Bukankah ini yang ia inginkan? Ketenangan? Tapi kenapa ketenangan ini justru terasa seperti hukuman mati yang dingin?
"Kenapa aku harus merasa bersalah? Dia yang salah karena terlalu manja," gumam Kinara pada dirinya sendiri, mencoba membela diri.
Namun, bayangan wajah Arlan yang pucat saat ia membentaknya terus menghantui pikirannya.
Keesokan paginya, Kinara sengaja bangun lebih awal dari biasanya.
Ia merasa perlu melakukan sesuatu untuk menghilangkan rasa tidak enak di hatinya.
Ia turun ke lantai bawah dan mendapati suasana rumah masih sangat sepi. Di dapur, ia melihat Bibi sedang menyiapkan bahan-bahan untuk sarapan.
"Bi, biar saya saja yang masak sarapan hari ini," ucap Kinara sambil mengambil celemek dari gantungan.
Bibi menoleh dengan wajah yang tampak prihatin.
"Eh? Tapi Bu... Bapak sudah berangkat sejak subuh tadi. Katanya ada pertemuan penting di luar kota dan mungkin baru kembali sore atau malam nanti."
Kinara tertegun.
Gerakannya mengambil pisau terhenti di udara.
Arlan benar-benar menghindarinya secara total.
Pria itu seolah sedang berusaha melenyapkan eksistensinya dari hadapan Kinara agar Kinara tidak merasa "tercekik" lagi.
"Bapak sarapan di kantor, Bi? Atau dia sempat makan di rumah?" tanya Kinara, mencoba terdengar biasa saja.
"Tidak, Bu. Bapak hanya membawa sebotol air putih. Wajahnya pucat sekali tadi pagi, saya sampai tidak tega melihatnya. Beliau hanya berpesan agar saya memastikan Ibu makan dengan baik," lapor Bibi dengan suara rendah.
Mendengar itu, rasa bersalah Kinara mencapai puncaknya.
Ia tahu Arlan memiliki penyakit maag yang cukup parah jika stres dan telat makan.
Ia tidak bisa membiarkan Arlan menyiksa dirinya sendiri hanya karena satu bentakan yang ia keluarkan dalam keadaan emosi.
Kinara segera menyalakan kompor.
Ia memasak sup ayam jahe favorit Arlan—masakan yang dulu selalu Arlan puji—dan menyiapkan nasi putih hangat serta beberapa lauk sederhana.
Ia mengemas semuanya ke dalam sebuah kotak bekal yang cantik.
"Aku akan ke kantor Arlan, Bi. Tolong siapkan mobil," pamit Kinara dengan tekad bulat.
Gedung Arlan Group berdiri megah di pusat bisnis kota, namun bagi Kinara, gedung itu kini terasa seperti benteng pertahanan yang sengaja dibangun Arlan untuk menjauh darinya.
Saat ia melangkah masuk ke dalam lobi yang mewah, semua mata tertuju padanya.
Beberapa karyawan berbisik-bisik, mengenali sosok Nyonya Arlan yang selama ini jarang terlihat namun belakangan menjadi pusat perhatian sang CEO.
Kinara mengabaikan tatapan itu dan langsung naik ke lantai paling atas, tempat ruangan pribadi Arlan berada.
Di depan ruangan, Maya tampak sedang duduk dengan wajah frustrasi sambil menatap setumpuk berkas yang belum ditandatangani.
"Ibu Kinara?" Maya berdiri dengan wajah lega yang luar biasa, seolah melihat malaikat penyelamat.
"Terima kasih sudah datang, Bu! Saya benar-benar bingung harus bagaimana."
"Ada apa, Maya? Arlan ada di dalam?"
"Ada, Bu. Tapi beliau tidak mau makan sejak pagi.
Bahkan pintu ruangannya dikunci dari dalam sejak pertemuan pertama selesai. Beliau bilang sedang tidak ingin diganggu siapa pun dan menolak semua tamu. Saya takut penyakit maag Bapak kambuh kalau beliau terus begini," keluh Maya dengan nada khawatir.
Kinara mengangguk pelan, mencoba menenangkan Maya meskipun jantungnya sendiri berdegup kencang.
"Biar aku yang masuk. Kau bisa istirahat sebentar, Maya."
Kinara mengetuk pintu kayu besar itu.
Tidak ada jawaban.
Ia mengetuk lagi, kali ini lebih keras dan tegas.
"Maya, sudah kukatakan jangan ganggu aku! Taruh saja semua berkas itu di meja sekretaris, aku akan memeriksanya nanti malam!" suara Arlan terdengar dari dalam.
Suaranya terdengar dingin, tajam, dan penuh kelelahan—sangat jauh berbeda dengan suara "bayi gede" yang Kinara dengar dua hari lalu.
"Ini aku, Arlan. Kinara," ucap Kinara dengan suara lembut namun memiliki otoritas.
Hening seketika menyelimuti koridor itu.
Tidak ada suara dari dalam selama beberapa detik yang terasa seperti selamanya, sampai akhirnya terdengar bunyi kunci yang diputar.
Pintu terbuka sedikit, memperlihatkan sosok Arlan yang tampak berantakan.
Dasinya sudah dilepas dan tergantung tidak beraturan di leher, kancing atas kemejanya terbuka, dan rambutnya yang biasanya rapi kini terlihat kusut karena sering disisir dengan jemari secara frustrasi.
"Kinara? Kenapa kau di sini? Apakah... apakah ada sesuatu yang tertinggal di rumah yang kau butuhkan?" tanya Arlan dengan nada formal yang sangat menjaga jarak.
Ia bahkan tidak berani menatap langsung ke mata Kinara.
Kinara tidak menjawab dengan kata-kata.
Ia justru menerobos masuk ke dalam ruangan yang beraroma kopi pekat dan sisa rokok itu—tanda bahwa Arlan sedang sangat stres.
Ia meletakkan kotak bekalnya di atas meja kerja Arlan yang penuh dengan laporan angka-angka.
"Makan," perintah Kinara singkat sambil menatap Arlan tajam.
Arlan menatap kotak bekal itu dengan bingung, seolah benda itu adalah sesuatu dari planet lain.
"Aku tidak lapar, Kinara. Kau tidak perlu repot-repot..."
"Aku tidak bertanya apakah kau lapar atau tidak, Arlan. Aku bilang makan. Aku sudah memasak ini sejak subuh, dan aku tidak mau usahaku sia-sia hanya karena egomu yang sedang terluka," Kinara menarik kursi tamu dan duduk tepat di depan meja Arlan, melipat tangannya di dada, menunjukkan bahwa ia tidak akan pergi sampai makanan itu habis.
Arlan perlahan duduk di kursi kebesarannya.
Tangannya sedikit gemetar saat membuka tutup kotak bekal itu.
Aroma sup ayam jahe yang hangat dan harum segera memenuhi ruangan yang tadinya terasa pengap.
Ia mengambil sendok dan mencicipinya sedikit.
Seketika, matanya berkaca-kaca.
Rasa masakan Kinara selalu memiliki cara unik untuk menenangkan hatinya.
"Kenapa kau melakukan ini? Bukankah kau ingin aku jauh-jauh darimu? Bukankah kehadiranku membuatmu sesak?" tanya Arlan dengan suara serak, masih menatap supnya.
Kinara menghela napas panjang.
Ia bangkit dari duduknya, berjalan memutari meja kerja besar itu, dan berdiri di samping Arlan.
Ia ragu sejenak, sebelum akhirnya meletakkan tangannya di bahu Arlan.
Ia merasakan tubuh Arlan sedikit tersentak karena sentuhan itu.
"Aku memintamu untuk tidak manja secara berlebihan, Arlan. Aku memintamu untuk menghargai pekerjaanku. Aku tidak pernah memintamu untuk berhenti mempedulikan dirimu sendiri atau menyiksa tubuhmu dengan tidak makan," ucap Kinara pelan.
"Melihatmu seperti ini justru membuatku merasa seperti penjahat."
Arlan meletakkan sendoknya, lalu tiba-tiba ia meraih tangan Kinara yang ada di bahunya.
Ia tidak menariknya dengan paksa seperti biasanya; ia hanya menempelkan pipinya di punggung tangan Kinara, mencari perlindungan dan kehangatan.
"Maafkan aku... aku hanya benar-benar tidak tahu bagaimana cara menjadi pria yang kau butuhkan. Aku takut jika aku terlalu dekat, aku akan menyakitimu lagi. Tapi jika aku jauh, aku merasa seperti akan mati," bisik Arlan dengan kejujuran yang telanjang.
Kinara merasakan hatinya bergetar hebat. Ia menggunakan tangan satunya untuk mengelus rambut Arlan dengan lembut.
"Belajarlah pelan-pelan, Arlan. Hubungan ini bukan tentang siapa yang menguasai siapa. Kita mulai dengan satu hal sederhana hari ini: habiskan makananmu, selesaikan pekerjaanmu dengan tenang, lalu pulanglah tepat waktu sore nanti. Aku akan menunggumu untuk makan malam di rumah."
Arlan mendongak, menatap Kinara dengan tatapan yang kini mulai kembali memiliki binar kehidupan.
"Kau... kau benar-benar akan menungguku? Kau tidak akan mengunci pintu kamar?"
"Iya, Bayi Gede. Tapi hanya jika kau menghabiskan sup ini sekarang juga!" Kinara sedikit mencubit pipi Arlan, membuat pria itu akhirnya menunjukkan senyum tulus pertamanya sejak badai kemarahan Kinara meledak semalam.
Sore itu, tepat pukul lima sore, seluruh karyawan Arlan Group dibuat terperangah.
Mereka melihat bos mereka—yang sejak pagi memancarkan aura maut—keluar dari ruangan dengan langkah yang ringan, bahkan bersiul pelan. Arlan menyapa Maya dengan senyuman lebar sebelum setengah berlari menuju lift pribadi.
Arlan tidak sabar untuk pulang.
Bukan untuk kembali menjadi parasit yang mencekik, tapi untuk menjadi pria yang akhirnya sadar bahwa cinta sejati bukan tentang seberapa besar kekuatan yang ia miliki untuk mengurung seseorang, melainkan tentang seberapa besar ia bisa menghargai keberadaan orang tersebut di sisinya.