NovelToon NovelToon
Trigger Between Us

Trigger Between Us

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Luo Aige

Soren Ravensdale-seorang assassin yang tak pernah gagal menjalankan misinya kini harus menerima kenyataan pahit ketika sahabat yang ia percaya-Vera, justru mengkhianatinya. Bukan hanya itu, Vera juga terlibat dalam pembunuhan adik angkatnya, Ellian Sorrel dan ternyata semua telah direncanakan atas perintah langsung dari ketua mereka sendiri.

Janji bahwa keluarga para anggota akan aman ... ternyata hanyalah kebohongan.

Dengan luka tembak di perutnya, Soren memilih mengakhiri hidupnya dengan kepercayaannya yang hancur dan terjun ke dasar jurang. Namun bukannya mati, ia justru terbangun di tubuh seorang gadis rapuh dengan wajah yang sangat mirip dengannya.

Yang kini statusnya adalah menjadi istri seorang Letnan Kolonel yang dingin dan penuh rahasia.

Dari seorang assassin menjadi seorang istri, apakah Soren benar-benar bisa berhenti dari dunia yang sudah menelan hidupnya atau justru kehidupan barunya hanya akan menyeretnya kembali ke lingkaran kejahatan yang lebih gelap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luo Aige, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana

Malam telah turun sepenuhnya di Silvercrest ketika Marquis Edmund masih berada di ruang kerjanya. Tumpukan dokumen memenuhi meja besar di hadapannya, sementara cahaya lampu meja menerangi lembar demi lembar laporan yang belum selesai ia periksa. Sebagai seorang Marquis, sebagian besar waktunya memang dihabiskan untuk urusan wilayah, pajak, perdagangan, serta berbagai laporan yang terus berdatangan tanpa henti. Ruangan itu sunyi, hanya sesekali terdengar gesekan kertas dan suara pena yang ia letakkan perlahan di atas meja.

Sampai akhirnya ketukan terdengar dari pintu.

Tok, tok, tok.

Edmund tidak langsung mengangkat kepala, matanya masih tertuju pada dokumen di tangannya. “Masuk,” ucapnya singkat.

Pintu terbuka dan seorang bawahan masuk lalu segera membungkuk hormat. “Tuan Marquis.”

Edmund akhirnya mengangkat pandangan. “Ada apa?”

“Tuan, pemimpin Ashveil sedang menunggu Anda di Restoran Silver Moon, Distrik Barat Silvercrest,” lapor bawahannya dengan nada hati-hati.

Untuk sesaat ruangan itu terasa semakin sunyi. Edmund tidak langsung menjawab. Sorot matanya berhenti pada bawahannya, tidak tajam, tetapi juga tidak bisa dibaca. Setelah beberapa detik, ia menjawab pelan, “Aku tahu.”

“Baik, Tuan,” jawab bawahan itu sebelum membungkuk lagi dan meninggalkan ruangan.

Pintu tertutup membuat keheningan kembali memenuhi ruangan.

Perlahan, kedua tangan Edmund mengepal di atas meja. Buku-buku jarinya menegang, tetapi wajahnya tetap tenang. Ia menarik napas pelan, lalu melepaskannya perlahan. Tidak ada pilihan lain.

Ia bangkit, mengambil segelas air dari meja, meneguknya sekali habis, lalu meletakkan gelas itu kembali dengan tenang. Setelah itu ia merapikan jasnya dan keluar dari ruangan tanpa berkata apa pun.

Perjalanan menuju Silver Moon tidak lama, karena masih berada di wilayah Silvercrest. Edmund duduk diam di dalam mobil, menatap keluar jendela tanpa benar-benar memperhatikan apa pun yang dilewatinya. Lampu-lampu kota memantul di kaca mobil, tetapi pikirannya tidak berada di jalanan itu.

Ketika mobil berhenti, ia turun tanpa menunggu lama. Dua pengawalnya mengikuti di belakang. Ia sudah tahu arah yang harus dituju tanpa perlu diarahkan lagi. Tempat itu selalu sama, ruang VIP paling pojok sebelah kiri di lantai dua.

Tanpa banyak bicara, Edmund masuk ke dalam restoran dan naik ke lantai dua. Koridor itu sepi, hanya suara langkah kaki mereka yang terdengar pelan. Sampai akhirnya ia berhenti di depan sebuah pintu besar. Seorang pria bertubuh kekar berjaga di sana dan segera membungkuk begitu melihatnya.

“Silakan, Tuan Marquis.” Edmund tidak menjawab. Ia langsung membuka pintu dan masuk.

Ruangan di dalamnya remang, diterangi cahaya lampu keemasan yang dibuat temaram. Hal pertama yang ia lihat adalah seorang pria dengan jas hitam rapi berdiri membelakanginya di depan jendela besar, menatap lampu kota di luar sana. Satu tangannya berada di belakang punggung, gerakannya tenang, seolah sudah tahu Edmund akan datang.

Melihat sosok itu, Edmund menundukkan kepala sedikit sebagai tanda hormat. “Tuan .…”

Pria itu tersenyum tipis di balik topeng yang menutupi sebagian wajahnya. “Berdirilah.”

“Terima kasih, Tuan,” jawab Edmund pelan sambil kembali menegakkan tubuhnya.

Pria itu tidak langsung berbalik. Suaranya terdengar tenang ketika ia bertanya, “Kau tahu kenapa aku memanggilmu kemari?”

Edmund tidak menjawab.

Beberapa detik selanjutnya pria itu berbalik perlahan sambil membawa segelas wiski di tangannya. Sorot matanya yang terlihat dari balik topeng langsung tertuju tajam ke arah Edmund.

“Sa-saya tidak tahu,” jawab Edmund akhirnya.

“Hm?” Lelaki itu mengeluarkan suara pelan seperti terkejut, padahal jelas tidak. “Tidak tahu?” Ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan dengan nada lebih pelan, “Tapi sepertinya kau cukup tahu.”

Kalimat itu membuat tubuh Edmund menegang. Tanpa banyak berpikir, ia langsung berlutut. “Maafkan saya.”

Sang pria menatapnya lama sebelum akhirnya berkata, “Marquis … apakah kau lupa dengan rencana awal? Aku sedikit terkejut dengan keberanian putri harammu. Menurutmu, apakah dia masih berguna dalam rencana ini?”

Edmund tetap menunduk. “Katakan, iya atau tidak?”

“Iya atau tidak?” ulangnya dengan nada menekan.

“Ti-tidak …,” jawab Edmund pelan.

“Lebih jelas.”

“Tidak.”

“Iya atau tidak?”

“TIDAK!” seru Edmund dengan suara yang meninggi sesaat, lalu langsung kembali tertahan.

Lelaki di depannya menyesap wiski pelan, lalu bertanya lagi, “Kenapa tidak mengambil tindakan?”

“Saya salah,” jawab Edmund cepat.

“Aku tidak butuh pengakuan,” balasnya datar.

Edmund menarik napas pelan. “Saya tidak bisa mempertahankan wanita itu lagi. Tapi saya sudah menempatkan orang untuk mengawasi Aveline. Kita bisa memanfaatkannya untuk mendapatkan informasi tentang William.”

Mendengar penjelasan dari Edmund, alisnya seketika terangkat sedikit. “Mata-mata?”

“Iya, Tuan,” jawab Edmund cepat.

Namun sebelum ia melanjutkan, gelas wiski di tangan pria itu tiba-tiba saja melayang dan pecah di lantai, nyaris mengenai Edmund. Suara pecahnya tajam memenuhi ruangan. Edmund refleks tersentak dan mundur sedikit.

“Jadi kau hanya mengandalkan pelayanmu yang tidak berguna itu?” tanyanya, dingin. “Kau pikir aku tidak tahu apa yang terjadi di luar sana? Kau bilang tidak ingin terikat pada selirmu, tapi sebenarnya kau hanya takut dengan perubahan anak harammu itu.”

Kata-kata itu membuat wajah Edmund menegang. Ia tidak bisa membantah.

Netranya semakin menatap Edmund tajam. “Jangan lupa posisimu, Marquis. Kau masih hidup karena aku menyimpan bukti transaksi pajak yang kau selewengkan.”

Edmund menunduk lebih dalam. “Berikan saya satu kesempatan lagi.”

Lelaki bertopeng itu hanya melirik malas. Lalu dengan suara rendah yang dingin ia berkata, “Kalau kau tidak bisa mengendalikan putrimu … bunuh dia.”

Ucapannya membuat Edmund kembali terdiam. Ia tidak tahu harus berkata apa. Namun hal itu sama sekali belum pernah ia lakukan. Membunuh putri bungsunya? Bahkan, sejak awal dia tidak pernah memikirkan hal itu sama sekali. Atas dasar apa ia harus membunuhnya?

“Kalau tidak salah, minggu depan adalah acara berburu. Wanita bangsawan dari istri perwira manapun akan diundang. Manfaatkan kesempatan itu untuk membunuhnya. Semakin kita menyingkirkannya, maka akan lebih baik.”

“Tetapi sepertinya ... aku memiliki rencana lain yang sedikit menarik.”

~oo0oo~

Liora menatap Marielle yang masih tertidur dengan rasa khawatir yang tidak bisa ia sembunyikan. Tubuh wanita itu masih terbaring di ranjang kamar tamu, tidak menunjukkan tanda-tanda kesadaran sejak sore tadi. Liora duduk di tepi ranjang, sementara Aveline justru bergerak perlahan mengamati setiap sudut ruangan. Ini pertama kalinya ia benar-benar masuk ke kamar itu sejak ia mulai menggunakan tubuh ini, dan semuanya terasa asing meskipun secara teknis tempat ini adalah bagian dari rumahnya sendiri.

“Nona … apa Anda yakin Nyonya akan baik-baik saja? Sejak terakhir Anda memukulnya sampai menjelang malam, beliau sama sekali belum sadar,” ucap Liora pelan, suaranya jelas menahan cemas. Ia menatap Marielle sesekali, seolah takut melihat sesuatu yang lebih buruk terjadi.

Aveline berhenti sejenak, lalu menoleh sekilas ke arah ranjang. “Ya … kau benar. Sepertinya aku terlalu keras memukulnya,” jawabnya datar, tanpa banyak emosi.

Jawaban itu justru membuat wajah Liora semakin pucat. ‘Sepertinya …?’ batinnya gemetar. Itu bukan ‘sepertinya’. Wanita itu bisa saja benar-benar tidak bernyawa sekarang.

Liora menepuk pelipisnya pelan beberapa kali, mencoba menenangkan pikirannya sendiri agar tidak membayangkan hal terburuk. Di sisi lain, Aveline hanya memperhatikan reaksinya dengan sudut bibir yang sedikit terangkat, hampir seperti senyum kecil yang sulit dibaca. “Tenang saja, dia tidak akan mati. Lebih baik sekarang kita pergi.”

Mendengar itu, Liora segera mengangguk dan mengikuti langkah Aveline keluar dari kamar. Mereka tidak kembali ke kamar masing-masing, melainkan langsung menuju dapur utama.

Di dapur, beberapa pelayan sudah berada di sana. Greta berdiri di dekat meja kerja dapur dengan ekspresi tenang seperti biasa, Sabine sibuk merapikan peralatan makan, sementara Marta sesekali melirik ke arah pintu. Di sisi lain, Ines sudah berdiri dengan pakaian kepala pelayan lengkap, rapi dari ujung kepala sampai kaki, tetapi wajahnya sama sekali tidak menunjukkan kepuasan atau ketenangan. Ia jelas tidak senang dengan situasi yang membuatnya kembali ke posisi seperti ini.

Aveline masuk tanpa banyak bicara, lalu menarik kursi dan duduk di depan meja makan yang sudah dipenuhi berbagai hidangan. Matanya bergerak cepat menilai semua makanan itu, tetapi tidak satu pun membuatnya terlihat tertarik.

“Ines,” panggil Aveline dengan tenang, tetapi cukup untuk membuat seluruh pelayan di ruangan itu sedikit menegang.

Ines yang sejak tadi berdiri dengan ekspresi kaku langsung menoleh. Untuk sesaat ia tampak ragu, namun kemudian terkejut saat namanya disebut.

“Ya, Nona?” balas Ines akhirnya, nada suaranya formal tapi jelas terasa ada penolakan halus di dalamnya.

Aveline mengalihkan pandangannya ke arah Ines. “Buatkan aku steak.”

Kalimat itu membuat Ines langsung mengerutkan kening. “Itu bukan tugas saya,” jawabnya cepat, tanpa mencoba menyembunyikan keberatannya.

Aveline bersandar sedikit di kursinya, menatap Ines dengan tenang. “Kau benar-benar masih menganggap posisimu di sini istimewa, ya?”

Kalimat itu langsung mengenai titik sensitifnya. Wajah Ines sedikit menegang, tetapi ia tidak langsung menjawab. Di sudut ruangan, Marta dan Greta saling melirik. Bahkan Sabine terlihat berhenti sejenak dari pekerjaannya, memperhatikan arah percakapan itu dengan waspada.

Karena merasa tidak punya pilihan, Ines akhirnya menarik napas pendek lalu berbalik menuju area memasak. Dengan gerakan kaku ia mulai mememasak hidangan baru itu, sambil sesekali bergumam pelan seolah menahan kekesalan.

Beberapa saat kemudian, hidangan baru itu selesai dan disajikan di depan Aveline. Ines meletakkannya dengan sedikit tarikan napas lega, seolah berharap ini akan menjadi akhir dari semuanya.

Namun Aveline hanya mengambil satu potong kecil, lalu mencicipinya tanpa ekspresi.

“Terlalu hambar. Masak ulang,” ucapnya datar.

Mata Ines langsung terbuka sedikit lebar, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Di sisi lain, beberapa pelayan lain mulai menahan tawa, meskipun hanya berupa senyum kecil yang sulit disembunyikan.

Ines menarik napas dalam-dalam, lalu mengambil piring itu kembali dengan gerakan kaku. Ia kembali ke dapur, memasak ulang dengan lebih hati-hati, meskipun jelas mulai kehilangan kesabarannya.

Tidak lama kemudian, ia kembali membawa hidangan baru.

“Terlalu asin,” ucap Aveline setelah mencicipi sedikit.

Greta dan Marta kali ini benar-benar hampir tertawa, hanya saja mereka menundukkan kepala untuk menahannya.

“Nona—” Suara Ines meninggi sedikit.

“Buat ulang,” potong Aveline tanpa menoleh.

Ines menggigit bagian dalam pipinya, lalu kembali lagi ke dapur.

Proses itu terus berulang. Setiap kali ia kembali, selalu ada komentar yang sama sekali tidak menyenangkan.

“Kurang matang.”

“Terlalu matang.”

“Aku tidak suka gosong.”

“Terlalu banyak lada.”

Di sudut ruangan, Liora sudah menutup mulutnya dengan kedua tangan, pipinya memerah karena berusaha keras menahan tawa. Bahunya bergetar pelan, tetapi ia tidak berani bersuara.

Pada hidangan terakhir, Ines akhirnya tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya meletakkan piring itu dengan gerakan sedikit kasar, lalu melepas apron kepala pelayannya tanpa sepatah kata pun, seolah sudah menyerah pada situasi tersebut.

Aveline mengambil satu potong, lalu memakannya dengan tenang. Kali ini tidak ada komentar langsung darinya. Ia hanya terus mengunyah sambil menatap hidangan itu.

Ines memperhatikan dengan tegang, menunggu reaksi apa pun. Namun ruangan tetap hening. Aveline sama sekali tidak mengatakan apa-apa.

Melihat itu, Ines perlahan menghela napas lega, meskipun tubuhnya masih terlihat tegang.

Tiba-tiba, pintu ruang makan terbuka membuat semua orang langsung menoleh. Ralf berdiri di pintu, membukanya untuk William yang baru masuk dengan seragam militer lengkap. Pria itu melangkah masuk dengan tenang, matanya langsung bergerak mengamati ruangan, mulai dari meja makan yang penuh hidangan, hingga sosok Aveline yang masih duduk sambil menyantap makanannya.

William berhenti sejenak, tatapannya jatuh pada Aveline. “Kau masih makan selarut ini?”

Aveline tidak langsung menoleh. Ia tetap memotong makanannya dengan tenang sebelum akhirnya berbalik tanya tanpa emosi. “Kau pulang?”

Ia baru mengangkat pandangan sedikit, lalu melanjutkan dengan nada yang sama datarnya. “Kupikir malam ini kau akan menginap di rumah wanita itu.”

.

.

.

Bersambung

1
Dede Dedeh
lanjuttttttt
Norris Yuniarty
seru2 thor semangat episode selanjut y💪💪💪
Eka Putri Handayani
sedikit bingung tapi jika dibaca secara lebih cermat lagi aku udah mulai paham😄
Saelyn: Aku mikirnya pun kadang bingung nulisnya🤣
total 1 replies
Norris Yuniarty
seru sekali😍😍😍
Norris Yuniarty
mulai cemburu nich🤭🤭🤭
Norris Yuniarty
seru thor😍😍😍
Norris Yuniarty
semangat thor💪💪💪
Norris Yuniarty
seru thor😍😍😍
Norris Yuniarty
seru sekali thor😍😍😍
Norris Yuniarty
semangat thor💪💪💪
Norris Yuniarty
seru thor!!! 😍😍😍
Norris Yuniarty
seru2 let's go💪💪💪
Norris Yuniarty
seru2 cerita y😍😍😍
Norris Yuniarty
seru cerita y😍😍😍
Saelyn: Mksh😺
total 1 replies
Dede Dedeh
lanjut.......
Dede Dedeh
aku suka karakter cewek yg kuat....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!