NovelToon NovelToon
All About Love (Love Story)

All About Love (Love Story)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Cinta Terlarang / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: wanudya dahayu

Dari: Renata]
_Malam, Pak. Ini CV calon asisten pengganti saya. Anaknya pinter, cekatan, dan bisa langsung mulai Senin depan. Namanya Harumi Nara. Saya jamin, Bapak nggak akan kecewa.

Devan mengangkat satu alisnya, merasa tidak asing dengan nama yang disebutkan oleh Renata. Tanpa ekspektasi apa pun, ia mengklik lampiran file dan kembali memindahkan pandangannya ke layar laptop.

Detik berikutnya, napasnya tercekat.

Matanya terbelalak, menatap foto 3x4 di pojok kanan CV itu. Jantungnya yang lima tahun ini berdetak datar seperti mesin yang teratur ritmenya, tiba-tiba bergejolak hebat menghantam sampai tulang rusuknya keras-keras.

Tangannya mengepal di atas meja, buku-buku jarinya memutih. Dia mengerjap, sekali, dua kali, mencoba meyakinkan bahwa matanya tidak salah lihat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wanudya dahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

you're mine 1

"Apa aku mengganggumu, Sayang?" tanya seorang perempuan muda yang bernama Sandra kepada tunangannya, Devan, yang tidak menyadari keberadaannya.

"Oh, kamu rupanya. Maaf tidak mendengar kamu datang. Aku sedang sangat sibuk saat ini, kerjaan kacau semua karena Renata tiba-tiba mengajukan cuti," jelasnya lesu.

"Kasihan sekali tunanganku ini. Apa kamu perlu bantuanku? Mungkin aku bisa mencarikanmu asisten baru," ucap Sandra sembari mendekat ke arah Devan.

"Atau... bagaimana kalau aku saja yang menggantikan Renata?" Sandra memiringkan kepala, senyumnya dibuat semanis mungkin. "Ide bagus, kan? Jadi aku bisa punya banyak waktu untuk menemanimu yang supeeer sibuk ini," ucapnya dengan nada manja, sengaja memanjangkan kata 'super'.

Devan terkekeh pelan mendengar ucapan tunangannya itu. Matanya masih fokus ke layar laptop, tapi sudut bibirnya terangkat. "Aku akan senang sekali," katanya tanpa menoleh. "Tapi aku khawatir nggak akan sanggup menggajimu. Seorang model terkenal sepertimu... gajiku sebulan mungkin cuma setara sekali kamu melakukan pemotretan," guraunya, nada bicaranya setengah lelah setengah bercanda.

Sandra mengerucutkan bibir. Ia melangkah mendekat, lalu duduk di ujung meja Devan sampai beberapa kertas berantakan. "Aku cuma mau dekat sama kamu, Devan. Kamu tuh kebangetan sibuknya," keluhnya. Jarinya mengetuk-ngetuk meja pelan. "Aku aja kerjaan numpuk jadi model, tapi selalu aku luangin waktu buat kamu. Kenapa kamu nggak bisa gitu? Kerja... kerja... kerja terus."

Devan akhirnya mendongak. Ditatapnya wajah merajuk Sandra, lalu hanya dibalas dengan senyum tipis yang lelah. Tangannya masih mengetik.

"Kamu nggak perlu sejauh itu," jawab Devan akhirnya. "Lagipula kamu kan udah biasa dilayani. Mana bisa tiba-tiba jadi asistenku yang harus dikejar-kejar deadline setiap hari."

"Iya... iya, aku tahu," sahut Sandra, nada suaranya berubah kesal. Ia menyilangkan tangan di dada.

"Tenang saja," Devan menghela napas, menyandarkan punggung ke kursi. "Renata sudah mengabariku tadi. Katanya dia akan mengirim penggantinya nanti."

"Siapa?" Sandra langsung menegakkan badan, alisnya terangkat penasaran.

"Entahlah." Devan mengedikkan bahu. "Katanya baru lulus kuliah dan baru pulang dari Jepang. Renata mengatakan kalau dia itu orangnya bisa diandalkan," jelasnya datar.

Sandra menyipitkan mata. "Perempuan?" cecarnya. "Cantik?"

Devan menggosok tengkuknya, senyumnya berubah kecut. "Mana kutahu, San. Aku bahkan belum ketemu orangnya."

"Janji kamu tidak akan menyukai asisten barumu nanti, oke!" ucap Sandra lagi, telunjuknya menunjuk dada Devan.

"Kamu terlalu berpikir berlebihan. Ayolah, aku bahkan belum melihat orangnya," jelas Devan untuk kesekian kalinya. Suaranya mulai kelihatan tidak senang.

"Tapi dia perempuan, kan?" Sandra masih ngeyel, matanya menatap Devan lekat.

Devan akhirnya menutup laptop dengan suara sedikit keras. "Renata juga perempuan. Kenapa kamu tidak pernah mempermasalahkan dia?" tanyanya, nada kesal mulai terdengar jelas.

"Renata beda, Devan," jawab Sandra cepat. "Aku sudah mengenalnya, dan aku tahu dia bukan tipemu. Satu lagi, Renata sudah menikah." Nada suaranya naik setengah oktaf.

"Jangan berlebihan, San. Kita juga sudah bertunangan hampir satu tahun. Tidak ada alasan bagimu untuk meragukanku," Devan menekankan di setiap kata, rahangnya mulai mengeras.

Mendengar itu, Sandra justru melunak. Ia melangkah mendekat dan memeluk Devan dari samping, dagunya diletakkan di bahu lelaki itu. "Justru karena itu, Devan," bisiknya pelan. "Kita sudah lama bertunangan, tapi kamu bahkan belum pernah membahas pernikahan. Orang tuaku sudah mulai mendesak. Mereka ingin kita segera menentukan tanggal."

Devan mendesah panjang. Pelukan Sandra terasa hambar di tubuhnya. Sejatinya, hatinya tidak pernah yakin dengan pertunangan ini.

Sudah satu tahun dia menjalani sandiwara ini—sandiwara perjodohan yang diatur kedua orang tua mereka. Dia menerima Sandra bukan karena cinta, tapi karena ibunya. Waktu itu ibunya sakit dan tidak mau berobat jika Devan tidak menuruti keinginannya, "Cobalah buka hati untuk Sandra, Nak. Ibu ingin segera menimang cucu seperti orang tua pada umumnya, Ibu tidak akan begini jika kamu sedikit saja mau meluangkan waktu selain mengurusi pekerjaanmu itu,"

Bagaimana Devan bisa menolak? Dia anak laki-laki pertama yang digadang-gadang akan selalu menjadi panutan di keluarga ini. Jadi dia mengangguk saja, memasang cincin di jari Sandra, dan menjalani hari-harinya seperti aktor yang lupa dengan naskahnya.

Sebab hatinya sudah mati sejak lima tahun lalu.

Lima tahun lalu, seseorang telah mencuri hatinya, dialah gadis dengan tawa paling renyah yang pernah dia temui, seorang yang pernah membuat hidupnya terasa berwarna, namun tiba-tiba gadis itu pergi dari hidupnya. Tanpa penjelasan, tanpa perpisahan, hanya sebuah pesan singkat: _Maafkan aku, Kak Devan. Aku harus pergi._ Setelah itu, nomornya tidak aktif, media sosialnya hilang, seolah gadis itu tidak pernah ada, dan meninggalkan banyak pertanyaan yang sampai sekarang tidak ada jawabnya.

Sejak hari itu, Devan mengubur dirinya dalam pekerjaan. Siang malam di kantor, rapat ke luar negeri, berbisnis tanpa henti. Dalam lima tahun, nama Devan Ardiansyah melesat jadi salah satu pengusaha muda paling diperhitungkan. Dingin, tak tersentuh, tidak pernah terlihat dengan wanita mana pun. Banyak konglomerat dan kalangan elit yang mencoba menyodorkan putri mereka, tapi semua gagal.

Sampai ibunya sakit dan menyebut nama Sandra—putri sahabatnya sejak SMA.

Devan tahu Sandra mencintainya. Tulus. Tapi dia tidak bisa membalas dengan kadar yang sama. Yang bisa dia berikan hanya kesetiaan semu, tanggung jawab sebagai tunangan.

Dan sekarang, Sandra memeluknya, menuntut kepastian yang tidak pernah bisa dia berikan. Sementara di kepalanya, justru terbayang tawa renyah dari lima tahun lalu, meski hatinya sakit tapi dia tetap mengingatnya, entah itu rindu, benci, atau hanya sakit hati karena ditinggalkan, Devan tidak tahu, Dia hanya selalu mengingat gadis itu.

Devan memejamkan mata. _Kalau dia kembali sekarang... apa aku masih boleh berharap?_

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!