Seorang wanita zaman kuno yang mati akibat di bunuh oleh kekasihnya saat ia sedang membuat pil naga suci untuk menjadi abadi.
Tapi ia malah berpindah ke tubuh seorang wanita modern, seorang istri lemah, yang setiap hari di siksa oleh suaminya seorang pemabuk, KDRT dan seorang penjudi.
Yang lebih membingungkan, ia malah sudah memiliki seorang gadis kecil cantik berusia 6 tahun.
"Dasar suami sampah! Ini saatnya aku membalas suami brengksek itu karena sudah menyakiti pemilik tubuh asli ini!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30
Mobil mewah yang membawa Ghaizka dan Alger pun akhirnya berhenti di depan sebuah gerbang besi besar yang sangat megah dan tinggi.
Di dalamnya ada sebuah rumah mewah modern yang luasnya seluas taman kota.
"Ini rumah Tuan Alger?" gumam Ghaizka takjub melihat kemegahan tempat itu.
Di zamannya, rumah mewah seperti ini hanya di tempati oleh Raja, tapi ia melihat beberapa rumah mewah seperti. Berapa banyak raja di kota ini?
"Ini kediaman keluarga kami, Nona Ghaizka. Silakan masuk, Kakek pasti sudah menunggu," jawab Alger dengan sopan
Mereka berjalan masuk melewati taman yang sangat terawat dan indah.
Semua pelayan dan staf yang lewat langsung membungkuk hormat melihat tuannya datang bersama seorang wanita cantik.
"Selamat datang Tuan dan Nona..." ucap mereka pelan.
Sesampainya di dalam kamar utama yang sangat luas...
Di atas ranjang, seorang kakek tua yang tubuhnya sudah sangat lemah.
Wajahnya keriput, matanya tertutup lemas, dan napasnya terdengar berat dan sesak. Itu adalah Kakek Faris.
"Kek... Kakek... lihat siapa yang datang," panggil Alger lembut sambil mendekati ranjang.
"Ini Nona Ghaizka, tabib hebat yang akan menyembuhkan Kakek," kata Alger tersenyum penuh harap jika kakeknya bisa di sembuhkan
Kakek Faris perlahan membuka matanya yang sudah kabur. Ia mencoba tersenyum melihat Ghaizka.
"Ah... ada Nona cantik... Terima kasih sudah mau datang Nak..." katanya dengan suara lemah.
Ghaizka langsung beralih mode profesional. Ia tidak lagi peduli pada kemewahan sekitar, fokusnya hanya satu: menyembuhkan pasien.
"Silakan Kakek, jangan banyak bicara dulu. Biarkan saya periksa," kata Ghaizka lembut.
Ia duduk di tepi ranjang, lalu dengan hati-hati memegang pergelangan tangan tua itu untuk meraba nadi. Matanya terpejam konsentrasi penuh.
Alger berdiri tidak jauh dari sana, menatap Ghaizka dengan perasaan campur aduk.
Ia melihat bagaimana wanita itu begitu serius, teliti, saat menangani pasiennya.
"Betapa cantiknya dia saat bekerja..." batin Alger lagi-lagi terpesona.
Beberapa menit kemudian...
Ghaizka membuka matanya dan menghela napas panjang.
"Bagaimana Nona? Apa penyakit Kakek saya masih bisa disembuhkan?" tanya Alger cepat, suaranya penuh harap dan cemas.
Ghaizka menatap Alger.
"Kakek tidak sakit penyakit berbahaya sebenarnya, Tuan. Beliau hanya mengalami penuaan alami, energi dalam tubuhnya sudah sangat habis, organ-organ kerjanya melambat, dan sirkulasi darahnya tidak lancar karena usia," katanya dengan serius.
"Tubuh beliau lemah karena kurang asupan nutrisi yang bisa diserap tubuh, dan paru-parunya juga lembap sehingga membuat sesak napas," jelas Ghaizka lagi.
Alger mengangguk-angguk pahat. "Benar sekali Nona! Dokter bilang organ beliau sudah menua dan tidak banyak yang bisa dilakukan selain menunggu waktu. Tapi..."
"Tapi saya bisa mengembalikan kebugarannya," potong Ghaizka.
"Saya tidak bisa menghentikan waktu, tapi saya bisa memperbaiki kualitas hidupnya. Dengan ramuan khusus saya, saya bisa menghangatkan tubuhnya, melancarkan darah, dan mengisi kembali energinya yang kosong," kata Ghaizka mantap.
Mata Alger berbinar-binar!
"Benarkah Nona?! Kakek saya bisa kuat lagi dan bisa makan enak?!" serunya senang.
"Tentu saja. Siapkan air panas, saya akan racik obatnya sekarang juga. Dalam waktu beberapa menit, Kakek akan terasa jauh lebih ringan dan segar. Baiklah, saya akan mulai pengobatannya sekarang," kata Ghaizka ingin memulainya.
Ia segera mengeluarkan peralatan lengkapnya dari tas kulit.
Ia mengeluarkan sebuah kotak berisi jarum-jarum yang halus dan tajam, serta beberapa bungkusan daun dan rumput kering yang beraroma khas.
"Tuan Alger, tolong siapkan baskom berisi air hangat untuk membersihkan area penyuntikan," perintah Ghaizka.
"Siap Nona! Segera!" jawab Alger sigap, ia sendiri yang mengambilkan dan membantunya dengan sangat antusias.
Ghaizka pun mulai bekerja.
Dengan tangan yang sangat cekatan, ia mulai menusukkan jarum-jarum akupuntur itu ke titik-titik tertentu di tubuh Kakek Faris.
Tus... tus... tus...
Satu per satu jarum itu tertancap rapi di bagian kepala, bahu, lengan, hingga kaki sang kakek.
Total ada lebih dari 8 puluh jarum yang terpasang, namun Kakek Faris justru tidak merasakan sakit sama sekali. Yang ia rasakan hanyalah rasa hangat.
"Wah... aneh sekali... Padahal ditusuk jarum, tapi rasanya malah enak dan rileks sekali. Badanku terasa lebih ringan," gumam Kakek Faris pelan.
"Itu artinya energi mulai mengalir lagi, Kek. Sabar sebentar ya," jawab Ghaizka tersenyum tipis. "
Setelah jarum terpasang semua, Ghaizka mengambil ramuan herbal yang ia buat tadi.
Ramuan itu terbuat dari ekstrak Rumput Darah Merah, Akar ilalang Liar, dan Daun Pegagan Hutan yang sudah ia haluskan dan rebus dengan takaran pas.
Warnanya hijau kecokelatan dan baunya sangat harum khas alam.
"Silakan Kakek, minum ramuan ini habiskan," ajak Ghaizka membantu menopang kepala kakek itu.
Kakek Faris meminumnya dengan cepat. Rasanya sedikit pahit namun langsung terasa manis di tenggorokan dan hangat di perut.
"Enak... hangatnya langsung nyampe ke ulu hati!" seru Kakek senang.
Tidak butuh waktu lama...
Dampak dari kombinasi jarum akupuntur dan ramuan rumput sakti itu langsung terasa!