Mereka membunuhnya perlahan.
Meracuni hidupnya, mencuri kasih sayangnya, lalu menguburnya sebagai putri yang tak diinginkan.
Ketika tubuhnya membuka mata, jiwa dari dunia modern terbangun di dalam tubuh Arcelia Vareinne putri keluarga duke yang mati secara misterius sebelum hari pernikahannya.
Semua orang menganggap Arcelia lemah.
Ayahnya mengabaikannya.
Ibu tirinya memanipulasinya.
Saudara tirinya merebut seluruh hidupnya sedikit demi sedikit.
Namun kali ini berbeda.
Sebuah sistem misterius muncul, memberinya kesempatan kedua:
mengungkap pengkhianatan, menghancurkan musuh-musuhnya, dan merebut kembali semua yang telah dirampas darinya.
Di tengah permainan politik kerajaan, rahasia keluarga bangsawan, dan konspirasi perebutan tahta, Arcelia perlahan berubah menjadi wanita yang ditakuti seluruh kerajaan.
Tetapi semakin dekat ia pada balas dendam, semakin dekat pula dirinya dengan pria paling berbahaya di kerajaan Pangeran Kael Draven. pangeran dingin yang dijuluki monster peran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DRR_LOVE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Undangan Istana
Malam pertama di ibu kota berlalu dengan tenang. Setidaknya di permukaan.
Di dalam kediaman keluarga Vareinne, para pelayan masih sibuk menata kamar, menyusun barang bawaan, dan mempersiapkan segala kebutuhan untuk menghadiri Festival Musim Semi yang akan dibuka dua hari lagi.
Namun di balik ketenangan itu, Arcelia merasakan sesuatu. Sebuah perubahan, sejak memasuki ibu kota, ia merasa seolah sedang berdiri di tengah arus sungai yang besar.
Meskipun tidak terlihat, namun perlahan menariknya menuju ke suatu tempat. Perasaan itu sulit dijelaskan dan ia tidak menyukainya.
Keesokan paginya, Arcelia memutuskan menikmati sarapan di taman belakang kediaman.
Udara musim semi terasa sejuk, burung-burung kecil hinggap di cabang pohon yang dipenuhi bunga. Suasana damai seperti ini jarang ditemukan di pusat kekaisaran.
Auriel sedang sibuk mengejar kupu-kupu yang tentu saja gagal ditangkapnya.
"Kau penjaga suci." kata Arcelia sambil menyeruput teh.
"Aku juga seekor rubah." jawab Auriel tanpa merasa malu.
"Itu tidak menjelaskan apa pun."
"Itu menjelaskan segalanya."
Arcelia menggeleng pelan. Terkadang ia merasa Auriel sengaja lahir untuk menguji kesabarannya.
Saat itulah langkah kaki tergesa-gesa terdengar mendekat. Lilian muncul dengan wajah sedikit tegang. "Nona."
"Ada apa?"
"Surat."
Arcelia mengangkat alis, beberapa hari terakhir ia menerima cukup banyak surat. Namun ekspresi Lilian kali ini berbed terlihat jauh lebih serius.
Lilian menyerahkan sebuah amplop putih yang dihiasi segel emas. Begitu melihat lambangnya, bahkan Arcelia sedikit terkejut. Seekor burung phoenix bersayap terbentang.
Lambang keluarga kekaisaran.
Untuk sesaat, taman menjadi sunyi bahkan Auriel menghentikan aktivitasnya.
"Oho." gumam rubah itu. "Itu menarik."
Arcelia membuka surat tersebut perlahan, tulisan tangan yang rapi terlihat di atas kertas berkualitas tinggi.
Ia membaca isinya dengan tenang, lalu sekali lagi. Dan untuk pertama kalinya pagi itu ekspresinya berubah sedikit.
"Nona?" tanya Lilian hati-hati.
"Undangan."
"Undangan dari istana?"
Arcelia mengangguk. "Jamuan pembukaan Festival Musim Semi."
Lilian langsung menutup mulutnya.
Meskipun semua bangsawan besar memang akan menghadiri festival, tidak semua orang menerima undangan pribadi dari istana. Ada perbedaan besar antara menghadiri acara umum dan menerima undangan resmi.
Auriel melompat ke atas meja. "Apakah ini normal?"
"Tidak." jawab Arcelia jujur.
Karena memang tidak normal, dalam kehidupan sebelumnya Arcelia yang asli, hal seperti ini tidak pernah terjadi. Bahkan namanya nyaris tidak diperhitungkan.
Sekarang? Istana mulai memperhatikannya. Dan itu berarti orang lain juga akan memperhatikannya.
Tak lama kemudian, berita mengenai undangan itu sampai ke telinga anggota keluarga lainnya.
Duke Cedric datang lebih dulu, kemudian Marquise Elena lalu Lunaria. Mereka berkumpul di ruang tamu utama. Untuk beberapa saat hanya suara kertas yang terdengar saat Duke Cedric membaca ulang surat tersebut.
Ekspresinya sulit ditebak, namun Arcelia bisa melihat secercah kebanggaan di matanya.
"Ini kesempatan yang baik." kata Duke itu akhirnya.
Marquise Elena tersenyum tipis, senyum yang tampak sempurna di luar namun matanya tidak ikut tersenyum.
"Itu tentu kabar menggembirakan." katanya. "Tidak semua orang mendapatkan perhatian seperti itu."
Arcelia menangkap nada tersembunyi dalam kalimat tersebut. Marquise Elena sedang berusaha terdengar ramah. Tetapi rasa tidak sukanya masih terlihat.
Di sisi lain, Lunaria tampak jauh lebih jujur. Ekspresinya memperlihatkan keterkejutan yang nyata. "Kakak mendapat undangan langsung dari istana?" tanyanya.
"Sepertinya begitu." jawab Arcelia.
Lunaria terdiam. Dalam benaknya, Arcelia masih terasa seperti teka-teki.
Semakin lama ia mengenal kakaknya itu, semakin berbeda kenyataan dengan apa yang selama ini dipercayainya.
Duke Cedric melipat surat tersebut. "Lakukan persiapan terbaik." Ia menatap Arcelia. "Festival kali ini mungkin menjadi titik penting."
Arcelia mengangguk pelan, ia juga memiliki firasat yang sama.
Siang harinya.
Arcelia menerima tamu yang tidak diundang. Atau lebih tepatnya tamu yang datang tanpa memberi kesempatan untuk menolak.
"Arcelia!" Serena masuk ke ruang tamu seperti badai musim semi.
Di belakangnya berjalan Noah dengan ekspresi pasrah.
"Aku baru mendengar kabarnya." kata Serena sambil duduk di sofa tanpa menunggu izin.
"Berita menyebar cepat." jawab Arcelia.
"Itu karena ini menarik." Noah mengambil tempat duduk di seberang mereka. "Sebagian besar bangsawan muda sedang membicarakannya."
Arcelia menghela napas kecil. "Itu bukan kabar baik."
"Itu tergantung." kata Noah.
"Mereka penasaran."
"Itu juga bukan kabar baik." Serena tertawa.
"Kau benar-benar tidak suka perhatian."
"Aku menyukai ketenangan."
"Itu karena kau belum mencoba menjadi terkenal."
"Aku tidak berniat mencobanya."
Noah menahan senyum. Semakin lama ia mengamati Arcelia, semakin ia memahami alasan Serena tertarik berteman dengannya.
Gadis ini berbeda. Sebagian besar bangsawan muda akan merasa bangga mendapat perhatian istana. Arcelia justru terlihat seperti seseorang yang baru saja menerima pekerjaan tambahan. Dan entah kenapa, itu cukup menyegarkan.
"Aku punya kabar lain." kata Noah tiba-tiba.
Serena langsung menoleh. "Apa?"
Noah menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Putra Mahkota akan menghadiri jamuan pembukaan."
Ruangan mendadak sunyi, Arcelia hanya berkedip namun Serena langsung memutar mata. "Itu bukan kabar."
"Tentu itu kabar."
"Dia selalu menghadiri jamuan pembukaan." kata Serena
"Itu benar." jawab Noah pasrah
Serena mengangguk puas. "Aku menang."
"Itu bukan kompetisi."
"Itu tetap terasa seperti kemenangan."
Arcelia mulai memahami bahwa berdebat dengan Serena hanya akan membuat percakapan semakin panjang.
Namun setelah percakapan berakhir dan tamu-tamunya pulang, satu kalimat Noah tetap teringat di benaknya.
Putra Mahkota akan hadir. Putra Mahkota Elias Astrael nama itu tidak asing. Bagaimanapun juga, ia adalah pewaris takhta kekaisaran. Dalam kehidupan Arcelia yang asli, mereka hampir tidak pernah berinteraksi karena dunia mereka terlalu berbeda.
Namun sekarang jalur mereka perlahan mulai mendekat. Arcelia berdiri di dekat jendela kamarnya saat senja mulai turun. Dari kejauhan, siluet istana terlihat di atas bukit.
Megah. Jauh. Dan penuh rahasia.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Auriel.
"Tak banyak."
"Itu bohong."
Arcelia tersenyum tipis. Mungkin memang bohong karena untuk pertama kalinya sejak tiba di ibu kota, ia mulai bertanya-tanya.
Seperti apa sebenarnya Putra Mahkota Astrael? Apakah ia benar-benar setenang dan sebijaksana yang digambarkan rumor? Ataukah semua itu hanya topeng politik seperti kebanyakan bangsawan?
Auriel memperhatikan ekspresinya. Kemudian menyeringai. "Oho."
"Apa?"
"Kau penasaran."
"Tidak."
"Kau penasaran."
"Aku hanya berpikir."
"Itu versi bangsawan dari kata penasaran."
Arcelia melempar bantal ke arah rubah kecil itu. Auriel tertawa keras sambil menghindar. Namun baik Arcelia maupun Auriel tidak mengetahui satu hal.
Di waktu yang hampir bersamaan... Di dalam Istana Kekaisaran.
Putra Mahkota Elias Astrael juga sedang membaca sebuah laporan yang memuat nama yang sama.
Arcelia Vareinne. Dan tanpa sadar untuk pertama kalinya, kedua orang itu sedang memikirkan satu sama lain.
Meskipun mereka belum pernah bertemu.