Mereka membunuhnya perlahan.
Meracuni hidupnya, mencuri kasih sayangnya, lalu menguburnya sebagai putri yang tak diinginkan.
Ketika tubuhnya membuka mata, jiwa dari dunia modern terbangun di dalam tubuh Arcelia Vareinne putri keluarga duke yang mati secara misterius sebelum hari pernikahannya.
Semua orang menganggap Arcelia lemah.
Ayahnya mengabaikannya.
Ibu tirinya memanipulasinya.
Saudara tirinya merebut seluruh hidupnya sedikit demi sedikit.
Namun kali ini berbeda.
Sebuah sistem misterius muncul, memberinya kesempatan kedua:
mengungkap pengkhianatan, menghancurkan musuh-musuhnya, dan merebut kembali semua yang telah dirampas darinya.
Di tengah permainan politik kerajaan, rahasia keluarga bangsawan, dan konspirasi perebutan tahta, Arcelia perlahan berubah menjadi wanita yang ditakuti seluruh kerajaan.
Tetapi semakin dekat ia pada balas dendam, semakin dekat pula dirinya dengan pria paling berbahaya di kerajaan Pangeran Kael Draven. pangeran dingin yang dijuluki monster peran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DRR_LOVE, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Istana Astrael
Beberapa hari setelah Duke Cedric, Arcelia dan Leonard membahas rencana untuk acara Festival kerajaan.
Kereta keluarga Vareinne melaju perlahan melewati gerbang utama ibu kota.
Langit sore berwarna keemasan, sementara jalanan dipenuhi bangsawan dari berbagai wilayah yang datang untuk menghadiri Festival Kekaisaran.
Namun suasana di dalam kereta terasa jauh lebih sunyi dibanding keramaian di luar.
Arcelia Vareinne duduk dekat jendela sambil memandang kota kerajaan.
Bangunan marmer putih berdiri megah di setiap sisi jalan.
Bendera kerajaan Astrael berkibar tinggi. Dan di kejauhan istana kerajaan terlihat seperti kastel emas raksasa di bawah cahaya matahari.
Sangat megah, namun entah kenapa Arcelia justru merasa tempat itu berbahaya.
Di sampingnya, Auriel berbaring malas di kursi kereta.
Karena sihir penyamaran aktif, orang biasa hanya melihatnya sebagai rubah kecil biasa.
Namun mata birunya tetap waspada. “Kota ini dipenuhi aura aneh.” kata Auriel.
“Aura Black Serpent?” tanya Auriel yang terkejut sambil menatap sekitar.
Auriel terdiam seakan sedang menilai. “Sebagian.” kata Auriel akhirnya.
“Tapi ada sesuatu yang lebih besar.” sambungnya sambil menatap mata Arcelia.
Tatapan Arcelia sedikit menyipit. Di depan mereka, Leonard Aster membuka tirai kereta sedikit.
“Kita hampir sampai.” katanya.
Nada suaranya terdengar lebih tegang dari biasanya.
Sejak mengetahui keterlibatan keluarga kerajaan Leonard menjadi jauh lebih berhati-hati.
Dan itu berarti situasinya memang serius. “Ayah sudah masuk lebih dulu?” tanya Arcelia.
Leonard mengangguk. “Duke bertemu beberapa bangsawan pendukungnya.”
Arcelia menghela napas kecil. "Politik kerajaan sangat rumit dan melelahkan." kata Arcelia malas.
Namun ia tahu Duke Cedric sedang berusaha mencari sekutu sebelum festival dimulai.
Kereta akhirnya berhenti di depan gerbang istana.
Para kesatria kerajaan berdiri berjajar rapi. Armor perak mereka memantulkan cahaya matahari.
Dan begitu pintu kereta dibuka puluhan tatapan langsung tertuju pada Arcelia.
Dan bisikan kecil mulai terdengar.
“Itu putri keluarga Vareinne…”
“Aku dengar dia hampir mati beberapa bulan lalu.”
“Tapi sekarang terlihat berbeda…”
Namun Arcelia tetap tenang dan tidak menghiraukan mereka.
Ia turun dari kereta dengan gaun merah gelap sederhana namun elegan.
Rambut hitam panjangnya bergerak pelan tertiup angin.
Dan di bahunya Auriel duduk santai seperti hewan peliharaan bangsawan biasa.
Namun mata rubah kecil itu terus mengamati sekitar. “Banyak pengawal palsu.”
Mata Arcelia tidak berubah sedikit pun. “Berapa?” tanya Arcelia.
“Disini hanya ada tujuh." kata Auriel.
"Menarik. Berarti Black Serpent benar-benar sudah masuk jauh ke dalam istana." gumam Arcelia.
“Nona Arcelia.” Seorang kepala pelayan kerajaan membungkuk hormat.
Dia adalah Marcus Vale utusan putra mahkota untuk menjemput Arcelia.
“Yang Mulia Putra Mahkota telah menunggu Anda.” kata Marcus.
Tatapan Leonard langsung berubah tajam. “Aku akan mengikuti nona Arcelia.” kata Leonard tajam.
Marcus hanya tersenyum sopan. “Maaf, Tuan Leonard. Perintah Yang Mulia hanya untuk Nona Arcelia.” kata Marcus sambil membungkukkan badannya.
Suasana langsung menegang Auriel bahkan menggeram pelan. “Aku tidak suka pria ini.” katanya kesal.
Namun Arcelia justru tersenyum tipis. “Tidak apa-apa, aku baik-baik saja." kata Arcelia.
Ucapan Arcelia membuat Leonard langsung menoleh cepat.
“Nona Arcelia.” kata Leonard
“Aku hanya akan bertemu Putra Mahkota.” kata Arcelia cepat sebelum Leonard mengatakan sesuatu.
Tatapan mereka bertemu sesaat. Dan Leonard tahu tidak ada gunanya membantah sekarang.
“…Kalau terjadi sesuatu, hancurkan istana ini,” katanya dingin.
Arcelia hampir tertawa kecil. “Baik.” kata Arcelia sambil menutup mulutnya menahan tawa.
Marcus memimpin Arcelia memasuki istana.
Lorong panjang berlapis marmer putih terbentang luas di depan mereka.
Lukisan keluarga kerajaan memenuhi dinding.
Lampu kristal besar menggantung di langit-langit tinggi.
Semuanya tampak sempurna dan justru itu yang membuat Arcelia semakin waspada.
“Auriel.” panggil Arcelia.
“Aku merasakan sihir pengawasan.” kata Auriel memperingatkan Auriel. “Kita sedang diperhatikan.” ujar Auriel.
"Tentu saja. Istana sebesar ini pasti penuh mata." gumam Arcelia pelan.
Mereka akhirnya berhenti di depan pintu emas besar.
Marcus membungkuk pelan. “Yang Mulia menunggu di dalam.” katanya.
Marcus membukakan pintu dan perlahan terbuka.
Dan Arcelia langsung melihat seorang pria duduk santai di dekat jendela besar.
Rambut perak, mata emas terang dan memiliki wajah tampan yang terlihat tenang sekaligus sulit ditebak.
"Putra Mahkota Elias Astrael." sapa Arcelia.
Putra Mahkota menoleh, begitu melihat Arcelia masuk sudut bibir pria itu terangkat samar.
“Akhirnya kita bertemu.” katanya pelan.
Suara rendahnya terdengar tenang.
Namun entah kenapa tatapan emas itu terasa sangat tajam.
Seolah mampu melihat jauh lebih dalam daripada orang lain.
Arcelia membungkuk formal. “Salam hormat untuk Yang Mulia.”
“Tidak perlu terlalu formal.” kata Putra Mahkota Elias sambil berdiri perlahan.
Dan saat pria itu mendekat Auriel langsung menegang di bahu Arcelia.
Bulunya sedikit berdiri. “…Tidak mungkin.” kata Auriel yang terkejut.
Mata Arcelia menyipit tipis. “Ada apa?” tanya Arcelia penasaran.
Namun sebelum Auriel menjawab Elias tiba-tiba berhenti tepat di depan Arcelia.
Tatapan emasnya jatuh pada rubah kecil itu.
Lalu untuk pertama kalinya ekspresi tenang Putra Mahkota sedikit berubah.
“…Makhluk itu.” Keheningan memenuhi ruangan. Dan Putra Mahkota Elias berkata pelan “Kenapa penjaga suci ada bersamamu?” katanya.
Deg..!!!