Pernikahan impian yang sudah dibangun dengan asa dan cinta akhirnya kandas, tidak pernah terbayangkan oleh Clarissa bahwa hidup nya tak seperti orang diluar sana. Dulu berharap memiliki pernikahan yang abadi sampai maut memisahkan dengan lelaki pilihannya. Perceraian tak terelakkan hingga membuat jiwanya terguncang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon introvert girl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lelah tak Berujung
Siang hari yang menyilaukan membuat siapapun enggan untuk keluar, begitu juga Clarissa yang hampir setengah pekerjaan rumah selesai.
Keluar sejenak mengusir kepenatan dan memandangi halaman rumah yang dipenuhi beberapa bunga indah bermekaran. Matanya menyipit dikala pantulan cahaya menembus sampai teras. Di liriknya kiri dan kanan yang tampak seperti biasa, tetangga yang sudah pergi sejak pagi dan belum menunjukkan batang hidungnya. Tidak ada yang menjadi teman bicara meski hanya basa-basi.
Clarissa kembali masuk ke dalam rumah, duduk sejenak sebelum melanjutkan rencananya untuk menyetrika pakaian yang sudah menumpuk selama dua hari.
Tidak ada lagi jadwal yoga atau pilates, untuk keluar rumah bahkan sudah malas semenjak kejadian tempo hari. Kadang dia mendapat telepon dari temannya karena tidak muncul di tempat latihan seperti biasa.
Clarissa sedikit terharu, meski baru mengenal beberapa minggu namun sudah ada orang lain yang peduli padanya.
Clarissa berniat untuk makan siang sebelum melanjutkan kegiatannya, makan siang sendiri bukan hal yang berat karena dia sudah terbiasa melakukannya. Hingga ponselnya berdering membuatnya menghentikan suapan dan beralih meraih ponselnya.
Dia sudah menduga bahwa nama yang tertera dilayar adalah naman mertuanya dan benar saja. Dia menghela nafas sejenak kemudian terdengar suara lembut dari seberang sana.
"Hallo nak, kamu sedang apa?"
"Hallo Ma ini Clarissa lagi makan siang, Mama sudah makan siang?"
"Oh begitu, belum ini masih menunggu Papa. Dia belum pulang dari kantor" Sahut mertuanya yang memang sedang menunggu suaminya yang terkadang memilih makan siang di rumah daripada di kantor.
"Oh iya ada apa Ma"
"Mama kemarin dari acara temen dan dia cerita ada pengobatan herbal di dekat rumahnya, Mama mau mengajak kamu kesana"
Dugaan Clarissa benar lagi, mendengar mertuanya yang menyampaikan dengan nada yang lembut sebenarnya tidak ada yang salah. Namun perasaan Clarissa yang terasa berat. Helaan nafas kembali mengisi obrolan itu, dan mertuanya mendengar.
"Kamu tetap semangat ya nak, jangan putus asa" sahut mertuanya yang memberi pengertian setelah mendengar helaan nafas menantunya.
"Ma, aku selama ini juga sudah berjuang. jauh sebelum Mama mengajakku pergi ke dokter. Aku sudah pernah konsultasi ke dokter sendirian"
"Iya, Mama tahu tapi kita harus tetap berjuang. Mama selalu mendukung kamu nak"
"Iya Ma, terimakasih. Tapi aku tidak mau berjuang sendiri lagi. Kalau mau konsultasi sesuai saran dokter, suami istri harus sama-sama di periksa" Clarissa berhasil dan merasa lega setelah mengutarakan isi pikirannya selama ini.
Kini yang dari seberang yang terdengar helaan nafas. Hening sejenak, dan Clarissa hanya menunggu sahutan mertuanya memilih diam dengan sesekali memainkan sendok di atas piringnya.
"Iya, nak sebenarnya Mama juga sudah membujuk Ethan tapi dia bilang sangat sibuk dan menyuruh Mama saja yang menemani kamu"
Mendengar pernyataan mertuanya membuat Clarissa sedikit sedih karena ego suaminya yang cukup tinggi. Dia sangat enggan untuk ikut memeriksakan diri ke dokter kandungan, padahal Clarissa tidak berprasangka buruk sedikitpun. Clarissa hanya bermaksud menuruti saran dokter untuk memeriksakan keduanya secara menyeluruh. Namun, tiap kali membahas ini dengan sejuta rayuan sekalipun akan menimbulkan pertengkaran di antar mereka berdua.
Clarissa merasa pusing memikirkan cara terbaik untuk berbicara dengan suaminya, jika wanita yang melahirkannya saja tak didengar.
Cukup lama mertuanya bercerita dan Clarissa menyimak penuh perhatian, namun kali ini dia cukup berani dan punya tekad kuat untuk tidak mengikuti saran mertuanya. Dia sudah cukup lelah dan lebih suka menyendiri di rumah.
Mertuanya tidak merasa sakit hati karena Clarissa menyampaikan dengan bahasa yang lembut.