NovelToon NovelToon
BEYOND THE DOOR OF DEATH

BEYOND THE DOOR OF DEATH

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Mata Batin
Popularitas:198
Nilai: 5
Nama Author: elrznta

Hyeana adalah seorang gadis biasa yang tiba-tiba terlempar ke dimensi lain lalu Hyeana mencoba untuk keluar dari sana, ia mencari jalan keluar namun yang dia lalui hanya dunia yang tidak ada ujungnya. lalu tanpa sengaja ia tersandung hingga terjatuh didepan sebuah pintu yang sangat besar dan sangat indah, namun pintu itu otomatis terbuka lebar dengan disertai suara yang aneh. Hyeana ingin mencoba masuk ke sana karena ia berfikir siapa tau jalan untuk ia pulang berada dibalik pintu tersebut. Ketika ia hendak memasuki pintu tersebut, tiba-tiba muncul seorang pria dibelakangnya, lalu pria tersebut mengulurkan tangan-nya dan pria itu berkata, “Belum waktunya kamu berada di sini”.....Tak lama kemudian, Hyeana terbangun kembali di kamarnya dengan seorang pria berdiri di samping tempat tidurnya. Siapakah pria ini dan bagaimana kelanjutan dari kisah mereka? to be continue...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elrznta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

VEILSTEAD KINGDOM

CLANGGGGG—

CLANGGGGG—

CLANGGGGG—

Suara benturan pedang kembali mengguncang seluruh area latihan kerajaan. Aura hitam menyapu lantai arena setiap kali Harvey mengayunkan pedangnya. Retakan-retakan panjang sudah memenuhi batu hitam tempat duel itu berlangsung.

Hyeana yang masih duduk di ranjang langsung menoleh lagi ke arah jendela besar kamar.

“Dia…masih terus bertarung?” gumamnya pelan.

Ibunya Harvey menghela nafas kecil sambil menyilangkan tangan.

“Kalau emosinya sedang seperti itu, Harvey memang sulit dihentikan.”

CLANGGGG—

Suara benturan lain terdengar lebih keras dari sebelumnya sampai kaca jendela bergetar samar. Hyeana refleks menggenggam selimutnya sedikit. Entah kenapa…mendengar Harvey terus seperti itu malah membuat dadanya terasa aneh.

“Eumm…” Hyeana ragu-ragu membuka suara.

Ibunya Harvey menoleh lembut.

“Ada apa Hyeana?”

Hyeana menunduk sedikit malu.

“Apa…aku boleh lihat dia?”

Beberapa detik ruangan hening, lalu wanita itu tersenyum kecil, senyum yang entah kenapa terasa hangat sekali.

“Tentu saja boleh.”

Deg.

“Beneran…?”

“Kalau kau yang datang sendiri, mungkin Harvey akhirnya mau berhenti sebelum ia menghancurkan seluruh arena latihan.”

Wajah Hyeana langsung merah malu, Ibunya Harvey lalu berdiri perlahan dan membuka pintu kamar.

“Ray.”

Seorang pelayan pria yang sejak tadi berjaga di luar langsung menunduk hormat.

“Siapkan jalan menuju arena latihan.”

“Baik, Yang Mulia.”

*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊*₊

Lorong-lorong besar Istana Netherveil terasa jauh lebih megah saat Hyeana melihatnya langsung dalam keadaan sadar penuh. Langit-langit tinggi dipenuhi simbol bercahaya samar. Cahaya perak redup menerangi lantai hitam mengkilap.

 Para pelayan dan ksatria yang berpapasan langsung berhenti lalu menunduk hormat begitu melihat ibunya Harvey berjalan. Namun beberapa dari mereka diam-diam membelalak saat melihat Hyeana berjalan di samping wanita itu.

Karena untuk pertama kalinya…ada manusia berada di dalam istana kerajaan Netherveil.

“Eumm…mereka semua lihat ke arahku…” bisiknya pelan karena gugup.

Ibunya Harvey terkekeh kecil.

“Abaikan saja.”

“Tapi rasanya sangat aneh…”

“Kau akan terbiasa.”

Deg.

Jawaban itu malah membuat Hyeana makin salah tingkah. Mereka terus berjalan sampai akhirnya suara benturan pedang mulai terdengar semakin jelas.

CLANGGGG—

CLANGGGGG—

BOOOOMMMM—

Tanah sampai bergetar kecil. Begitu pintu besar arena latihan dibuka…Hyeana langsung membeku.

Arena raksasa itu sudah setengah hancur. Retakan hitam memenuhi lantai batu. Beberapa tiang besar bahkan runtuh sebagian. Aura gelap memenuhi udara seperti kabut hidup.

Dan di tengah arena…Harvey masih terus bertarung.

Rambut hitamnya sedikit berantakan, nafasnya berat, namun ayunan pedangnya justru semakin brutal. Mata merahnya menyala terang di tengah aura hitam yang bergerak liar di sekitar tubuhnya.

CLANGGG—

CLANGGGGG—

CLANGGGGG—

Satu tebasan Harvey langsung membuat lawannya terpental jauh sampai menghancurkan dinding arena. Semua ksatria yang berjaga langsung menegang, tidak ada yang berani mendekat.

Begitu ibunya Harvey melangkah masuk…seluruh arena langsung sunyi. Para prajurit, pelayan, bahkan ksatria kerajaan segera menunduk hormat bersamaan.

“Yang Mulia.”

Hyeana hanya berdiri terpaku melihat semua itu. Harvey terlihat…berbeda sekali di sini, bukan Harvey yang biasa bicara pelan padanya, tapi seorang pangeran Netherveil yang benar-benar menakutkan.

CLANG—

Harvey kembali mengangkat pedangnya. Namun sebelum serangan berikutnya jatuh…

“Harvey.” Suara ibunya menggema tenang di seluruh arena.

Gerakan Harvey langsung berhenti, suasana berubah sunyi, beberapa detik kemudian…mata merah Harvey perlahan menoleh ke arah pintu arena dan tubuhnya langsung membeku karena ia melihat Hyeana berdiri di sana, Hyeana masih memakai pakaian sekolahnya. Rambutnya sedikit berantakan. Wajahnya masih pucat…tapi ia benar-benar sudah sadar.

Deg.

Pedang hitam di tangan Harvey langsung menghilang jadi bayangan.

“Hyeana…?”

Untuk pertama kalinya sejak duel dimulai…ekspresi dingin Harvey retak begitu saja. Tanpa berkata apa-apa lagi, Harvey langsung berjalan cepat turun dari arena.

Semua orang otomatis menyingkir memberi jalan.

Semakin dekat Harvey datang…Hyeana baru sadar kalau tangan Harvey sedikit gemetar. Harvey berhenti tepat di depan Hyeana. Mata merah itu langsung memeriksa wajah Hyeana dari atas sampai bawah seolah memastikan ia benar-benar baik-baik saja.

“Apa kepalamu masih sakit Hyeana?” tanya Harvey cepat.

Hyeana menggeleng pelan.

“Sudah tidak terlalu sakit…”

Harvey terlihat menghembuskan nafas lega kecil.

Namun detik berikutnya…Tangan Harvey tiba-tiba menyentuh pipi Hyeana pelan, sentuhannya dingin seperti biasa.

“Aku pikir kau masih belum bangun.” Suara Harvey jauh lebih lembut sekarang.

Hyeana langsung salah tingkah karena semua orang di arena masih melihat ke arah mereka.

“H-Harvey…semua orang lihat…”

“Biar saja, aku tidak peduli.” Jawaban Harvey terlalu cepat sampai beberapa ksatria langsung pura-pura melihat ke arah lain.

Ibunya Harvey sampai menahan senyum kecil. Harvey lalu menunduk sedikit hingga dahinya hampir menyentuh kepala Hyeana.

“Aku takut sekali tadi.” ucap Harvey lagi

Kalimat itu terlalu jujur, Hyeana langsung membelalak kecil karena Harvey benar-benar terlihat serius. Mata merahnya yang biasanya dingin sekarang justru terlihat lelah…dan lega.

Hyeana menggenggam ujung pakaian Harvey pelan.

“Aku sudah baik-baik aja sekarang…”

Harvey menutup mata sesaat mendengar itu. Lalu tanpa peduli semua orang di arena…Ia langsung menarik Hyeana ke dalam pelukannya lagi. Pelukan itu hangat sekaligus erat sekali bukan seperti pangeran menenangkan seseorang, tapi seperti seseorang yang benar-benar takut kehilangan orang paling berharganya.

Wajah Hyeana langsung merah total.

“H-Harvey…..”

“Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu lagi.” Suara rendah Harvey terdengar tepat di dekat telinganya.

Ibunya Harvey akhirnya tersenyum kecil sambil berbisik pelan,

“Ah…jadi memang benar.”

Pelukan Harvey masih belum melemah sedikit pun. Hyeana bahkan bisa mendengar detak jantung Harvey dengan jelas dari jarak sedekat itu. Cepat. Sangat cepat. Sulit dipercaya kalau orang yang tadi hampir menghancurkan arena latihan sekarang justru memeluknya seperti takut ia menghilang lagi.

Sementara itu…Seluruh arena benar-benar sunyi.

Para ksatria Veilstead saling melirik diam-diam dengan ekspresi tidak percaya. Beberapa pelayan bahkan sampai membeku sambil menunduk.

Karena pemandangan di depan mereka terlalu mustahil. Pangeran Harvey yang terkenal dingin dan tidak pernah membiarkan siapapun mendekat.....sedang memeluk seorang manusia di tengah arena kerajaan dan bukan sekadar pelukan biasa. Harvey terlihat sama sekali tidak berniat melepaskan Hyeana.

Ibunya Harvey menatap putranya beberapa detik lalu menghela nafas kecil sambil tersenyum tipis.

“Harvey.”

Harvey akhirnya membuka mata pelan namun tangannya masih berada di pinggang Hyeana.

“Kau membuat semua orang ketakutan.”

“Aku tidak peduli.” Jawabannya tetap cepat.

Beberapa ksatria langsung menunduk lebih dalam mendengar nada suara Harvey yang masih mengandung aura mengerikan tadi. Namun berbeda dengan sebelumnya…sekarang aura gelap itu jauh lebih stabil karena Hyeana ada di dekatnya.

Ibunya Harvey melirik arena yang setengah hancur.

“Kalau begitu setidaknya berhenti menghancurkan istana.”

Harvey diam sebentar lalu akhirnya menghela nafas kecil, aura hitam di sekitar arena perlahan mulai menghilang, para ksatria yang tadi tegang akhirnya bisa bernafas lega lagi.

Hyeana pelan-pelan mendongak menatap Harvey.

“Kamu…duel dari tadi gara-gara aku?”

Harvey langsung menatapnya balik.

“Dia membuatmu kesakitan.” Nada suaranya berubah dingin lagi saat mengingat Hexyan.

Tatapan Harvey turun ke wajah Hyeana yang masih sedikit pucat.

“Aku seharusnya datang lebih cepat.”

“Hah? Itu bukan salahmu…”

“Tetap saja itu salahku.” Suara Harvey rendah sekali.

“Aku membiarkan dia mendekatimu.”

Cara Harvey bicara benar-benar seperti menyalahkan dirinya sendiri. Hyeana jadi bingung harus menjawab apa.

Beberapa detik kemudian…ia akhirnya menarik pelan lengan baju hitam Harvey.

“Harvey.”

“Hmm?”

“Kamu bikin aku khawatir juga.”

Harvey sedikit membeku, Hyeana menunduk malu sebelum lanjut bicara pelan.

“Waktu aku bangun…terus denger kamu duel berjam-jam…” Suaranya makin kecil.

“Aku kira kamu kenapa-kenapa.”

Suasana menjadi sunyi sesaat, lalu untuk pertama kalinya sejak tadi…ekspresi Harvey benar-benar melunak, mata merahnya menatap Hyeana lama sekali sampai Hyeana makin salah tingkah sendiri.

“Kau mengkhawatirkanku?” tanya Harvey

“H-Habisnya kamu kelihatan marah banget…” jawab Hyeana sedikit gugup

Sudut bibir Harvey akhirnya bergerak tipis, ia tersenyum kecil, langka sekali. Senyum Harvey itu langsung membuat beberapa pelayan di belakang hampir syok karena Harvey benar-benar tersenyum.

Ibunya Harvey bahkan terlihat menahan tawa kecil melihat reaksi semua orang. Harvey lalu mengangkat tangannya pelan dan merapikan rambut Hyeana yang sedikit berantakan. Gerakannya sangat hati-hati sekali.

“Aku tidak apa-apa sekarang.”

Deg.

Wajah Hyeana langsung merah lagi karena Harvey terlalu dekat dan tatapan merah itu terlalu fokus hanya padanya.

“Yang Mulia.”

Salah satu ksatria akhirnya memberanikan diri bicara sambil menunduk.

“Arena latihan perlu segera diperbaiki.”

Harvey bahkan tidak menoleh.

“Lalu?”

Ksatria itu langsung diam ketakutan. Hyeana buru-buru menarik kecil ujung mantel Harvey.

“Harvey…”

Harvey akhirnya menoleh lagi ke Hyeana.

“Mungkin…mereka mau bersihin tempatnya…”

Harvey terdiam beberapa detik lalu menghela nafas kecil lagi.

“Baik.”

Seluruh ksatria langsung terlihat lega luar biasa, Ibunya Harvey sampai tertawa kecil pelan.

“Luar biasa.” ucap ibunya

“Hah?” Hyeana bingung.

“Kau satu-satunya orang yang bisa membuat Harvey menurut secepat itu.” lanjut ibunya

“Hah?! Nggak jug—”

“Benar.” Harvey malah menjawab santai sambil tetap menatap Hyeana.

Deg.

Hyeana langsung salah tingkah. Para pelayan di belakang bahkan mulai saling melirik panik karena suasananya tiba-tiba terasa terlalu manis untuk ukuran Harvey.

Lalu tiba-tiba…Harvey mengangkat Hyeana begitu saja.

“Eh?!”

Hyeana refleks memegang bahu Harvey kaget.

“Harvey?!”

“Aku akan membawamu kembali istirahat.”

“Nggak usah digendong juga Harvey?! Aku bisa jalan sendiri!”

“Kau tadi tak sadarkan diri.”

“Itu kan tadi!”

“Tetap saja.” Harvey menjawab datar seolah itu sudah keputusan final.

Wajah Hyeana benar-benar merah sekarang karena semua orang sedang melihat mereka.

“Turunin aku! Semuanya lihat tau!”

“Biarkan saja.” Jawaban itu lagi.

Ibunya Harvey akhirnya benar-benar tertawa kecil kali ini.

“Harvey.”

“Ada apa bu?.”

“Kau terlalu memanjakannya.”

Harvey melirik ibunya sebentar sebelum kembali menatap Hyeana di pelukannya.

“Dia memang harus dimanjakan.”

Deg.

Hyeana langsung menutup wajahnya sendiri karena malu total sementara seluruh arena latihan mendadak terasa makin sunyi karena semua orang di sana baru saja menyaksikan sesuatu yang rasanya lebih mengejutkan daripada perang besar antar kerajaan diNetherveil.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!