NovelToon NovelToon
Kupu-Kupu Malam Sang Ceo

Kupu-Kupu Malam Sang Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Romansa
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Zenaaa

Di siang hari, Renata adalah seorang gadis biasa yang bekerja sebagai pustakawati polos berkacamata tebal. Namun, saat malam tiba dan lampu kota Jakarta mulai menyala, ia berubah menjadi "Papillon" (Kupu-Kupu)—gadis hostess paling misterius dan mahal di Kupu-Kupu Bar, sebuah kelab malam eksklusif rahasia para konglomerat.
​Renata tidak mencari uang demi kemewahan. Ia menjebak dirinya di dunia malam demi mengungkap misteri kematian kakak perempuannya yang tewas mengenaskan setelah melayani seorang pria berkuasa dari Dirgantara Group.
​Rencananya berjalan mulus hingga malam itu tiba. Adrian Dirgantara, CEO dingin dan pewaris tunggal Dirgantara Group, masuk ke bar dan langsung memilih Papillon. Adrian tidak mencari hiburan, melainkan seorang "istri sewaan" untuk memenuhi wasiat kakeknya demi mempertahankan takhta perusahaan.
​Satu kesepakatan di bawah lampu remang-remang bar mengubah segalanya. Renata melangkah masuk ke sarang musuh sebagai istri Adrian, sementara Adrian tidak pernah t

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zenaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Ancaman dari Masa Lalu Maya

Sisa-sisa kehangatan malam yang intim di atas meja kerja CEO masih membekas di benak Renata saat ia melangkah masuk ke ruangan kerjanya keesokan paginya. Sinar matahari pagi Jakarta yang menembus celah-celah tirai jendela besar tidak mampu mengusir firasat buruk yang mendadak menggelayuti hatinya sejak ia menginjakkan kaki di lobi utama. Firasat itu terbukti benar ketika ia melihat Baskara sudah berdiri di depan meja kerjanya dengan rahang kaku dan ekspresi wajah yang sangat tegang.

​Di atas permukaan meja mahoni miliknya, terletak sebuah paket tanpa nama pengirim yang berukuran sedang. Paket itu dibungkus dengan sangat kasar menggunakan kertas koran bekas yang sudah kusam dan menguning, menguar bau apek yang samar.

​"Nona Renata," sapa Baskara, suaranya terdengar agak tertahan dan berat. "Tim keamanan lobi dasar telah memindai paket ini menggunakan sinar-X dan detektor penjinak bom. Secara fisik, tidak ada komponen peledak, zat kimia berbahaya, atau racun biologis di dalamnya. Namun... isinya saya rasa sangat mengkhawatirkan bagi kestabilan emosi Anda."

​Renata mengerutkan kening, jantungnya mulai berdegup tidak beraturan. Dengan tangan yang sedikit bergetar, ia mengambil pisau pemotong kertas dan merobek bungkusan koran tersebut dengan hati-hati. Begitu penutup kotak kardus di dalamnya terbuka, seluruh pasokan udara di paru-paru Renata seolah tersedot habis. Wajah cantiknya seketika pias, memucat bagaikan selembar kertas putih.

​Di dalam kotak itu terbaring sebuah pakaian malam (dress) berbahan brokat mewah berwarna merah marun yang robek kasar di bagian bahu dan dadanya. Itu adalah pakaian terakhir yang dikenakan oleh mendiang kakaknya, Maya, pada malam tragis di mana ia dinyatakan "overdosis" di klub malam—pakaian yang seharusnya sudah disita atau dihancurkan oleh pihak kepolisian korup suruhan Victor Wijaya.

​Bukan hanya pakaian itu. Di dasar kotak, terdapat sebuah foto polaroid lama yang sudah agak pudar. Foto itu menampilkan Maya yang sedang duduk menyudut di sebuah sofa beludru gelap dalam kondisi menangis tertekan, sementara tangan kanannya mendekap erat sebuah map dokumen tebal berlambang segel rahasia. Di latar belakang foto, tampak siluet interior sebuah tempat yang sangat mewah namun asing.

​Renata membalik foto tersebut dengan jemari yang bergetar hebat. Di bagian belakang kertas polaroid itu, tertulis sebuah baris kalimat menggunakan tinta merah darah yang pekat dan mengering:

​"Kamu mengira membunuh Victor Wijaya dan memenjarakan Albert Dirgantara sudah menyelesaikan segalanya dengan mutlak? Kematian Maya bukan karena kelicikan Victor, dia hanya pion kecil yang ketakutan. Cari tahu siapa pemilik asli Klub Kupu-Kupu Hitam yang sesungguhnya di Makau, atau kepalamu akan menyusul kakakmu ke liang lahat."

​"Nona Renata!" Baskara langsung melangkah maju saat melihat tubuh Renata mendadak limbung, hampir kehilangan keseimbangan karena hantaman emosional yang teramat dahsyat. Dokumen dan foto di tangannya terlepas, jatuh berserakan di atas lantai marmer.

​Tepat pada saat itu, pintu ruangan terbuka dengan sentakan keras. Adrian melangkah masuk dengan setelan jas abu-abu gelapnya yang rapi. Insting protektifnya yang sangat peka langsung menangkap gelagat aneh istrinya. Mata elangnya beralih menatap kotak misterius dan kertas yang berserakan di lantai. Dengan cepat, Adrian memungut foto polaroid tersebut dan membaca pesan berdarah di baliknya.

​Dalam sekejap, aura membunuh yang sangat pekat dan dingin memancar dari seluruh tubuh tegap sang CEO muda. Rahangnya mengatup begitu rapat hingga urat-urat di lehernya menonjol kaku.

​"Baskara!" suara Adrian menggelegar menembus dinding ruangan, berdentum dengan nada amarah yang mampu mengintimidasi siapa pun yang mendengarnya. "Lacak nomor resi pengiriman paket ini detik ini juga! Kerahkan seluruh tim siber untuk meretas sistem ekspedisi yang digunakan! Periksa setiap sudut rekaman CCTV di sekitar lobi gedung dan jalanan luar selama dua puluh empat jam terakhir! Aku ingin nama, wajah, dan garis keturunan orang yang mengantarkan paket ini berada di mejaku sebelum matahari terbenam!"

​"Baik, Tuan Adrian! Saya laksanakan sekarang juga!" jawab Baskara sigap. Ia segera membungkuk hormat, mengambil kotak misterius itu dengan sarung tangan, lalu berjalan cepat keluar ruangan untuk mengeksekusi perintah.

​Begitu pintu tertutup, Adrian langsung berlutut di hadapan Renata yang kini terduduk di kursi kerjanya dengan air mata yang mulai luruh membasahi pipi piasnya. Adrian menggenggam kedua tangan Renata yang terasa sedingin es batu, lalu menangkup wajah istrinya dengan kedua telapak tangannya yang besar dan hangat, memaksa Renata untuk menatap langsung ke dalam manik matanya.

​"Renata, tatap aku. Dengarkan suara suamimu," pinta Adrian dengan nada suara yang melembut namun tetap sarat akan otoritas yang menenangkan. "Siapa pun bajingan yang mengirimkan paket ini, mereka sedang mencoba melakukan teror psikologis. Mereka tahu kita baru saja memenangkan pertempuran besar melawan Albert dan menguasai pasar bursa, dan mereka ingin fokus kita terpecah. Mereka ingin kita lengah dan membuat kesalahan karena emosi."

​"Tapi bagaimana jika isi pesan ini benar, Adrian?" tanya Renata dengan suara yang serak dan terisak, dadanya sesak menahan kerinduan sekaligus dendam yang kembali membara untuk kakaknya. "Bagaimana jika selama ini aku salah sasaran? Bagaimana jika pembunuh Kak Maya yang sesungguhnya masih bebas berkeliaran di luar sana, menertawakan kita dari atas takhta mereka di Makau, dan sekarang... mereka sedang membidik leher kita?"

​Adrian menarik tubuh ramping Renata ke dalam pelukan dadanya yang kokoh, mendekap istrinya dengan sangat erat seolah tidak akan membiarkan bahaya apa pun di dunia ini menyentuh seujung rambut Renata. Ia mengecup puncak kepala Renata berulang kali dengan penuh perasaan.

​"Jika itu benar, maka itu berarti perburuan kita belum selesai, Sayang," bisik Adrian rendah, suaranya sedingin es di kutub utara namun memancarkan janji setia yang membakar. "Aku bersumpah demi nyawaku dan nama Dirgantara-Mahardika, kita akan memburu mereka sampai ke ujung dunia sekalipun. Jika mereka ingin bermain api dengan kita dari Makau, maka aku sendiri yang akan memimpin seluruh armada dan kekuasaan korporasi kita untuk meratakan istana mereka hingga menjadi debu. Kamu tidak sendirian lagi, Renata. Aku adalah perisaimu."

Jangan lupa like & vote ya supaya author semangat buat ceritanya, maaf lambat update sebagai gantinya sa update 3 bab, terima kasih🙏🙏.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!