NovelToon NovelToon
DIAMNYA MENJAHIT LUKA YANG PERNAH MEREKA ROBEK

DIAMNYA MENJAHIT LUKA YANG PERNAH MEREKA ROBEK

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:576
Nilai: 5
Nama Author: Rienza27

SINOPSIS

Gretta Alesia Nobara, 18 tahun, pindah ke SMA Binara 2 untuk melarikan diri dari trauma perundungan di sekolah lama. Ia mengubah penampilannya agar lebih percaya diri dan bertekad memulai hidup baru dengan fokus pada pelajaran.
.
Gian Leminzo cowok pemalas di kelas bahkan sering tidur saat guru menerangkan, di snagat tampan dan di sukai banyak cewe tapi dia selalu menghiraukan cewek-cewek yang mendekatinya.

Namun pertemuan Gretta dengan Gian menjadi sebuah hal yang tidak terduga di antara keduanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rienza27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 12 RASA SAKIT

Mereka bertiga sampai depan pintu masuk lu mama Grettta menyuruh, Gretta untuk masuk kekamarnya.

"Masuklah ke kamarmu, Sayang. Ganti pakaianmu dan istirahatlah," bisiknya parau.

Gretta hanya mengangguk lemah. Wajahnya pias nyaris tanpa warna, napasnya masih sedikit memburu akibat sisa kepanikan. Ia kemudian menghilang di balik pintu kamarnya yang tertutup pelan.

Di lantai bawah, Gian masih berdiri kaku di dekat anak tangga terakhir. Sorot matanya tak lepas dari arah pintu kamar Gretta. Mama Lesa kemudian menoleh, menatap pemuda itu dengan senyum keibuan yang dipaksakan tegar. Dengan langkah gontai, wanita paruh baya itu menghampiri Gian. Merasa canggung, Gian segera menyodorkan tas ransel milik Gretta yang sedari tadi dipegangnya.

Mama Lesa menerima tas itu dari tangan Gian dengan kelembutan yang menyayat hati. "Duduklah dulu di sana, Nak," ujar Mama Lesa ramah, menunjuk sebuah kursi di dekat area dapur rumah mereka.

Sambil menghela napas panjang, Mama Lesa membuka resleting tas putrinya. Ia mengeluarkan kotak bekal makan siang yang isinya masih utuh, sama sekali belum tersentuh.

"Tunggu sebentar ya," ucap Mama Lesa pelan kepada Gian, berusaha menyembunyikan getar di suaranya. Ia mengangkat kotak bekal itu bersama segelas air putih di nampan. "Tante mau ke kamar Gretta sebentar."

"Iya, Tante," balas Gian singkat. Ia mengangguk dengan senyum tipis yang tulus, matanya diam-diam merekam gurat kelelahan di wajah wanita itu.

Tok... tok... tok...

"Masuk, Ma," terdengar suara lirih dari dalam kamar.

Mama Lesa mendorong pintu dengan hati-hati. Di atas ranjang, Gretta duduk menekuk lutut, tubuhnya yang kini berbalut piyama lengan pendek. Tatapan gadis itu kosong menembus dinding, seolah sedang tersesat di dalam labirin ketakutannya sendiri.

Mama Lesa meletakkan nampan di atas nakas, lalu menarik napas panjang saat tangannya meraih laci kecil di sebelah tempat tidur. Dari sana, ia mengeluarkan botol obat yang sangat dibencinya, namun sangat dibutuhkan putrinya—obat penenang.

"Sayang..." Mama Lesa duduk di tepi ranjang, mengusap rambut putrinya dengan penuh kasih sayang yang menyesakkan dada. "Kamu makan sedikit ya, lalu minum obatmu. Biar tubuhmu lebih rileks dan tenang."

Gretta hanya mengangguk pelan tanpa suara. Kejadian hari ini—darah yang mengalir dari pelipisnya—telah merobek kembali luka lama yang berusaha ia kubur dalam-dalam. Darah selalu berhasil membuatnya lemas tak berdaya, seolah menariknya kembali ke masa-masa paling kelam dalam hidupnya.

Melihat kepatuhan putrinya yang lahir dari rasa putus asa, dada Mama Lesa terasa sesak. Ia mencium kening Gretta cukup lama, membiarkan kehangatannya mengalir. "Mama keluar dulu ya, Sayang. Mama mohon, pastikan kamu makan makananmu meski hanya beberapa suap."

"Iya, Ma... makasih," balas Gretta pelan. Bibirnya memaksakan tersenyum.

Mama Lesa bangkit, berjalan keluar, dan menutup pintu perlahan. Di balik pintu yang tertutup itu, setetes air mata akhirnya lolos membasahi pipinya. Ia buru-buru menghapusnya dengan punggung tangan sebelum kembali menemui tamu putrinya.

"Maaf ya, Nak, kamu jadi menunggu lama," sapa Mama Lesa dengan suara yang diusahakan senormal mungkin. Ia menatap Gian yang masih duduk diam di kursi dapur. "Sebentar, siapa tadi namamu? Tante sampai lupa menanyakan karena terlalu panik."

"Gian, Tante," jawab Gian sopan.

"Gian..." gumam Mama Lesa mengulang nama itu seolah mengecap keakraban di sana. Ia berbalik menuju kulkas, mengeluarkan sebotol sirup jeruk, dan menuangkannya ke dalam gelas. Bunyi dentingan es batu yang beradu dengan kaca memecah keheningan yang canggung. "Silakan diminum, Gian. Maaf Tante hanya bisa menyajikan ini."

"Terima kasih banyak, Tante," jawab Gian, menerima gelas dingin itu dengan kedua tangannya.

Mama Lesa menarik kursi dan duduk di hadapan Gian. Matanya meneliti wajah pemuda di depannya itu lekat-lekat. "Entah kenapa," ujar Mama Lesa pelan, dahinya sedikit berkerut, "Tante merasa seperti pernah bertemu denganmu sebelumnya. Apa kamu... pernah datang ke sini?"

Gerakan tangan Gian yang hendak membawa gelas ke bibirnya seketika terhenti. Ia meletakkan kembali gelas itu, menatap Mama Lesa dengan raut wajah yang sama bingungnya. "Sebenarnya... aku juga merasakan hal yang sama, Tante. Aku merasa pernah melihat Tante, dan juga... Gretta."

Alis Mama Lesa semakin bertaut mendengar kalimat terakhir itu. "Gretta? Apa kamu memanggil anakku dengan nama depannya?" tanyanya heran, tangannya secara refleks menyodorkan sepiring kue bolu cokelat ke hadapan Gian untuk mengalihkan sedikit keheranannya.

"Bukankah itu nama panggilannya di sekolah, Tante?" tanya Gian balik, wajahnya serius tak mengerti.

Mama Lesa tersenyum tipis, sebuah senyum yang menyimpan kegetiran. "Panggilannya di rumah ini adalah Alesia, bukan Gree."

Alesia.

Nama itu bergema di kepala Gian bak sebuah lonceng ingatan yang tiba-tiba berdentang amat keras. Alesia. Hujan. Truk yang melaju kencang. Sorot mata yang kehilangan cahaya kehidupan. Potongan-potongan memori dari satu bulan yang lalu berkelebat cepat di benaknya bagai kaset rusak yang tiba-tiba diputar kembali.

Seketika, mata Gian membulat sempurna. Ia menegakkan posisi duduknya. "Oh iya, Tante! Aku baru ingat sekarang," pekik Gian, suaranya sedikit meninggi karena terkejut. "Aku pernah ke sini sekitar satu bulan yang lalu. Waktu itu aku mengantar seorang gadis... maksudku, Alesia. Dia saat itu berdiri di tengah jalan raya, hanya terdiam dengan tatapan kosong, dan nyaris tertabrak truk bermuatan besar."

Kini giliran wajah Mama Lesa yang memucat. Matanya membelalak tak percaya. "Kamu... kamu anak muda waktu itu?" pekik Mama Lesa dengan suara bergetar.

Ia menatap Gian dengan rasa takjub yang luar biasa, seolah melihat malaikat penjaga yang dikirimkan Tuhan ke ruang tamunya. Tangannya tanpa sadar menutup mulutnya sendiri. "Ya Tuhan... Tante benar-benar tidak menyangka kalian bisa satu sekolah, apalagi satu kelas." Senyum haru mengembang di bibir wanita itu, diiringi mata yang mulai berkaca-kaca.

Namun, di balik keharuan itu, ada sebuah tanda tanya besar yang selama ini mengganjal di ulu hati Gian. "Tapi, Tante..." panggil Gian hati-hati, suaranya merendah, sarat akan empati. "Kalau aku boleh lancang bertanya... sebenarnya apa yang terjadi padanya satu bulan yang lalu? Aku masih ingat dengan jelas, waktu itu mata Alesia lebam parah."

Raut wajah Mama Lesa seketika berubah. Senyumnya luntur tak bersisa. Ia menundukkan kepala, jari-jarinya saling meremas satu sama lain di atas meja.

"Soal itu..." suaranya bergetar hebat. "Tante sebenarnya tidak pernah mau menceritakannya pada siapapun. Tante tidak ingin Alesia kembali mengingat masa-masa itu. Masa-masa yang menghancurkan mentalnya, yang membuatnya ketakutan setengah mati setiap kali melihat darah segar." Mama Lesa mendongak, dan kali ini air mata akhirnya jatuh membasahi pipinya. Tangan wanita itu gemetar saat mengusap sudut matanya dengan kasar.

Melihat air mata seorang ibu yang hancur, hati Gian terasa seperti diremas kuat. "Tante..." Gian mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap tepat ke dalam mata Mama Lesa. "Aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku berjanji, aku tidak akan memberi tahu siapa pun. Dan aku berjanji... aku akan menjaganya dari jauh."

Kejujuran dan ketulusan lugu yang memancar dari mata pemuda bertampang dingin itu entah mengapa memberikan ketenangan tersendiri bagi Tante Lesa. Wanita itu tertawa kecil, tawa yang sumbang dan dipenuhi air mata keputusasaan. "Hei, kenapa kamu sampai segitunya? Apa kamu menyukai anak saya?"

Gian menggeleng dengan kikuk, merespons dengan kepolosannya yang khas. "Eh, tidak, Tante. Maksudku... aku hanya ingin menjaganya selayaknya seorang teman baik."

Mama Lesa tersenyum lembut. Ia menarik napas dalam-dalam, bersiap membuka luka yang sangat lebar. "Eumm... entah kenapa naluri Tante mengatakan bahwa Tante bisa mempercayaimu. Satu bulan yang lalu, di sekolahnya yang lama... Alesia menjadi korban perundungan."

Gian menahan napas.

"Mereka menyiksanya," lanjut Mama Lesa dengan suara yang nyaris berbisik karena tangis. "Seluruh tubuhnya penuh dengan luka lebam. Kejadian itu hingga menghancurkan jiwanya. Alesia mengalami trauma psikologis yang sangat berat. Dia tidak bisa melihat darah, Gian. Sekali saja dia melihat darah, tubuhnya akan merespons dengan memori dimana ia dirundung itu. Wajahnya akan pucat, dan dia kehilangan seluruh tenaganya."

Tubuh Gian terpaku. Matanya menatap kosong ke arah gelas sirup jeruk.

Dirundung? batinnya menjerit. Gadis yang selama ini selalu memamerkan senyum paling cerah di kelas, gadis yang tawanya selalu terdengar paling renyah dan berisik... ternyata menyimpan luka sedalam itu di balik kepribadian cerianya.

Pantas saja tadi siang saat tak sengaja menyentuh dahinya yang berdarah, Gretta langsung pucat pasi seperti mayat hidup. Gadis itu tidak sedang bermanja-manja, ia sedang berjuang mati-matian melawan trauma di dalam kepalanya.

"Iya, Gian... tolong jaga dia saat di sekolah ya," isak pelan Mama Lesa, menatap pemuda itu dengan tatapan memohon.

"Ada apa, Gian?" tanya Mama Lesa saat melihat pemuda di depannya tiba-tiba membisu dengan rahang mengeras.

Gian tersentak pelan, berusaha menutupi gejolak kemarahan dan rasa iba yang bergemuruh di dadanya. "Tidak, Tante, tidak ada apa-apa," dustanya halus. Ia kemudian berdiri dari tempat duduknya. "Sepertinya aku harus pamit pulang sekarang. Masih banyak tugas yang harus kukerjakan."

"Eh, tunggu! Makan dulu kuenya," pekik Tante Lesa yang terkejut dan ikut berdiri.

"Tidak usah, Tante. Saya takut teman saya menunggu lama di apartemen kami."

"Kalau begitu tunggu sebentar, biar Tante bungkuskan saja." Tante Lesa tanpa menerima penolakan segera mengambil wadah plastik dan membungkus beberapa potong bolu cokelat dengan rapi.

Awalnya, Gian merasa sangat tidak enak hati. Perlakuan Tante Lesa yang begitu hangat dan penuh rasa terima kasih membuatnya sungkan. Ia mencoba menolak dengan halus, namun karena terus didesak oleh wanita paruh baya itu, Gian pun menyerah. Ia menerima bungkusan kue cokelat itu dengan kedua tangan.

"Terima kasih banyak, Tante. Saya pamit," ucap Gian sopan.

Sepanjang perjalanan pulang. Gian berjalan kaki menyusuri trotoar sambil menenteng kresek berisi kue cokelat di tangan kanannya. Angin sore berhembus menerpa wajahnya, namun tak mampu mengusir bayangan yang terus menari di kepalanya.

Bayangan wajah Gretta yang selalu tertawa riang kini tumpang tindih dengan wajah pucat dan mata lebam Alesia satu bulan yang lalu. Dada Gian berdesir nyeri. Gadis itu begitu hebat menipu dunia dengan tawanya, menyembunyikan tangis di balik topeng keceriaan.

1
Miska
semangat terus author, ceritamu keren👍
Nora
ceritanya bagus bnget aku suka
Nora
Ceritanya bagus dan menyentuh hati tapi adegan pertama sungguh kejam , semngat terus author aku menunggu kelanjutannya.💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!