Zivanna gadis 24 tahun yang sudah lulus kedokteran, praktek di rumah sakit besar menjadi Dokter muda. Menjadi seorang Dokter tidaklah mudah meski sudah berusaha keras. Zivanna mengalami kesulitan dan bahkan segala usahanya selalu tidak pernah terlihat.
Zivanna selalu menjadi bulan-bulanan orang-orang yang bertugas di rumah sakit, dianggap sepele bahkan dia Dokter yang lulus karena uang. Zivanna kerap kali dimarahi senior di depan banyak orang.
Dibalik semua itu tidak ada yang tahu bahwa dirinya adalah putri dari pemilik rumah sakit terbesar di Jakarta tempatnya bertugas.
Bukan hanya itu statusnya sebagai istri tersembunyi yang tidak ada mengetahui bahwa dia adalah istri Dokter senior yang bersikap dingin selama di rumah sakit kepadanya.
Pernikahan Zivanna dengan Dokter Pradikta penuh cerita dalam keterpaksaan pernikahan itu terjadi. Lalu bagaimana keduanya menghadapi pernikahan mereka dengan dunia pekerjaan dan juga rumah tangga mereka.
Jangan lupa untuk terus membaca....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 9 Bisa Melakukannya
"Pak...." Dikta menghentikan seorang pria yang baru saja dari tempat kejadian yang ingin kembali ke mobilnya.
"Ada apa di depan!" tanya Dikta.
"Pohon tumbang menimpa mobil, ada korban di dalamnya dan luka-luka parah, sampai sekarang belum ada pihak medis mengevakuasi korban," jawab pria tersebut.
"Apah!" Dikta cukup kaget mendengar jawaban dari pria tersebut dan hal itu juga membuat Zivanna akhirnya terbuyar dari lamunannya dan juga terlihat serius.
"Terima kasih. Pak," ucap Dikta membuat pria tersebut mengangguk dan kembali memasuki mobilnya.
Dikta terlihat buru-buru membuka sabuk pengamannya dan tampak mengambil tas yang berada di jok mobil belakang dan langsung keluar dari mobil.
"Hey mau kemana?" tanya Zivanna melihat kepergian suaminya itu dengan cepat.
Zivanna juga akhirnya menyusu dengan buru-buru membuka sabuk pengamannya.
Ternyata warga sendiri yang mengevakuasi korban dan terlihat ada anak kecil mengalami pendarahan hebat yang tergeletak di aspal dikerumuni oleh warga tanpa berani melakukan tindakan apapun.
"Tolong memberi ruang saya Dokter!" Dikta buru-buru menerobos kerumunan dengan berlutut di depan anak kecil tersebut dengan nafas tampak tersengal-sengal.
Dikta dengan cepat melakukan pertolongan pertama di tengah hujan deras, tetapi air hujan tiba-tiba saja tidak terlihat lagi membuat kepala Dikta terangkan ternyata Zivanna menyusul dengan membawa payung dan menutupi anak kecil tersebut agar tidak terkena air hujan saat dilakukan pertolongan.
Dikta mengabaikan istrinya dan kembali fokus pada anak kecil tersebut dengan mengeluarkan alat-alatnya.
Dengan sangat cepat tangannya langsung bergerak memberikan pertolongan pertama menghentikan pendarahan.
"Keluarnya mana?" tanya Dikta.
"Saya Dokter," sahut seorang wanita yang ternyata juga terluka namun masih bisa berbicara dan sadar.
"Suami saya juga masih berada di dalam mobil, saya bingung harus melakukan apa?" ucap wanita tersebut terlihat begitu panik.
Dikta menggendong anak kecil tersebut.
"Saya harus membawa anak ini ke rumah sakit secepatnya, silahkan sesuai dengan ambulans yang datang," ucap Dikta tidak punya waktu dalam penjelasan membuat wanita itu setuju saja dan kemudian Dikta langsung berlari membawa anak kecil tersebut yang diikuti oleh Zivanna.
"Masuk!" Dikta mengarahkan Zivanna untuk masuk ke dalam mobil terlebih dahulu membuat Zivanna menganggukkan kepala dengan membuka pintu mobil bagian belakang kemudian langsung duduk dengan Dikta ingin meletakkan anak kecil tersebut di pangkuannya tetapi ekspresi wajah Zivanna terlihat takut dengan memejamkan mata.
"Zivanna kamu Dokter, darah tidak akan memakan kamu atau membuat kamu mati!" tegas Dikta sudah tahu drama istrinya itu pasti memiliki ketakutan dengan darah.
Dikta tidak punya waktu untuk berbicara banyak-banyak dengan Zivanna lebih baik mendudukan anak kecil tersebut dan kemudian Dikta menutup pintu dengan Dikta langsung memasuki mobil dengan duduk di kursi pengemudi.
Dikta menyetir dengan kecepatan tinggi harus cepat sampai di rumah sakit walau sudah memberi pertolongan pertama pada anak kecil tersebut tetapi tetap saja ada ketakutan dan sebentar-sebentar Dikta melihat dari kaca bagaimana Zivanna beberapa kali mengatur nafas dan terlihat panik di wajahnya.
Zivanna juga pasti menginginkan cepat-cepat sampai rumah sakit karena sebenarnya saat ini dia dipenuhi dengan ketakutan akan anak kecil yang melakukannya tidak stabil berada di pangkuannya itu.
Akhirnya tiba di rumah sakit dengan mereka langsung memasuki ruang UGD. Rumah sakit Citra Kasih dipenuhi dengan pasien yang berada di ruang IGD.
Dikta yang saat ini sudah menggendong anak kecil tersebut dan langsung meletakkan di atas bangsal. Zivanna ikut mendampinginya bagaimana Dikta mulai melakukan pertolongan pada anak kecil itu.
"Bersihkan darahnya!" titah Dikta.
Zivanna menganggukkan kepala guru-guru mengambil kotak perban yang berisi alat-alat untuk membersihkan semua luka-luka pada anak kecil tersebut untuk menghentikan pendarahannya.
Tangan Dikta begitu cekatan melakukan semua yang bisa dia lakukan untuk menolong anak tersebut, dengan nafas tersengal-sengal seperti itu jika ditangani oleh Zivanna sudah pasti Zivanna akan mengambil tindakan untuk melakukan CPR jantung.
Karena banyak pasien darurat di rumah sakit tersebut, jadi yang mendampingi Dikta adalah Zivanna tanpa ada suster dan Dokter lain.
Sampai akhirnya kondisi pasar sudah stabil, membuat Dikta menghela nafas dan begitu juga dengan Zivanna yang merasa lega walau dipenuhi dengan ketakutan, bahkan wajahnya terlihat berkeringat.
"Jahit...." titah Dikta.
"Hah! Saya?" tanyanya menunjuk diri sendiri.
"Apa ada orang lain selain kamu?" tanya Dikta dengan dahi mengkerut.
"Oh, iya, baiklah!" Zivanna menganggukkan kepala dengan melakukan langsung.
Dikta berdiri di tempatnya dengan kedua tangannya dilipat di dada dan memperhatikan bagaimana Zivanna masih saja takut memegang jarum jahit, terlihat keraguan saat mulai melakukan hal tersebut. Zivanna melihat ke arah Dikta dan mendapat tatapan menyeramkan dari suaminya itu yang ternyata mengawasinya.
"Lakukan!" titah Dikta.
Zivanna benar-benar down dengan beberapa kali menelan ludah.
"Ini tubuh manusia Zivanna, bukan boneka yang kamu lihat begitu saja, cepat lakukan!" tegas Dikta.
Zivanna hanya menganggukkan kepala dan kemudian mulai melakukannya dan tetap saja terlihat ragu sampai Dikta menghela nafas dan kemudian memegang tangan Zivanna dengan menuntunnya mulai memasukkan jarum tersebut pada kulit anak kecil itu
"Kamu pikir bisa menjauhi dengan mata tertutup seperti itu!" tegur Dikta membuat Zivanna membuka mata dengan cepat dan mau tidak mau harus melihat apa yang dia lakukan bagaimana jarum jahit tersebut mengukir pada kulit anak kecil itu yang Zivanna masih tampak takut-takut tetapi tetap dituntun Dikta.
Jika Zivanna melakukannya dengan penuh keraguan maka akan menimbulkan masalah.
"Jika di tegur tidak terima dan pada kenyataannya belum bisa mengambil keputusan apapun," ucap Dikta masih sempat sempatnya memberi sindiran kepada istrinya dan dia masih mengingat bagaimana marahnya Zivanna mengeluarkan semua unek-uneknya di saat Dikta memarahi semua kesalahan yang telah dia lakukan di rumah sakit.
Dengan bantuan dan tuntunan Dikta akhirnya, anak kecil tersebut berhasil dijahit dan lukanya juga ditutup oleh perban, kondisinya membaik dan stabil membuat Zivanna menghela nafas.
"Belajar menggunakan jarum dalam menjahit tubuh manusia, bukan hanya teori yang dipelajari tetapi juga praktek, dunia kedokteran bukan hanya ingatan yang diperlukan," ucap Dikta memberi saran dengan tegas terhadap Zivanna yang hanya menganggukkan kepala.
Dikta menghela nafas dan kemudian berlalu dari hadapan Zivanna.
Zivanna mengembangkan pipinya dengan membuang nafas panjang.
"Sungguh pada akhirnya aku melakukannya untuk pertama kali?" batin Zivanna memang selama menjadi Dokter baru kali itu dia melakukan hal itu pada pasien.
Zivanna benar-benar merasa lega dan walau dibantu oleh Dikta, tetapi sebenarnya itu yang diinginkan jika dimarahi dan ditegur harus memiliki alasan agar dia bisa belajar bukan membuat otaknya semakin pegal karena terus dimarahi tidak jelas.
Bersambung....