"Layani aku, Pria tampan... aku terpengaruh obat." Shanum berjalan mendekat dengan langkah limbung, memojokkan seorang pria yang bahkan tidak berani menatap matanya.
"Siapa kamu, Nona?! Keluar dari sini, aku bukan pelayanmu!" Rasyid mundur hingga punggungnya membentur tembok. Ia adalah seorang Kyai muda yang baru saja kembali dari Mesir, namun malam ini, kesuciannya terancam oleh wanita asing yang aroma alkoholnya menusuk indra penciuman.
Satu malam yang salah membawa Shanum ke dalam pelukan lelaki yang paling tidak mungkin ia sentuh. Niat hati melarikan diri dari kejaran pria hidung belang di penginapan itu, Shanum justru terjebak di kamar Rasyid—permata keluarga pesantren yang kehormatannya tak bercela.
Pintu yang tak terkunci menjadi saksi bisu saat keluarga besar dan guru spiritual Rasyid memergoki mereka dalam posisi yang mematikan reputasi. Tak ada pilihan lain selain pernikahan siri. Rasyid terpaksa memeluk 'noda' dan Shanum terpaksa menelan hinaan di pesantren.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marlyn_2309 Lyna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Duri di Balik Jubah Suci
Ruangan gudang bawah tanah yang lembap itu mendadak terasa seperti peti mati yang menghimpit dada Shanum.
Kata-kata Rasyid barusan adalah belati yang lebih tajam daripada fitnah narkoba mana pun. Shanum melepaskan cengkeramannya dari bahu Rasyid, mundur selangkah demi selangkah dengan tatapan nanar.
"Tunjukkan padaku," bisik Shanum, suaranya bergetar hebat. "Tunjukkan surat itu, Mas."
Dengan tangan yang gemetar, Rasyid merogoh saku jubahnya. Ia mengeluarkan selembar kertas kusam yang tampak sudah berusia belasan tahun. Shanum menyambarnya. Di bawah cahaya lampu minyak yang berkedip, matanya menyisir setiap kata yang tertulis di sana.
"Untuk menebus kegelisahanku, aku membiarkan gadis kecil itu dibawa pergi oleh tangan-tangan hitam. Demi menjaga marwah dan keberlangsungan tanah ini dari ancaman pihak luar, satu nyawa harus dikorbankan agar ribuan santri tetap bisa mengaji. Semoga Allah mengampuni keputusanku membiarkannya terbuang ke lembah nista..."
Di pojok bawah kertas itu, tertera stempel tinta merah dengan ukiran nama almarhum Kyai besar—ayah Rasyid. Stempel yang hanya ada satu di dunia dan tersimpan rapat di lemari pribadi yang tak pernah disentuh siapa pun.
"Tulisan tangan ini..." Rasyid terisak, kepalanya tertunduk hingga menyentuh lantai yang dingin.
"Sangat mirip dengan tulisan tangan Abah di kitab-kitab lamanya. Dan stempel itu... hanya Abah yang punya, Shanum. Yusuf tidak mungkin punya akses ke sana kecuali..."
Shanum merasakan dunia di sekelilingnya runtuh. Ingatan tentang penderitaannya di rumah bordil, cambukan, makian, dan malam-malam tanpa harapan selama lima belas tahun kembali menghantamnya seperti ombak raksasa.
Selama ini ia mengira Rasyid adalah penyelamatnya. Ia mengira Pondok Hikmah adalah tempat perlindungan terakhirnya. Ternyata, ia hanyalah tumbal yang dikorbankan oleh keluarga ini demi menjaga "kesucian" sebuah nama besar.
"Jadi..." Shanum tertawa getir, tawa yang terdengar sangat menyakitkan. "Selama lima belas tahun aku hidup di neraka... itu karena ayahmu? Pria yang kamu puja sebagai wali itu... yang melempar aku ke tangan rumah bordil?"
"Shanum, maafkan aku... aku tidak tahu..." Rasyid mencoba meraih ujung kaki Shanum, namun Shanum dengan cepat menghindar.
"Jangan sentuh aku!" teriak Shanum. Suaranya melengking penuh luka. "Jangan sentuh aku dengan tangan dari keturunan pria yang menghancurkan hidupku!"
Rasyid membeku. Penolakan itu terasa lebih perih daripada cambukan massa tadi siang. Ia melihat istrinya—wanita yang baru saja ia cintai dengan seluruh jiwanya—kini menatapnya dengan tatapan asing. Ada kebencian, kekecewaan, dan kehancuran yang menyatu di mata Shanum.
Shanum memegang kepalanya yang terasa ingin pecah. Ia bingung. Ia marah, tapi ia tidak tahu pada siapa harus melampiaskannya.
Rasyid tidak bersalah atas perbuatan ayahnya, tapi melihat wajah Rasyid kini hanya mengingatkannya pada surat pengakuan biadab itu.
Hanya ada waktu satu bulan sebelum ia harus pergi ke Turki, dan di sisa waktu yang singkat ini, takdir justru memberikan kenyataan yang paling pahit.
"Aku memilihmu... aku membelamu mati-matian di depan semua orang..." Shanum bergumam lirih, air matanya jatuh tanpa suara. "Ternyata aku sedang membela anak dari pria yang membuangku ke tempat sampah."
"Shanum, dengarkan aku—"
"Cukup, Mas. Cukup." Shanum mundur menuju pintu gudang. "Aku tidak tahu lagi siapa kamu. Aku tidak tahu lagi apa yang nyata di rumah ini. Segalanya terasa... palsu."
Shanum berbalik dan berlari keluar dari gudang itu, mengabaikan panggilan parau Rasyid yang terus menyebut namanya. Ia berlari menembus kegelapan malam pesantren, tidak peduli dengan tatapan sinis santri yang berjaga.
Ia merasa hilang arah. Identitasnya baru saja ditemukan sebagai Tuan Putri, namun di saat yang sama, harga dirinya sebagai manusia kembali diinjak-injak oleh masa lalu yang ternyata dirancang oleh orang yang paling ia hormati di pesantren ini.
Shanum berhenti di tengah halaman yang sepi, menatap langit malam yang kelam. Ia merasa sendirian. Benar-benar sendirian di tengah tempat yang seharusnya ia sebut rumah. Kecewa itu terlalu besar hingga ia tidak sanggup lagi untuk sekadar berteriak. Ia hanya diam, membiarkan hatinya membeku di tengah badai fitnah dan rahasia darah yang baru saja terungkap.
Guys maafkan baru bisa upload, author nya abis tipes :)
biarkan shanum bertemu keluarganya dulu, smua orang mengganggapmu rendah tapi shanum anggap kamu suami yg baik dan pantas dihormati...
shanum berharap pulang keturkey bisa hamil....
zein ingin menghancurkan nama baik rasyid Zen punya dendam kesumat kayaknya...
semoga aja rasyid segera kembali, mencari bukti-bukti akurat agar baik bersih...
yusuf dan zein jebloskan aja kepenjara, ada bukti-buakti yg kuat...
💪
apakah rasyid fan zein ada hubungan saudara....
rasyid sangat terpuruk telah difitnah sama yusuf, apalagi shanum cuekin rasyid tidak terima ulah ayah rasyid dulu sampai tega membuang shanum dirumah bordir🤭
kayaknya yusuf punya dendam kesumat sama rasyid, yusuf berusaha menjatuhkan rasyid...
shanum dan rasyid lebih hati-hati sama yusuf sangat jahat dan licik..