NovelToon NovelToon
Detektif Zaidan Memburu Penjahat Mendapatkan Istri Darurat

Detektif Zaidan Memburu Penjahat Mendapatkan Istri Darurat

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Janda
Popularitas:734
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Zaidan, seorang detektif yang tengah memburu penjahat, tak sengaja terjebak dalam situasi pelik saat pengejarannya masuk ke pemukiman warga. Gara-gara menginjak ekor anjing, ia terperosok masuk ke rumah Sulfi yang baru saja selesai mandi.
Teriakan histeris Sulfi mengundang massa yang langsung salah paham dan menuding Zaidan melakukan perbuatan asusila. Meski Zaidan telah menjelaskan tugasnya dan statusnya yang sudah beristri, warga yang telanjur emosi tetap memaksa keduanya untuk menikah demi "membersihkan" nama kampung. Di bawah tekanan massa, sang detektif terpaksa menjalani pernikahan yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Matahari bahkan belum berniat menampakkan diri saat jarum jam dinding menunjukkan pukul empat pagi.

Udara dingin khas pedesaan merembes masuk melalui celah-celah ventilasi, namun Sulfi sudah terbangun.

Ia beranjak dari ranjang dengan gerakan sangat pelan, berusaha tidak menimbulkan suara yang bisa mengusik pria yang kini tertidur di lantai kamar dengan beralaskan tikar dan sarung mendiang ayahnya.

Di dapur kecil yang masih gelap, Sulfi menyalakan kompor gas.

Suara cetrek pemantik kompor terasa nyaring memecah kesunyian.

Ia meletakkan teko berisi air di atas api, berniat menyeduh kopi untuk mengusir rasa pening yang menggelayuti kepalanya sejak semalam.

Sambil menunggu air mendidih, Sulfi melamun menatap uap tipis yang mulai muncul dari mulut teko.

Pikirannya melayang, mencoba meraba kenyataan yang terasa begitu absurd.

"Aku, sudah menikah lagi?" batinnya getir.

Hatinya masih terasa perih jika mengingat kejadian tiga bulan lalu.

Luka itu bahkan belum mengering. Suaminya yang pertama baru saja pergi untuk selamanya akibat kecelakaan maut di jalan raya.

Sulfi masih ingat betul rasa hampa yang menghantamnya saat itu, rasa kehilangan yang membuatnya merasa hidupnya telah berakhir.

Ia belum sempat meratapi kepergian suaminya dengan tuntas, namun takdir justru melemparnya ke dalam pelukan seorang detektif asing melalui kejadian yang lebih mirip komedi tragis.

Ia menoleh ke arah pintu kamar yang terbuka sedikit.

Di sana, Zaidan—suami barunya—masih terlelap. Ada perasaan aneh yang berkecamuk di dada Sulfi; rasa takut, canggung, namun ada sedikit rasa aman yang tak mampu ia jelaskan.

Bagaimana mungkin seorang detektif yang tengah memburu penjahat bisa berakhir menjadi suaminya hanya karena seekor anjing dan lantai yang licin?

Bunyi siulan teko yang mendidih membuyarkan lamunannya.

Sulfi segera mematikan kompor. Ia menuangkan air panas ke dalam cangkir berisi bubuk kopi hitam.

Aroma tajam kopi mulai memenuhi ruangan, sedikit memberikan ketenangan di tengah badai batin yang ia alami.

"Baru tiga bulan, Mas..." bisiknya lirih pada bayangan mendiang suaminya di dalam kepala.

"Maafkan aku, aku benar-benar tidak punya pilihan semalam."

Sulfi menarik napas panjang, menguatkan hati. Ia harus menghadapi kenyataan bahwa pagi ini, hidupnya telah berubah total.

Ia bukan lagi sekadar janda yang mencoba bertahan hidup sendiri, melainkan istri dari seorang pria yang identitas aslinya pun belum sepenuhnya ia pahami.

"Selamat pagi, Mbak," sapa Zaidan dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.

Ia sudah terduduk di atas tikar, berusaha mengumpulkan nyawa sambil merapikan sarung kotak-kotak yang tampak agak menggantung di kakinya yang panjang.

Ada rasa canggung yang luar biasa saat ia menyadari bahwa kini ada sosok wanita lain yang bangun lebih awal darinya di rumah ini.

Sulfi sedikit terperanjat, jemarinya hampir saja menumpahkan sedikit kopi ke nampan kayu.

"S-selamat pagi, Mas. Ini kopinya. Biar badannya agak enak," jawab Sulfi dengan nada bicara yang masih terbata-bata.

Ia meletakkan cangkir itu di atas meja kecil dekat pintu kamar, lalu berniat kembali ke dapur untuk menghindari suasana kaku tersebut. Namun, sebelum ia sempat melangkah pergi, suara Zaidan menahannya.

"Mbak Sulfi, tunggu sebentar," ujar Zaidan pelan, namun terdengar sungguh-sungguh.

"Bisa duduk sebentar di sini? Ada yang harus saya bicarakan."

Sulfi ragu sejenak. Ia memilin ujung jilbab instan yang dipakainya, lalu perlahan menarik sebuah kursi kayu kecil dan duduk dengan jarak yang cukup aman dari Zaidan.

Ia menunduk, tidak berani menatap langsung mata detektif yang semalam dipukuli warga itu.

Zaidan menghela napas panjang, aroma kopi hitam yang mengepul di depannya sedikit memberinya keberanian.

Ia menatap wajah Sulfi yang tampak layu karena kurang tidur.

"Pertama, saya ingin berterima kasih karena Mbak sudah mau menyelamatkan nyawa saya dari amukan warga semalam," mulai Zaidan dengan nada rendah.

"Tapi saya juga harus jujur soal banyak hal. Kejadian semalam benar-benar di luar kendali saya. Saya ingin kita bicara sebagai orang dewasa tentang bagaimana status pernikahan ini ke depannya."

Sulfi masih diam, namun jemarinya meremas satu sama lain.

Ia menunggu kalimat selanjutnya yang keluar dari mulut pria itu, tanpa tahu bahwa pengakuan Zaidan mungkin akan menggores luka baru di hatinya yang belum sembuh benar.

Zaidan menunduk dalam, tak sanggup menatap mata Sulfi yang mulai berkaca-kaca.

Keheningan pagi itu terasa lebih mencekik daripada amukan warga semalam.

"Sebenarnya saya sudah punya istri, Mbak," ucap Zaidan dengan suara yang nyaris hilang.

Sulfi tersentak, tangannya yang tadi meremas ujung jilbab kini gemetar hebat.

Matanya membelalak, menatap Zaidan dengan pandangan tidak percaya.

Rasa kantuknya hilang seketika, digantikan oleh rasa sesak yang menghantam dada.

"I-istri?" suara Sulfi bergetar.

"Mas sudah punya istri? Kenapa Mas tidak memberitahukan itu kemarin? Sebelum semuanya terlanjur sah?"

Zaidan mengusap wajahnya dengan kasar, tampak sangat frustrasi.

"Bagaimana saya bisa menjelaskan kalau kemarin suasananya begitu panas, Mbak? Jangankan bicara soal istri, saya mengaku polisi saja mereka tidak percaya. Mereka hanya ingin kita segera menikah demi nama baik kampung. Kalau saya bilang sudah punya istri, saya mungkin tidak akan selamat dari kerumunan itu."

Zaidan menarik napas panjang, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih tegas meski hatinya sendiri bimbang.

"Hari ini, Mbak akan ikut saya pulang ke rumah saya di kota."

Sulfi tertegun sejenak, otaknya mencoba mencerna maksud perkataan pria di depannya.

"Maksud Mas Zaidan, Saya akan tinggal di rumah yang sama dengan istri pertama Mas? Satu atap dengan dia?"

Zaidan menganggukkan kepalanya pelan, sebuah jawaban yang terasa seperti vonis mati bagi Sulfi.

"Gila..." bisik Sulfi lirih, air matanya kini benar-benar tumpah.

"Mas sadar apa yang Mas minta? Bagaimana perasaan istri Mas kalau saya tiba-tiba datang sebagai madunya? Dan bagaimana nasib saya di sana? Saya ini baru kehilangan suami, Mas! Sekarang Mas mau membawa saya ke dalam neraka yang baru?"

Zaidan mendekat sedikit, namun Sulfi refleks mundur.

"Saya tidak punya pilihan lain, Sulfi," suara Zaidan kini terdengar penuh tekanan.

"Guntur, buronan yang saya kejar semalam, dia tahu identitas saya. Kampung ini tidak lagi aman untukmu setelah kejadian semalam. Kamu sekarang sudah terseret dalam urusan saya. Satu-satunya tempat yang bisa saya awasi 24 jam hanya rumah saya. Soal istri saya, biarlah itu menjadi urusan saya untuk menjelaskannya."

Sulfi menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.

Baru kemarin ia merasa kehilangan arah karena menjadi janda, dan pagi ini, ia mendapati dirinya terjebak dalam posisi yang paling ia benci sepanjang hidupnya: menjadi wanita kedua.

Di ruang tamu yang masih berantakan dengan bekas injakan kaki warga, Zaidan dan Sulfi duduk berhadapan dengan kecanggungan yang memuncak.

Pengakuan Zaidan tentang statusnya yang sudah beristri baru saja meledak seperti bom di tengah kesunyian pagi.

Namun, sebelum Sulfi sempat menumpahkan seluruh kemarahan dan kebingungannya, ponsel di saku jaket kotor Zaidan berdering nyaring.

Layarnya menyala, menampilkan nama "Maya".

Zaidan memejamkan mata sejenak, menelan ludah sebelum menggeser ikon hijau.

"Halo, Dek?" suara Zaidan terdengar serak.

"Mas! Mas kenapa nggak pulang semalam?" suara Maya dari seberang telepon terdengar nyaring dan menuntut.

"Mas tahu nggak, beras di rumah sudah habis! Aku mau masak buat sarapan saja nggak bisa. Mas ke mana saja sih? Tugas terus!"

Zaidan menghela napas panjang, pundaknya merosot seolah beban dunia baru saja ditambah berkilo-kilo lagi. Ia melirik Sulfi yang terdiam menyimak pembicaraan itu.

"Iya, Dek, maaf. Mas ada tugas mendadak di lapangan yang nggak bisa ditinggal. Sebentar lagi Mas pulang, ya? Mas belikan beras nanti," jawab Zaidan dengan nada serendah mungkin, mencoba meredam amarah istrinya.

Setelah telepon ditutup, keheningan kembali menyergap.

Sulfi memandang wajah Zaidan dengan tatapan sulit diartikan.

"Beras? Istri Mas minta beras?" tanya Sulfi datar.

Zaidan tidak menjawab, ia hanya menunduk malu.

Seorang detektif yang baru saja dipaksa menikah, kini diingatkan pada realita dapur rumah tangganya yang lain yang sedang kosong.

Tanpa diduga, Sulfi bangkit dari duduknya. Ia melangkah ke dapur belakang, lalu kembali dengan menyeret sebuah karung beras kecil yang masih berisi lebih dari separuh.

"Ini, bawa pulang untuk istri Mas," ujar Sulfi sambil meletakkan karung itu di dekat kaki Zaidan.

"Jangan biarkan dia lapar karena Mas terjebak di sini semalam."

Zaidan tertegun. "Mbak Sulfi, tidak usah..."

"Sudah, jangan banyak bicara," potong Sulfi. Suaranya kini terdengar lebih tegar, meski matanya masih merah.

"Mas mandi dulu sana. Pakai sisa air panas di dapur. Bau Mas sudah seperti keringat dan debu jalanan. Tidak enak kalau istri Mas mencium bau itu saat Mas pulang nanti."

Zaidan hanya bisa terpaku melihat ketegasan wanita itu.

Ia akhirnya berdiri dan melangkah menuju kamar mandi dengan perasaan campur aduk.

Sementara suara kucuran air terdengar dari belakang, Sulfi masuk ke dalam kamarnya.

Ia mengambil sebuah tas kain besar yang sudah usang.

Dengan gerakan mekanis, ia memasukkan baju-bajunya, beberapa helai kerudung, dan mukena.

Ia tidak membawa banyak hal, hanya apa yang benar-benar ia butuhkan.

Selesai berkemas, Sulfi berdiri di ambang pintu kamar.

Ia memandang sekeliling rumah kecil itu—rumah tua peninggalan mendiang kedua orang tuanya yang penuh dengan memori.

Di sinilah ia tumbuh besar, di sini pula ia merawat suaminya yang telah tiada.

Kini, ia harus meninggalkan semua kenangan itu untuk pergi ke sebuah rumah yang bahkan ia tidak tahu di mana, hidup dengan pria yang baru dinikahinya karena kecelakaan, dan menghadapi kenyataan pahit sebagai istri kedua.

"Ibu, Ayah. Maafkan Sulfi," bisiknya lirih sambil mengusap air mata yang kembali menetes, saat ia menyadari bahwa mulai hari ini, hidupnya bukan lagi miliknya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!