Aleea nama panggilannya, Putri dari seorang pemilik pesantren yang cukup ramai di kotanya, aleea dikenal ramah dan santun, dia juga mengajar di pesantren milik abahnya namun aleea juga sibuk dengan dunianya sebagai penulis.
Areez seorang ustadz muda yang mengajar di pesantren milik abahnya aleea, tingginya yang semampai dengan badannya yang gagah membuat setiap orang melihat tak berkedip mata. sangat tampan memang tapi areez tidak banyak bicara hanya seperlunya, kecuali abahnya aleea.
Kebanyakan lingkungan pesantren memegang teguh adat dan senioritas, begitupun pesantren milik abahnya aleea. perbedaan umur terkadang seperti jurang yang dalam, rasa sulit untuk mengungkapkan terbatas rasa sopan seringkali menjadi pikiran.yang lebih tua merasa umurnya menghalangi untuk menunjukkan perasaan sedangkan yang lebih muda selalu bersikap sopan, bahkan terasa terlalu sopan hingga sulit di bedakan, entah itu rasa hormat, takdim atau justru menyimpan perasaan lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ainun masruroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
laskar literasi wali
Gema seminar akbar itu ternyata tidak berhenti di tembok tinggi Darul Hikmah. Kabar tentang keberanian Abah dan "revolusi" yang kubawa merembes keluar melalui sela-sela pagar bambu, menyusup ke pasar-pasar tradisional, dan menjadi buah bibir di pengajian selapanan desa. Namun, aku sadar, mengubah pola pikir di dalam pesantren jauh lebih mudah daripada meruntuhkan tembok tradisi di desa-desa pelosok yang masih menganggap anak perempuan adalah aset yang harus segera "diamankan" dengan pernikahan.
Suatu pagi, aku menghadap Abah. Beliau sedang menyirami tanaman di halaman belakang.
"Abah, kita tidak bisa hanya menjadi menara gading," kataku sambil membawakan nampan berisi kopi hangat. "Santriwati kita pulang ke rumah. Jika di rumah mereka tetap dipaksa menikah oleh lingkungan sekitarnya, maka apa yang kita bangun di sini akan runtuh juga."
Abah meletakkan alat siramnya, menatapku dengan mata yang mulai sayu namun tetap tajam. "Lalu, apa rencanamu, aleea?"
"Kita butuh Laskar Literasi Wali, Abah. Bukan aku yang bicara, tapi para orang tua yang sudah sadar. Orang desa lebih percaya pada sesama orang tua daripada anak muda sepertiku yang mereka anggap 'terlalu banyak makan buku'."
Abah tersenyum lebar. "Ide yang berani. Ajak Haji Mansur. Dia punya suara yang didengar di daerah selatan." aku mengangguk pelan.
Maka, dimulailah perjalanan itu. Aku menyusun sebuah tim kecil. Aku menyebutnya Laskar Literasi Wali. Anggotanya adalah para orang tua santri yang hatinya telah terketuk. Di garis depan, ada Pak Haji Mansur. Dia yang dulu hampir menyerangku, kini menjadi sekutu paling vokal setelah melihat penderitaan Sarah, putrinya.
Tujuan pertama kami adalah Desa Sukomaju, sebuah daerah yang dikenal dengan angka pernikahan dini tertinggi di kabupaten. Kami berangkat menggunakan mobil bak terbuka milik pesantren yang diisi dengan pengeras suara dan tumpukan brosur yang kurancang sesederhana mungkin agar mudah dipahami.
Sesampainya di sana, kami tidak disambut dengan karpet merah. Sebaliknya, tatapan curiga dan tangan yang bersedekap di dada menyambut kami di halaman surau desa. Para pria dengan sarung yang disampirkan di bahu dan ibu-ibu yang menggendong balita menatap kami seolah kami adalah sales yang membawa barang dagangan aneh.
"Assalamualaikum," suara Pak Haji Mansur menggelegar melalui pelantang suara. Dia tidak memulai dengan teori medis, melainkan dengan sebuah kejujuran yang telanjang.
"Bapak-Bapak, Ibu-Ibu... saya datang ke sini bukan untuk menggurui. Saya datang untuk mengakui dosa saya," ucap Pak Haji Mansur. Suasana yang tadinya bising mendadak senyap.
Aku berdiri di samping panggung kecil itu, memantau reaksi warga. Aku melihat beberapa bapak-bapak mulai menurunkan tangannya dari dada.
"Saya dulu seperti kalian," lanjut Haji Mansur. "Saya pikir, menikahkan anak secepat mungkin adalah cara saya melindungi mereka dari zina. Saya pikir, itu cara saya mengurangi beban dapur. Tapi saya salah besar. Saya justru mengirim putri saya, Sarah, ke lubang penderitaan. Dia hampir kehilangan nyawa, dia kehilangan bayinya, dan sekarang dia kehilangan senyumnya karena rahimnya belum siap."
Haji Mansur terisak sejenak. Suasana menjadi sangat emosional. "Jangan jadi saya. Jangan bayar ketidaktahuan kalian dengan nyawa anak-anak kalian. Mereka punya hak untuk sekolah, punya hak untuk sehat sebelum menjadi seorang ibu."
Setelah Haji Mansur, giliranku naik. Aku tidak membawa bahasa medis yang rumit. Aku membawa ilustrasi. Aku mengeluarkan sebuah botol plastik yang masih tipis dan sebuah botol yang sudah tebal.
"Bapak dan Ibu," kataku sambil mengangkat kedua botol itu. "Bayangkan botol tipis ini adalah rahim anak kita yang masih usia 15 tahun. Jika kita isi air panas mendidih—yaitu beban kehamilan yang berat—dia akan meleleh dan hancur. Tapi lihat botol yang sudah tebal ini, dia siap menampung air panas sekalipun. Menikahkan anak di usia dini sama saja dengan memaksa botol tipis ini menampung beban yang belum sanggup ia pikul."
Diskusi mulai mencair. Seorang ibu berbaju daster lusuh mengangkat tangan. "Tapi Mbak, kalau tidak dinikahkan, nanti mereka pacaran dan malah memalukan keluarga, bagaimana?"
Aku tersenyum, mendekat ke arahnya. "Itulah tugas kita, Bu. Bukan dengan 'mengurung' mereka dalam pernikahan, tapi dengan memberi mereka kesibukan yang bermanfaat. Di pesantren, kami punya program keterampilan. Jika anak Ibu punya mimpi, punya harapan, mereka tidak akan sempat berpikir untuk melakukan hal-hal yang tidak-tidak. Mereka akan sibuk mengejar masa depan yang lebih cerah untuk mengangkat derajat Ibu juga."
Sepanjang sore itu, kami tidak hanya bicara. Kami membagikan "Kartu Harapan". Di kartu itu, para orang tua diminta menuliskan satu mimpi untuk anak perempuan mereka. Aku terenyuh saat melihat seorang bapak yang bekerja sebagai buruh tani menuliskan dengan tangan gemetar: “Ingin putriku jadi guru agar tidak kepanasan di sawah seperti bapaknya.”
Laskar Literasi Wali bergerak dari desa ke desa. Kami memasuki ruang-ruang pengajian kecil, duduk di atas tikar pandan, dan minum teh pahit bersama warga. Kehadiran Bapak Bupati Hasan Abdullah yang sesekali ikut turun memberikan legitimasi yang kuat. Beliau memastikan bahwa pemerintah akan mempermudah akses beasiswa bagi anak-anak desa yang mau menunda pernikahan demi sekolah.
Namun, tidak semua berjalan mulus. Di desa ketiga, kami dihadang oleh sekelompok pemuda dan tokoh adat yang merasa "urusan rumah tangga" mereka dicampuri.
"Kalian orang kota tahu apa!" teriak salah satu pemuda. "Tradisi kami sudah begini sejak dulu. Anak perempuan itu kalau sudah ada yang melamar ya harus diterima, daripada jadi perawan tua!"
Aku maju selangkah, menahan Haji Mansur yang mulai terpancing emosi. "Mas," kataku tenang. "Tradisi yang baik adalah tradisi yang melindungi, bukan yang menyakiti. Kami tidak melarang pernikahan. Kami hanya ingin pernikahan itu membawa bahagia, bukan bencana medis. Apakah Mas mau melihat istri Mas nanti meregang nyawa karena panggulnya terlalu sempit saat melahirkan?"
Debat itu berlangsung alot di bawah lampu neon surau yang berkedip-kedip. Namun, kekuatan cerita nyata dari Haji Mansur dan dukungan medis dari puskesmas setempat yang kubawa pelan-pelan meruntuhkan perlawanan mereka.
Di akhir perjalanan satu bulan itu, Laskar Literasi Wali telah mengumpulkan lebih dari lima ratus "Komitmen Wali". Sebuah janji tertulis dari para orang tua untuk tidak menikahkan anak mereka sebelum usia 20 tahun dan memberikan akses pendidikan seluas-luasnya.
Malam itu, saat kami kembali ke pesantren dengan mobil bak terbuka yang berdebu, aku menatap bintang-bintang di langit. Rasanya beban di pundakku sedikit terangkat. Suara-suara dari langit-langit surau desa kini bukan lagi tentang kepasrahan pada nasib, melainkan tentang keberanian untuk bermimpi.
Aku menyadari satu hal: literasi bukan hanya soal membaca buku, tapi soal membaca realita dan memiliki keberanian untuk mengubahnya. Dan Laskar Literasi Wali adalah bukti bahwa ketika hati nurani orang tua disentuh dengan kebenaran dan kasih sayang, tidak ada tradisi kolot yang tidak bisa diruntuhkan.
"Kita baru saja membuka jalan, mbak," bisik Haji Mansur sambil menatap jalanan yang gelap.
"Iya, Pak Haji. Dan di ujung jalan itu, ada ribuan masa depan yang sedang menunggu untuk diselamatkan," jawabku mantap.
Mobil terus melaju, membelah malam, membawa harapan yang kini tidak lagi hanya menjadi milik pesantren, tapi sudah menjadi milik warga desa. Perjuangan ini masih panjang, tapi malam ini, aku tahu bahwa kami telah memenangkan satu pertempuran besar: pertempuran melawan ketidaktahuan.