Dulu, Alena percaya bahwa cinta bisa mengalahkan segalanya—bahkan kesombongan seorang pria yang dingin dan tak tersentuh seperti Arkan. Ia menyerahkan hati, harga diri, bahkan masa depannya demi pernikahan yang ternyata hanya dianggap sebagai kesalahan oleh suaminya sendiri.
Di hari ia kehilangan segalanya, Alena tidak hanya diusir dari rumah—ia juga dikhianati, dipermalukan, dan ditinggalkan dalam kehancuran yang nyaris merenggut nyawanya.
Namun, takdir belum selesai menulis kisahnya.
Lima tahun kemudian, Alena kembali.
Bukan sebagai wanita lemah yang dulu diremehkan, melainkan sebagai sosok baru—misterius, elegan, dan berkuasa. Di balik senyumnya yang tenang, tersimpan rencana yang telah ia bangun dengan sabar: menghancurkan satu per satu kehidupan
orang-orang yang pernah menjatuhkannya… termasuk Arkan.
Ketika Arkan kembali bertemu dengan wanita yang dulu ia buang, ada sesuatu yang berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 — PERMAINAN DIMULAI DARI BAYANGAN
Malam itu, kota masih sama.
Lampu-lampu tinggi, jalanan sibuk, suara klakson yang tak pernah benar-benar berhenti.
Tapi di salah satu penthouse paling mahal di pusat kota—
Aku berdiri di depan jendela besar, menatap ke bawah dengan tenang.
Tanganku memegang segelas wine merah, tapi aku belum menyentuhnya.
Pikiranku… jauh lebih sibuk.
“Dia tidak berubah banyak.”
Suara itu datang dari belakang.
Aku tidak menoleh.
“Orang seperti Arkan memang tidak mudah berubah,” jawabku santai. “Terlalu yakin dunia berputar di sekitarnya.”
Langkah kaki mendekat.
Refleksi di kaca menunjukkan sosok pria tinggi dengan jas rapi—Leon.
Satu-satunya orang yang tahu hampir semua tentang apa yang kulalui selama lima tahun terakhir.
“Hari ini kamu terlalu berani,” katanya pelan. “Datang langsung ke sarangnya?”
Aku tersenyum tipis.
“Justru karena itu aku harus datang.”
Aku akhirnya menoleh.
Menatapnya.
“Kalau aku hanya bermain dari jauh, dia tidak akan pernah merasa terancam.”
Leon menyilangkan tangan.
“Dan sekarang?”
“Sekarang…” aku memutar gelas di tanganku perlahan, “dia mulai sadar kalau aku bukan lagi wanita yang bisa dia injak.”
Langkah Pertama Sudah Terjadi
“Aku sudah cek data yang kamu minta,” kata Leon sambil meletakkan tablet di meja.
Aku berjalan mendekat.
“Dan?”
“Seperti yang kamu duga. Arkavera tidak sekuat yang terlihat.”
Aku mengangkat alis.
“Menarik.”
Dia menekan layar, menampilkan beberapa grafik dan dokumen.
“Dua tahun terakhir, mereka kehilangan beberapa investor besar. Tidak terlihat di publik karena ditutup dengan proyek-proyek baru.”
Aku memperhatikan dengan seksama.
Setiap angka.
Setiap detail.
“Dan ini…” lanjut Leon, “proyek
properti di wilayah selatan. Nilainya besar, tapi sebenarnya… bermasalah.”
“Masalah apa?”
“Izin belum sepenuhnya bersih. Ada konflik tanah.”
Aku tersenyum.
Pelan.
Akhirnya…
Celah.
“Kalau itu sampai bocor…” gumamku.
“Saham mereka bisa jatuh dalam hitungan hari,” sambung Leon.
Sunyi.
Lalu aku tertawa kecil.
“Bagus.”
Alena yang Tidak Lagi Sama
Leon menatapku cukup lama.
“Kadang aku masih sulit percaya.”
Aku menoleh.
“Percaya apa?”
“Bahwa kamu… orang yang sama dengan lima tahun lalu.”
Aku terdiam sejenak.
Lalu tersenyum.
“Karena aku memang bukan orang yang sama.”
Aku berjalan kembali ke jendela.
Menatap kota yang berkilau.
“Alena yang dulu… sudah mati malam itu.”
Hening.
Dan untuk pertama kalinya—
Bayangan masa lalu itu muncul lagi.
Malam yang Hampir Mengakhiri Segalanya
Hujan.
Dingin.
Dan jalanan yang kosong.
Aku berjalan tanpa arah malam itu.
Tidak tahu harus ke mana.
Tidak punya siapa-siapa.
Tidak punya apa-apa.
Aku ingat kakiku lemah.
Pandangan mulai kabur.
Dan suara hujan yang semakin jauh…
Sampai akhirnya—
Gelap.
Sebuah Awal Baru yang Tidak Direncanakan
“Aku pikir kamu tidak akan bangun lagi.”
Suara itu adalah hal pertama yang kudengar saat membuka mata.
Langit-langit putih.
Aroma obat.
Dan rasa sakit di seluruh tubuhku.
Aku menoleh pelan.
Seorang pria tua duduk di kursi, menatapku dengan ekspresi datar.
“Kamu beruntung,” lanjutnya. “Ditemukan sebelum terlambat.”
Aku tidak langsung menjawab.
“Di mana aku?” tanyaku pelan.
“Klinik kecil. Bukan tempat mewah seperti yang mungkin kamu biasa datangi.”
Nada suaranya sedikit sinis.
Aku tidak peduli.
“Kenapa… menolongku?”
Dia menatapku cukup lama.
Seolah menilai sesuatu.
“Karena kamu belum selesai.”
Aku mengernyit.
“Maksudnya?”
Dia berdiri.
“Orang dengan mata seperti kamu… biasanya tidak ingin mati.”
Sunyi.
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Karena saat itu…
Aku sendiri tidak tahu apakah aku masih ingin hidup.
Kebenaran yang Menghancurkan
Beberapa hari setelah itu—
Saat tubuhku mulai pulih—
Aku menerima sesuatu yang mengubah segalanya.
Sebuah amplop.
Tanpa nama pengirim.
Tanpa penjelasan.
Di dalamnya…
Foto.
Dokumen.
Dan satu fakta yang membuat darahku membeku.
Pernikahanku dengan Arkan…
Bukan kebetulan.
Bukan karena keluarga.
Bukan karena takdir.
Tapi…
dirancang.
Tanganku gemetar saat membaca setiap halaman.
Nama-nama.
Transaksi.
Kesepakatan.
Dan satu nama yang terus muncul…
Nama seseorang yang seharusnya tidak terlibat.
“Tidak mungkin…” bisikku waktu itu.
Tapi semakin aku membaca…
Semakin jelas semuanya.
Aku bukan hanya dibuang.
Aku…
digunakan.
Kembali ke Sekarang
“Leon.”
“Ya?”
Aku menoleh pelan.
“Semua dokumen lama itu… sudah aman?”
Dia mengangguk.
“Aman. Tidak ada yang bisa menyentuhnya kecuali kamu.”
Bagus.
Karena itu adalah kartu terbesarku.
Rahasia yang belum akan kubuka sekarang.
Belum.
“Aku ingin mereka merasa aman dulu,” kataku pelan.
“Lalu?”
Aku tersenyum.
“Lalu aku hancurkan semuanya… sekaligus.”
Permainan yang Lebih Dalam
Keesokan paginya—
Kabar mulai menyebar.
“Investor baru masuk ke Arkavera Group.”
Namaku mulai disebut.
Dibicarakan.
Dipertanyakan.
Dan aku tahu—
Arkan tidak akan tinggal diam.
Benar saja.
“Dia mengundangmu ke rapat direksi.”
Aku membaca pesan di ponselku.
Dari sekretaris Arkavera.
Aku tersenyum tipis.
“Akhirnya.”
Pertemuan yang Tidak Akan Sama
Ruang rapat itu penuh.
Para direksi duduk rapi.
Dan di ujung meja—
Arkan.
Tatapannya langsung mengarah padaku saat aku masuk.
Aku berjalan santai.
Tidak terburu-buru.
Tidak gugup.
Aku menarik kursi.
Duduk.
Dan tersenyum tipis.
“Maaf terlambat,” kataku ringan.
“Aku harap kalian tidak mulai tanpa aku.”
Sunyi.
Salah satu direksi berdeham.
“Kami tidak menyangka pemegang saham baru adalah—”
“Orang yang pernah kalian kenal?” potongku halus.
Aku menatap satu per satu wajah mereka.
Beberapa terlihat kaget.
Beberapa tidak nyaman.
Bagus.
Aku suka suasana seperti ini.
Langkah Kedua Dimulai
“Langsung saja,” kataku. “Aku tidak suka membuang waktu.”
Aku membuka file di depanku.
“Proyek wilayah selatan.”
Beberapa orang langsung saling pandang.
Aku tersenyum.
“Menarik sekali.”
Arkan menatapku tajam.
“Apa maksudmu?”
Aku mengangkat satu dokumen.
“Kalau ini sampai keluar ke publik… menurut kalian apa yang akan terjadi?”
Sunyi.
Tegang.
Aku menatapnya lurus.
“Apakah kalian siap… kehilangan semuanya?”
Tatapan yang Berubah
Untuk pertama kalinya—
Aku melihat sesuatu di mata Arkan.
Bukan dingin.
Bukan tenang.
Tapi…
Ancaman yang dia sadari.
Dan mungkin…
Sedikit penyesalan.
Aku bersandar santai.
Menikmati momen itu.
Karena akhirnya—
Dia mulai merasakan apa yang dulu kurasakan.
Akhir yang Baru Dimulai
Saat rapat selesai—
Tidak ada yang benar-benar tenang.
Semua orang tahu—
Sesuatu besar sedang terjadi.
Dan aku…
Adalah pusatnya.
Aku berdiri.
Bersiap pergi.
Tapi sebelum keluar—
Aku berhenti di samping Arkan.
Mendekat sedikit.
Cukup untuk membuat suaraku hanya dia yang dengar.
“Ini baru langkah kedua.”
Aku tersenyum tipis.
“Masih banyak yang belum kamu tahu.”
Aku berjalan pergi.
Meninggalkannya dalam diam.
Dan di hari itu—
Permainan tidak lagi sekadar dimulai.
Ia berubah menjadi…
perang yang tidak bisa dihentikan.