Aurelia adalah tentara bayaran yang hidup di dunia penuh darah dan pengkhianatan. Dalam sebuah misi terakhir, dia mati setelah dikhianati oleh orang yang paling dia percaya.
Namun kematian bukanlah akhir.
Ketika membuka mata, Aurelia justru terbangun di tubuh seorang gadis SMA lemah bernama Aria, seorang tunangan dari pria paling berbahaya di dunia bawah tanah.
Sayangnya, pertunangan itu hanyalah perjanjian tanpa perasaan. Ravian bersikap dingin, acuh, dan sama sekali tidak peduli pada gadis yang seharusnya menjadi calon istrinya.
Namun mereka tidak tahu satu hal. Gadis lemah itu sudah tidak ada lagi. Di dalam tubuhnya kini hidup jiwa seorang pembunuh yang terbiasa menghadapi peluru, pengkhianatan, dan kematian.
Saat musuh mulai datang dari segala arah, rahasia masa lalu terbongkar, dan perang dunia bawah tanah tak terhindarkan…
Akankah seorang gadis SMA yang dihina mampu bertahan di sisi sang raja dunia gelap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Ravian menaikan sebelah alisnya, jelas sekali jika gadis di depannya itu enggan menjawab pertanyaan darinya. Dari sikap dan suaranya saja sudah sangat kelihatan jika Aleta tidak peduli dengan keberadaannya di sana.
"Aku tunanganmu, bukankah wajar jika aku bertanya?" Nada suara Ravian sedikit jengkel.
Tidak dia duga jika Aleta akan keras kepala seperti ini, padahal waktu awal mereka bertemu Aleta terlihat seperti gadis yang lugu dan tidak berani menatapnya.
"Cuma tunangan," Aleta menarik sedikit sudut bibirnya. "Kau tidak mencintaiku, jadi urus saja urusanmu dan aku akan mengurus urusanku sendiri."
Sudut bibir Ravian berkedut, dia merasa aneh sekaligus takjub di waktu yang bersamaan. Tidak hanya keras kepala, Aleta juga cukup menarik perhatiannya.
"Bagaimana jika aku menolak?"
Sial. Ravian tidak bisa menahan diri untuk menjahili gadis itu.
"Itu urusanmu, bukan urusanku."
Aleta menjawab tanpa ragu, bahkan tanpa menatapnya. Nada suaranya datar, seolah-olah percakapan ini sama sekali tidak berarti.
Ravian terdiam sesaat. Sorot matanya menajam, menelusuri setiap garis wajah Aleta yang terlihat begitu tenang—terlalu tenang untuk seseorang yang sedang berhadapan dengan tunangannya sendiri.
"Kau benar-benar tidak peduli, ya?" gumam Ravian pelan, lebih seperti berbicara pada dirinya sendiri.
Aleta akhirnya mengalihkan pandangannya. Mata mereka bertemu untuk pertama kalinya sejak percakapan itu dimulai. Tidak ada gentar, tidak ada rasa canggung seperti yang dia ingat dulu.
"Aku hanya realistis," jawab Aleta singkat. "Hubungan ini tidak pernah didasari perasaan. Jadi, jangan bertingkah seolah-olah kita pasangan yang saling mencintai."
Ada jeda singkat setelah itu.
Ravian menghela napas pelan, lalu menyeringai tipis. Entah kenapa, sikap Aleta justru membuatnya semakin ingin mengusik.
"Menarik," katanya lirih. "Dulu kau bahkan tidak berani menatapku. Sekarang malah berani mengaturku."
"Aku tidak mengatur," potong Aleta cepat. "Aku hanya menetapkan batas."
"Batas?" Ravian mengulang kata itu, lalu melangkah lebih dekat.
Jarak mereka kini terlalu dekat. Aleta bisa merasakan kehadiran Ravian dengan jelas, namun dia tidak mundur. Tatapannya tetap lurus, menantang.
"Kalau begitu," suara Ravian merendah, "aku penasaran… sejauh mana batas yang kau maksud."
Aleta menatapnya tanpa berkedip. "Selama kau tidak ikut campur dalam hidupku, kita tidak akan punya masalah."
Ravian terkekeh pelan, namun kali ini tidak ada nada mengejek di dalamnya—lebih seperti ketertarikan yang mulai tumbuh.
"Sayangnya," ucapnya pelan, "aku tidak suka diabaikan."
Aleta mengernyit tipis. "Itu bukan masalahku."
"Mulai sekarang, itu jadi masalahmu."
Seketika suasana berubah tegang.
Aleta menyipitkan matanya. "Kau memaksakan diri?"
"Bisa dibilang begitu."
Hening kembali menyelimuti mereka. Namun kali ini, bukan hening yang kosong melainkan penuh tekanan yang tak terlihat.
Aleta akhirnya menghela napas, tampak sedikit kesal. "Kau benar-benar menyebalkan."
Ravian tersenyum, puas. "Dan kau… jauh lebih menarik dari yang kuingat."
Kalimat itu membuat Aleta terdiam sepersekian detik hanya sepersekian, sebelum dia kembali memasang ekspresi dinginnya.
"Jangan salah paham," kata Aleta tajam. "Aku tidak tertarik membuat hubungan ini menjadi sesuatu yang lebih dari sekarang."
Ravian tidak langsung menjawab. Dia hanya menatap Aleta dalam diam, seolah sedang menilai sesuatu yang baru saja dia temukan.
"Lihat saja nanti," ucapnya akhirnya.
Aleta mengangkat alis. "Apa maksudmu?"
Ravian mundur selangkah, memberi jarak di antara mereka, tetapi senyum tipis itu masih bertahan di wajahnya.
"Aku tidak terbiasa kehilangan kendali atas sesuatu yang menarik perhatianku."
Aleta mendengus pelan. "Kalau begitu, biasakan."
Tanpa menunggu jawaban, Aleta berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan Ravian yang masih berdiri di tempatnya.
Namun kali ini, Ravian tidak merasa kesal.
Sebaliknya, ada sesuatu yang berdesir pelan di dalam dirinya rasa penasaran yang tidak biasa. Dia menatap punggung Aleta yang semakin menjauh, lalu bergumam pelan,
"Kita lihat siapa yang akan menyerah lebih dulu…"
***
Di sisi lain, orang-orang berpakaian jas hitam sedang berkumpul di sebuah gedung mewah yang menjadi markas utama Obsidian Circle. Di antara mereka semua, sosok pria berwajah bengis duduk di kursi utama seraya menatap kumpulan anak buahnya.
"Kenapa kalian semua bisa teledor?!" Sentak pria tersebut.
Sorot matanya begitu dingin dan menusuk, membuat siapa saja yang menatapnya bergidik ngeri.
"Kami tidak bisa menemukan pelakunya, Pak." Salah satu bawahannya menjawab.
"Barok bukan orang biasa, kenapa dia bisa gagal di misi mudah seperti ini?"
"Menurut laporan yang saya terima, ada seseorang yang membantu gadis itu."
"Siapa? Bukannya Ravian sedang di luar negeri." Pria bernama Rick Boner itu mengernyitkan dahi.
"Yang membantu gadis itu... One."
Rick tertawa keras. "Kau pikir aku bodoh? One sudah musnah, mana mungkin arwah organisasi itu gentayangan?"
"Saya serius, Pak. Dan... data mengatakan jika orang itu adalah pemimpin yang di kabarkan mati selama ini."
"Tunggu," Rick menaikan sebelah alisnya. "Apa yang kau katakan barusan?"
/Grin//Grin//Grin/
aduuuh ad aj yg nyarii masalah sama aleta yx ,,
gx takut sama akibat ny tuuuh 🤭🤭🤭🤭😁😁😁
waaaah ravian mulai penasaran niiih🤭🤭🤭🤭😒😒😒😒😒
yakiiin mau di lepasiin😒😒😒😒😁😁😁😁