“Pasti ada alasan kenapa mereka menyuruhku kembali. ”
“Lalu bagaimana nona?. ”
“Tentu saja kita kembali, aku mau lihat apa maunya keluarga Starborn. ”
jawab Lunaria sambil tersenyum.
Dimana kota Avalon kota sihir, hanya Lunaria yang tidak bisa menggunakan sihir.
keluarga Starborn mengasingkan Lunaria dari kediaman utama ke villa terpencil milik mereka, keluarga Starborn menganggapnya aib, anak cacat berbeda dengan Learia saudara kembar Lunaria.
Dan saat keluarga Starborn diperintahkan kerajaan Avalon untuk menikahkan putrinya kepada Kael dragomir putra mahkota Avalon, yang dikenal pria sadis, berbahaya dan seorang duda dimana ketiga istrinya terdahulu meninggal secara misterius.
Kael yang dikenal pangeran bintang kesepian, membuat keluarga Starborn tidak rela menikahkan Laeria putri kebangangan mereka menikah dengan Kael.
Tapi mereka tidak tahu rahasia tentang Lunaria.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 18.Pertempuran murid Luna ria.
Matahari mulai bergeser perlahan ke arah barat, memancarkan cahaya keemasan yang menerpa bangunan villa tua itu. Suasana di halaman depan kini terlihat sibuk namun tertata rapi.
Luna ria berdiri tegap di depan gerbang besi besar. Ia mengenakan jubah perjalanan berwarna gelap yang menutupi tubuhnya dengan rapi, namun tetap memberikan kesan anggun dan misterius. Di sebelahnya berdiri Ivy yang memegang koper kecil, dan di belakangnya ada Rian, Bimo, serta Lira yang tampak bersemangat namun tetap waspada. Mereka bertiga sudah siap dengan tas punggung masing-masing, mata mereka berbinar penuh semangat.
Mr. Gareth sudah duduk di dalam kereta kuda mewah keluarga Star born, wajahnya tampak tidak sabar dan sedikit kesal. Ia melihat ke arah Luna ria dan rombongannya dari balik jendela kereta.
Ketika Luna ria mengajak ketiga pemuda itu berjalan mendekati kereta, Mr. Gareth langsung melompat turun dan menghalangi jalan dengan kedua tangannya terbuka lebar. Wajahnya berkerut jijik dan marah.
"Hei! Berhenti di situ!" bentak Mr. Gareth dengan suara keras. "Apa maksudmu ini, Nona Luna ria? Kenapa kau membawa tiga orang desa ini bersamamu?! Mereka siapa?! Pelayan? Atau pengemis?!"
Luna ria berhenti, menatap Mr. Gareth dengan tatapan datar. "Mereka adalah orang kepercayaanku, Gareth. Dan mereka akan ikut bersamaku ke kota,tinggal bersama ku di kediaman utama."
"Apa?! Tidak bisa!" tolak Gareth tegas, suaranya meninggi. "Kediaman keluarga Star born adalah tempat yang terhormat! Bukan tempat tong sampah untuk memasukkan orang-orang rendahan seperti mereka! Lihat penampilan mereka! Kotor, kasar, dan tidak punya sopan santun! Bagaimana mungkin aku membiarkan orang-orang desa masuk ke dalam rumah bangsawan?! Nanti malah memalukan keluarga saja!"
Kata-kata Gareth sangat pedas dan merendahkan. Ia menatap Rian, Bimo, dan Lira dari ujung kaki sampai ujung kepala dengan pandangan yang sangat menghina.
"Mereka tidak lebih baik daripada binatang buas di hutan ini. Lebih baik mereka tetap di sini, mengurus babi dan sawah, daripada ikut ke kota dan membuat malu!"
"Jaga mulutmu, Tuan!!"
Bimo tidak tahan lagi. Ia melangkah maju, tangannya mengepal kuat hingga urat-urat tangannya terlihat. Wajahnya memerah padam menahan amarah.
"Kami tidak butuh izinmu! Tapi jangan pernah meremehkan kami! Walaupun kami orang desa, tapi kami akan ikut kemanapun master kami ada!" seru Bimo berani.
Rian dan Lira pun ikut maju, berdiri di samping Bimo. Aura mereka berubah drastis. Dari remaja desa yang ceria, kini mereka berubah menjadi tiga petarung yang siap membela kehormatan guru dan teman mereka.
"Benar! Pantas atau tidaknya bukan tuan yang menilai!" seru Lira dengan mata tajam.
Mr. Gareth tertawa sinis mendengar tantangan anak-anak muda itu. "Hahaha! Berani sekali kalian mengangkat suara padaku? Aku ini penyihir tingkat tinggi yang melayani keluarga bangsawan selama puluhan tahun! Kalian cuma anak-anak kampung yang tidak tahu apa-apa tentang sihir!"
"Kalau begitu buktikan!" tantang Rian dengan berani. "Kalau kau memang hebat, lawan kami bertiga! Kalau kami kalah, kami akan kembali ke desa dan tidak akan pernah ikut lagi! Tapi... kalau kau yang kalah, kau harus mengakui kami dan mengizinkan kami ikut dengan Master!"
Gareth memandang mereka bertiga dengan sebelah mata. Ia merasa tertantang ego nya. Bagaimana mungkin dia, penyihir berpengalaman, bisa kalah oleh anak-anak desa yang tidak sekolah sihir formal ini?
"Bagus! Kalian minta mati! Aku akan mengajari kalian sopan santun hari ini juga!" teriak Gareth. "Siapa takut?! Ayo lawan aku! Tapi ingat, kalau kalian celaka, jangan salahkan aku!"
Suasana seketika berubah menjadi medan pertempuran. Mereka mundur sedikit menjauh dari kereta, memberikan ruang yang cukup untuk bertarung.
Luna ria dan Ivy mundur ke pinggir, berdiri di bawah naungan pohon besar untuk menjadi penonton. Wajah Luna ria tetap tenang, bahkan ada sedikit senyum tipis di bibirnya. Ia tahu betul kemampuan murid-muridnya. Meskipun mereka dari desa, mereka diajari langsung olehnya—orang yang memiliki pengetahuan dan pengalaman bertarung yang luar biasa.
"Ayo lihat seberapa jauh kemampuan mereka," bisik Luna ria pelan.
"Siap, Nona. Tapi tolong jagai mereka ya, takutnya Pak Gareth main kotor," bisik Ivy cemas.
"Tenang saja. Aku di sini."
Di tengah lapangan rumput, pertarungan dimulai.
WUSH!
Tanpa aba-aba, Mr. Gareth langsung mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Energi sihir berwarna hijau keunguan mulai berkumpul di telapak tangannya. Aura sihir level menengah terasa cukup kuat membuat rumput di sekitarnya bergoyang.
"Terima ini!! Earth Spike!!"
Tiba-tiba tanah di bawah kaki Rian, Bimo, dan Lira berguncang hebat. Pucuk-pucuk batu runcing dan tajam menyembul keluar dengan cepat dari dalam tanah, menyerang mereka dari segala arah.
"Waspada!" teriak Rian.
BLA...R...GH!
Namun, alih-alih ketakutan, ketiga murid itu justru bergerak dengan lincah dan kompak.
"Pisah! Serang dari samping!" perintah Bimo.
Mereka bertiga melompat tinggi, menghindari serangan paku tanah itu dengan sangat mudah. Gerakan mereka cepat, presisi, dan penuh gaya bela diri yang rapi.
"Sihir Angin! Gust Blow!" teriak Lira sambil melambaikan tangannya.
Angin kencang tiba-tiba berhembus sangat kuat, menerjang langsung ke arah Gareth. Serangan itu bukan sihir tingkat tinggi, tapi dikendalikan dengan sangat padat dan tajam hingga membuat Gareth terhuyung mundur beberapa langkah.
"Apa?! Angin sekeras ini dari anak kecil?!" Gareth kaget.
"Giliran aku! Sihir Api! Fire Ball!"
Bimo melempar bola api yang tidak terlalu besar namun bergerak sangat cepat dan berbelok-belok seperti hidup. Gareth harus mengangkat perisai sihirnya untuk menahan ledakan itu.
DUM!
Asap mengepul. Saat asap menipis, Gareth terlihat wajahnya sudah mulai berkeringat dan marah besar. Ia tidak menyangka anak-anak desa ini memiliki koordinasi serangan yang begitu bagus.
"Kalian... kalian benar-benar sudah dilatih dengan baik! Tapi ini baru permulaan! Rock Barrage!"
Gareth mulai mengeluarkan kekuatan sungguhannya. Ia melemparkan ratusan pecahan batu kecil yang dipercepat dengan sihir, menyerang bagaikan hujan peluru.
"Tahan! Sihir Air! Water Shield!" teriak Rian.
Sebentuk perisai air yang padat dan dingin muncul melindungi mereka bertiga. Ting! Ting! Ting! Suara benturan terdengar nyaring. Batu-batu itu terpental habis.
Pertarungan berlangsung sangat sengit selama hampir 15 menit. Gareth yang awalnya meremehkan, kini mulai terengah-engah dan kehabisan napas. Sebaliknya, Rian, Bimo, dan Lira justru semakin bersemangat, gerakan mereka semakin luwes, dan serangan mereka semakin padu.
Mereka bertiga menggunakan kombinasi elemen yang sempurna. Api, Air, Angin, dan Tanah saling melengkapi. Mereka bukan penyihir jenius, tapi mereka adalah petarung yang hebat berkat didikan Luna ria.
"Akhirnya! Saatnya mengakhiri!" teriak Rian memberi kode.
Mereka bertiga berdiri bersebelahan, menggabungkan energi mereka.
"Combo Serangan! Elemental Blast!"
Ledakan besar berwarna-warni meledak tepat di depan Mr. Gareth. Kekuatannya begitu besar hingga menyapu bersih rumput di sekitarnya dan membuat Gareth terpental jauh ke belakang, menghantam tiang gerbang besi dengan keras.
BRUK!
Gareth jatuh terduduk, napasnya memburu, pakaiannya berantakan, dan wajahnya penuh debu. Ia terengah-engah, matanya melotot tak percaya.
"K-kalah... aku kalah... oleh anak-anak desa..." gumamnya lemah.
Rian, Bimo, dan Lira berdiri tegak di sana, napas mereka juga berat tapi wajah mereka penuh kemenangan. Mereka menang!
"Kami menang! Kami menang!" seru Lira girang. "Jadi sekarang kau harus menepati janjimu, Tuan! Kami ikut dengan Master!"
Mereka bertiga pun berjalan mendekati Gareth dengan langkah gontai karena lelah, namun wajah mereka penuh senyum kemenangan. Mereka lengah. Mereka mengira pertarungan sudah selesai dan Gareth sudah menyerah.
Namun... mereka lupa satu hal. Orang tua yang sudah hidup lama di dunia kekuasaan dan tipu daya, jarang mau kalah dengan bersih.
Mata Mr. Gareth menyipit penuh dendam. Ia melihat ketiga pemuda itu sedang tidak waspada, jarak mereka sudah sangat dekat. Rasa malunya yang memuncak berubah menjadi niat jahat.
Dasar anak-anak tidak tahu diri! Berani mempermalukanku di depan nona muda! Kalian harus mati! batin Gareth membara.
Dengan cepat, diam-diam Gareth mengumpulkan sisa energi sihir terakhirnya di telapak tangan. Ia tidak menggunakan sihir biasa kali ini. Ia merapal mantra hitam, mantra yang dilarang karena berbahaya.
"Shadow Claw!"
Tiba-tiba, dari tanah di bawah kaki Bimo, Rian, dan Lira, muncul cakar-cakar bayangan hitam yang sangat tajam dan gelap. Serangan itu licik, cepat, dan sangat mematikan! Sasarannya bukan untuk mengusir, tapi untuk melukai parah bahkan membunuh!
"Wahai!!" teriak Lira kaget, mereka tidak sempat menghindar karena jarak terlalu dekat!
Cakar hitam itu sudah hampir mencengkeram tubuh mereka bertiga!
Namun, tepat pada detik yang paling menentukan...
SW...OSH!
Sosok putih melintas cepat bagaikan kilat!
BRUK!
Luna ria muncul entah dari mana, berdiri tegak tepat di depan ketiga muridnya, membelakangi mereka, dan menghadap Gareth dengan punggung yang kokoh bagaikan tembok baja!
Cakar-cakar bayangan hitam itu menghantam punggung Luna ria dengan kekuatan penuh!
DAR!
Suara benturan terdengar keras logam.
Namun... apa yang terjadi? Tidak ada darah. Tidak ada luka. Bahkan pakaian Luna ria pun tidak robek sedikitpun!
Energi hitam itu seolah menghantam dinding berlian yang tak terlihat. Energi itu memantul kembali dan meledak di hadapan Gareth sendiri!
"U..gha!!" Gareth terlempar mundur lagi, kali ini ia benar-benar terpental jauh dan jatuh terlentang.
Ia mengangkat kepalanya dengan gemetar, menatap punggung wanita yang membelakangi itu.
Luna ria perlahan berbalik badan. Wajahnya yang biasanya tenang, kini berubah menjadi sangat mengerikan. Matanya yang biru pekat tampak bersinar samar, suhu udara di sekitarnya tiba-tiba turun drastis menjadi sangat dingin.
Aura yang dipancarkan Luna ria... bukan aura penyihir. Itu adalah aura pembunuh! Aura seorang raja iblis!
"Kau... berani..." suara Luna ria keluar pelan, namun setiap kata terasa seperti palu godam yang menghantam dada Gareth.
"Berani... bermain curang... pada murid-muridku..."
Luna ria melangkah maju selangkah. Setiap langkahnya membuat tanah terasa bergetar. Gareth merangkak mundur ketakutan, matanya terbelalak melihat tatapan mata gadis itu. Ia sadar... ia baru saja menabrak halangan yang paling mematikan di dunia ini.
"M-Maafkan saya... Nona... s-saya tidak sengaja..." Ucap Gareth ketakutan.
"Tidak sengaja?" Luna ria tersenyum miring, tapi senyum itu tidak ada unsur ramahnya sama sekali. "Kau tadi ingin membunuh mereka, kan? Kau pikir murid-muridku itu mainan yang bisa kau pukul seenaknya?"
"Tidak... Nona... tolong..."
Luna ria tidak mau bicara banyak lagi. Dengan gerakan sangat cepat, ia mengangkat tangan kanannya.
PLAKKK!!!
Sebuah tamparan keras melayang! Sangat keras! Sangat kencang!
Bugh!
Tubuh Gareth yang sudah tua itu terputar balik beberapa kali karena kekuatan tamparan itu. Wajahnya langsung bengkak besar, hidungnya langsung mengucurkan darah segar, dan giginya ada yang copot!
Belum selesai, Luna ria menarik kerah baju Gareth dengan satu tangan, mengangkat tubuh pria dewasa itu dengan mudah seolah mengangkat kapas.
"Dengar baik-baik,pelayan tua!" desis Luna ria tepat di wajah Gareth. "Mulai sekarang, mereka bertiga adalah keluargaku. Kalau kau berani menyakiti satu rambut pun di kepala mereka, atau sekadar memandang mereka dengan mata jahat... aku tidak akan menampar mu lagi."
Luna ria mendekatkan wajahnya, matanya menatap tajam ke dalam jiwa Gareth.
"Aku akan membunuhmu. Paham?!"
Gareth hanya bisa mengangguk-angguk kencang ketakutan, air mata dan air bah bercampur keluar dari wajahnya yang lebam parah. "Paham! Paham, Nona! Ampun! Ampun!!"
"Bagus."
Luna ria melempar tubuh Gareth ke samping dengan kasar. Gareth meringkuk seperti kepiting kesetrum, tidak berani bergerak sedikitpun.
Rian, Bimo, Lira, dan Ivy yang melihat kejadian itu hanya bisa melongo tak percaya.
"Gila... Master Luna keren banget..." gumam Bimo terpesona.
"Itu baru kekuatan fisik saja lho... belum pakai sihir..." tambah Rian.
Akhirnya, perjalanan pun dilanjutkan. Namun suasananya sangat berbeda.
Mr. Gareth yang tadinya sombong dan angkuh, kini duduk meringkuk di sudut kereta dengan wajah penuh lebam dan perban darurat. Ia tidak berani menatap wajah Luna ria atau ketiga muridnya. Ia benar-benar sudah kapok dan ketakutan setengah mati.
Luna ria duduk dengan santai di kursi utama, matanya menutup bersandar. Di sebelahnya, Rian, Bimo, dan Lira duduk dengan gagah berani, sesekali melirik ke arah Gareth yang langsung menunduk takut.
Kereta kuda itu pun mulai bergerak meninggalkan kawasan villa terpencil itu, menuju ke pusat Kota Avalon yang megah dan mewah.
Di dalam kereta yang bergoyang pelan, Luna ria membuka matanya perlahan. Tatapannya tajam menembus jendela kereta, memandang langit yang mulai berwarna jingga kemerahan.