Orang yang terlalu penasaran tidak selamanya berakhir indah. Contohnya Kimi Ariana yang kadang dipanggil Kimi Arigato, padahal tidak punya darah Jepang. Saking tak bisa menahan penasaran, Kimi kerap mencoba hal-hal yang di luar nalar.
Dan percobaan paling absurd yang merubah hidupnya?
Mencoba pacaran dengan.. perempuan tampan-ah, bukan, perempuan keren yang justru dijauhi banyak orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benrycia_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Setelah makan malam, Clarissa mengumpulkan seluruh peserta di ruang santai. Selain dirinya, hadir juga Pak Deden, kepala staf keamanan yang wajahnya tampak lebih tegang dari biasanya.
Beberapa peserta langsung saling pandang. Aura ruangan seolah menebarkan kabar buruk.
"Terima kasih sudah berkumpul," Clarissa memulai tanpa basa basi, "Terkait laporan dari salah satu peserta, tim keamanan sudah mengambil beberapa langkah." Ia menoleh ke samping. "Silakan, Pak."
Semua duduk makin tegak. Pak peden berdehem sebelum mulai bicara.
"Pertama, CCTV akan ditambah di beberapa titik. Kedua, mulai malam ini diberlakukan jam malam. Tidak ada peserta yang boleh keluar asrama lewat dari jam sembilan. Ketiga, patroli malam akan diperketat, terutama di area sekitar asrama. Dan terakhir, tiap kamar akan diisi dua peserta. karena jumlahnya ganjil, akan ada satu kamar yang diisi tiga orang."
Suasana langsung riuh. Janu mengangkat tangan tinggi -tinggi.
"Pak, kok aturannya kayak asrama militer? Emang beneran ada orang luar yang masuk?"
"Terus, kenapa isi kamarnya jadi double, Pak?" tanya Okta cepat. "kalau udah patroli, harusnya aman dong."
Pak Deden mengangguk pelan. "Wajar kalau kalian penasaran. Kami menemukan seorang laki-laki asing masuk lewat pagar belakang asrama laki-laki, di area yang tidak tercakup CCTV. Sejauh ini kami belum tahu apa yang dia lakukan di sana."
Ruangan langsung hening. Kimi dan Ruby yang tahu soal Juli menyelinap tengah malam tentu dibuat bingung. Sempat terpikir: apa tim keamanan salah mengenali Juli sebagai cowok asing? Tapi masuk lewat pagar? Mana mungkin.
Setelah memberi sedikit penjelasan tambahan, Pak Deden dan Clarissa pamit meninggalkan peserta yang masih bengong massal.
"Cowok? Masuk asrama kita?" Septi menatap ngeri.
"Seriusan tuh?"
"Aku makin takut," rengek Desi. "Gimana kalau malam-malam kita ngumpul di lantai atas aja?"
"Ide bagus sih. Tapi bukannya lebih aman kalau di bawah? kalau ada apa-apa kaburnya gampang. Gak perlu adegan gelundungan di tangga." celetuk Juni.
"Eh, bener juga. Tapi kamar bawah banyak yang kosong, pasti berdebu, Gw males bersihin," sahut Marey.
"Yaelah, lo malesan banget," desah Apri. "Udah, malam ini kita di lantai atas dulu aja. Besok Sabtu, kita bersih-bersih kamar bawah bareng."
Kimi yang sedari tadi mendengarkan akhirnya nyeletuk, matanya menyipit penuh rasa curiga.
"Eh, tapi kalian gak ngerasa aneh? Di asrama kan banyak CCTV, tapi kok baru ketauan sekarang? Harusnya dari dulu dong."
Semua ikut berpikir.
"Mungkin kejadiannya baru akhir-akhir ini," kata Mei menebak.
Kimi mengetuk dagunya. "Tapi Desi bilang udah sering denger suara aneh. Jangan-jangan..." ia menurunkan suaranya dramatis, "ini permainan orang dalam."
"Yaelah, gaya lo kayak detektif nganggur, Kim." timpal Janu.
Ruby yang sejak tadi diam saja sebenarnya setuju dengan kata-kata kimi. CCTV yang kadang mati, beberapa titik yang tak terpantau, dan yang lebih mencurigakan lagi soal Juli yang tidak pernah terdeteksi. Tapi selama belum ada kejadian besar, ia memilih diam dan mengamati.
Berbeda dengan Kimi yang rasa kepo-nya sudah bergolak lagi. Ia bahkan sudah berniat mengintai pagar belakang asrama cowok.
Caranya? Belum tahu. Rencana bisa belakangan, yang penting niat dulu.
**
Setelah rapat darurat itu, Kimi mondar-mandir di kamarnya. Jam baru menunjukkan pukul delapan, belum ada yang pindah kamar. Merasa masih ada kesempatan, Kimi pun melangkah ke kamar Juli. Bukan mau macam-macam, cuma Ingin menanyakan sesuatu demi niat suci seorang ratu kepo.
Juli pasti tahu rute mana yang bisa dilalui tanpa terekam cctv. Atau jangan- jangan, cctv-nya memang sengaja dibuat error? Bisa saja selama ini Juli mendapat bantuan dari Bu Salma. Entah bagaimana caranya, yang jelas Kimi harus tahu.
Namun begitu mendengar pertanyaan Kimi, Juli langsung mengernyit.
"Cara aman keluar asrama? Lo mau ngapain?"
"Aku cuma kepo aja." ujar Kimi santai, tapi matanya mencurigakan.
"Gw emang lewat belakang asrama cowok, tapi gw gak tau soal cctv di tempat lain."
"Kok Bu Salma bisa tau, mana cctv yang aktif mana yang enggak?"
"Dibilangin gak tau. Gw cuma ngikutin arahannya
doang. Seriusan. Lagian kepo lo gak bermanfaat banget. Situasi lagi begini juga."
Kimi mengangkat dagu, mendekat, lalu menekan bahu Juli ke sandaran kursi sambil meletakkan lutut di pahanya.
"Kim? Lo mau ngapain? Pose lo tuh... gak banget. Gw emang mulai belok, tapi bukan berarti gw bakal tergoda." kata Juli heran.
Kimi menatap tajam, "Semua ini gara-gara kamu keluar diam-diam buat ketemu Bu Salma kan? Kalau Desi gak lapor, Pak Deden gak bakal bertindak, "
Dan kalau Pak Deden gak bertindak, Ruby gak bakal satu kamar sama Anela! batin kimi, mendidih antara iri dan drama. Ia harus menuntaskan kasus ini secepatnya, sebelum salah satu dari mereka hamil duluan. Sama-sama cewek tidak bisa hamil? Kimi mana peduli.
"Jangan bilang ini cuma gara-gara lo gak bisa satu kamar sama Ruby."
"Tuh, kamu tau, '"
"Lo cemburu sama Anela?" Juli geleng-geleng.
"Kim, coba lo pikir lagi. Di sini yang paling rugi tuh gw. Sekarang gw gak bisa ketemu Salma di tempat rahasia." Nada suaranya terdengar ngenes.
Kimi mendengus. " Ini karena kamu gak tau waktu! Bukan cuma tengah malem, pas acara ramah tamah aja bisa-bisanya kamu sama Bu Salma malah begituan di-"
Kimi langsung menutup mulutnya sendiri. Terlambat.
Juli mendelik, matanya nyaris keluar. "Lo bilang apa barusan?"
Kimi menggeleng dan langsung kabur secepat kilat. Juli sontak berdiri dan mengejar, wajahnya merah karena panik dan malu.
"Ubyyy!" seru Kimi tertahan saat melihat Ruby berjalan santai dari arah tangga.
"Sekarang apa lagi?" tanya Ruby, setengah pasrah setengah bingung. Kimi langsung bersembunyi di belakangnya dengan napas tersengal.
" Sumpah. Lo kayaknya gak bisa sehari aja gak bikin heboh," gerutu Ruby lagi.
"Juli... Juli..." Kimi menunjuk ke arah Juli yang ikut terengah.
"Kalian kenapa?" Ruby menatap bergantian.
Juli mengusap wajah kasar, lalu menarik Ruby ke ujung koridor, tepat di depan kamarnya.
"Kimi tau, Ru. Dia tau pas gw... yah, 'begituan' di ruang rahasia," bisiknya dengan muka panik.
Ruby menaikkan sebelah alis, lalu melirik ke belakang. Kimi berdiri dengan mata polos tanpa dosa.
"Maksudnya dia liat?" tanya Ruby pura-pura bego.
Juli mengangguk lemas. "Gw malu banget. Lo yakin dia gak bakal bocor?"
Ruby mengangkat bahu. "Mungkin,"
Juli meringis. "Serius, Ru. Kok tuh anak bisa liat ya?"
"Dia kan pecicilan."
Sementara keduanya berbisik, Kimi pelan-pelan kabur ke kamarnya dan mengunci pintu. Beberapa detik kemudian, pintu itu terbuka lagi, hanya kepalanya yang muncul.
"Uby, aku boleh nebeng di kamar kamu nanti malam?" tanyanya sok manis.
Ruby mengernyit. "Yakin?"
Juli langsung menyela. "Lo mau satu asrama tau? Sekalian aja lo umumin-"
Belum Juli selesai, pintu kamar Kimi langsung tertutup lagi. "Anjir, ngeselin," gerutu Juli tak habis pikir.
**