Judul: RAMALAN CINTA YANG TERKUNCI
Sub-judul: Takdir bukan untuk diubah, tapi untuk dijalani.
~~~~~~ ~~~~~~~ ~~~~~~~~
Langit malam yang gelap dengan bulan berwarna merah darah (Gerhana). Di kejauhan, siluet kota tua dengan arsitektur menara yang tinggi dan misterius.
▪︎Objek Utama:
- Di tengah, terdapat sebuah gembok antik yang besar dan berkarat, namun terbuat dari emas murni yang berkilau samar.
- Gembok itu terbelah dua, dan dari celah di antara keduanya memancarkan cahaya yang sangat terang, perpaduan antara warna Perak (Elara) dan Merah Gelap (Kael).
- Sebuah kunci tua melayang di udara, tepat di atas gembok, seolah baru saja membukanya atau hendak menguncinya.
.
.
.
.
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jasmine Oke, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Kembali ke Tanah Air dan Perubahan Waktu
Sensasi melintasi portal kali ini terasa berbeda. Tidak ada rasa mual atau pusing, melainkan rasa hangat yang familiar, seperti pulang ke rumah setelah bepergian jauh. Saat cahaya di depan mata mereka meredup, aroma tanah basah dan rumput liar langsung menyapa hidung mereka.
Mereka membuka mata.
Di hadapan mereka berdiri tembok-tembok batu kelabu yang kokoh, gerbang besi besar dengan ukiran naga, dan langit biru yang luas dengan awan putih yang berarak bebas.
"Lunaria..." bisik Elara dengan haru. Air matanya hampir jatuh. "Kita benar-benar sudah pulang."
"Ya," jawab Kael sambil menghela napas panjang, menyesap udara yang sangat ia rindukan. "Rasanya aneh. Rasanya seperti kita pergi selama sepuluh tahun, tapi sebenarnya hanya sekejap."
Mereka berdiri di tempat yang sama persis saat mereka berangkat, sebuah dataran tinggi di luar kota. Namun, pemandangan di sekitar mereka telah berubah drastis.
Dulu, jalanan di sini ramai oleh pedagang dan pengawal. Sekarang, jalanan itu terlihat sepi dan gelap. Tembok-tembok pertahanan telah diperkuat dengan paku-paku besi dan rune sihir yang bersinar merah menyala, tanda bahwa kota sedang dalam keadaan siaga tinggi.
"Lihat itu," tunjuk Kael ke arah langit kota.
Di atas Menara Pengawas, terdapat sebuah kubah energi besar yang melindungi seluruh kota. Kubah itu berwarna abu-abu dan berdenyut pelan, seolah sedang menahan sesuatu yang sangat berat dari luar.
"Kubah Pertahanan Total," kata Elara mengenali formasi itu. "Ini hanya digunakan saat terjadi bencana besar."
Tiba-tiba, suara derap kaki pasukan terdengar dari segala arah.
TAP! TAP! TAP!
Puluhan prajurit bersenjata lengkap muncul dari balik bebatuan dan semak-semak, mengelilingi Elara dan Kael dengan tombak dan pedang terhunus. Wajah mereka penuh kewaspadaan.
"Siapa kalian?!" teriak seorang kapten yang maju ke depan. Matanya menyipit mengamati aura yang memancar dari tubuh Elara dan Kael. "Energi kalian sangat kuat! Kalian mata-mata musuh?!"
Elara dan Kael saling pandang lalu tersenyum kecil. Mereka sadar, penampilan mereka sekarang sangat berbeda. Aura mereka yang dulu terasa seperti manusia biasa, kini terasa agung dan jauh.
"Kapten, jangan menyerang," kata Elara dengan suara lembut namun tegas. "Ini kami. Elara dan Kael."
Wajah para prajurit itu berubah kaget. Mereka menurunkan senjata sedikit, namun masih ragu.
"Nona Elara? Tuan Kael?" salah satu prajurit muda mendekat, matanya terbelalak. "Benarkah itu kalian? Tapi... kalian terlihat... berbeda. Lebih tinggi, lebih bersinar..."
"Kami baru saja kembali dari perjalanan panjang," jawab Kael. "Bawa kami ke dalam. Kami harus menemui Ayah dan Nenek Mara segera. Situasi di sini terlihat genting."
Kapten itu akhirnya mengangguk patuh, meski masih terlihat takjub. "Baik! Turunkan senjata! Buka gerbang! Mereka adalah penyelamat kita!"
Gerbang besi besar itu terbuka dengan suara berdecit keras. Saat Elara dan Kael melangkah masuk ke dalam kota, pemandangan yang mereka saksikan membuat hati mereka mencelos.
Kota Lunaria yang dulu indah, bersih, dan penuh warna, kini terlihat suram. Banyak bangunan yang rusak dan belum sempat diperbaiki. Warga kota terlihat berjalan cepat dengan wajah ketakutan, selalu menunduk dan jarang tersenyum. Di setiap sudut jalan, terlihat tenda-tenda pengungsian dan pos medis.
"Apa yang terjadi di sini selama kami pergi?" tanya Elara pada kapten itu.
"Ah, Nona... satu tahun ini terasa seperti seratus tahun bagi kami," jawab kapten itu dengan napas berat. "Segera setelah kalian pergi, musuh mulai menyerang. Bukan orang, tapi... monster kegelapan. Mereka muncul dari celah-celah dimensi. Mereka tidak punya wajah, tidak punya hati, mereka hanya menghancurkan apa saja yang mereka sentuh."
"Itu The Void Walkers," gumam Kael dingin. "Mereka sudah sampai di sini."
"Ya, Tuan. Pasukan Dewan dan Tuan Darian sudah berjuang mati-matian menahan mereka di garis depan, di perbatasan utara. Tapi musuh itu tidak ada habisnya! Semakin banyak yang dibunuh, semakin banyak yang muncul. Kami kehilangan banyak teman, Nona. Harapan kami hampir habis."
Elara menggenggam tangannya erat-erat. Rasa marah dan sedih bercampur menjadi satu. Mereka menyiksa orang-orang yang ia cintai. Mereka membuat kota ini menderita.
"Tenanglah," kata Elara dengan suara yang kini terdengar sangat berwibawa. "Kami sudah kembali. Dan kali ini, kami tidak akan membiarkan mereka melangkah selangkah pun lebih jauh."
Mereka berjalan cepat menuju Kedai Bintang Jatuh. Sesampainya di sana, mereka melihat bahwa kedai itu juga telah diubah menjadi markas kecil dan tempat berlindung.
Di teras, Nenek Mara sedang duduk memintal benang sihir, namun wajahnya terlihat sangat lelah dan keriput. Di sebelahnya, Darian berdiri memandang ke arah utara dengan wajah muram. Rambutnya kini lebih banyak memutih, dan ada bekas luka baru di lengannya.
"Nek! Ayah!" panggil Elara.
Dua orang itu menoleh seketika. Mata Nenek Mara membelalak, lalu tangannya menjatuhkan alat pintal benangnya.
"E-Elara? Kael?!"
Nenek Mara langsung berlari (meski tubuhnya sudah tua) dan memeluk Elara erat-erat. "Astaga... kalian benar-benar kembali! Aku tahu kalian pasti kembali!"
"Nenek..." Elara menangis dalam pelukan neneknya. Ia bisa merasakan betapa lelahnya neneknya menanggung beban ini sendirian.
Darian juga mendekat, wajahnya yang tegas itu tampak lega luar biasa. Ia menepuk bahu Kael kuat-kuat. "Kalian... kalian terlihat berbeda. Aura kalian..."
"Kami belajar banyak hal, Ayah," kata Kael sambil tersenyum. "Kami siap menghadapi Void Walkers itu."
"Tapi kalian harus tahu," wajah Darian kembali serius, "Situasi sudah di luar kendali. Mereka sudah menembus tiga garis pertahanan. Hari ini atau besok, mereka mungkin akan sampai di sini."
"Kalau begitu," Elara mengangkat wajahnya, matanya bersinar terang. "Kita tidak akan menunggu mereka datang. Kita yang akan mendatangi mereka."
"Apa maksudmu?" tanya Nenek Mara.
"Maksud kami," potong Kael sambil menatap langit, "Hari ini, perang ini akan berakhir. Sekarang juga."
(Bersambung ke Bab 19...)