NovelToon NovelToon
HOT Duda Itu Majikan Hatiku

HOT Duda Itu Majikan Hatiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Duda
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: kikyoooo

WARNING ⚠️
(untuk umur 17 keatas)

...
Arkeas InjitAsmo hidup dalam keteraturan yang mewah. Baginya, hidup adalah tentang estetika dan wangi yang presisi. Namun, dunianya runtuh saat istrinya pergi dan ia harus mengurus Alisya sendirian di tengah kesibukan peluncuran parfum terbaru. Sepuluh pengasuh profesional sudah ia pecat dalam sebulan karena "bau badan mereka tidak estetik."

Masuklah Zollana, melamar pekerjaan. Karena sebuah insiden di mana Zollana tidak sengaja memecahkan Vas bunga kristal itu hingga hancur berkeping-keping, Arkeas justru menyadari satu hal: Alisya anaknya berhenti menangis saat berada di dekat Zollana.

Arkeas terpaksa mempekerjakan Zollana sebagai nanny sekaligus asisten rumah tangga dengan kontrak "Dilarang Ceroboh". Namun, nyatanya? Zollana justru membawa kekacauan yang berwarna di rumah minimalis Arkeas yang dingin.

...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18 Ice Cream Date Rumahan: Antara Noda Susu dan Tatapan Lapar

...🌹🌹🌹...

Minggu sore di penthouse Arkeas biasanya adalah waktu untuk "Deep Work" atau mengevaluasi sampel aroma baru. Tapi kali ini, agenda sang CEO berantakan total karena permintaan Zolla yang sangat random: "Mas, stok es krim di freezer sudah mau habis, kalau nggak makan yang manis, otak saya bisa shutdown."

Akhirnya, di sinilah mereka. Di ruang tengah yang estetik, dengan cahaya matahari sore yang masuk malu-malu lewat gorden tipis.

Zolla duduk lesehan di karpet bulu, memangku Alisya yang sedang asyik memegang mainan gigitan berbentuk bintang. Di tangan kanan Zolla, ada sebuah cone es krim vanila cokelat ukuran raksasa yang dibeli Arkeas tadi lewat jasa antar kilat.

"Pelan-pelan, Zol. Es krim itu nggak bakal lari ke rumah Genta," sindir Arkeas yang duduk di sofa tepat di belakang Zolla, pura-pura membaca buku biografi pengusaha sukses, padahal matanya terus melirik ke bawah.

"Mas, ini namanya self-reward setelah seharian mandiin Alisya yang reog banget pas kena air," sahut Zolla sambil melahap es krimnya dengan semangat.

Saking semangatnya, Zolla tidak sadar kalau lelehan es krim vanila itu mulai turun ke sudut bibirnya, bahkan ada sedikit bercak putih yang menempel di pipi kirinya. Zolla terlalu sibuk mengajak Alisya mengobrol sambil sesekali menciumi puncak kepala bayi itu.

"Enak ya, Alisya? Nanti kalau sudah besar, Papa beliin pabriknya ya? Jangan mau dikasih satu cone doang," oceh Zolla sambil tertawa kecil.

Arkeas menghela napas panjang. Ia menutup bukunya dengan pelan. Rasa gemas yang tertahan di dadanya sejak tadi sudah mencapai level maksimal. Melihat Zolla yang belepotan seperti anak kecil, tapi di saat yang sama terlihat sangat keibuan memangku Alisya, membuat Arkeas merasa ada sesuatu yang mencair di hatinya—lebih cepat dari lelehan es krim itu.

...🌹🌹🌹...

"Zollana, berhenti," ucap Arkeas, suaranya mendadak berat dan rendah.

Zolla menoleh ke belakang, mendongak menatap Arkeas dengan wajah polos. "Kenapa, Mas? Mau minta? Tadi ditawarin katanya nggak level makan es krim minimarket?"

Arkeas tidak menjawab. Ia justru turun dari sofa, ikut duduk lesehan di belakang Zolla. Ia memutar tubuh Zolla agar sedikit menghadapnya. Alisya yang ada di pangkuan Zolla hanya mengerjap-erkerjap melihat Papanya mendekat.

"Kamu itu... asisten paling berantakan yang pernah saya kenal," gumam Arkeas.

Tangannya yang besar dan bersih meraih dagu Zolla, menahannya agar tidak bergerak. Ibu jari Arkeas bergerak perlahan, mengusap lelehan es krim di sudut bibir Zolla. Sentuhan kulit jempol Arkeas yang hangat di bibir Zolla yang dingin karena es krim menciptakan sensasi elektrik yang bikin Zolla mendadak lupa cara bernapas.

"Mas... bisa pakai tisu," bisik Zolla, matanya terkunci pada mata abu-abu Arkeas yang kini tampak sangat gelap dan intens.

"Tisu nggak bisa ngerasain tekstur kulit kamu, Zol," balas Arkeas tanpa sadar.

Ia tidak menjauhkan jempolnya. Justru, Arkeas beralih mengusap noda es krim di pipi Zolla dengan gerakan yang sangat perlahan, seolah sedang membelai barang pecah belah paling mahal di dunia.

Jarak mereka kini sangat tipis. Aroma parfum sandalwood Arkeas bercampur dengan wangi vanila dari bibir Zolla. Alisya yang merasa diabaikan, tiba-tiba menarik ujung kaos Arkeas, membuat Arkeas tersadar sejenak tapi tetap tidak mau melepas Zolla.

"Mas... Alisya lihatin kita," cicit Zolla, wajahnya sudah merona hebat, lebih merah dari stroberi di atas es krimnya.

"Biarkan dia lihat. Biar dia tahu kalau asistennya ini memang perlu diurus secara khusus," Arkeas mendekatkan wajahnya. Bibirnya nyaris menyentuh telinga Zolla. "Lain kali kalau makan, pakai otak, jangan cuma pakai nafsu. Saya jadi repot harus bersihin kotoran kamu terus."

Meskipun kata-katanya terdengar seperti omelan, tapi nada bicara Arkeas sangat lembut—hampir seperti bisikan sayang.

...🌹🌹🌹...

Arkeas akhirnya menjauhkan tangannya, tapi ia tidak kembali ke sofa. Ia tetap duduk di samping Zolla, membiarkan bahu mereka bersentuhan. Ia mengambil alih Alisya dari pangkuan Zolla agar Zolla bisa menghabiskan es krimnya dengan tenang.

"Sini, sama Papa. Biar kelinci ceroboh ini makan dulu," Arkeas menggendong Alisya, mencium pipi anaknya dengan penuh kasih sayang.

Zolla menatap pemandangan itu dengan hati yang bergetar. Arkeas yang sok dingin, Arkeas yang kaku, kini terlihat sangat "Bapak-able" dan hangat.

"Mas Arkeas sebenernya cocok loh punya anak banyak," celetuk Zolla asal, mencoba menutupi rasa baper-nya.

Arkeas melirik Zolla dengan senyum miring yang provokatif. "Anak banyak? Kamu sanggup emangnya?"

Uhuk! Zolla tersedak sisa cone-nya. "M-maksudnya?! Saya kan cuma asisten!"

"Asisten yang sudah panggil saya 'Mas', asisten yang sudah saya blokir akses cowok lain ke dia, dan asisten yang barusan bibirnya saya usap pakai tangan sendiri," Arkeas berdiri, masih menggendong Alisya. "Di kamus saya, itu bukan lagi sekadar asisten, Zol. Itu namanya... investasi jangka panjang."

Arkeas melenggang pergi ke arah kamar Alisya sambil bersenandung kecil, meninggalkan Zolla yang masih mematung dengan sisa es krim yang mendadak terasa sangat manis di lidahnya.

...🌹🌹🌹...

Malam harinya, setelah Alisya tidur, Zolla menemukan sebuah tas belanja kecil di atas meja rias kamarnya. Di dalamnya ada sebuah pouch kosmetik mahal dan sepucuk surat pendek dengan tulisan tangan yang sangat rapi dan maskulin.

"Pakai ini. Biar kalau belepotan lagi, kulit kamu nggak iritasi. Dan satu lagi... jangan pernah makan es krim di depan laki-laki lain selain saya. Paham?"

Zolla tersenyum lebar sampai gulingnya jadi sasaran pelukan. "Fix, Mas Arkeas sudah nggak bisa diselamatkan dari virus bucin."

Di ruang kerjanya, Arkeas sedang menatap layar monitor, tapi pikirannya kembali ke momen di karpet tadi. Ia melihat jempolnya yang tadi mengusap bibir Zolla.

"Gue beneran sudah gila," gumam Arkeas sambil tersenyum tipis. "Tapi kalau gilanya karena dia, kayaknya nggak apa-apa."

...🌹🌹🌹...

(Bersambung ke Episode 19...)

1
falea sezi
alahh alah mas duda bucenn/Curse//Curse/
falea sezi
lanjooot
kikyoooo: wokey
total 1 replies
Indri
Terlalu berani karakter zolla
falea sezi
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!